
Agrata Razzan, laki-laki tampan yang digilai para mahasiswi sejak pertama kali menginjakkan kaki di Universitas Brawali, sebagai mahasiswa baru jurusan Ekonomi Akuntansi setahun lalu.
Si tampan dengan sifat dingin, cuek terhadap sekitar itu, justru semakin menambah tingkat ketampanannya di mata para kaum hawa yang ada di kampus. Mungkin kebanyakan perempuan lebih memilih mundur, daripada berurusan dengan Agra yang memiliki sifat dingin, tak tersentuh dan sulit digapai. Tapi, jika sifat itu ada di diri Agra, malah kebalikannya, dipastikan jika perempuan mana pun akan semakin gencar mendekatinya, termasuk Kinan, sebentar lagi.
Agra memandang serius layar ponsel miliknya, tidak menghiraukan kedua temannya yang sibuk berceloteh di sampingnya, sesekali jarinya tampak menari-nari, mengetikkan sesuatu balasan di sana. Mereka bertiga duduk di bangku yang tersedia di koridor kampus.
"Gra! Lo nggak mau lihat, stok cewek terbaru di kampus, kita ini?!" Afkari Fattan, biasa dipanggil Afka, tampak sangat antusias melayangkan pertanyaan pada Agra.
Playboy satu itu paling cepat dan ter-uptodate kalau masalah lawan jenis. Apalagi dengan para maba perempuan, matanya tak berhenti melirik sampai menemukan target incarannya.
"Kalau lo lihat, gue yakin lo bakal suka Gra!" lanjutnya.
Abyan Nandana, teman satunya lagi, menggeplak kepala Afka pelan seraya mendengus tak suka, "Stok! Stok! Lo kira barang!"
"Idih sewot! Suka-suka gue lah! Mulut-mulut gue!"
"Ye si bocah! Dibilangin juga!"
Afka melirik Agra sekilas, "Gra, seriusan lo nggak mau tau?"
"Nggak," balas Agra singkat.
"Beneran?"
Gumaman malas yang terdengar.
Afka menghela napas. Sahabatnya itu sangat tidak bisa di ajak berkompromi, "Yauda deh. Untung aja abang Afka yang ganteng ini, sayang sama Mas Agra, kalau enggak udah adek Afka tinggalin dari dulu kala," tuturnya dramatis, suara dibuat persis seperti perempuan.
Ucapan yang terdengar menjijikkan, membuat Bian gemas, lalu memukul bahu Afka kuat, "Sumpah ya! Jijik gue dengernya! Kebanyakan nonton Syahrini lo!"
"Fitnah! Mana pernah gue nontonin Syahrini! Sok tau kamu ya, Bian!" Afka mengedipkan matanya sebelah, berniat menggoda Bian yang semakin jijik karena ucapannya.
"Astaga nih anak! Gue sumpel juga lama-lama mulut lo, pake kain lap buk Soimah!" kesal Bian.
Agra merasa jengah, melihat Bian dan Afka yang sedari tadi beradu bacot. Tak bisakah sekali saja ketenangan melingkupinya?
"Berisik lo berdua!" suara dingin Agra, membuat suasana menjadi hening, tidak ada lagi suara ejek-mengejek seperti beberapa menit yang lalu.
"Agra ya?" celetuk seseorang.
Pandangan ketiga cowok tampan itu beralih menatap seorang perempuan berpita merah, berdiri dihadapan mereka dengan senyum manisnya.
Kinan-lah, orangnya.
Agra memandang perempuan itu datar, tanpa ekspresi.
"Hai," sapa Kinan.
Afka tersenyum disusul Bian, "Oh, hai," balas keduanya.
"Lo mahasiswi baru ya?" tanya Afka.
Kinan menganggukkan kepala seraya tersenyum, "Iya kak,"
__ADS_1
"Eh! Gausa manggil gue pake embel-embel kak segala, panggil aja gue Afka," Afka mengulurkan tangan kanannya, untuk berjabat tangan.
Kinan menerima uluran tangan itu, "Aku, Kinan."
"Gue, Bian," Bian ikut memperkenalkan diri.
"Kalau kamu?" tanya Kinan pada cowok yang sudah mencuri perhatian Kinan sejak di kantin tadi.
Sebelum kemari, Kinan sudah mempersiapkan diri untuk menerima pandangan apapun dari ketiga laki-laki yang tak sengaja Kinan dapati sedang mengobrol di area koridor. Demi sebuah perkenalan singkat yang diam-diam Kinan damba-dambakan.
Agra tidak menyahut, bahkan menatap Kinan pun enggan. Justru dia sibuk dengan benda pipih di tangannya. Tidak seperti kedua sahabatnya, mau-mau saja.
Bian menyikut lengan Agra, cowok tampan itu langsung menolehkan kepalanya. Bian mengintruksi agar Agra melihatnya, "Apaan?"
"Aku Kinan, kamu?" Kinan mengulurkan tangan ke hadapan Agra, Agra sama sekali tidak menerima uluran tangannya. Dia hanya menatap datar tangan dan Kinan, bergantian.
"Jauhi tangan lo," suara dingin yang membuat nyali Kinan menciut, tetapi Kinan berusaha mempertahankan senyumnya.
"Galak banget sih," cibir Kinan.
"Maafin temen gue ya, dia orangnya rada dingin gitu, tapi sebenarnya dia baik kok," tutur Afka. Mewakili sikap Agra yang terkesan galak.
Kinan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Eh iya, nggak apa-apa kok."
"Nama dia Agrata Razzan," Bian memberitahu Kinan, "Lo bisa panggil dia Agra," jelas Bian pada Kinan.
"Makasih Bian," balas Kinan tulus.
Bian mengangguk.
"Muka kamu lagi, kayak tembok! Datar banget," bibir Kinan tak bisa diam. Ingin bertanya lagi dan lagi. Entahlah. Rasanya Kinan sangat penasaran akan sosok Agra. Tingkat kekepoannya menjadi-jadi semenjak mengenal laki-laki bermata tajam itu.
Bian dan Afka terkekeh mendengar perkataan Kinan.
"Agra, kamu kalo senyum pasti makin ganteng, percaya deh sama aku,"
"Ada hal lucu juga dia kagak bakal senyum Nan, mukanya bakal datar terus," celetuk Afka. Dia terkekeh.
Tanpa merasa sungkan, Agra bangkit, berjalan ke arah parkiran kampus, meninggalkan kedua sahabatnya dan perempuan asing itu. Ketenangannya semakin terusik karena orang baru.
Tidak mau ketinggalan jejak, Kinan menyusul Agra dengan langkah cepat. Sampai dia lupa berpamitan dengan Bian dan Afka.
"Woy! Mau kemana lo Gra?!" teriak Afka kencang. Agra dengar tapi dia malas menyahut, "Lah itu si kinan ngapain ikutan pergi?"
"Udahlah, biarin aja. Lo kayak nggak kenal Agra aja," ucap Bian santai, "Paling Kinan ngejar Agra. Jelas banget dari gelagatnya, kalau perempuan itu tertarik sama Agra."
Afka mendengus kasar sembari bangkit dari duduknya, "Sok tau lo sapi!"
......
Banyaknya orang-orang di tempat parkiran, tak menyurutkan rasa malu Kinan, ketika jelas-jelas semua orang memandangnya dengan tatapan sulit diartikan. Tetapi, dia malah tetap anteng mengejar langkah lebar Agra. Laki-laki itu tak peduli sekitar. Toh, dia juga tidak membuat sesuatu sensasi panas seperti yang banyak dilakukan para aktris dan aktor ternama di layar kaca televisi.
"Eh! Tungguin aku!" Kinan berlari kecil, menyamakan langkah besar Agra, "Agra! Agra!" entah larinya lamban atau Agranya terlalu cepat, Kinan tak bisa mengimbanginya.
__ADS_1
Kinan mempercepat larinya. Begitu di rasa sudah dekat, Kinan menarik tangan Agra dari belakang, sehingga tubuh lelaki itu terhuyung sedikit. Agra membalikkan badan, melempar tatapan tajam padanya.
"Cepet banget sih jalannya! Tungguin kek!" Kinan membungkuk, mengatur napasnya yang tidak stabil, di rasa sudah cukup, dia menegakkan badannya lagi.
"Kamu ingat aku kan?" Kinan selalu menunjukkan senyumnya, walau dia tahu itu tidak akan mempan sama sekali bagi orang-orang yang memang tak pernah menganggap kehadirannya.
"Lo siapa?" kesekian kalinya, Kinan mendengar suara dingin yang menusuk itu.
"Kamu nggak ingat sedikit pun sama aku?" tanya Kinan, "Baru sebentar, masa lupa. Ganteng-ganteng kok pikun."
"Cewek gila!" desis Agra kemudian memutar tubuh, melangkah kembali.
"Eh tunggu!!!" Kinan kembali mengejar. Ada semangat tersendiri yang Kinan rasakan. Sebab, ini kali pertama dia menyukai seseorang. Tujuan utama ingin membalas budinya pada Agra.
Selama Kinan hidup, hanya dilaluinya dengan belajar dan bekerja saja. Tuan Brown-Papa tirinya, selalu memantaunya. Kinan jadi tidak bisa bergerak bebas.
"Agra! Aku cuma mau bilang makasih sama kamu!" teriak Kinan masih berusaha menyamakan langkah.
Satu hal yang harus orang-orang ketahui. Agra paling malas berurusan dengan lawan jenis. Kecuali, Kakaknya, Mamanya, dan Adira---sahabatnya.
"Ishh!! Jutek banget sih!" Kinan menghentakkan kakinya di atas tanah, kesal. Kemudian lanjut berlari dengan langkah lebar. Ketika posisinya sudah dekat, tangan kokoh Agra di sambarnya cepat.
"Jangan sentuh gue!" mata Agra menajam ke arah Kinan. Dia menepis pegangan itu.
"Makanya nyaut dong kalau di panggil."
"Lo siapa?" tanya Agra datar.
"Kan aku udah bilang, aku cewek yang di rumah sakit. Yang kamu tolongin," jelas Kinan.
Agra tampak berpikir. Dia sama sekali tak mau mengingat kejadian apa-apa. Apalagi kejadian berbau tempo lama. Sangat merusak pikirannya.
"Gue nggak pernah nolongin cewek," Agra menjawab santai. Mimik mukanya datar tanpa ekspresi. Selalu begitu ketika bersitatap dengan lawan jenis. Terkecuali jika bersama orang-orang terdekatnya.
"Oh, mungkin kamu lupa," balas Kinan, "Tapi nggak apa-apa. Aku cuma mau balas budi atas pertolongan kamu. Mau nggak makan siang bareng aku?"
"Gue nggak laper."
Mendapat respon tak baik, hati Kinan sedikit mencelos. Tetapi, dia mencoba untuk mengabaikannya dan tersenyum tipis. Wajar Agra tidak mau, karena hari ini adalah hari pertama mereka berkenalan. Kinan berharap besok-besok, Agra menerima ajakannya. Semoga.
"Kalau terima surat dari aku, gimana?" Kinan teringat akan surat yang dibuatnya. Dia meraih amplop biru di dalam tasnya lalu menyodorkannya pada Agra.
Pertamanya Agra diam, mengunci tatapannya ke arah pemberian perempuan itu. Sedetik kemudian dia mengambilnya dan berlalu pergi menuju di mana motornya terparkir tanpa sepatah kata.
"Semoga kamu baca, Agra," Kinan berbisik pada angin sepoi, "Aku bahagia, waktu tau kamu sekampus bareng aku. Ada kesempatan buat aku mengenal kamu lebih jauh. Tapi belum apa-apa, kamu sudah menolak kehadiranku," dia tersenyum lirih.
Kinan menghirup napas dalam-dalam, berharap rasa sepi di hati, nantinya akan terobati oleh sosok Agra. Sosok yang dengan sekurang ajarnya, mengaduk-aduk perasaannya.
"Semangat Kinan. Kamu pasti bisa. Nggak boleh nyerah," kata penyemangat untuk dirinya sendiri.
••••
Yang aku rasakan saat ini, hidupku terasa lebih indah karena dirimu, hanya karenamu. Hati ini seakan tergerak saat pertama kali melihatmu. Kamu seperti magnet, menarikku agar mendekat, tanpa aku sadar, aku sudah jatuh ke dalam pesonamu.
__ADS_1
-Isi hati seorang kinan.