Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 22


__ADS_3

Jangan membuatku terbang, jika tak ada niatan bertanggung jawab.


......


Selama di perjalanan, baik Agra maupun Kinan, sama-sama terdiam. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing. Dengan kecepatan sedang, Agra melajukan motornya, menuju alamat yang sudah Kinan beritahukan sebelum mereka gerak. Siang yang cukup panas, menghasilkan peluh keringat di dahi Kinan. Kinan mengelapnya dengan tisu yang baru saja dia ambil di saku celananya.


Dari pantulan kaca spion kiri, Agra memperhatikan Kinan yang tengah menghapus keringat. Detik itu juga akalnya bekerja dan hatinya berteriak, mengapa dengan gampangnya, tubuhnya menghampiri Kinan kembali saat dilihatnya Cakra menarik paksa Kinan, tadi.


Seolah hatinya memberontak untuk segera menjauhkan Kinan dari Cakra. Agra benar-benar tidak mengerti mengapa reaksi tubuhnya mendadak susah untuk dia kontrol sendiri. Bahkan hari ini dia kembali melanggar larangan yang dia buat untuk dirinya sendiri. Agra ikut campur ke dalam urusan Kinan dengan Cakra dan terlihat begitu peduli pada Kinan.


Entahlah. Agra benar-benar tak percaya atas dirinya. Untuk saat ini, Agra hanya mengikuti apa reaksi tubuhnya. Tapi, tetap saja, dia tidak akan membuka hatinya untuk Kinan.


"Agra kan nggak mau, kenapa tadi balik lagi?" tanya Kinan setengah berteriak karena posisinya mereka sedang di jalan raya. Suara kendaraan lebih besar daripada suaranya.


Agra dengar tetapi dia memilih tidak bersuara.


"Agra nggak suka kalau Cakra gangguin aku ya? makanya muncul lagi?" lagi-lagi Kinan bertanya. Selama laki-laki itu, Agra, banyak omong adalah hobi Kinan.


"Jawab dong, Agra. Jangan diem terus," Kinan menarik-narik kecil jaket hitam yang dikenakan Agra.


"Cemburu ya sama Cakra?" Kinan menyerongkan kepalanya. Agar dapat melihat wajah Agra, meski hanya bisa dari samping. Ekspresi Agra datar. Laki-laki tampan itu tetap fokus pada jalanan. Sama sekali tidak melirik Kinan.


"Kalau Agra nggak dateng, mungkin sekarang ini yang boncengin aku bukan Agra, tapi Cakra," Kinan berkata dengan suara pelan, namun mampu Agra tangkap sebab suara kendaraan tidak terlalu bising seperti tadi.


"Jangan pernah pergi bareng dia," cicit Agra sangat pelan.


Kinan kembali mencondongkan kepalanya, "Hah? Apa Agra? Barusan Agra ngomong apa? Aku nggak denger."


"Nggak ada. Cepetan turun! Udah sampai!" sentak Agra lalu menghentikan motornya. Memarkirkannya di tempat khusus parkir. Dengan berat hati Kinan turun, padahal tadi jelas-jelas kalau Agra ada bilang sesuatu.


"Mau apa lo ke gedung ini?" tiba-tiba Agra bertanya. Dia sudah berdiri di samping Kinan tanpa melepas jaketnya. Wajahnya terlihat bingung sekaligus penasaran.


"Ada perlu, Agra. Ayo kita ke dalam," Kinan berjalan lebih dulu. Agra mengikutinya. Kinan mengamati interior kantor rekan bisnis Mr. Brown. Kinan terpukau akan desain yang begitu elegan. Bersih dan benar-benar nyaman. Dia sempat berpikiran bahwa siapapun yang berhasil mendapatkan kesempatan bekerja di sini, pasti gajinya sangat besar. Lihat saja gedung kantornya sangat tinggi dan luas.


Mereka memasuki lift, Kinan menekan tombol 30. Kinan sempat dikasih tahu oleh Brown, di mana letak ruangan Mr. Albert dan ada di lantai berapa. Makanya, dia tidak bertanya lagi pada resepsionis. Melupakan sejenak keindahan bangunan ini, Kinan mendadak terserang kegugupan serta ketakutan. Sebentar lagi, dia akan bertemu Tuan Albert, pria yang sekurang ajarnya mengajaknya bermalam di hotel dan ternyata adalah salah satu rekan Mr. Brown.


Sungguh, Kinan benar-benar gugup. Kinan mengepalkan tangannya erat agar gemetar yang dia rasakan dapat berkurang. Namun sia-sia. Dan semua keanehan Kinan, tidak satu pun yang terlewatkan oleh Agra. Agra diam-diam memperhatikan setiap kelakuan Kinan, gerak-gerik tubuhnya membuat Agra mati penasaran.


Sebenarnya, siapa yang mau cewek ini temui?


Ting!


Lift berhenti di lantai 30. Kinan keluar seraya menghirup napas dalam-dalam, apalagi ketika matanya mengarah pada papan nama bertuliskan ruang CEO atas nama Albert Clein. Lututnya melemas. Rautnya pucat pasi. Mengingat jika Agra ada di sampingnya saat ini, Kinan mencoba tetap tenang.


"Agra, kamu tunggu di sini ya, aku ke dalam dulu," ucap Kinan yang di balas Agra dengan anggukkan kepala singkat.


"Kalau kamu capek berdiri, duduk di sana dulu ya," Kinan menunjuk kursi tunggu dekat tangga darurat. Menyuruh Agra duduk di sana jika dia lelah.


Agra hanya berdehem.


Kinan mendekat ke meja sekretaris tepat di dekat pintu ruangan CEO. Dia tersenyum ramah pada wanita di balik meja, "Saya Kinan, Mbak. Ingin bertemu dengan Pak Albert. Pak Albertnya, ada?"


Wanita berpakaian kasual itu tersenyum ramah dan mengangguk, "Silahkan masuk Mbak. Pak Albert sudah menunggu anda."


"Baik. Terima kasih." ucap Kinan lalu berjalan ke arah pintu coklat dan mengetuknya. Seseorang di dalam sudah menyuruhnya masuk. Kinan mengambil napas lagi, sebab napasnya mendadak tercekat. Kinan masuk dan menutup pintu.


Saat itulah Albert memutar kursi kerja kebesarannya. Melihat Kinan dengan seringai iblisnya. Di jemarinya, terselip sepuntung rokok. Albert menghisap benda kecil itu lalu menghembuskan asapnya ke udara. Kinan terbatuk-batuk karenanya.


"Akhirnya kau datang juga, sayang. Aku sudah menunggumu dari tadi," kata Albert nakal. Dia berdiri setelah mematikan rokoknya. Berjalan, mendekati Kinan dengan kedua tangan tenggelam dalam saku celana, "Bagaimana perjalananmu ke sini? Apa kau tak merasa takut sama sekali?"

__ADS_1


Kedua jemari Kinan menyatu di depan, dia gugup karena jarak Albert begitu dekat dengannya. Kinan mencoba mengukir senyum di wajahnya, "Baik Tuan. Tidak ada kendala apapun."


"Baguslah kalau begitu," Albert meneliti lekat penampilan Kinan dari atas sampai bawah. Albert memutari tubuh Kinan. Dia sedikit tergoda dengan lekukan tubuh perempuan itu. Kinan merasa risih, "Ngomong-ngomong, kau sangat cantik hari ini. Bahkan sangat cantik dari pertemuan pertama kita. Aku akui, kau sangat pandai merawat tubuhmu."


Memaksakan senyum untuk tetap mengembang, Kinan berkata, "Terima kasih Tuan atas pujiannya."


"Tapi kau telah menjelek-jelekkanku!" ekspresi Albert berubah murka. Dia mencengkram rahang Kinan tiba-tiba hingga tubuh Kinan mundur, menabrak dinding. Kinan meringis dan mencoba melepaskan tangan Albert, namun nihil. Tenaganya tidak cukup kuat.


"Aku tidak akan pernah menerima perkataanmu waktu itu! Harga diriku telah kau jatuhkan! Aku ingin kau menanggung semua akibat atas kata-katamu padaku!" Albert semakin mencengkram kuat rahang Kinan sampai memerah.


Setelah puas, Albert menghempaskan wajah Kinan kemudin berjalan sedikit menjauh. Kinan langsung memegang bagian yang nyeri itu. Dia menatap Albert, takut.


"Cepatlah bersujud di bawah kakiku! Minta maaflah padaku!" suruh Albert tak terbantahkan.


Perlahan, Kinan berjongkok dan menjatuhkan lututnya tepat di depan kaki Albert. Bersujud layaknya seorang budak. Lagi pula, Kinan siapa yang bisa menentang perkataan pria di hadapannya ini? Bahkan di dunia yang luas dan besar ini, dia hanyalah bayangan titik samar. Tidak akan terlihat oleh siapapun.


"Maafkan perkataan saya malam itu, Tuan. Saya mengaku salah. Saya berjanji tidak akan melakukannya lagi," suara Kinan terdengar serak. Matanya hanya menatap ke sepatu pantofel Albert. Tidak berani mendongakkan kepalanya ke atas.


"Pergilah! Jangan sampai aku melihat wajahmu lagi!" desis Albert lalu duduk kembali di kursi kebesarannya.


Mendapatkan perintah itu, buru-buru Kinan bangkit dan memperbaiki penampilannya, agar setelah dia keluar dari ruangan ini, Agra tidak akan curiga apa yang telah terjadi padanya.


......


Pertama kali yang terekam di pandangan Kinan ketika menutup pintu ruangan Albert adalah sosok Agra, bersandar di dinding dekat tangga darurat dengan kedua tangan tenggelam di dalam saku jaketnya.


Hembusan napas gusar, terhela begitu saja dari bibir ranum Kinan. Dia perlahan mendekat dan sesegera mungkin memasang senyum palsu. Topengnya dia gunakan lagi. Meski jauh di dalam sana, hatinya menjerit meminta tolong.


"Lama ya nungguin akunya?" tanya Kinan sesampainya dihadapan Agra, "Maaf ya, Agra. Tadi ada kendala sedikit di dalam."


Agra cuma berdehem singkat. Raut wajahnya datar, tanpa ekspresi. Kinan tidak bisa menebak apa isi pikiran Agra. Terlalu susah baginya.


Di dalam lift, mereka sama-sama terdiam. Keadaannya sangat canggung. Yang Kinan lakukan sedari tadi, memilin jemarinya, berharap cepat tiba di lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, Kinan melangkah duluan, sementara Agra tetap tenang dalam langkah kecilnya. Mata tajamnya, mengamati punggung kecil Kinan. Pikirannya tidak pada tempatnya, melayang entah kemana.


Siang sudah tergantikan oleh sore. Langit yang tadinya cerah, sudah berubah meredup. Sepertinya sang langit ingin menangis. Lihat saja, awan hitam mulai terbentuk, angin-angin mulai bergerak tak tahu arah. Kinan memeluk tubuhnya dengan kedua tangan. Dia kurang suka cuaca dingin.


"Pake," Agra melempar jaketnya pada Kinan. Dengan sigap, Kinan menangkapnya. Menyisakan kaos polos berwarna hitam, melekat di tubuh tegap Agra.


"Aku nggak kedinginan kok, Agra," Kinan menyodorkan lagi jaketnya kepada sang pemiliknya, "Yang perlu jaket itu Agra. Kan Agra bawa motor. Nanti masuk angin."


Agra menatap tajam Kinan dan jaketnya secara bergantian. Membiarkan tangan Kinan menggantung di udara tanpa berniat mengambil barang miliknya, "Reaksi tubuh lo bertolak belakang."


"Itu tadi aku cuma akting aja. Mau lihat reaksi kamu gimana kalau lihat aku kedinginan, hehe," Kinan menyengir lebar.


Agra mendengus. Dia tahu kalau perempuan itu berbohong, "Alesan. Gue tau lo pengen banget make jaket gue. gue nggak mudah ditipu orangnya."


"Kok tau?" lengkungan bibir Kinan semakin melebar, "Jadi, beneran ini boleh aku pake, Gra?"


"Iya."


"Kamu aja, ntar kamunya malah kedinginan juga,"


"Lo aja."


Kinan menggeleng, "Ini, kamu pake lagi," dia memulangkan jaket Agra.


"Pake atau gue buang?!" Agra berseru lantang. Memberi dua opsi pada Kinan.


Segera mendekap barang kepunyaan Agra, Kinan memundurkan tubuhnya, siapa tahu tiba-tiba Agra menyambar lagi jaketnya, kan rugi. Kapan lagi coba, bisa mengenakan jaket punya Agra. Dengan cepat Kinan memakainya. Aroma maskulin langsung menyeruak masuk ke penciumannya. Sangat memabukkan.

__ADS_1


"Ayo naik!" sentak Agra tiba-tiba.


"Iya, iya," Kinan terkejut dan naik ke motor Agra seraya mengelus dadanya, "Suka banget kalo ngomong sampai nyentrum ke hati. Untung sayang."


......


Rintik-rintik mulai menyentuh bumi. Langit baru saja menangis. Hujan turun deras. Mau tidak mau Agra menepikan motornya di depan warung sate di emperan jalan. Agra mau saja jika menerjang hujan agar bisa sampai ke rumah dengan cepat. Namun, Kinan adalah alasan terkuat hingga Agra harus merelakan waktu berharganya lagi untuk perempuan itu.


"Turun!" perintah Agra.


Kinan turun sambil mengibas-ngibas rambut setengah basahnya karena terkena hujan, ke kanan dan ke kiri. Dia melepaskan jaket yang dia kenakan dan membentangnya di jok motor Agra. Sekiranya bakal kering setibanya hujan reda nanti.


"Karna nungguin lo, gue jadi laper!" ketus Agra. Dia pergi tanpa mengajak Kinan. Ekspresi Kinan mendadak muram. Dengan gontai, dia mengikuti Agra yang memasuki warung sate.


"Maaf, Agra," Kinan menunduk, merasa bersalah pada Agra. Mereka duduk berhadap-hadapan.


Warung sate sore hari ini, terlihat banyaknya pengunjung. Memang enak jika dingin-dingin begini, menyantap yang panas-panas. Sate salah satunya selain mie sop. Meski suara orang-orang lebih besar daripada suara Kinan, Agra bisa mendengarnya. Tapi dia memilih pura-pura tidak dengar.


"Satenya dua ya, Pak," Agra memesan sate. Tukang sate mengangguk, mengiyakan.


"Agra marah ya?" tanya Kinan hati-hati.


Tidak di jawab. Agra sibuk dengan ponselnya.


"Jangan marah ya? Besok janji nggak akan minta temenin Agra lagi," Kinan memilin ujung bajunya. Dia sangat takut Agra marah dan benci padanya.


"Makan!" hanya itu yang keluar dari bibir Agra. Selanjutnya, Agra sudah sibuk memakan satenya yang baru saja datang.


Kinan sendiri, meratapi satenya tanpa minat. Tangannya sama sekali tidak bergerak. Membuat Agra, menatapnya heran, "Gue bilang makan!"


Respon Kinan, menggeleng lemah.


"Gue nggak marah. Jadi makan sate lo," ucap Agra datar.


"Aku nggak mau, Agra," tetap sama reaksinya. Agra menaruh sendok makannya lalu menggerakkan sebelah alisnya agar terangkat.


"Lo nggak minta gue untuk suapin lo kan?"


"Enggak kok."


"Jadi kenapa lo nggak mau makan?"


Kinan menggaruk dagunya yang tidak gatal. Dia malu sebenarnya mengatakannya pada Agra, "Aku nggak suka bumbu sate."


Tidak ada acara pemaksaan lagi dari Agra setelah Kinan memberitahu hal itu. Agra kembali menyantap lontong satenya, kemudian mengambil satu tusuk sate dan menyingkirkan bumbunya.


"Ini, makan," Agra memberikan sate yang tadinya dia singkirkan bumbu-bumbunya, ke hadapan Kinan, meminta Kinan agar membuka mulutnya. Itu satu-satunya cara supaya Kinan juga bisa memakannya bersamanya.


Kinan speechles. Dia tidak percaya Agra sampai melakukan hal yang tak terbayangkan sebelumnya olehnya. Kinan termangu. Memandang Agra tak berkedip. Jantungnya memompa kuat. Desiran aneh kembali menggerayangi hatinya.


"Kalau jijik, bilang! Biar gue buang!"


Kinan tersadar akibat sentakan Agra. Disambarnya cepat sate pemberian Agra dan melahapnya dengan senyuman lebar, "Wahh, rasa satenya jadi lebih enak dua kali lipat!"


.........


**Gimana ya ngejelasinnya, sebelumnya aku minta maaf sama kalian yang masih mampir setiap kali aku update, aku ada rencana buat berhenti nulis di platform ini karena akhir akhir ini aku jarang banget buka apl mangatoon.


menurut kalian gimana, apa aku harus lanjutin cerita ini???

__ADS_1


aku butuh pendapat kalian**:)


__ADS_2