Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 8


__ADS_3

Cuaca cukup panas siang ini. Matahari setia di atas sana, memancarkan sinarnya. Ruangan besar dilengkapi dua AC kiri-kanan tak mempan sama sekali. Mereka masih merasakan gerah. Apalagi pintu ruangan sedari tadi dibuka terus ditutup kembali, begitu seterusnya. Sehingga uap AC melebur dan dalam ruangan tidak sejuk lagi.


Kedua laki-laki dengan posisi duduk sebarisan tampak gelisah. Masing-masing dari mereka menjadikan kertas di atas meja, menjadi sebuah kipas dan mengipasi wajah mereka sendiri. Berbeda dengan satu temannya yang sedari tadi anteng di tengah-tengah mereka. Mata tajamnya tak lepas dari kertas putih dihadapannya.


Mereka bertiga sedang di ruang rapat khusus panitia acara kampus. Sebulan lagi kampus Brawali akan mengadakan pentas seni dalam rangka ulang tahun kampus mereka yang ke 26 tahun. Agra, Afka, dan Abyan ditunjuk oleh salah satu dosen mereka menjadi perwakilan dari jurusan Akuntansi untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini.


Agra mendapat tugas untuk meminta persetujuan para pengisi acara pentas seni. Afka ditugaskan di bagian peralatan sedangkan Abyan di bagian konsumsi.


Siang inilah, mereka semua, para panitia berembuk demi kelancaran acara nanti. Sang ketua panitia membuka ruang diskusi. Ketua panitia berdiri di tengah-tengah ruangan. Meja-meja disusun membentuk huruf U.


"Bagian konsumsi apa ada kendala?" tanya sang ketua. Kali ini, Abyan ikut menyeruakkan suaranya.


Abyan menjadi perwakilan. Dia mengacungkan tangan kanannya, "Masalah konsumsi semua beres, ketua."


Faris-ketua panitia mengangguk semangat, "Kerja bagus," dia beralih menatap anggota bagian peralatan, "Masalah panggung, sound system, tenda, kursi untuk para tamu undangan, sampai saat ini apakah ada terjadi kendala?"


"Afka, bisa kamu konfirmasikan ke saya?" kali ini nama Afka disebut.


Afka berdiri, "Tidak, ketua. Semua sudah dipanjar. Tinggal tunggu, dua hari sebelum acara, soal sisa panjar segera saya bereskan. Saya dan anggota yang lain akan turun tangan langsung, mengecek semua persiapannya."


"Bagus. Terima kasih atas kerja kerasnya, Afka."


"Sama-sama, Ketua," Afka duduk kembali.


Meskipun Afka terkenal sebagai pemain wanita, tapi dalam hal kepanitiaan, dalam hal berkelompok, dia tetap pada pendirian. Kerjanya patut diacungi dua jempol. Selalu ligat.


"Soal pengisi acara, bagaimana kelanjutannya, Agra?" terakhir, giliran Agra.


Semua yang hadir di sana langsung memandang Agra. Kira-kira sekitar dua puluh orang di dalam ruangan itu. Sosok Agra paling mencolok di sana. Bukan karena dia sendiri yang memakai jas hijau kebanggaan anak Akuntansi, tapi karena laki-laki itu sedari tadi memasang tampang datar dan terus diam. Dia juga tampak tenang di posisinya. Tidak mengeluarkan suara sama sekali. Bahkan ada yang mengira, kalau Agra tak lagi bernapas.


"Band-band artis sudah saya konfirmasi sesuai jadwal acara dan sudah disetujui. Rio Orkestra sudah saya konfirmasi. Para pemain biola sudah setuju. Para dancer untuk pembukaan acara sudah juga. Hanya tinggal mencari pemain piano wanita untuk di akhir acara, mengiringi para donatur dan pemilik yayasan dalam sesi pemotongan kue ulang tahun," Agra berucap panjang lebar.

__ADS_1


Para mahasiswi yang ada di sana, berdecak kagum. Sekalinya Agra mengeluarkan suara, omongannya panjang. Mata mereka tak berkedip saat Agra berbicara tadi.


Faris mengangkat sebelah alisnya, "Sudah tau siapa orangnya?"


Agra menggeleng, "Tidak ada yang bisa bermain piano dengan handal di kampus ini."


"Pasti ada. Kamu bisa tanya ke Pak Edo-dosen jurusan musik. Dia punya kenalan pemain piano wanita." ucap Faris percaya diri.


"Oke."


"Sampai sini ada yang ingin menambahkan?" pertanyaan Faris tertuju pada semua orang yang ada di ruang rapat. Satu detik, dua detik, tidak ada satu pun yang ingin bertanya.


"Baik semua, saya rasa untuk hari ini rapat kita sampai sini dulu. Laporin setiap perkembangannya ke saya. Biar saya bisa mengeceknya kembali. Terima kasih untuk waktu berharganya, selamat siang," Faris menutup rapat.


"Siang," balas mereka serempak lalu satu-satu berhambur keluar. Begitu pun juga Agra dan kedua temannya.


Suasana di sekitaran kampus masih ramai oleh para mahasiswa lain. Sampai malam pun, kampus masih saja berpenghuni. Semua mahasiswa pada aktif membentuk forum organisasi.


"Jangan lama lo," kata Abyan lalu berjalan ke arah kantin bersama Afka.


Laki-laki tampan berjas hijau itu melangkah gontai dengan kedua tangan tenggelam dalam saku jasnya. Dia fokus memandang jalanan depan, tak peduli suara pekikkan dari arah para mahasiswi yang melewatinya.


"Agra," suara lembut menyapa telinganya.


Bibirnya mengeluarkan helaan napas. Dia tahu itu suara siapa. Yang dilakukan Agra adalah berjalan tanpa berhenti. Langkah-langkah kecil terdengar dari arah belakang. Perempuan itu mengejarnya lagi.


"Agra kok jalan terus sih," Kinan kesal. Dia terus mengekori Agra.


"Jangan cepet-cepet dong. Capek tau," keluh Kinan lagi.


Sebagian orang memandangi mereka berdua. Kinan bersikap bodo amat. Dia tetap pada kegiatannya, mengusik ketenangan Agra.

__ADS_1


"Mau ke mana, Agra? Kok buru-buru banget?"


"Bukan urusan lo."


"Udah makan siang, belum?" tanya Kinan dari balik punggung Agra.


Agra diam. Masih terus melangkah.


"Agra kok makin hari makin tampan sih? Bikin pikiran aku kacau aja."


Lagi, lagi, Agra tidak menyahut.


Hati Kinan berdenyut sakit. Dadanya mendadak sesak karena tak kunjung mendapat respon. Ternyata mendapat sebuah perhatian kecil dari seseorang tidak mudah ya. Perjuangannya begitu keras. Tetap saja nihil. Agra masih cuek dan datar padanya. Mata Kinan memanas. Namun dia memilih untuk tetap tersenyum cerah. Secerah matahari siang ini. Kinan tak ingin menunjukkan kerapuhannya di depan orang-orang. Cukup orang lain mengecapnya sebagai perempuan ramah yang selalu tersenyum, Kinan sudah bersyukur.


Dan tanpa orang lain tahu, senyum yang dia pertahankan tak lain dan tak bukan adalah topeng pengalihan dari segala luka di hatinya. Topeng berlapis kebahagiaan yang sudah dirinya pasang sejak beberapa tahun lalu dan bertahan sampai sekarang.


Kinan tetap kuat. Kinan tak mudah lemah dan menyerah.


"Agra, suratnya udah dibaca kan?" suara Kinan kian meredup. Kakinya perlahan-lahan melambat dan berhenti.


Agra tetap bungkam dan meninggalkannya tanpa niatan berbalik arah.


Dia tersenyum sendu menatap punggung tegap yang perlahan menjauh, "Besok-besok jangan diem lagi ya," harapan terbesarnya. Kinan berlalu pergi meninggalkan area kampus, menuju tempat kerjanya.


Menyadari suara Kinan sudah tak lagi terdengar, Agra berhenti melangkah. Ada ruang hampa mengekang ruang hatinya ketika alunan lembut dari bibir perempuan itu tak lagi mengusik gendang telinganya. Agra memutar badannya, matanya menangkap kekosongan koridor kampus. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya.


Apa perempuan itu sudah lelah mengejarnya?


Apa perempuan itu mencari tempat untuk beristirahat, setelah itu kembali menganggunya?


Agra merasa kalau dia sudah bersikap kelewatan dengan kebungkamannya.

__ADS_1


Ah! Ya Sudahlah! Untuk apa Agra peduli.


__ADS_2