Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 15


__ADS_3

Malaikat pelindung datang melindungiku, sementara malaikat penghancur berusaha meremukkan hatiku. Dan bodohnya, aku malah mencintai sosok mengerikan itu


......


Tepat pukul 02.00 pagi, Kinan baru saja selesai dari pekerjaannya. Tubuhnya serasa remuk, sebab dari sehabis magrib klub ini buka, Kinan tidak berhenti melayani pelanggan yang memang setiap hari mengunjungi tempat hiburan itu. Sekedar minum ataupun menyewa wanita seksi untuk di ajak one night stand.


Sering kali pria hidung belang yang ada di sana, memandang Kinan terang-terangan dari atas sampai bawah. Tergiur dengan tubuhnya yang terbilang seksi. Apalagi setiap malamnya, Kinan selalu mengenakan baju dress ketat selutut, suruhan Mr.Brown. Masalahnya, kalau Kinan tidak menuruti apa yang Mr. Brown katakan, pria setengah baya itu tidak akan segan-segan menyiksa Kinan. Dengan berat hati, Kinan pun memakai pakaian seksi.


Kinan sebenarnya sangat risih. Terutama pada para pelanggan Mr. Brown yang rata-rata mempunyai perusahaan terbesar diberbagai negara. Kerap kali, melihatnya seakan ingin menerkam Kinan hidup-hidup. Kinan takut, tetapi dia tidak bisa berbuat banyak.


Dia ibarat seekor semut yang berada di tengah-tengah sekumpulan gajah. Dia terlalu kecil untuk melawan sekumpulan itu. Dia lemah dan tidak berdaya.


Tapi mau bagaimana pun Mr. Brown sudah mau mengangkatnya sebagai anak, meskipun kenyataannya pria itu tidak menganggapnya dan malah mempekerjakannya sebagai pelayan di klub, dikelilingin orang-orang bernapsu tinggi.


Kinan menatap pantulan dirinya di depan cermin. Kantung hitam di bawah mata sangat jelas terlihat. Mata sayupnya sedari tadi ingin terpejam, akibat kantuk menyerang. Namun, Kinan menahannya. Kinan ingin membersihkan diri terlebih dahulu dan pergi secepatnya dari sana.


Kinan merapatkan jaket yang dia kenakan, berjalan keluar dari gedung, menuju persimpangan jalan. Menunggu taksi lewat. Setiap pagi buta, Kinan selalu pulang naik taksi. Dan Mr. Brown tidak pernah mengkhawatirkan keadaannya. Apakah Kinan baik-baik saja di jalan? Bagaimana kalau Kinan dijahatin? Tidak. Mr. Brown tidak peduli padanya.


Justru, dengan dirinya terluka, Mr. Brown bukan semakin kasihan padanya, tapi semakin marah. Marah karena Mr. Brown harus merelakan uang puluhan jutanya dari usaha klubnya, gara-gara Kinan tidak bekerja. Kinan aset berharga bagi usaha klubnya. Ada Kinan-lah, klubnya semakin ramai di datangi pria-pria berkelas. Kinan pembawa keberuntungan. Kinan adalah budak kekayaannya.


"Hai Nona cantik," seorang pria tiba-tiba saja sudah berada di samping Kinan dengan satu tangan terulur ke depan. Ingin berkenalan.


Kaget pastinya. Kinan mundur selangkah. Dia mencoba berpikir positif dan mengontrol rasa takut di dalam dirinya.


Sekitaran yang sepi, membuatnya merinding. Tidak ada siapa-siapa lagi di jalanan. Taksi pun tidak ada yang lewat. Kinan merapal doa dalam hati, meminta perlindungan.

__ADS_1


"Perkenalkan, saya Albert Clein," pria itu memperkenalkan diri, "Siapa namamu, Nona?"


"Maaf Tuan. Saya harus pergi," ucap Kinan buru-buru dan berlalu. Namun, tangannya langsung ditahan oleh pria tadi.


Albert tersenyum penuh arti. Pasalnya dia mengenali siapa perempuan di hadapannya. Salah satu pelayan yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama hanya karena melihat tubuh seksinya.


"Kenapa terburu-buru?" tanya Albert, bermain-main, "Alangkah lebih baik kalau kita menghabiskan waktu bersama di kamar hotel. Bagaimana, Nona?" Albert mengedipkan sebelah matanya.


Mendengarnya, mata Kinan terbelalak. Yakin jika pria ini sangat berbahaya dan harus cepat dia hindari, "Saya rasa anda mabuk, Tuan. Bicara anda sedikit ngelantur. Saya permisi, Tuan," Kinan mengambil langkah lebar, menjauh. Tapi tampaknya pria bernama Albert, tidak akan melepaskannya begitu saja. Tangan Kinan kembali di cekal. Kali ini, kuat.


"Saya tidak mabuk sama sekali, Nona. Ayo kita bersenang-senang. Saya akan memberikan apa saja yang kamu mau, asal kamu tidur dengan saya," ujar Albert, gila.


Kinan menepis kasar tangan pria itu, "Maaf, saya bukan perempuan murahan. Sewa saja wanita yang bisa anda tidurin sepuasnya! Anda benar-benar tidak waras!"


Tentu perkataan Kinan tak digubris oleh pria berjas yang detik ini memandangnya murka, tidak terima dirinya dikatakan tidak waras, alias gila.


Bersikap tidak sopan adalah hal yang tidak Kinan sukai. Apalagi menginjak-injak harga dirinya. Kinan mendadak emosi, "Jaga bicara anda, Tuan! Saya memang bekerja di sana, tapi bukan berarti saya menjual tubuh saya pada pria-pria mesum itu, termasuk anda! Penampilan anda layaknya orang-orang berpendidikan tinggi, sekalinya berbicara seperti orang yang tidak bersekolah!" balas Kinan telak. Dada Kinan bergemuruh, naik turun, berusaha mengatur emosinya yang bersiap meledak lebih besar.


Albert melotot, "APA KAMU BILANG?!" tangan kanannya melayang, berniat menampar Kinan. Refleks Kinan menutup mata.


Sepersekian detik, terjadi keheningan. Kinan tidak merasakan sesuatu yang kuat, menampar sisi wajahnya. Hanya suara seseorang lain yang terdengar setelah itu.


"Jangan sekali-kali menyentuh kekasih saya dengan tangan kotor anda, kalau anda tidak ingin saya habisi detik ini juga!" suara berat yang berhasil membuat mata Kinan kembali terbuka, kemudian terkejut.


Kinan tidak salah lihat kan? Dia benar-benar kembali?

__ADS_1


Sangat tidak menyangka akan kehadiran lelaki tampan yang sangat dia rindukan. Tidak menyia-nyiakan waktu, Kinan menerjang tubuh tegap itu dan memeluknya erat seakan tak ingin lelaki itu pergi lagi meninggalkannya.


Nathan balas memeluk dan mengelus punggung Kinan, lembut, "Tenang baby, kamu aman sekarang," ucap Nathan, menenangkan.


Nathan beralih menatap pria di depannya dengan satu alis terangkat sebelah. Dia menunjukkan seringai tipis, "Kenapa anda masih di sini?" tanyanya, "Ingin menyaksikan bagaimana saya mencium perempuan ini dengan brutal dan membuat gairah anda semakin tak terkendali?" Nathan terlihat santai mengatakannya. Rasanya Kinan ingin sekali mencubit perut Nathan kuat-kuat. Sifat penggodanya tidak pernah hilang.


Albert mendesis, "Melihat tubuhnya saja saya tidak berminat! Ambil saja untuk anda!"


Dasar lelaki munafik! desis Kinan dalam hati.


Padahal pria itu yang awalnya memaksa ingin menyewanya. Dan tadi apa katanya? Melihat tubuhnya saja saya tidak berminat? Cih! Batin, Kinan kesal.


Setelah mengucapkan itu, Albert masuk ke dalam mobilnya, kemudian melesat pergi. Menyisakan Kinan yang saat ini sudah mendaratkan tangan mungilnya ke perut Nathan, mencubitnya penuh perasaan.


"Aw! Aw! Sakit baby! Astaga!" rintih Nathan. Cubitan Kinan kecil, tapi sakitnya minta ampun, "Ini balesan kamu sama aku? Aku udah nolongin kamu ini loh."


Kinan mendengus keras, "Siapa suruh ngomong mesum kayak tadi! Mencium perempuan ini dengan brutal?" Kinan mengikuti kata-kata yang Nathan lontarkan, "Awas aja kalau berani!"


Wajah tampan itu terkekeh pelan, "Bercanda baby. Sini aku peluk lagi," Nathan menarik Kinan ke dalam pelukannya. Aroma mawar menguar harum dari rambut Kinan, tercium jelas oleh Nathan. Salah satu hal yang paling Nathan suka dari Kinan.


"I really miss you, Baby. I'm come back for you," bisik Nathan lembut.


Kinan tersenyum senang dan mengeratkan pelukannya. Sungguh ini seperti mimpi bagi Kinan.


"I miss you, Nathan."

__ADS_1


Sosok pelindung sekaligus penyemangat dan sosok yang selalu bisa membuat Kinan tertawa bahagia setelahnya.


Itulah dia, Nathan Moreno.


__ADS_2