Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 19


__ADS_3

Kata biasamu menyerangku dalam bentuk kekhawatiran yang luar biasa hebatnya. Aku tak sanggup.


........


Ruang tamu bernuansa Eropa dengan tiga bingkai foto berukuran besar, tertempel sempurna di dinding dan dua buah patung singa berdiri tegak di sudut ruangan. Satunya lagi di dekat tangga menuju lantai atas.


Tepat di sisi dinding sebelah kiri, terpampang foto seorang wanita setengah baya tengah tersenyum manis sambil menggenggam bunga mawar merah di tangannya. Wanita itu adalah almarhumah istrinya Mr. Brown---Amelia Roselie Brown.


Di sisi kanan, ada foto seorang lelaki tampan, mengenakan jas hitam yang juga tersenyum sehingga wajahnya tampak semakin tampan. Otot-otot ditubuhnya tercetak jelas. Kharismanya sudah tidak dapat dielakkan lagi. Persis seperti Mr. Brown. Nathan Moreno Brown-lah lelaki di foto itu.


Dan di bagian dinding tengah, tepatnya di belakang sofa, foto David Brown atau yang lebih dikenal dengan Mr. Brown bersama istrinya Amelia, terlihat sangat bahagia seraya memegang pundak anak semata wayangnya, Nathan. Penerus perusahaan Brown.


Pria setengah baya yang kini masih setia memandangi foto-foto keluarganya sembari menyeruput kopi hitam di single sofa, teralihkan oleh suara dering ponselnya. Dia meletakkan gelas kopinya di atas meja kaca, lalu meraih benda pipih itu dan menekan tombol hijau, menempelnya di telinga kanannya.


"Selamat malam, Pak Albert," sapa Mr. Brown lebih dulu.


Dalam hati, dia bertanya-tanya mengapa salah satu rekan bisnisnya meneleponnya dihampir tengah malam begini. Bukankah proyek yang mereka jalankan sudah selesai beberapa minggu lalu?


"Selamat malam Mr.Brown. Saya tidak mau berbasa-basi lagi. Saya ingin mengajukan protes pada anda," sahut suara berat di seberang sana. Nada suaranya sangat serius.


Tubuh Brown menegak. Keningnya berlipat, heran, "Apa terjadi suatu masalah pada proyek kita?" tebaknya.


"Di luar dari kerja sama kita. Saya ingin mengingatkan pada anda, agar mengajarkan salah satu pelayan di klub anda itu, cara menghargai bentuk perhatian dari pelanggan tetap. Saya merasa terhina karena sudah dijelek-jelekkan olehnya," perkataan Albert dibarengi emosi tertahan. Di sana, dia menyeringai. Bisa membayangkan apa yang akan perempuan ****** itu dapatkan dari kejadian tempo hari, saat Brown mengetahuinya.


Brown semakin bingung kemana arah pembicaraan Albert. Dia tidak mengerti sama sekali, "Siapa yang anda maksudkan?"


"Pelayan yang kemarin mengantarkan minuman ke meja saya atas perintah anda."

__ADS_1


"Kinan?" terpintas nama Kinan yang keluar dari bibir Brown, "Apa dia orangnya?"


"Ya. Sepertinya dia. Tanyakan padanya apa yang sudah dia katakan pada saya. Suruh dia datang ke hadapan saya dan meminta maaf di depan kaki saya atau saya akan mencabut kontrak kerja sama kita, Mr. Brown. Anda pasti tidak mau kalau sampai klub anda gulung tikar, bukan?" ancam Albert.


Air muka Brown pucat pasi. Rahangnya mengeras, tangannya bebasnya terkepal kuat, "Baik Tuan Albert. Saya akan menegurnya dan menyuruhnya menemui anda untuk meminta maaf. Sekali lagi, saya selaku bosnya, minta maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan anda. Saya pastikan itu tidak akan terjadi lagi."


Tidak ada jawaban. Hanya suara sambungan telepon terputus yang Brown dengar setelahnya.


Dilemparnya ponselnya ke atas sofa. Kinan benar-benar tidak tahu diuntung. Dia harus memberi sedikit pelajaran.


"KINAN!" teriakan Brown menggema disepenjuru rumah sampai lantai atas.


Disusul suara derap kaki tergesa-gesa menuruni anak tangga, mendekat ke sumber suara, "Ya, Tuan, ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Kinan sesampainya dihadapan Brown.


Plak!


Satu tamparan mendarat indah di pipi tirusnya hingga meninggalkan jejak merah bercampur nyeri di sana.


"Dasar tidak tahu diri!" maki Brown dengan wajah mengetat, "Apa yang sudah kau katakan pada rekan bisnisku, Kinan?!"


Kinan melempar tatapan tanya. Dia benar-benar tidak tahu arah pembicaraan Brown, "Saya tidak mengerti maksud anda, Tuan."


Memilih tak menjawab lagi, Brown menelepon Albert. Pada nada sambung ketiga, Albert mengangkatnya.


"Ya, Mr. Brown?"


"Ingatkan perempuan ini tentang dirimu," Brown berucap datar dan memberikan ponselnya pada Kinan.

__ADS_1


Dengan perasaan was-was, Kinan menempelkannya di telinga kanannya, "Halo?" hanya kata itu yang mampu dia lontarkan. Selebihnya, Kinan menggigit bagian bawah bibirnya, gugup.


"Akhirnya saya bisa berbicara denganmu lagi, cantik," tutur Albert, "Apakah kamu masih ingat dengan saya?" nada suara Albert terdengar menggoda. Kinan mematung di tempat. Tangannya meluruh, jatuh. Mata indahnya melirik ke arah benda pipih itu lalu beralih menatap Brown yang saat ini sudah bersiap mengeluarkan tanduk.


Direbut paksa benda miliknya, Brown kembali mengambil alih percakapan, "Maaf sudah menganggumu, Tuan Albert. Selamat malam."


"Kau sudah ingat, Kinan?" Brown melangkah, mendekati Kinan. Pandangannya seakan menguliti Kinan hidup-hidup.


Otomatis Kinan mundur. Air wajahnya pucat pasi, "Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau pria itu rekan bisnis anda."


Satu tarikan saja, rambut Kinan sudah berada digenggaman Brown, menariknya hingga Kinan berada tepat di depannya. Jarak mereka sangat dekat. Kinan meringis kesakitan. Kedua matanya sampai terpejam sangking denyutnya di bagian kepalanya.


"Sudah kuingatkan padamu untuk tidak membuat masalah pada para pelangganku, termasuk semua rekan bisnisku!" ucap Brown tajam, "APA KAU TULI, KINAN?!" teriak Brown di kalimat terakhirnya.


"Saya minta maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak tahu. Saya salah, Tuan. Tolong lepaskan tangan anda, Tuan. Kepala saya sangat sakit," melas Kinan dengan telapak tangan bersatu dengan telapak tangan yang lain, memohon ampun.


Bukan melonggar, justru tarikan itu semakin menguat. Brown tidak akan pernah merasa kasihan atas penderitaan Kinan yang dia dapatkan karenanya. Kinan tahu, Brown mempunyai sifat keras, pemaksa dan tak terbantahkan. Tetapi selalu membuatnya murka. Jelas saja Brown menyiksanya. Tak pandang bulu meskipun lawannya adalah seorang perempuan.


Dihempaskannya rambut Kinan kuat sehingga tubuh mungil Kinan ikut terhuyung ke belakang. Kabut emosi masih menyelimuti diri Brown. Gemeletak gigi menyapa diantara ringisan kecil yang keluar dari bibir Kinan. Bahkan, isakan pun mulai terdengar. Kinan menangis.


Brown tertawa sarkas. Dicengkramnya rahang Kinan tanpa perasaan, "Mau nangis darah di depan saya, saya tidak akan pernah iba padamu! belajar dari kejadian sebelumnya, Kinan! Seharusnya kau tak perlu memancing amarahku lagi! Kau tahu jika aku marah, kau bisa saja kuhabisi detik ini juga! Jadi berhati-hatilah dalam bertindak!"


"KAU MENGERTI?!"


Tangis Kinan semakin deras. Bibirnya bergetar hebat. Cengkraman Brown sungguh menyakitkan ditambah bagian kepalanya masih berdenyut, sakit.


"Me-mengerti Tu-tuan. Sa-saya minta maaf," balas Kinan terputus-putus. Cairan bening menetes tanpa henti dari kedua mata indahnya.

__ADS_1


Sekali lagi, Brown ingin menyentak pegangannya pada rahang Kinan, namun suara menggelegar lain, menghentikan aksinya.


"PAPA! APA YANG KAU LAKUKAN PADA, KINAN?!


__ADS_2