Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 31


__ADS_3

Sepanjang turunan tangga menuju lantai dasar, baik Cakra dan Kinan sama-sama membungkam. Hanya suara tapak kaki sepatu mengiringi perjalanan mereka. Cakra kehabisan kalimat sementara Kinan menatap hampa lantai-lantai marmer sebagai pijakannya.


Siang yang cerah, tak lupa sengatan matahari membakar kulit. Puluhan mahasiswa masih setia berada di kampus padahal jam ngajar telah usai sejak dua jam lalu.


"Buruan jalannya! Lelet amat! Keburu jok motor gue jadi kompor! Panas!" Cakra menggerutu tak sabaran melihat kelambatan Kinan, mengikutinya.


"Sabar, Cakra. Badan aku lemes banget. Pelan-pelan aja ya?" pinta Kinan tidak bersemangat.


"Siapa suruh lo nangis kejer? Siapa suruh lo nekuk-nekuk badan lo? Siapa suruh lo mendem-mendemin kepala lo? Siapa suruh lo ngesot di lantai kayak tadi? Siapa?!" Cakra terus saja ketus pada Kinan. Entah apa yang merasukinya. Yang jelas, Cakra tidak suka Kinan masih menyukai Agra di saat dia tahu kalau Agra tidak bisa membalas perasaan Kinan.


"Lemes kan lo?!" sinis Cakra, "Dasar! Bilang aja lo pengen gue gandeng. Ngaku?!" tanpa persetujuan Kinan, Cakra meraih tangan kanannya dan menggenggamnya erat. Membawanya ke area parkiran, tempat motornya berada.


Terlalu malas menanggapi ketusan Cakra, Kinan memilih mengikuti dalam diam. Tidak membantah sama sekali.

__ADS_1


"Gue terima pernyataan cinta lo."


Entah dari arah mana, Agra tiba-tiba sudah berdiri menjulang tinggi di samping Kinan. Kinan mematung. Beda dengan Cakra, mendengus tak suka.


Ekspresi Agra, datar, "Jadi, mulai saat ini lo pacar gue. Lo juga pulang bareng gue."


Ini benar-benar sulit dipercaya. Baru saja dua yang lalu Agra menolaknya bahkan mengecapnya murahan. Dan lihatlah sekarang, Agra datang kembali dan mengatakan jika dia menerima cintanya.


Apa Agra mencoba mempermainkan dirinya?


Decihan dari arah Cakra, mengalihkan pandangan Agra agar melihatnya, "Bukannya lo nolak dia secara sadis? Kata lo dia cewek murah*n, kenapa sekarang lo datang-datang ngumumin kalau lo nerima cinta Kinan? Apa Kinan tampak seperti mainan di mata lo?"


Agra tetaplah Agra. Si wajah datar, dingin, ketus, dan tidak berperasaan.

__ADS_1


"Apa urusannya sama lo?" tanya Agra seraya menaikkan sebelah alis. Wajahnya meremehkan, "Emang lo siapa Kinan? Bukan siapa-siapanya kan?"


Cakra merasa Agra sengaja memancing emosinya. Cakra mengambil langkah, menyembunyikan tubuh Kinan di balik punggung besarnya. Tidak akan membiarkan Agra semudah itu membawa Kinan setelah menyakiti hati perempuan itu.


"Gue memang bukan siapa-siapa Kinan, tapi menyangkut hati dia, gue nggak akan tinggal diam. Lo sakitin dia, lo siap lawan gue," kata Cakra serius.


Ini merupakan perdebatan sengit antara dua kubu. Dua orang yang tidak pernah saling bertegur sapa, dua orang yang saling bermusuhan sejak lama.


Selangkah lebih maju, Agra menyorot Cakra dalam. Mata tajamnya mengarah tepat ke manik mata Cakra, "Nggak perlu repot-repot lagi jadi pahlawan kesiangan Kinan. Mau gue sakiti Kinan berulang kali, itu bukan urusan lo. Mau lo coba larang dia untuk nggak suka sama gue lagi, gue yakin dia tetap menyukai gue. Mulai sekarang lo nggak ada hak buat deketin dia lagi," ujarnya percaya diri, "Ayo, ikut gue."


Layaknya orang dungu, Kinan mengikuti tarikan tangan Agra. Mulutnya seolah dilumuri lem, tubuhnya seolah dilumuri semen, pandangannya kosong menatap tangan besar yang saat ini tengah menggenggamnya. Kinan seolah tidak ingin tahu ke mana Agra akan membawanya.


Merasakan jika tangan Agra sudah terlepas darinya, barulah Kinan mengerjapkan matanya. Sosok Agra terlihat jelas dan keinginan memeluk Agra pun terlintas di pikiran Kinan, namun buru-buru diurungkannya. Lamat-lamat, matanya kian memanas.

__ADS_1


"Jangan nangis! Jadi cewek gue harus tahan banting!"


Masih saja membentak, kapan Agra lembutnya?


__ADS_2