Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 28


__ADS_3

Hatiku ibarat kaca yang ketika jatuh, hancur berkeping-keping.


......


Pagi ini sedikit berbeda dari pagi biasanya, pasalnya Mr. Brown tidak ada di rumah saat Kinan bangun dari tidurnya, jam 5 subuh tadi, pria setengah baya itu sudah pergi entah ke mana. Kinan tidak tahu jelas ke mana perginya. Di satu sisi, dia amat bersyukur ketidakadaan Brown hari ini. Itu artinya, Kinan tak perlu menulikan telinganya lagi ketika Brown mengeluarkan kata-kata umpatan untuknya.


Mengetahui jika di rumah hanya ada dia dan Nathan, Kinan buru-buru menuruni anak tangga menuju lantai satu setelah menyambar tas slempangnya. Hari ini Kinan mengenakan baju rajut tangan panjang berwarna coklat dipadukan celana cut bray berwarna putih. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai dan hanya menggunakan bandana warna putih. Senada dengan celana yang dipakainya.


Berjalan ke arah meja makan yang sudah diisi oleh sosok Nathan, di sana. Laki-laki tampan itu saat ini memakai setelan kemeja berwarna biru muda dengan bawahan celana kepper hitam. Rambutnya pun sudah tertata rapi sehabis dikasih pomade.


"Selamat pagi Bapak Dosen," dengan nada bergurau, Kinan berkata seraya duduk di kursi kosong tepat dihadapan Nathan.


Ucapan yang menghadirkan dengusan geli dari arah Nathan, "Selamat pagi juga cantik," dia mengedipkan sebelah matanya pada Kinan.


"Dasar genit," cibir Kinan disertai kekehan kecil.


"Sama kamu aja kok, Baby. Nggak masalah dong."


Kinan hanya tersenyum. Dia mengambil roti tawar di atas piring kemudian mengolesinya dengan selai coklat lalu memberikannya pada Nathan. Nathan menerimanya dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu membuat roti untuk dirinya sendiri.


"Kalau nanti kamu punya pasangan, apa kamu tetap memperlakukan aku seperti biasanya, Nat?" tanya Kinan. Pandangannya lurus ke depan, memandang Nathan tepat ke maniknya. Dia membiarkan rotinya menganggur di atas piringnya.


Nathan menghentikan kegiatan makannya. Dia mendongak untuk menatap Kinan dengan kedua alis tertaut sempurna, "Maksud kamu apa Baby?"


Dia tahu Nathan pura-pura tak mengerti arti dari pertanyaannya barusan. Kinan menghela napas pelan, "Maksudku, kamu akan tetap memanggilku Baby dan memberikan seluruh perhatianmu padaku saat kamu sudah memiliki kekasih?"


"Ya. aku akan tetap seperti itu padamu."


"Sekali pun ada kekasihmu?"

__ADS_1


Nathan mengangguk mantap. Dia sudah tak berselera lagi menghabiskan roti buatan Kinan karena pertanyaan yang dilontarkannya, "Ya. Bahkan saat ada kekasihku."


Mata Kinan melebar mendengar jawaban santai yang keluar dari bibir Nathan. Dia benar-benar tidak habis pikir jalan pikiran lelaki itu. Dia tak bisa membayangkan bagaimana jika yang dikatakan Nathan benar terjadi, pasti perempuan yang berstatus kekasih Nathan nanti, perasaannya akan terluka. Persis seperti dirinya yang terluka ketika melihat Agra begitu dekat dengan Adira. Tapi Kinan sadar akan posisinya. Dia bukanlah kekasih Agra. Melainkan seseorang yang cintanya bertepuk sebelah tangan. Miris.


Menghilangkan rasa keterkejutannya, Kinan merubah ekspresinya menjadi tertawa renyah, "Bercanda kamu buat aku syok tau. Tapi entah kenapa aku lucu dengernya, Nat."


"Aku nggak sedang bercanda. Aku serius dengan ucapanku," Nathan menatap Kinan lekat. Pancaran matanya memang tak lagi bergurau. Kinan mendadak terdiam. Dia bingung dengan situasi di antara mereka kenapa menjadi seperti sekarang, sangat serius.


Tak mau berada di dalam kecanggungan ini terlalu lama, Kinan berdiri dan melempar senyum ke arah Nathan, "Jangan serius-serius atuh Bapak Dosen, masih pagi loh," dia melangkah sambil membawa piring kotornya ke bak cuci piring. Setelahnya mendekati Nathan.


"Aku pergi duluan ya, sebentar lagi kelasku di mulai. Kamu ntar hati-hati perginya," pamit Kinan seraya menenteng tasnya.


"Nggak sekalian bareng aku?"


"Enggak Nat. Aku pergi sama temenku. Dia udah nunggu di depan rumah. Aku pergi ya," Kinan bergegas keluar rumah. Di luar gerbang, Cakra sudah menunggu di atas motornya. Dia pun melangkah, mendekati Cakra lalu duduk di jok belakang.


Semuanya tak luput dari pandangan Nathan.


Sial! Nathan benar-benar penasaran!


......


"Pegangan! Entar kalo lo jatoh gue nggak mau mungut lo lagi!" Cakra mengeraskan suaranya saat motornya melesat di jalan raya. Mengetahui jika Kinan sedari naik, diam di belakangnya. Bahkan saat dia melajukan motornya kencang, Kinan sama sekali tak tersadar dan tak memegang bajunya sebagai pegangan.


Tak merespon, akhirnya Cakra menggeber-geber motornya hingga menciptakan kebisingan di pagi hari yang cerah ini agar Kinan sadar dari dunianya. Menghiraukan berbagai sumpah serapah dari pengguna jalan lainnya.


"Eh tukang bengong! Sadar lo!" Cakra masih dengan kegiatannya. Menggeber-geber motornya.


Kinan terperanjat kaget dan memukul punggung Cakra, kuat, "Kamu ngapain sih kayak gini?! Udahin nggak? Itu pada diteriakin sama orang-orang gara-gara suara motor kamu yang bisingnya ngalahin suara bajaj!" suaranya terdengar panik.

__ADS_1


Dengan dibarengi dengusan kasar, Cakra menghentikan aksi liarnya. Dia melirik sinis ke arah spion kiri yang memantulkan sosok Kinan, "Enak aja suara motor gue disamain sama bajaj! Beda jauh lah! Lebih lembutan suara knalpot motor ini lagi, kali!" desisnya tak terima.


"Iyain deh ya, biar cepat," balas Kinan, membuat Cakra mengumpat dalam hati.


"Gue mau ngebut! Pegangan! Soalnya kalau lo jatoh nggak bakal gue tolongin!" Cakra mengatakannya dengan keras.


"Iya-iya! Dasar modus!"


Mau tak mau Kinan memegang sisi kanan dan kiri baju Cakra, sebagai pegangannya. Takut dirinya benar-benar jatuh dan berakhir dengan besok pagi dirinya berada di salah satu berita yang ada di koran, 'Seorang wanita terjungkal dari atas motor dan dinyatakan meninggal'. Membayangkannya saja membuatnya bergedik ngeri.


"Amit-amit dah. Jangan sampe," gumam Kinan sembari menggeleng kuat.


Sekitar lima belas menit, motor Cakra memasuki pelataran kampus dan berhenti di parkiran khusus Mahasiswa yang sudah ramai dipadati motor-motor lainnya.


"Turun lo ratu bengong!" ketus Cakra.


"Enak aja manggil aku begitu!" dengan dongkol, Kinan turun dan memberikan helm yang dikenakannya pada sang pemilik, "Ini helm bututnya aku kembaliin! Udah gitu, bau lagi!" setelah mengucapkan itu, Kinan melarikan diri.


Cakra melototkan matanya. Umpatan yang sedari tadi dia tahan, kali ini keluar dari bibirnya, "Sialan banget itu cewek! Helm mahal gini dibilang butut! Terus apa katanya tadi, bau?" dia mencoba mencium helm kepunyaannya, "Wangi gini kok. Dasar hidungnya aja kali yang mampet!" Cakra menggantung benda bulat itu di stang motornya. Memandang Kinan yang saat ini menjulurkan lidah ke arahnya.


Benar-benar tak terima, Cakra tak akan membiarkan Kinan lolos begitu saja setelah berhasil membuatnya teramat jengkel. Cakra pun mendengus keras dan mengejar Kinan. Kinan kaget dan lari semakin kencang.


"CAKRA! UDAH BERHENTI! JANGAN KEJAR AKU!" Kinan berteriak di sela larinya.


Kalah cepat karena Cakra dengan lihai menangkap Kinan dari belakang. Posisinya saat ini, Cakra di belakang Kinan, memeluk tubuh ramping perempuan itu.


"Kena lo! Lo nggak akan bisa lolos lagi dari gue setelah ngatain helm mahal gue! Ayo ikut gue, jelek!" canda Cakra dengan santainya merangkul Kinan, menuju kelasnya. Sedetik kemudian keduanya berderai tawa.


Tak menyadari jika sedari mereka di parkiran, Agra mendengar dan melihat semuanya.

__ADS_1


.....


Giliran mau masukin gambar selalu gagal hmm.


__ADS_2