
Tamparan keras mendarat dengan mulus di pipi kanan Kinan sehingga tubuh mungilnya terhempas ke atas sofa. Penampilannya malam ini tampak acak-acakan. Rambut tergerainya, berantakan.
Sekarang, dia sedang berada di tempat kerjaannya yang kedua. Sebuah klub ternama yang terletak di pusat Kota Jakarta. Seperti yang sudah Kinan katakan, bahwa setiap malam, dari jam delapan malam sampai menjelang subuh, Kinan bekerja di sana sebagai pelayan Bar. Setiap hari, sampai Kinan hanya punya waktu tiga jam untuk mengistirahatkan diri. Selepas itu, bangun lalu berangkat kuliah. Begitu seterusnya.
Kinan meringis, memegangi pipinya yang menghasilkan bercak memerah. Ada rasa ketakutan di kedua bola mata coklatnya, melihat kemurkaan pria berjas hitam dihadapannya. Pria berjas hitam yang kerap di sapa Tuan Brown itu, pemilik salah satu klub ternama sekaligus pemilik rumah judi yang namanya sudah terkenal di kalangan para pengusaha kaya.
Di dalam ruangan serba hitam dengan penerangan minim, Brown menatap tajam perempuan di depannya. Darah dalam tubuh kekarnya hampir saja mendidih, jika saja dia tidak mengingat status perempuan itu sebagai anak angkat dan budak kesuksesannya.
"DASAR TIDAK BERGUNA!" bentakan keras menyapu pendengaran Kinan. Dia menutup matanya, takut menatap mata Tuan Brown yang menyalang.
"KAU SUDAH MEMBUAT TUAN MAX, HAMPIR MENCABUT SEBAGIAN SAHAM MILIKNYA DI KLUB INI! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN KINAN?! JAWAB!"
"A-aku ha-hanya menendang kemaluannya," Kinan takut-takut mengeluarkan suaranya. Aura Tuan Brown, begitu mengerikan. Dia tak bisa berkutik.
Meski Tuan Brown Papa angkat Kinan. Kinan sama sekali tidak diperbolehkan memanggilnya dengan sebutan 'Papa'. Kinan sendiri tidak mengerti, kenapa.
Jawaban Kinan, sukses membuat mata elang itu semakin berkobar api, "APA KAU SUDAH GILA?! KENAPA KAU MENENDANGNYA, BODOH?!"
Pria setengah baya yang saat ini berdiri menjulang tinggi di depan Kinan, hendak kembali menampar sisi pipi Kinan lainnya. Namun, tangan kekarnya tertahan di udara. Sebagian hatinya memberontak untuk tidak menyiksa perempuan lemah itu malam ini. Kalau tidak, Kinan tidak akan bisa bekerja besok. Uang jutaan rupiahnya, tidak akan bisa dia dapatkan kalau tak ada Kinan.
"Dia ingin menyewaku dan aku menolak kemauannya itu! Dia semakin memaksaku Tuan! Max ingin melecehkanku!" Kinan memberanikan diri, meninggikan suaranya, meski dia tahu akan berakibat fatal.
Wajah Brown merah padam. Kemarahannya semakin membludak. Lolos sudah. Dia menampar pipi Kinan satunya lagi, kuat. Membuat tubuh mungil itu kembali terhempas, "KENAPA KAU TIDAK MENURUTI SAJA KEMAUANNYA?! DENGAN BEGITU AKU AKAN SEMAKIN KAYA!"
Kinan menggeleng kuat, menahan isakan yang sebentar lagi akan keluar, "Tolong Tuan, jangan menyuruhku untuk melakukan itu! Kau boleh menjadikan aku pelayan di tempat terkutuk ini, tapi tolong jangan suruh aku untuk melakukan hal terhina itu! Aku tidak mau!"
Suara gemeletak gigi Brown mengalun jelas di telinga Kinan. Kinan meneguk ludah susah payah. Seluruh tubuhnya merinding, "Kau sudah berani menentangku?!" pertanyaan Tuan Brown, lagi-lagi membuat tenggorokan Kinan terasa kering.
Brown berjalan satu langkah, mendekati Kinan. Tangan kokohnya menjambak rambut Kinan agak kencang. Tidak perduli jika korbannya adalah perempuan. Yang terpenting, dia ingin menuntaskan permasalahan ini dan keluar dari ruangan itu secepatnya.
"Sakit, Tuan! Tolong lepaskan!" Kinan berusaha melepaskan tangan Brown dari atas kepalanya. Rasa nyeri menjalar sampai ke ubun-ubun, "Maafkan aku Tuan Brown. Maafkan aku." mohonnya dengan lirih.
"Kau tidak ingat siapa dirimu, heh?!" Tuan Brown mengeluarkan seringainya, "Kau dengar baik-baik Kinan! Jangan pernah menentang kemauanku! Seperti kejadian beberapa tahun silam, kau lupa jika aku yang menolongmu dari para mafia-mafia itu! Kalau saja aku tidak berbaik hati saat itu, kau sudah di bunuh hidup-hidup Kinan! Aku yakin kau tak akan bisa melupakan kejadian tragis itu! Jadi jangan membuat ulah Kinan atau kau akan tau akibatnya!" Brown semakin menarik rambut Kinan, kuat.
"Iya, Tuan. Aku berjanji. Tolong lepaskan. Ini sangat sakit tuan," Kinan memohon dengan suara penuh luka. Bahkan lukanya sudah menjalar ke hati dan rongga dadanya hingga menyiptakan sesak yang luar biasa, sakitnya.
Tanpa bisa dicegah lagi, air mata Kinan menerobos keluar, badannya bergetar hebat. Pasrah akan nasibnya malam ini. Rasa sakit menjalari kepalanya, terasa nyut-nyutan, sebab Tuan Brown menjambaknya beringas, tanpa toleransi.
"Berterima kasih padaku, karena aku, hidupmu selamat! Bahkan hidupmu sekarang, jauh lebih baik semenjak aku mengangkatmu sebagai seorang anak dan mempekerjakanmu di sini! Dan siapa sangka, kehadiranmu justru membuatku semakin kaya raya," tawa licik tuan Brown menggema di sepenjuru ruangan. Tertawa di atas penderitaannya.
"Semua pengusaha berlomba-lomba ingin memberikanku banyak uang, menawarkan kerja sama perusahaan padaku. Jadi, jangan melakukan hal bodoh itu lagi pada salah satu pengusaha kaya itu! Kalau kau tidak ingin aku menyiksamu lebih dari ini!" ujar pria itu, memperingati.
"A-aku ja-janji Tuan Brown. Tolong lepaskan tanganmu. Kepalaku sangat sakit," Kinan memohon di sela tangisnya.
Sebelum melepaskannya, Brown mendekatkan bibirnya ke telinga Kinan. Membisikkan sesuatu yang membuat Kinan tidak dapat berkutik lagi.
__ADS_1
"Turuti semua keinginanku atau kau akan aku umpankan ke salah satu pria hidung belang yang ada di klub ini. Kau tau jelas bukan, kalau semua pria yang ada di sini sangat menginginkan tubuh indahmu," suara mengerikan Brown bagai kaset rusak di telinga Kinan. Badannya merinding seketika.
Kinan mengangguk pasrah. Lebih baik dia menuruti keinginan pria jahat ini, daripada harus menjadi budak pemuas nafsu. Membayangkan saja membuat Kinan jijik.
Setelah mengucapkan itu, Brown meninggalkan Kinan dengan rasa sakit yang di terimanya. Rasa sakit yang sudah dirinya rasakan selama bertahun-tahun hidup di dunia yang kejam ini.
Dua hal yang Kinan percayai. Bahwa tidak semua orang memiliki kehidupan sempurna bak putri kerajaan di negeri dongeng. Tidak bisa juga memilih jalan hidup, sesuai dengan apa yang dirinya inginkan. Karena, skenario hidup bukan kita yang menentukan. Tapi, sang pencipta.
Hanya satu kata yang dapat mendeskripsikan keadaannya sekarang, yaitu 'takdir'.
Dan realita itu, berhasil menghempaskan tubuh mungil Kinan ke dasar jurang yang paling dalam, bahwa jalan hidupnya, sangatlah mengenaskan.
......
Kinan bangkit, ingin segera pergi meninggalkan tempat maksiat ini. Dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 12 malam. Untuk malam ini saja, biarkan dia bebas. Risih akan pakaian minim yang dia kenakan, Kinan meraih jaket miliknya di atas sofa lalu bergegas.
Suara dentaman musik menyapa telinga begitu dirinya keluar dari ruangan kedap suara. Penerangan minim di sana, membuat Kinan susah melihat sekitar, apalagi langkah Kinan sempoyongan akibat rasa pusing di kepalanya semakin menjadi. Efek dari jambakan Brown.
Sesampainya di luar club, Kinan menyusuri jalanan malam yang terlihat sepi. Dengan ditemani kegelapan, Kinan mengambil langkah cepat, mencari tempat yang masih disinggahi orang, sekedar menyelamatkan diri dari kesunyian malam, mencekam.
Hingga manik matanya, menangkap sebuah toko alat musik yang masih buka dengan empat orang lelaki sebayanya, berdiri di depan toko, sedang berbincang-bincang. Dari tempatnya, samar-samar Kinan mendengar percakapan mereka.
"Gue sama Kevin balik duluan ya Gra. Lo hati-hati di jalan entar," pamit Bimo pada Agra, yang hanya di balas dengan anggukkan kepala oleh lawan bicaranya.
"Jangan ngebut-ngebut lo Gra," sambung Kevin yang sudah duduk manis di jok motor sport Bimo. Bimo langsung melesat pergi, menyisakan Agra dan Rendi, yang masih setia berdiri di depan toko.
Agra menganggukkan kepala singkat, tanpa berniat mengeluarkan suara. Nyatanya sifat dinginnya sudah sangat dikenal baik oleh teman-temannya. Bagi yang tidak mengenal Agra, mereka akan mencapnya sebagai lelaki sombong. Dan Agra tidak peduli akan hal itu. Baginya, hidup hanya untuk menggapai dua tujuan, yaitu jadi orang sukses dan membanggakan kedua orangtuanya. Masalah percintaan, selalu menjadi urutan paling belakang dihidupnya.
Agra melirik arloji di pergelangan tangannya. Dia berjalan menuju motornya, bersiap memakai helm, tepat saat seseorang perempuan datang, mencengkram lengannya, lemah.
"Tolong aku," kepala Kinan tertunduk lemas. Dia mengatur napasnya sejenak.
Agra mengerutkan kening, heran. Kenapa perempuan ini masih berkeliaran di tengah malam seperti begini. Berpakaian seksi pula. Apa tidak ada rasa takut lagi di dalam dirinya mengingat tak ada siapa-siapa lagi di sekitaran sini.
Bodoh! Untuk apa Agra peduli.
Di rasa napasnya sudah kembali normal, Kinan mendongakkan kepalanya, menatap lelaki yang balik menatapnya terkejut kemudian mengubah rautnya tanpa ekspresi. Kedua mata Kinan melebar kala melihat wajahnya dan terpesona sesaat oleh manik mata coklat terang milik Agra. Iya, itu Agra. Kinan tidak mungkin berhalusinasi.
Jantung Kinan berdetak lebih cepat. Seperti ada kupu-kupu terbang di dalam perutnya. Mata itu menghipnotis Kinan untuk yang kesekian kali, sampai membuatnya terdiam sesaat.
"Lepas!" suara Agra yang dingin, mampu menyadarkan Kinan.
Kinan buru-buru melepaskan tangannya, "Maaf, Agra."
Agra memakai helm full face kesayangannya dan mulai menyalakan mesin motornya. Namun terhenti, sebab Kinan mencabut kunci motor Agra dari tempatnya. Lelaki itu melongo tak percaya. Berani sekali perempuan ini mengambilnya.
__ADS_1
Agra melirik Kinan ganas, ekpresi datar tak pernah hilang dari wajah tampannya, "Nggak usah kekanak-kanakan," ucapnya pelan tapi terdengar dingin.
Kinan menggeleng. Salahkan Agra yang ingin meninggalkannya, salahkan Agra jika dia jatuh ke dalam pesona si tampan berwajah datar lagi dan lagi. Kinan akui Agra sangat tampan jika dilihat dari jarak yang cukup dekat, "Anterin aku pulang dulu ya, Agra. Baru aku kasih."
Memilih tak mengindahkan ucapan Kinan, "Siniin kunci gue."
Kinan menyembunyikan kunci motor tadi dibalik punggungnya.
Agra mendengus kasar. Lama-lama kepala Agra bisa pecah, menjumpai perempuan gila sepertinya, "Lo nggak bosen apa muncul dihadapan gue terus?!"
Kinan tersenyum manis disertai gelengan kepala, "Malah aku suka hehehe," Agra sendiri tidak akan mempan dengan senyumnya. Tidak akan luluh sedikitpun.
"Apa yang lo mau dari gue?"
"Mau aku tuh, kamu anterin aku pulang. Ini tengah malem, masa kamu mau biarin perempuan kayak aku, sendirian di tempat sepi kayak gini," keluarlah kebawelan Kinan.
Apa itu tanggung jawabnya? Agra melirik Kinan, datar, "Gue bukan supir lo dan gue sama sekali nggak peduli."
Kinan berdecak kesal, "Pelit banget sih. Anterin pulang, ya, ya, ya?" dia mengeluarkan puppy eyes andalannya. Reaksi Agra? Bodo amat.
"Enggak."
Dan usahanya, tetap sama. Tidak membuat lelaki berjaket hitam itu, luluh.
"Cepat siniin kunci gue!" Agra meninggikan suaranya. Kinan menggeleng lagi, dan sukses membuat emosi Agra muncul ke permukaan. Agra turun dari motornya, lalu menarik tangan Kinan, merampas kunci motornya kasar. Tangan Kinan terluka sedikit, akibat terkena ujung kunci. Dan Agra tidak peduli. Salahkan perempuan itu yang sudah mempermainkan waktunya.
Kinan meringis pelan, menghembus tangannya yang berdarah, "Tangan aku jadi luka kan. Kamu sih nggak pelan-pelan," ucapnya, "Obatin dulu dong."
"Obatin sendiri," Agra naik ke motornya, kemudian menghidupkan mesinnya. Lagi, lagi Kinan menahan lengannya.
"Lepas!"
"Gak mau! Anterin dulu!"
"Gue bukan gojek."
"Plisss, tolongin aku," suara Kinan berubah sendu. Dia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Sana, ke kantor polisi! Jangan ke gue!" ketus Agra. Alih-alih tersentuh dengan reaksi perempuan itu. Justru Agra melajukan motornya kencang. Suara motor Agra pecah, membelah kesunyian malam.
Kinan mendongak. Menatap kepergian lelaki itu dengan perasaan campur aduk. Dia terduduk di depan emperan toko musik. Kepalanya menengadah ke atas langit tanpa ada bulan dan bintang di sana. Memejamkan matanya menikmati semilir angin.
Sebagian besar hatinya merasakan denyut yang luar biasa sakitnya. Kinan semakin yakin, jika hidupnya akan semakin mengenaskan.
Kinan yakin.
__ADS_1
Sangat yakin.