
Sudah hampir setengah jam Kinan terisak di depan lab komputer. Sejak kepergian Agra, Kinan sama sekali tidak beranjak dari sana. Posisinya masih sama kayak tadi, berjongkok seraya menenggelamkan wajahnya dilipatan tangannya.
Bagi Kinan, dibentak Agra sangat menyakitkan daripada dibentak ataupun dicaci maki oleh Mr. Brown. Kinan sampai saat ini belum mengerti, alasan kenapa Agra terlihat marah besar padanya. Kinan merasa tidak berbuat sesuatu hal memalukan ataupun hal lainnya, yang aneh. Tapi, kenapa Agra marah dan sampai mengata-ngatainya yang membuat hatinya semakin sakit?
Segitu tidak suka-kah Agra padanya?
Demi apapun, Kinan masih sedih dan ingin menangis lebih dari ini. Mengingat sebentar lagi dia harus pergi bekerja paruh waktu di toko buku, Kinan pun menghentikan tangisnya. Dia merapikan rambutnya, menghapus jejak air mata di pipi dan matanya lalu berdiri. Berjalan menuruni anak tangga sampai lantai paling bawah. Setelah itu, Kinan mengambil langkah keluar area kampus.
Namun, terhenti. Karena di depannya, Zerina berdiri menjulang, memandangnya khawatir. Bagaimana tidak, saat ini, kondisi kedua mata Kinan sembab sehabis nangis, hidung memerah, dan rambut sedikit berantakan dan basah.
Kinan mengutas senyum kecil, "Mau pulang juga, Na?"
Zerina mendekat kemudian memegang kedua pundak Kinan, "Siapa yang buat lo nangis?" tanyanya tanpa mengindahkan pertanyaan Kinan. Dia menatap Kinan penuh selidik.
"Gue habis nonton drakor. Ceritanya sedih. Jadinya gue mewek," bohong Kinan. Tidak ingin Zerina khawatir dan mengerok informasi lebih dalam lagi padanya.
"Gue tau lo beralasan supaya gue nggak khawatir sama lo. Udahlah Nan, jujur aja. Gue ini sahabat lo, asal lo tau." ucap Zerina memperjelas status mereka.
Kinan berusaha untuk tetap tersenyum meski itu sangat susah dia lakukan. Kinan memakai topengnya kembali. Topeng yang membuatnya mampu bertahan dari rasa sakit. Untuk sejenak dia melupakan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.
"Ihh, itu udah jawaban paling jujur, Nanaku sayang," Kinan mencubit pipi gembul Zerina. Zerina merintih sakit, "Kalau nggak percaya, nih liat isi video di ponsel gue, drakor semua." Dia menunjukkan isi ponselnya.
Memang benar. Di dalamnya banyak video drama dari negeri gingseng. Kinan hobi nonton film drama Korea. Dan itu menjadi alibinya agar Zerina seratus persen percaya.
Zerina manggut-manggut, percaya, "Payah kalau udah suka, mah. Nangis kejer pun jadi sangking bapernya."
Kinan cengegesan. Dia melirik singkat arloji di pergelangan tangan kirinya. Wajahnya beralih ke cemas, "Na, gue tinggal ya. gue udah telat nih, ke toko buku. Lo nggak apa-apa kan gue tinggal sendirian?"
Perempuan berambut sebahu itu tersenyum lembut kemudian mengangguk, "Nggak kok, Nan. Yauda, buruan pergi. Entar bos lo ngamuk lagi," candanya.
"Maaf ya, Na. gue tinggal dulu ya. Lo hati-hati pulangnya," pamit Kinan seraya berlalu. Tak lupa melambaikan tangan pada Zerina.
__ADS_1
Cuma butuh lima belas menit untuk Kinan sampai di tempat kerjanya. Sesudah mengganti baju bebasnya dengan baju kerja kepunyaannya, Kinan bergegas ke meja kasir. Menggantikan posisi Denis.
"Nona, terima kasih sudah mau menggantikan posisiku. Untuk hari ini saja, Nona. Aku ada urusan mendadak," Kata Denis merasa tidak enak.
Kinan mendengus pelan. Denis masih saja memanggilnya dengan sebutan itu. Kinan risih. Namun, dia tak mungkin memaksa Denis untuk mengganti nama panggilannya. Jadinya, Kinan biasa-biasain ketika Denis menyebutnya Nona.
"Tak apa Denis. Aku juga sudah tidak ada kelas tambahan di kampus. Kau pergilah. Segera selesaikan urusanmu," Kinan tersenyum pada Denis.
"Sekali lagi, terima kasih, Nona. Aku pamit," Denis melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu masuk toko buku.
Saat itulah, Kinan menghela napas lelah. Sebenarnya, Kinan sama sekali tak bersemangat setelah apa yang terjadi di kampus tadi. Kata-kata Agra, terus berputar dalam otaknya. Pikirannya hanya tertuju pada raut datar Agra bersama kata-kata nyelekitnya. Kesekian kalinya, hati Kinan mencelos.
Kinan termenung. Tangannya menjadi penyangga dagunya. Dia agak sedikit membungkuk di balik meja kasir. Sikut kanannya menempel di atas meja. Pandangannya kosong.
"Permisi, Mbak. Saya mau bayar bukunya," kata pengunjung cewek. Dihadapan Kinan.
Masih bergeming. Sepertinya Kinan belum sadar dari lamunannya.
Suara sedikit kuat, perlahan menyadarkan Kinan. Dia menarik sudut bibirnya. Tersenyum kikuk, "Astaga, maafin saya ya, Mbak. Saya bener-bener nggak sadar," Kinan merasa bersalah.
"Nggak apa-apa kok, Mbak. Ini, buku yang saya beli,"
Kinan menerimanya dan mengecek harga di layar komputer tepat di depannya, "Totalnya seratus lima puluh ribu, Mbak."
Pengunjung cewek tadi hendak mengeluarkan uangnya dari dalam dompet. Namun, seseorang tiba-tiba muncul dan menyodorkan dua lembar uang seratus ribu ke hadapan Kinan. Kinan termangu seraya menatap tangan itu.
"Pakai ini aja," dari suaranya, seorang lelaki.
Lantas, Kinan mendongak dan betapa terkejutnya dia ketika mata mereka saling bertemu. Kinan membeku. Tidak bisa berkata-kata. Kenapa Agra tiba-tiba ada di sini?
Dan siapa cewek, ini? Kenapa Agra membayarkan barang belanjaannya?
__ADS_1
Kinan merasa sangat cemburu. Dadanya sesak.
Tangan Agra masih menggantung sebab Kinan tak juga mengambilnya.
"Gue aja, Gra. Kan gue yang beli buku. Bukan lo," tolak cewek cantik yang tak lain adalah Adira-sahabatnya.
"Gue aja."
"No!! Gue yang bayar!"
Kinan menatap bergantian kedua manusia itu. Memperhatikan rupa keduanya. Yang satu sangat cantik dan yang satu lagi terlalu tampan. Mereka serasi sekali. Kinan merasa sangat iri. Apalagi sikap Agra sekarang, sangat gentle dengan membayarkan barang belanjaan sang pacar.
Ngomong-ngomong soal pacar, apakah cewek cantik ini memang pacarnya Agra?
Dalam hati, Kinan berharap, bukan.
"Cukup ingat, kalau cewek belanja. Wajib si cowok yang ngebayarin. Dan posisinya sekarang, gue itu cowok. Jadi wajib gue," Balas Agra agak panjang. Sukses membuat Kinan melongo tak percaya.
Bersamanya, Agra hanya menjawab singkat. Bahkan, tak menjawab sama sekali. Bersama cewek ini, Agra jadi banyak bicara. Kinan jadi membanding-bandingkan dirinya dan cewek itu. Rasanya, cemburu Kinan meluap, banjir. Hatinya begitu sakit ditampar kenyataan naas dan mampu menyesakkan dadanya. Andai, dia diposisi cewek itu. Kinan pasti sangat bahagia.
Tangan Adira tergerak mencubit pipi tirus, Agra. Agra tetap berwajah datar, "Uhh, kandidat pacar yang peka, baik, dan pengertian."
Balasan itu, entah kenapa mengacaukan pikiran Kinan. Semuanya tak luput dari pandangannya. Melihat pemandangan barusan, mata Kinan memanas. Hatinya berdenyut sakit.
Jadi, cewek ini calon pacar Agra? Kinan berspekulasi sendiri.
"Gue bayar belanjaan dia. Kembaliannya ambil aja," Ucap Agra. Dia bergegas keluar dari toko buku sambil menggenggam tangan Adira dan berjalan beriringan.
Kinan menatap hampa ketika dua jemari yang saling tertaut erat, saling beriringan, meninggalkannya dengan segala rasa sakit menjalari hatinya. Berharap suatu hari nanti, jemarinya lah yang mengisi kekosongan sela jemari Agra. Berharap mereka berjalan beriringan dan saling melempar senyuman.
Namun, nyatanya, itu semua hanyalah khayalan.
__ADS_1
Khayalan seorang Kinan yang tak mendapat balasan cinta dari lelaki tampan bernama Agrata Razzan.