Surat Terakhir Untukmu

Surat Terakhir Untukmu
Episode 25


__ADS_3

Akibat mood mendadak buruk karena kehadiran Kinan, Agra memilih berjalan keluar kafe, memasuki mobil, sembari menunggu Adira siap mengecek keperluan kafe. Agra sengaja membawa mobil atas permintaan Adira. Adira minta ditemenin ke Mall, membeli bahan-bahan untuk stok di kafenya.


Selagi menunggu, Agra menghidupkan radio. Siapa tahu alunan musik bisa mengenyahkan pikirannya akan pertemuannya dengan Kinan, tadi. Kedua mata Agra lambat laun tertutup. Dia menikmati musik dalam tenangnya. Satu bayangan hadir ketika dia menutup mata, bayangan ketika dia berkata kasar pada Kinan sewaktu di depan lab komputer. Saat di mana Kinan habis di ganggu oleh Cakra. Tangan Agra terkepal erat. Dia tanpa sadar memukul stir agak kuat. Matanya pun terbuka.


Hanya dengan membayangkan sosok Cakra, emosinya seketika memuncak. Namun, buru-buru Agra menetralkan ekspresinya saat dilihatnya Adira keluar dari kafe dan memasuki mobilnya. Duduk di kursi samping kemudi.


"Gue kelamaan ya di dalam?" sekilas Adira melirik Agra, kemudian sibuk pada ponsel di tangannya.


"Enggak. Jadi, ke mana nih?" tanya Agra. Dia melajukan mobilnya keluar area parkiran dengan kecepatan sedang.


Adira berdecak kesal, "Tapi ke Mall, gimana sih?!"


"Tau. Basa-basi doang," jawab Agra sesantai mungkin. Memancing Adira untuk memukul bahunya brutal.


Tidak ingin beradu mulut lebih dalam, Adira kembali fokus pada layar ponselnya. Perempuan berambut panjang yang dibiarkan tergerai indah itu, mesem-mesem sendiri melihat sesuatu di dalam ponselnya. Di sampingnya, Agra menaikkan sebelah alis. Heran.


"Senyum nggak jelas. Tanda-tanda mau gila?" celetuk Agra. Kali ini, bahu Agra berhasil menjadi sasaran Adira. Adira memukulnya kuat sampai laki-laki tampan itu meringis.


"Apaan coba mukul-mukul?" agra mengusap-usap bahu kirinya. Satu tangannya memegang stir mobil.


Adira mendengus, "Ya siapa suruh ngatain gue gila segala! Sukurin noh!"


"Kan gue bilang masih tanda-tanda. Belum bilang gila beneran."


"Sama aja!" satu pukulan lagi dilayangkan Adira. Agra mendelik tajam ke arahnya.


Sesaat keheningan menguasai mereka. Agra diam, fokus pada jalanan. Sementara Adira lanjut mesem-mesemnya. Agra jengah melihat sahabatnya seperti orang tak waras dan akhirnya memilih bertanya.


"Apa yang membuat lo nggak bisa berhenti tersenyum kayak gitu?"


Mematikan ponselnya, Adira mencondongkan tubuhnya agar lebih enak melihat Agra. Dia mengangkat kakinya ke atas dan melipatnya. Macam sedang di rumah. Agra berdecak, tapi tidak berusaha melarang.

__ADS_1


"Gue suka sama Dosen gue!"


Uhuk! Uhuk!


Agra terbatuk-batuk seraya mengerem mendadak. Untuk ketiga kalinya Adira memukul bahunya. Dia diserang syok berat. Agra memburu tatap, Adira.


"Apa tadi lo bilang?"


Adira memutar bola matanya malas, "Gue suka sama Dosen gue, Agra," ulangnya. Bisa Adira lihat bagaimana bola mata Agra melotot hingga berasa ingin meloncat keluar dari sarangnya.


"Serius? Yang mana?"


"Pak Nathan. Dosen matematika yang baru."


"Kok bisa?"


Adira menjulurkan lidahnya ke arah Agra, "Mau tau aja! Kepo ya? kepo ya?"


"Nggak."


"Hoy! Kok bengong?" Adira mengagetkan Agra. Agra menoleh, mendapati Adira sudah berdiri dihadapannya, "Ayo masuk. Keburu sore," ajaknya.


"Ra, lo masuk duluan, bisa? Ada yang mau gue urus bentaran doang. Ntar gue chat lo," pinta Agra. Sesekali curi-curi pandang ke arah Kinan. Kinan masih berada di sana. Tak jauh dari posisinya.


"Oke. Jangan lama ya. Ntar gue keberatan lagi bawa barang belanjaannya," kata Adira.


"Iya, sebentar aja kok."


Adira mengangguk, "Yauda gue masuk duluan,"


Kini, tinggal Agra yang masih terpaku di tempat. Dia bingung harus bagaimana. Apakah mendatangi Kinan atau masuk ke dalam, menyusul Adira. Sepersekian detik Agra berpikir, akhirnya kakinya melangkah, mendekati Kinan.

__ADS_1


Jelas terlihat, jika Kinan seperti menahan sakit. Kedua tangannya sedari tadi memeluk bagian perutnya sambil meringis pelan. Agra mendengarnya.


"Lo kenapa?" Agra ikut berjongkok, memegang kedua bahu Kinan.


Suara berat Agra merespon kepala Kinan untuk mendongak. Mata mereka terkunci satu sama lain. Kinan mematung untuk sesaat. Pancaran matanya terlihat ketidaksangkaan. Sosok Agra ada di hadapannya. Bersamanya. Sementara Agra, terpaku pada bola mata Kinan yang dalam keadaan berkaca-kaca.


"Eh? Agra kok bisa ada di sini?" Kinan tersadar lebih dulu bersamaan cairan bening menetes di kedua sudut matanya. Barulah Agra mengerjap lambat.


Tangan mungil Kinan hendak terangkat, dan tertahan sebab Agra menahannya. Kedua jari jempolnya tergerak menghapus jejak air mata itu, lembut. Air mata kesakitan. Kinan terdiam. Jantungnya berdetak sangat cepat. Sejujurnya, dia tidak percaya Agra melakukannya. Mengingat jika sewaktu di kafe, Agra berkata kejam padanya.


"Perut lo sakit?" tanya Agra tanpa mengindahkan pertanyaan Kinan.


"Iya, sedikit, Agra. Lagian udah biasa kayak gini," Kinan mencoba memaksa senyum di wajahnya. Tangannya masih memegangi perutnya, menahan sakit. Dia mempunyai sakit maag dan dia telat makan. Makanya kumat.


"Udah makan?" Agra bertanya lagi.


Kinan menggeleng lemas, "Belum."


Dalam jarak sedekat ini, wajah Agra dua kali lipat tampannya. Jantungnya memompa cepat. Selalu begitu jika di dekat Agra.


"Ke sini sama siapa?"


"Sendiri."


Agra melihat kanan dan kiri, mencari tempat yang nyaman agar Kinan tidak jongkok seperti sekarang. Tak ada. Dan dia memilih mobilnya sebagai tempat Kinan beristirahat sejenak.


"Bisa jalan?" tanya Agra, memastikan.


"Nggak bisa. Mau bangkit, rasanya perutnya makin sakit," Kinan sedikit merintih.


"Ayo naik," tanpa di duga, Agra jongkok di depan Kinan, memintanya agar naik ke punggungnya.

__ADS_1


Sempat tercengang atas permintaan Agra. Kinan merasa seperti mimpi. Mimpi yang benar-benar nyata. Dan memang nyata. Napasnya seakan tercekat. Apalagi mendengar kata-kata Agra selanjutnya.


"Lain kali kalau belum makan, telepon gue. Biar gue temenin."


__ADS_2