
Malam hari yang damai di kamar Agnia. Si arwah gentayangan belum muncul lagi mendekatinya sejak terakhir tadi jidatnya disentil.
"Neng Nia, itu ada yang datang cariin" mba Asih masuk ke kamar Nia dan memberi info.
Agnia mengernyitkan dahi, rasa rasanya dia tak janjian dengan siapapun.
"Siapa mba?" Agnia memasang sweater untuk menutupi baju lengan pendeknya.
"Mereka datang mau menyita rumah ini" jawab mba Asih pelan. Dia ragu memberitahukan kepada Agnia apa yang sebenarnya terjadi.
"Hah, kok bisa?" Agnia terkejut.
"Em nanti aja kita bahasnya neng, sekarang kita jumpai dulu orang itu, mba Asih takut kalau mereka menunggu kelamaan" jelas mba Asih.
Agnia mengangguk dan mereka melangkah bersama menemui tamu yang telah menunggu di lantai bawah.
__ADS_1
"Selamat malam nona Agnia" seorang pria bertubuh atletis bak bodyguard menyapa, auranya mengintimidasi.
"Selamat malam tuan" Agnia tak gentar, gadis itu bermental baja.
"Langsung saja, saya utusan dari tuan Luis Marco, sebelum meninggal ibu anda pernah meminjam uang kepada tuan kami sebesar satu miliar, dan menjadikan usahanya ini sebagai jaminan" terang pria itu lugas.
Agnia menelan saliva. Jumlah hutang ibunya tak main main, bagaimana caranya untuk melunasi.
"Oh benarkah, bisa saya lihat buktinya" dengan berlagak sok tegar Agnia menantang pria itu.
"Untuk bukti yang anda inginkan, silahkan datang ke kantor kami besok pagi dan bertemu dengan tuan Marco langsung" terangnya lagi.
"Ok, besok pagi saya akan menemui tuan anda, jadi saya rasa perbincangan malam ini selesai, silahkan tinggalkan tempat ini" dengan tegas Agnia mengusir.
Airmata Agnia akhirnya runtuh saat orang itu telah pergi meninggalkan rumahnya, dari tadi gadis itu berpura pura kuat dan tak takut padahal didalam hatinya sangatlah khawatir, bagaimana iya harus menyelesaikan masalah ini.
__ADS_1
"Ibu, Nia bingung, tolong bantu Nia Bu" gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia menangis tertahan.
Mba Asih yang mendampingi Nia tak berani berkomentar, dia tau apa yang terjadi, semua hutang itu benar benar ada, mba Asih saksi hidup saat transaksi hutang piutang itu terjadi.
Mba Asih menarik nafas lega saat Agnia masuk kedalam kamar. Setidaknya malam ini terlewati.
"Lu mau gue kasih duit banyak buat menyelesaikan hutang nyokap lu?" Luis sang arwah pengganggu ternyata sudah mengetahui semua yang terjadi. Arwah tampan itu berpikir akan bisa memanfaatkan keadaan, Agnia pasti akan mengganti permintaannya, dan dia bisa segera kembali ke dunia keabadian.
Agnia melirik sekilas kearah sumber suara, tanpa ingin menjawab ucapan dari manusia tak kasat mata itu.
"Gue capek lagi banyak pikiran, jangan pancing emosi gue" Agnia memperingatkan sambil bergerak naik keatas ranjang dan memakai selimut hingga menutupi batas lehernya.
"Lu pikir lu aja yang capek, gue juga capek nunggu kepastian permintaan dari lu, gue terlunta lunta di dunia manusia yang panas ini, gue gak betah" Luis frustasi.
Agnia yang tadi telah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, kembali mengeluarkan kepalanya, dan berkata "Gue gak peduli, urus masalah lu sendiri, permintaan gue untuk mengembalikan ibu gak akan pernah gue ganti".
__ADS_1
"Oh manusia keras kepala, ingin rasanya ku cekik lehermu sampai mati" Luis berteriak histeris, dia frustasi menghadapi Agnia yang sekeras batu.