Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Misi pertama


__ADS_3

"Apa yang diinginkannya?" Noah kembali bertanya kepada Agnia. Posisinya saat ini berada di dekat jendela.


"Hei di sebelah mu ada lagi sosok tinggi besar, dai sedang menatap kearahmu dokter" Agnia menjelaskan tanpa beban.


"Ya Tuhanku" Noah langsung terlonjak kaget. Segera dia berpindah tempat kembali. Kali ini di dekat pintu keluar. Noah belum siap mental menghadapi cerita cerita aneh tentang sosok tak kasat mata itu.


"Sofia meminta tolong kepada ku untuk menemui tunangannya. Dia tewas akibat kecelakaan pesawat dan belum sempat meminta maaf kepada pria itu" Agnia menjelaskan begitu lugas.


"Apa kau mau membuktikannya?, ya setidaknya kita bisa mendapatkan pengalaman baru dari petunjuk yang diberikan oleh seorang makhluk halus" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Noah. Dia mulai tertarik akan kasus ini.


Tiba tiba tubuh Agnia mengejang. Tubuh itu kembali dirasuki oleh arwah Sofia.


Noah yang panik segera memegangi tubuh Agnia yang oleng kekiri dan kanan.


"Hei jangan bercanda Agnia" otak Noah masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.


Kekuatan tubuh Agnia yang sedang dirasuki makhluk benar benar kuat. Noah sendiri kewalahan dibuatnya. Untung saja di kamar itu tak ada orang lain, jadi tak akan beredar gosip macam macam mengenai hal ini.


Tubuh Agnia yang tadinya kejang, kali ini berganti menjadi diam.


"Hai, hallo, apakah kamu Sofia?" Noah memberanikan diri bertanya.


Arwah wanita yang meminjam tubuh Agnia itu mengangguk. Tatapan matanya tajam kearah Noah.

__ADS_1


"Sa..kit" suara begitu halus namun terkesan sangat menakutkan keluar dari mulut Agnia.


"Sakit?, apa yang sakit?" Noah terus bertanya.


"Ini" arwah itu memegang kepala sebelah kirinya.


Noah terdiam. Dia sadar apa yang digambarkan oleh Agnia di kertasnya tadi sesuai. Gadis yang digambarkan itu memang memiliki wajah yang hancur di bagian kiri.


"Ja.. tuh" lagi lagi arwah itu berbicara. Dia menunjuk kearah atas, tepatnya kearah langit.


"Kamu sakit karena jatuh?" Noah memastikan kembali.


Arwah itu mengangguk.


"Tolong ya, tolong bantu saya" arwah itu menepuk pundak Noah.


Dan sedetik kemudian, tubuh Agnia kembali kejang.


Noah sigap membantu memegang gadis itu. Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya Agnia kembali sadar.


Tubuh Agnia terasa sangat lemas dan kehilangan banyak tenaga.


"Sekarang aku percaya Agnia" Noah menuntun gadis itu untuk berbaring kembali di ranjangnya.

__ADS_1


"Dia memberitahu aku dimana alamat calon suaminya, apa kita akan kesana?" Agnia bertanya untuk meminta persetujuan kepada Noah.


"Iya, kita akan kesana. Sekarang istirahatlah, aku harus menemui seseorang. Kau jangan memberitahu orang lain akan misi ini. Bersikaplah tenang dan jangan membuat orang lain curiga" perintah Noah kepada Agnia.


"Iya akan ku lakukan" jawab Agnia lemah. Tenaganya benar benar terkuras. Tidur adalah jalan terbaik untuk saat ini.


.


.


.


Noah menemui seseorang yang mengurusi manajemen rumah sakit. Dokter muda itu meminta pengajuan cuti mendadak untuk satu minggu ke depan dengan alasan ada urusan keluarga mendadak.


Selesai dengan urusan jadwal cutinya, Noah menelepon sang kekasih. Raisha diminta bersiap menemaninya untuk menyelesaikan masalah arwah Sofia, dan gadis itu mengiyakan.


Tak lupa Noah meminta izin untuk menitipkan gadis itu sementara di kost Raisha. Ini semua bertujuan untuk memudahkan misi yang akan mereka lakukan besok pagi.


Satu demi satu persiapan diselesaikan Noah dengan lancar.


"Saatnya menyelesaikan administrasi rawat inap Agnia, dia sudah tak bisa terus berada disini lagi" Noah menyusun rencana lanjutan.


Segera kakinya melangkah kearah bagian kasir. Semangat nya menggebu menyambut tantangan baru dalam hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2