Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Marco pendekatan


__ADS_3

Agnia dan Marco duduk bersama di ruang makan.


"Maaf ya pak kalo kurang nyaman, tempat ini sempit" ucap Agnia.


"Buat saya ini nyaman, ditambah lagi ada kamu, semakin membuat saya betah" Marco mencoba merayu Agnia.


"Owh seperti itu" Agnia menanggapi dengan ledekan.


"Dasar bocah, susah sekali menarik perhatian dia" umpat Marco dalam hati.


Makan malam itu berjalan dengan hening. Entah mengapa Agnia merasa seolah sedang bersama Luis.


"Hei, kok kamu murung?" Marco menyapa Agnia. Saat ini mereka telah selesai makan.


"Eh, maaf pak" Agnia tergagap. Barusan rasa rindu kepada sang ibu menyerangnya, Agnia kembali bersedih mengingat dirinya saat ini yatim piatu.


"Saya pamit ya Agnia, besok saya tunggu di kantor" Marco ingin memberikan waktu sendiri kepada Agnia.


"Baik pak, terimakasih atas kunjungannya" Agnia menjawab ucapan Marco.


Selepas mengantar kepergian Marco,. Agnia tak kembali ke kamarnya, gadis itu berjalan menuju taman kecil di samping rumahnya. Taman yang berisi berbagai macam tanaman hias milik almarhumah ibunya.


"Maafin Nia Bu, tanaman ibu udah gak terawat, Nia lupa kalau semua ini kesayangan ibu" Agnia berbicara sendiri.


"Makanya dirawat. jangan terus bersedih" suara Luis mengejutkan Agnia. Arwah itu datang tiba tiba dan berdiri di samping Agnia. Berdiri dengan jarak yang sangat dekat dari Agnia.

__ADS_1


"Luis, lu darimana?" Agnia yang sedang membutuhkan teman sangat senang dengan kedatangan Luis.


"Gue daritadi selalu di samping lu, gak pernah kemana mana" jawab Luis.


"Cuma karena lu sibuk pacaran, gue memilih menghilang, bosan gue lihat gaya manusia" Luis kembali menjelaskan.


"Eh siapa yang pacaran, gue gak mau pacaran, ibu selalu pesan kalau gue gak boleh pacaran sebelum gue sukses" Agnia menegaskan.


"Dasar manusia kuno" Luis mengejek.


Agnia mendelikkan matanya menanggapi ejekan dari Luis.


"Gue masuk dulu ya, besok mau kerja, gue siap siap tidur dulu" Agnia berjalan meninggalkan Luis yang terus menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


Pagi hari yang indah.


Agnia telah bersiap untuk hari pertamanya bekerja di perusahaan Marco. Make up tipis menghiasi wajah manisnya. Aura kecantikan dalam diri gadis itu meningkat tajam.


"Mba Asih Nia berangkat ya, doakan semoga hari pertama Nia bekerja sukses ya" gadis itu berpamitan kepada pengasuh yang sudah merawatnya sejak kecil.


"Semangat ya neng, mba Asih pasti akan selalu doakan neng Nia" sang pengasuh setia mengantar Agnia sampai ke depan rumah.


"Neng biar gue antar" Luis yang terus mendampingi Agnia menawarkan diri. Kakinya lelah mengikuti Agnia yang berjalan kaki.


"Lu ngapain ikutan jalan, kan lu bisa terbang" Agnia tak habis pikir dengan cara berpikir arwah di sebelahnya ini.

__ADS_1


"Gue pengen ngerasain jadi manusia kayak ku, tapi gue capek" Luis terus mengeluh.


Tak disadari, dari belakang mereka sebuah mobil mendekat dan pengemudi didalamnya menyapa Agnia.


"Nia, ayo bareng" ternyata pemilik mobil itu adalah Marco. Pria itu kebetulan lewat dan melihat Agnia berjalan kaki.


"Wah kebetulan sekali, terimakasih pak" agnia tak menyia nyiakan kesempatan.


"Kamu kenapa jalan kaki?" Marco membuka pembicaraan saat mereka sudah berada didalam mobil.


"Rencananya nanti mau naik angkot dari gang depan situ pak, kan lumayan hemat ongkos sebagian, daripada saya naik ojek dari depan rumah, mahal pak" Agnia dengan polos menceritakan kepada Marco.


Pria dewasa itu menahan tawa melihat kepolosan Agnia. Gadis itu memang tak berbasa basi menjaga imagenya. Dia jujur dengan keadaan yang sedang terjadi padanya.


"Emang bisa hemat berapa dengan trik seperti itu?" Marco kembali memancing. Entah mengapa dia suka dengan cara Agnia bercerita, begitu menggemaskan di matanya.


"Lumayan pak, hemat lima ribu rupiah, kalau dikali sebulan kan lumayan buat tambahan cicilan hutang kepada bapak" Agnia kembali menjelaskan.


DEG...Marco tersindir. Agnia ternyata sedang berjuang untuk melunasi hutang yang menurut Marco tak seberapa, kekayaannya jauh lebih banyak daripada itu.


"Em, apa tidak ada sanak saudara yang membantu?" Marco berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tidak pak, saya yatim piatu, sebatang kara, gak punya adik atau kakak" ujar Agnia lirih.


"Itupun masih dibebankan dengan hutang yang segunung dari pak Marco" tambah Agnia lagi, semakin membuat Marco berat menelan salivanya. Agnia memang ahli memainkan peranan.

__ADS_1


__ADS_2