Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Alam gaib


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan hingga berani menemui ku?" suara berat Marco bertanya kepada Agnia. Saat ini mereka berhadapan duduk dengan berbatasan meja kerja Marco.


"Saya mau menanyakan perihal pinjaman hutang ibu saya. Herta Kusuma" jawab Agnia. Gadis itu telah bisa menguasai diri, dia sangat tenang dan tak lagi gentar menghadapi orang didepannya ini.


"Kau putrinya?" Marco kembali bertanya.


"Iya tuan" Agnia kesal karena pertanyaan berulang ulang ini membuang waktunya.


"Sudah jelas ku bilang pinjaman ibu saya, masih bertanya lagi" Agnia mengomel dalam hati.


"Baiklah, ini silahkan baca" Marco menyerahkan sebuah map berisi dokumen pinjaman Bu Herta Kusuma, didalamnya juga terdapat bukti sertifikat yang menjadi jaminan serta ditandatangani langsung oleh yang bersangkutan yakni Bu Herta sendiri.


Agnia menelan salivanya. Apa yang dikhawatirkannya benar benar terjadi. Hutang yang ditinggalkan ibunya nyata.


"Dan ini belum termasuk kerugian fisik dan psikologis saya yang kamu permalukan tadi di depan banyak kolega saya" Marco menambahkan.


"Astaga dia masih membahas itu" batin Agnia.


"Anda mencoba memeras saya?" Agnia menantang. Dia memang tak suka terlalu ditekan seperti ini.


"Terserahlah mau disebut apa, tapi yang pasti sebentar lagi pengacara saya akan ada tambahan tuntutan untuk mu" Marco mengeluarkan aura mengintimidasi.


"Saya tak bisa membayarnya dalam waktu dekat ini, saya baru saja berduka, beri saya waktu" Agnia mulai mengutarakan isi hatinya.


"Begitu cara meminta tolong yang baik nona kecil?' Marco menyindir.


"Huftt" Agnia mulai kesal.

__ADS_1


"Tuan yang terhormat, saya mohon kemurahan hati anda, beri saya tempo beberapa tahun untuk melunasi hutang ibu saya" Agnia memasang wajah menghiba.


"Boleh juga cara mu, tapi maaf tak ada keringanan, paling lambat akhir bulan ini harus sudah lunas semuanya atau tidak bersiaplah meninggalkan tempat itu" jawab Marco kejam.


"Dasar manusia kejam jelmaan jin, tak punya perasaan" Agnia kembali memaki. Sementara Marco cuek dan duduk tenang di meja kerjanya. Tak lama para bodyguard Marco datang untuk menyeret Agnia yang berisik keluar dari ruangan bos besar mereka.


.


.


.


Agnia yang masih berada di lobby mencoba menghubungi Vito sang pacar berkali kali. Suasana hatinya saat ini sangat buruk, dia berharap dengan bertemu Vito bisa sedikit membuatnya lebih baik.


Sudah beberapa hari sejak Vito mulai aktif bekerja, dia seolah terlupakan. Tak pernah lagi berjumpa, video call pun jarang, paling juga hanya saling membalas pesan, itupun lama baru ada balasan.


"Woi, dilihatin orang orang tuh" suara si arwah Luis tiba tiba muncul di dekat Agnia.


Gadis itu tak bergeming, dia menutup kedua telinganya dengan sebelah tangan agar tak terpancing dengan omongan Luis.


Tak disangka, Luis menarik bahu Agnia dan membawa gadis itu terbang menghilang ke alamnya.


Untung saja suasana sedang sepi, jadi tak ada yang melihat keanehan itu, seorang gadis yang sedang duduk sendirian tiba tiba menghilang.


.


.

__ADS_1


.


Agnia membuka mata dan menemukan dirinya berada didalam sebuah ruangan gelap. Di ujung yang samar samar Agnia melihat sebuah cahaya menyala.


Agnia berlari mengejar kearah cahaya itu. Semakin dia mengejar semakin cahaya itu menjauh.


Agnia sudah sangat kelelahan dengan keringat bercucuran iya tak kunjung sampai kearah yang dituju.


"Jika ini yang kau mau, terus lah kejar hingga akhirnya kau tak sanggup dan menyerah" sebuah suara berbisik di telinga Agnia.


"Luis, keluarin gue dari sini, lu gak bisa bawa gue ke tempat ini, lu harus ikut perintah gue, lu anak buah gue" Agnia berteriak mengingatkan Luis.


Tiba tiba tubuh Agnia terdorong hingga ke ujung jurang yang terjal. Cahaya yang tadi dilihatnya adalah sebuah cahaya dari api neraka yang menyala.


Dibawah jurang itu tampak seperti sebuah goa dengan jeritan memilukan didalamnya. Agnia tak bisa melihat lebih jauh kedalam.


"Itu neraka, lu mau mendekat? selangkah lagi saja lu bergerak, maka gue pastikan lu akan tersedot kesana dan tak kembali.


Agnia bergidik ngeri.


"Gue gak mau disini, keluarin gue" Agnia mulai menangis.


"Hahahaha, akhirnya manusia sombong seperti lu bisa gue bikin takut" Luis mengejek. Pria itu yang dari tadi tak menampakkan wujudnya sekarang telah muncul. Dia berdiri persis di samping Agnia.


"Gue takut, gue takut cepat balikin gue ke alam manusia, itu ada makhluk besar di belakang lu" Agnia benar benar histeris kali ini. Tak disangka sesosok makhluk menyeramkan tinggi besar sedang mengincarnya.


Agnia lemas karena ketakutan dan akhirnya pingsan saat Luis membawa kembali terbang kembali ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2