
"Selamat sore pak Marco, nona Agnia sudah datang" sekretaris pribadi yang mengantar Agnia menyapa bosnya itu.
"Tinggalkan kami" Marco memasang mode tegas dan berwibawa.
Agnia yang berdiri di belakang sekretaris itu seketika mematung didepan pintu saat hanya ditinggal berdua saja dengan pria mesum itu.
"Hai Nia, duduklah" Marco menyapa dengan ramah, jauh berbeda dengan cara berbicara kepada sekretaris tadi.
"Saya disini saja, apa maksud anda dengan mengirim orang kerumah saya dan memberikan ancaman baru lagi" Agnia meluapkan amarah yang sedari tadi dipendamnya.
"Gak bermaksud apa apa, aku hanya mengingatkan perjanjian yang telah kamu tanda tangani, tetaplah bekerja disini dan kamu terbebas dari sanksi" Marco menjelaskan.
"Saya tidak sudi bekerja dengan bos yang seenaknya melecehkan karyawannya" Agnia menyindir Marco dengan kalimat tajam.
Marco tersenyum mendengar cara bicara Agnia seperti itu.
"Aku meminta maaf untuk kejadian itu, tapi jujur aku tak menyesal dan sangat menikmatinya. Karena aku menyukaimu Agnia" suara Marco serta tatapannya terasa berbeda.
__ADS_1
"Luis" Agnia spontan bergumam.
"Ya, aku adalah isi hati dia yang terdalam. Aku ataupun dia sama saja, yang jelas ada rasa untukmu" Luis yang merasuki Marco berbicara dengan mode serius.
"Benarkah?" Agnia mulai rileks karena mengetahui kalau Luis lah saat ini yang sedang bersamanya meskipun dengan tubuh Marco.
"Sudahlah, yang jelas sekarang kita adalah pasangan kekasih, dalam dunia nyata kau kekasih Marco, tapi secara naluriah kau kekasihku" Luis kembali berucap.
Agnia senyum senyum sendiri mendengar ucapan Luis kepadanya. Meskipun tak romantis tapi cara Luis mengungkapkan perasaan seperti ini mampu membuat hati Agnia berbunga bunga.
"Ah inilah yang dinamakan keberuntungan, sekali punya pacar langsung dapat dua, satunya arwah, satunya bos tajir" Agnia bertepuk kagum kepada dirinya sendiri.
Saat ini Marco menggenggam tangan Agnia. Pria itu merasakan apa yang dirasakan Luis. Dia menyadari kalau sudah jadian dengan Agnia. Rasa bahagia membuncah di dadanya.
Agnia mengangguk mengiyakan, membuat Marco semakin larut dalam kebahagiaan.
"Duduklah, mulai sekarang kau menjadi sekretaris pribadiku, hanya mengurus kebutuhan ku, tak boleh mengerjakan yang lain" Marco menjelaskan tugas baru Agnia.
__ADS_1
"Em Marco, bolehkah aku bertanya?" Agnia masih sedikit ragu dengan perasaan Marco kepadanya.
"Tanya lah, apa saja yang ingin kau tanyakan lakukanlah" Marco menjawab antusias.
"Bukankah ini terlalu cepat. Sejak kapan kau menyukaiku? dan mengapa aku? bukankah kau pria dewasa nan mapan, pasti banyak yang antri untuk menjadi kekasihmu" Agnia memborong semua pertanyaan dalam satu tarikan nafas.
Marco tak dapat menahan tawanya saat melihat cara Agnia bertanya kepadanya.
"Dengarkan aku, pertama aku menyukaimu bukan di pandangan pertama, rasa itu mulai muncul saat melihatmu di rumah sakit. Saat itu kau menangis meminta Tuhan untuk mengembalikan ibumu, disitulah aku mulai simpati dan fokus memperhatikan mu.
Kedua, bukankah setengah dari jiwaku sudah bersamamu" Luis memberikan pertanyaan yang membuat Agnia bingung.
"Maksudnya gimana?" Agnia tak paham.
"Aku merasa sudah begitu lekat denganmu sedari awal jumpa karena aku tau kau diikuti oleh sesosok arwah yang merupakan bagian diriku. Aku bisa melihat dan merasakan kehadirannya. Aku berterima kasih kepadanya, karena berkat dialah aku bisa mempunyai kontak batin denganmu.
Secara tidak langsung, kita sudah terikat takdir meskipun dalam dimensi berbeda" Marco menambahkan penjelasannya.
__ADS_1
"Jadi bersiaplah, kau jodoh ku di dunia nyata maupun di dunia gaib" ujar Marco sambil mengedipkan mata untuk menggoda Agnia.