
Agnia bangun dari tidurnya dan menyadari saat ini dirinya berada di dalam ruangan rumah sakit.
Agnia mengedarkan pandangan ke semua arah dan terhenti di sosok tubuh yang sedang berbaring di samping ranjangnya.
Agnia tau itu siapa, itu Luis. "Sedang apa dia disana?" Agnia bertanya dalam hati, karena Luis seperti orang yang tengah bermeditasi.
"Gue lagi tidur" Luis tiba tiba menjawab pertanyaan Agnia. Padahal gadis itu hanya bergumam dalam hati.
"Gimana keadaan lu?" Luis merubah posisinya. Saat ini dia duduk di sebelah Agnia.
"Gue bingung, kok bisa ya gue lemas banget sampai gak bisa gerak" Agnia mulai mengingat apa yang dirasakannya.
"Mungkin lu terlalu stres, semua masalah lu pikirin, udah biar gue selesaikan, lu tinggal sebutin apa permintaan lu" si arwah mulai mencoba mempengaruhi.
"Luis, aku tau kamu bisa, kamu hebat, please kembalikan ibu, sebanyak apapun masalah kalau ada ibu yang mendampingiku aku pasti kuat" Agnia memohon dengan tangisan.
Akhir akhir ini gadis itu memang lebih cengeng dan gampang menangis, mungkin karena rindu yang terlalu berat kepada ibunya.
"Huft" Luis mengacak acak rambutnya sendiri. Agnia tak berubah, masih sangat keras kepala.
__ADS_1
"Gue pergi dulu" Luis memilih kabur meninggalkan Agnia, dia emosi.
Agnia kembali menangis saat Luis menghilang.
"Ibu, Agnia gak sanggup Bu, Agnia rindu ibu" lirih gadis itu pilu. Agnia tak sadar kalau Luis melihat semuanya. Luis masih berada di ruangan itu tapi dalam mode tak terlihat oleh Agnia.
Luis memilih benar benar keluar dari kamar Agnia dan beterbangan ke ruangan ruangan lain di rumah sakit. Beberapa kali bahkan iya bermain di kamar jenazah. Melihat arwah arwah junior yang baru saja terlepas dari raganya.
Sementara Luis berkeliaran, seseorang datang ke kamar Agnia untuk membesuknya.
"Hai boleh masuk?" sebuah kepala muncul dari balik pintu.
Marco, ya Marco pria yang disebut rentenir oleh Agnia datang mengunjunginya.
"Tadi saya ke rumah dan mendapatkan kabar kalau anda sedang dirawat disini" Marco berbicara dengan bahasa sangat resmi, membuat Agnia mengernyitkan dahinya.
"Sakit apa?" Marco kembali bertanya dengan lembut. Sebuah senyuman tipis juga mengiringi pertanyaan itu.
"Sakit mental pak" Agnia menjawab cuek dan seenaknya.
__ADS_1
Marco merasa tersindir dengan ucapan Agnia. Senyum kecut muncul di wajahnya.
"Maaf soal kemarin, saya datang kesini untuk memberikan penawaran baru kepada anda, yang pastinya tidak akan memberatkan" Marco mengalah.
Marco tak percaya dirinya bisa mengucapkan kalimat ini begitu saja. Dia mengalah kepada gadis kecil yang menyebalkan yang kemarin menimpuk kepalanya dengan sepatu.
Marco menjadi lembut kepada Agnia karena telah mengetahui kalau gadis itu yatim piatu, dan saat tadi Agnia menangis memanggil ibunya Marco berada di depan pintu, dia mendengar isak tangis Agnia yang begitu pilu. Rasa iba memenuhi hati Marco.
"Penawaran apa?" Agnia mengeluarkan suaranya.
"Saya tau anda seorang sarjana dengan nilai yang memuaskan, bekerjalah di perusahaan saya, saya membutuhkan karyawan seperti anda" Marco menjelaskan maksudnya.
"Benarkah" mata Agnia berbinar, semangatnya pulih.
Marco tersenyum kembali melihat reaksi Agnia yang lucu dan menggemaskan.
"Iya, benar. Saya mau nona Agnia Kusuma untuk bekerja di perusahaan saya, apakah bersedia?" Marco mengulang perkataannya.
"Tapi kenapa anda jadi berubah baik kepada saya?" Agnia curiga.
__ADS_1
"Entahlah, mungkin saya menyukai anda" jawab Marco cuek.
"Oh benarkah, wah saya tersanjung" ucap Agnia mengejek. Dia tak mau menanggapi kegombalan yang barusan dilontarkan pria itu.