
*****Flashback*****
Setelah kejadian Agnia mencium bibir Luis, arwah tampan itu merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh manusia normal. Ada rasa debaran tak biasa didada Luis. Tatapan dan senyuman Agnia terus membayanginya. Luis bak seorang pemuda yang dimabuk asmara.
Padahal, di dunia gaib yang selama ini dihuninya, berhubungan dengan berbagai wanita bahkan berganti pasangan setiap malam merupakan hal biasa. Entah mengapa Luis mulai terbawa perasaan kepada Agnia.
Luis berusaha membuat Agnia lah yang mengungkapkan perasaan itu kepadanya, karena sebagai arwah yang berprinsip, pantang baginya untuk menggoda manusia terlebih dahulu. Sungguh arwah yang terdidik egois.
.
.
.
Sementara Agnia masih melongo dengan kejadian yang baru saja dialaminya, Marco sibuk dengan kegalauannya.
Agnia dan bibir basah merekahnya terus terbayang bayang dalam pikiran Marco. Terlebih karena Agnia yang terus menghindar membuat rasa sesal didalam hati Marco makin membesar.
"Aku punya ide" Marco menyunggingkan senyum lebar saat sebuah ide melintas di otaknya.
Marco mengambil ponsel miliknya dan segera menghubungi sebuah nomor.
"Laksanakan segera, aku tak menerima kata gagal" Marco menutup sambungan teleponnya setelah berbicara panjang lebar dengan orang yang dihubunginya.
__ADS_1
.
.
.
Suasana rumah Agnia.
"Mba Asih Nia berangkat ya, mau jumpa teman yang akan ngasih kerjaan" Agnia berpamitan. Dia telah berdandan rapi dengan make up tipis mempesona.
"Iya neng, hati hati" mba Asih melepas Agnia hingga ke depan pintu.
Baru saja pintu dibuka, dua orang pemuda berbadan kekar tiba tiba muncul.
"Hah, apa?" Agnia shock tak percaya.
"Iya, semua sudah tertulis dalam surat perjanjian yang anda tanda tangani sendiri, semua bukti ada di kantor, silahkan anda buktikan sendiri" pria itu kembali menjelaskan.
"Emang gila ya bos anda" Agnia mengumpat kesal.
"Anda jangan melakukan penghinaan nona, anda bisa kami tuntut lagi dengan dakwaan pencemaran nama baik" pria itu kembali menakut nakuti.
"Woy, selow lah, tegang kali sih kalian semua, apa apa mau tuntut" Agnia mulai panas.
__ADS_1
"Anda kami tunggu paling lambat hari ini sebelum kantor tutup jam tiga sore, kalau anda tak menunjukkan itikad baik menyelesaikan masalah ini, bersiaplah polisi akan datang menangkap semua penghuni rumah ini, termasuk para karyawan anda" sang bodyguard yang dari tadi diam menjelaskan.
"Astaga, apa sih ini maksudnya" Agnia tak habis pikir, Marco benar benar memegang kendali dalam hidupnya. Mana mungkin Agnia tega melibatkan semua karyawannya dalam masalah pribadinya.
.
.
.
Agnia berlari dengan nafas terengah engah karena teror dari para karyawan Marco yang terus menelepon ponselnya. Mereka mengingatkan bahwa sebentar lagi kantor akan tutup dan jika Agnia terlambat maka semua ancaman akan dilaksanakan malam ini juga.
Janjian dengan teman yang akan menawarinya pekerjaan terpaksa dibatalkan oleh Agnia. Marco berhasil menebar ketakutan hingga Agnia terpaksa mengikuti kemauan bis besar itu.
Agnia memberanikan diri mengendarai sendiri motor maticnya. Dan karena macet di beberapa titik membuat Agnia semakin terintimidasi.
Waktu tutup kantor sudah tinggal setengah jam Agnia baru saja sampai di parkiran motor yang letaknya cukup jauh dari gerbang utama perusahaan besar itu. Inilah yang membuat Agnia berlarian mengejar waktu.
"Selamat sore nona Agnia, pak Marco sudah menunggu anda di ruangannya, biar saya antar" sang resepsionis menyambut Agnia dengan ramah.
"Eh gak usah, saya tau ruangannya, biar sendiri aja" Agnia merasa tak nyaman dengan keistimewaan yang didapatnya.
"Jangan nona, ini perintah spesial dari tuan Marco. Anda orang yang spesial dan tuan menginstruksikan khusus buat kami mengawal nona aman dan nyaman" sang resepsionis menjelaskan.
__ADS_1
"Oh wow, luar biasa ya saya" Agnia mengejek dirinya sendiri.