
Agnia kembali sendirian di ruangan perawatan rumah sakit yang dingin. Pikirannya kembali ke almarhumah sang ibu. Besok adalah tepat dua Minggu sudah ibunya dikubur. Agnia harus secepatnya mendesak Luis agar mengembalikan ibunya, kalau tidak, jasad sang ibu otomatis akan bertambah hancur, dan Agnia tak ingin itu terjadi kepada orang yang paling disayanginya.
"Luis, hadirlah, hadirlah" Agnia memanggil manggil arwah tak kasat mata itu.
Agnia tak menyadari, Luis sebenarnya selalu ada di samping Agnia, tak pernah meninggalkannya sendiri apalagi setelah insiden genderuwo yang ingin menculiknya itu, pengawasan Luis terhadap Agnia semakin diperketat.
""Luis, datang dong, please gue butuh teman" Agnia terlihat sangat menyedihkan.
"Iya iya, gue udah disini dari tadi" Luis akhirnya memunculkan diri.
"Hai teman, udah dari tadi disini tapi diam diam aja" goda Agnia.
"Gak usah sok manis, gue tau apa yang mau loe minta" Luis menjawab dengan jutek.
"Luis, ibu gue udah terlalu lama dikubur, ayo wujudkan keinginan gue sekarang juga" Agnia merengek kepada arwah tampan itu.
"Hei manusia, tolong mengertilah, gue gak bisa" Luis kehilangan akal. Agnia tak henti meminta permintaan yang tak masuk akal.
Agnia tertunduk lesu. Memang permintaannya terasa mustahil, tetapi kehadiran Luis seolah membangkitkan semangatnya lagi untuk terus berharap bahwa suatu saat nanti ibunya bisa dibangkitkan kembali.
__ADS_1
"Ya udah, keluar sana, tinggalkan gue sendiri" suara Agnia terdengar sangat sedih.
"Eh besok kalau sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit lu kerja kan? gue bawa lu belanja, cepat bersiap" Luis berusaha menghibur Agnia.
Usaha Luis berhasil. Agnia kembali bersemangat mengingat tadi dokter sudah menyatakan dirinya sembuh dan besok diperbolehkan pulang. Setelah itu dia akan bekerja sebagai karyawan di Marco Corporation.
"Lu butuh baju baru, sepatu baru, tas baru, apalagi, sebutkan aja, biar gue siapin" ucap Luis.
"Tapi ini bukan dianggap mewujudkan permintaan kan? gue gak mau permintaan gue kepada lu dirubah hanya dengan hal receh seperti ini" tanya Agnia menyelidik.
"Tidak Agnia, ini bonus dari gue buat lu, karena lu udah sembuh" jawab Luis. Ada yang berbeda dari tutur kata Luis dan tatapannya saat ini. Entahlah, bukan tak mungkin seorang arwah mulai jatuh cinta kepada manusia.
Agnia yang tak lagi diinfus bisa leluasa bergerak kesana kemari.
"Pegang tangan gue" Luis memberi perintah.
Dan kejadian ajaib terjadi saat Agnia memegang tangan Luis. Arwah itu berubah menjadi sosok manusia, persis sama dengan Marco, calon bos Agnia di kantor nanti.
"Eh, kok jadi mirip banget sama pak Marco?" Agnia bertanya dalam hati.
__ADS_1
"Karena sebenarnya gue dan dia mempunyai satu jiwa, dia versi manusia gue versi arwah" Luis menjelaskan.
"Oiya, dia bisa dengar suara hati gue" Agnia lagi lagi berdialog sendiri didalam hatinya.
"Iya gue bisa dengar, dan lu jangan terus terusan membahas gue dengan diri lu sendiri, ntar lu gila" jawab Luis tersenyum. Senyuman termanis yang pernah diberikannya kepada seorang wanita.
"Tapi saat lu pegang seperti ini, gue menjadi manusia asli dan dapat terlihat oleh manusia lain. Gue juga kehilangan kemampuan untuk menghilang tiba tiba dan berpindah tempat" Luis menambah penjelasannya.
"Wah benarkah, jadi gue bebas bicara dengan lu, dan tak dianggap aneh lagi sama orang lain?" Agnia memastikan.
"Iya benar" jawab Luis meyakinkan.
"Asik, akhirnya gue bisa punya teman buat jalan" ucap Agnia girang.
"Terus ranjang lu kosong, kalau petugas medis nyariin lu gimana?" Luis mengingatkan Agnia.
"Em iya ya, aduh gimana dong" Agnia kembali tak bersemangat.
"Sudah tak usah dipikirkan, semua sudah gue atur" Luis kembali melayangkan senyuman termanisnya.
__ADS_1
Kedua insan itu melenggang meninggalkan ruangan perawatan rumah sakit dengan bergandengan tangan.