
Agnia gelisah menunggu orang yang akan ditemuinya. Sudah hampir setengah jam berlalu dan resepsionis masih belum memberi kabar bisa atau tidaknya dirinya naik ke atas bertemu dengan bos besar itu.
Bodyguard yang kemarin mendatangi rumahnya tiba tiba muncul dari lift yang persis berada di depan tempat Agnia duduk.
Tak menunggu lama Agnia mendatangi si pria berbadan besar itu dan membentaknya.
"Hei, saya sudah disini hampir satu jam, tolong bilang kepada bos sok sibuk anda itu, saya ingin menemuinya sekarang, jangan buang buang waktu saya" Agnia berbicara dengan suara keras tanpa mempedulikan sekitarnya.
Agnia tak menyadari sepasang mata sedang menatapnya dan melihat semua kelakuannya.
Mata itu adalah mata milik seorang Luis Marco, pria pemilik perusahaan sekaligus pria yang ingin ditemui Agnia. Sebenarnya dia berada didalam lift yang sama dengan para asistennya, tapi Agnia tak melihat kepadanya sama sekali.
Luis Marco atau yang akrab disapa Marco terkesima dengan keberanian Agnia melabrak asistennya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya.
"Hei gadis barbar, sabar dong, bos saya sibuk" si pria berbadan besar berusaha membela diri dari amukan Agnia.
"Gue lebih sibuk, kasih tau gue dia ada dimana, biar gue temui" Agnia masih terus ngotot.
"Saya disini nona, maaf membuat anda menunggu lama" suara dari belakang punggung Agnia membuat gadis itu segera berbalik badan.
__ADS_1
"Huaaaa" Agnia kembali berteriak, kali ini lebih histeris.
"Hei arwah kurang kerjaan ngapain lu ngikutin gue sampai sini, pergi gue gak minat bercanda" Agnia memaki pria itu, bahkan melempar sepatu yang dipakainya kearah kepala.
"Awh" pria yang menjadi bos besar dan sangat disegani itu mengaduh karena lemparan sepatu Agnia persis mengenai jidatnya.
"Loh, kok gak tembus, kok semua orang bisa melihat dia" Agnia mulai merasa ada yang tak beres. Si arwah yang biasa mengganggu nya saat ini sedang dibantu oleh banyak orang, arwah itu menjadi nyata.
"Anda keterlaluan nona kecil, ikut saya" Agnia diseret oleh beberapa orang bodyguard memasuki lift dan dibawa ke lantai paling atas gedung itu.
Sebelum pintu lift menutup, Agnia melihat Luis si arwah gentayangan tertawa terpingkal pingkal di belakang pria yang tadi dilempari nya menggunakan sepatu.
"Astaga ternyata aku salah, wajah mereka sangat mirip" batin Agnia. Bayangan hukuman berat yang akan diterima membuatnya tubuhnya lemas kehilangan tenaga, hingga ia membiarkan dirinya di seret ke ruangan interogasi tanpa perlawanan lagi.
Rena dibawa ke sebuah ruangan kosong, didalam ruangan itu terdapat sebuah kursi dan sebuah meja.
"Anda duduk dulu disini, sebentar lagi tuan kami akan memberi perhitungan kepada anda" seorang bodyguard mengintimidasi Nia.
Agnia hanya diam tak berani menjawab, kali ini kesalahan yang dibuatnya sangat fatal, entah hukuman apa yang akan diterima, bisa saja bos besar itu melaporkan perbuatannya kepada polisi, dan Agnia akan mendekam di penjara.
__ADS_1
"Duh bego, bego" Agnia mengoceh sendiri, sampai akhirnya sebuah suara berdehem mengejutkannya.
"Ehm" suara itu muncul dari belakang Agnia.
Spontan gadis itu berdiri dari kursinya dan berbalik badan.
Seorang pria dengan perban di jidatnya tampak sedang berdiri, aura pria itu mengintimidasi, menatap Agnia dengan tajam, nyali gadis itu menciut seketika.
"Ma..maaf tuan, saya salah orang" Agnia menyetel suaranya selembut mungkin, berharap pria itu bisa memaafkannya.
Tak disangka pria itu berjalan mendekat dan terus mendekat kearah tubuh Agnia. Gadis itu panik dan kembali menjerit.
"Huaa" teriaknya.
Marco yang tak tahan membekap mulut Agnia dan berbisik di telinganya.
"Diamlah, kau membuat ku semakin marah dengan teriakan mu itu".
Agnia takut luar biasa, suara pria itu bagaikan suara malaikat pencabut nyawa.
__ADS_1