
Agnia berada didalam dimensi alam yang berbeda dengan biasanya. Di tempat itu Agnia merasakan begitu tenang dan damai. Gadis itu tak berniat untuk kembali pulang ke dunia nyata sama sekali karena terpengaruh oleh sesosok roh yang membawanya. Roh itu merubah wujud persis seperti Luis.
"Apa kau mau menyusul ibumu?" roh jahat itu mencoba merayu Agnia.
"Ya tentu saja" Agnia bagaikan terhipnotis, dia tak menolak ajakan sesat dari makhluk jahat itu.
"Kau memang manusia pintar, tak salah aku memilihmu sebagai permaisuri ku, bersiaplah kita akan melakukan pernikahan sebentar lagi, itulah syarat yang harus dilakukan jika ingin menemui ibumu di alam lain" roh jahat itu menjelaskan.
Agnia mengangguk pertanda setuju. Gadis itu bagaikan budak yang hanya menuruti kemauan sang majikan.
.
.
.
Di sebuah tempat yang jauh dari rumah Agnia, sebuah keributan warga terjadi.
__ADS_1
Warga berkerumun histeris berusaha mencegah seorang wanita muda yang hendak bunuh diri dengan cara berdiri di tengah tengah rel kereta api. Posisi kereta yang semakin mendekat membuat teriakan kepanikan tak terkendali.
Gadis itu adalah Agnia. Dalam pikirannya saat ini, dia sedang berjalan mendekati sebuah istana megah, di depan gerbang istana itu sudah menanti sang ibu yang dirindukannya. Jelmaan ibunya itu tengah tersenyum menyambutnya dan meminta untuk berjalan semakin cepat ke depan.
Suara klakson dari kereta api telah berbunyi bersahut sahutan sedari tadi. Semua orang yang ada di lokasi itupun sudah berusaha sekuat tenaga memperingatkan, namun gadis yang linglung itu tak bergeming. Dia terus tersenyum berjalan semakin cepat mengejar kereta yang datang.
Hingga ketika saat menegangkan itu datang. Jarak antara tubuh Agnia dengan kereta api yang melaju tak sampai satu meter, saat semua orang memejamkan mata tak sanggup membayangkan apa yang terjadi, saat itulah sesosok bayangan putih terbang dan menangkap tubuh kecil itu, membawanya melayang menjauh dari tempat itu.
Semua orang yang berada disana menatap tak percaya kejadian aneh yang baru saja mereka saksikan. Dengan sekejap tubuh gadis itu menghilang di udara.
Sementara warga yang masih kebingungan atas hal itu, Agnia sudah berada kembali di kamarnya. Gadis itu tak sadarkan diri setelah dibawa terbang oleh Luis. Ya sosok putih yang terbang dan menyelamatkan Agnia itu adalah Luis.
Luis berhasil membuat raja arwah yang menyekapnya mau melepaskannya, dengan syarat Luis akan musnah untuk selama lamanya dalam waktu seratus jam di dunia manusia. Demi keselamatan Agnia Luis menyanggupi itu semua.
.
.
__ADS_1
.
Beberapa menit berselang, Agnia mulai mengerjapkan mata pertanda kesadarannya pulih.
Sosok pertama yang dilihat oleh gadis itu adalah Luis. Pria tampan itu sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan teduh.
"Hik" Agnia terisak. Dia sangat yakin bisa bertemu sang ibu, tapi ternyata semuanya sirna seketika.
"Kenapa sih kau terus menghalangi ku bertemu ibu" Agnia meluapkan emosinya kepada Luis.
Luis paham kalau kekasihnya saat ini masih belum paham apa yang sebenarnya terjadi.
"Kau sangat ingin berjumpa dengan ibumu?" Luis mulai membuka suara.
"Iya" Agnia menjawab tegas.
"Baiklah, malam ini adalah malam bulan purnama, nanti aku akan datang lagi untuk membantumu bertemu dengannya" Luis menyerah. Waktu hidupnya tak banyak, dia akan menyelesaikan semua yang berhubungan dengan kebahagiaan Agnia.
__ADS_1