
"Apa yang terjadi?" Noah tergopoh gopoh masuk kedalam rumah dan menemui pak Yanto yang sedang berdiri di depan pintu kamar Raisha dan Agnia.
"Sepertinya kita mendapatkan klien baru bos, dan kali ini lebih rumit" pak Yanto menjelaskan secara singkat penampakan yang didapatnya.
"Dimana para gadis itu?" Noah sedikit khawatir karena tak menemukan keberadaan kekasih dan sahabatnya.
"Mereka didalam, tadi mba Agnia sempat dirasuki" pak Yanto menambahkan informasi yang dimilikinya.
"Ceklekkkk"
Pintu terbuka dari dalam.
Raisha yang sudah mendengar kedatangan Noah merasa cukup aman dan memutuskan keluar dari kamar.
"Kamu baik baik saja sayang?" Noah menunjukkan kekhawatirannya.
"Alhamdulillah aku baik mas, tapi Agnia tadi sempat pingsan lama" Raisha menjelaskan.
"Ayo kita diskusikan, panggil Agnia kesini" Noah memulai rapat dalam misi khusus ini.
.
.
.
Namanya Trias. Dia seorang laki laki muda yang berwajah tampan. Dia meninggal karena dibunuh seseorang, dan dia meminta bantuan kepada kita untuk menangkap pembunuhnya" Agnia menceritakan dengan lengkap apa yang diketahuinya.
"Wushhhhh" baru saja Agnia selesai bercerita, tubuhnya kembali dirasuki arwah.
__ADS_1
"Kalian harus membantu ku menemukan siapa pembunuh ku" suara Agnia terdengar berbeda. Suara berat khas seorang laki laki kali ini yang terdengar.
Noah dan dua orang lainnya sudah tak terlalu kaget dengan apa yang terjadi. Segera pria itu mengambil alih untuk berkomunikasi dengan arwah yang sedang berdiam diri di tubuh Agnia.
"Hai, kamu siapa? boleh saya tahu namamu?" Noah menyapa sosok arwah itu. Sementara pak Yanto berdiri di belakang tubuh Agnia untuk memastikan hadis itu aman terlindungi.
"Trias" arwah itu menjawab dengan dingin.
"Hai Trias, boleh saya tahu sudah berapa lama kamu ada disini?" Noah kembali bertanya.
"Lama, sangat lama" suara arwah itu kembali menjawab.
"Aku dibunuh, sudah lama" arwah Trias menambahkan.
"Dimana?" Noah terus mengorek informasi yang sekiranya dapat memudahkan mereka dalam penelusuran nanti.
"Wushhhhhh"
"Tisu, minta tisu" Agnia spontan meminta benda itu karena merasa banyak lendirnya di hidungnya.
"Dia gak tau dimana dia dibunuh, memorinya sudah hilang sebagian" Agnia menjelaskan di sela sela membersihkan hidungnya.
"Sepertinya penelusuran kali ini sedikit sulit, data yang kita miliki tak banyak" Raisha yang sedari tadi mengamati mulai bersuara.
Meskipun gadis itu masih menyimpan rasa takut saat melihat proses Agnia dirasuki arwah, namun ia tetap memantau dari tempat yang agak jauh.
"Apa yang kau lihat Agnia, ciri ciri spesifik dari lokasi nya mungkin" Noah kembali mencoba mengorek informasi.
"Seperti sebuah hutan, ada sungai dan air terjun" Agnia menyebutkan ciri ciri tempat yang dilihatnya.
__ADS_1
"Apa kau pernah melihat di sekitar sini?" Noah bertanya kembali.
"Jauh, sepertinya tempat ini jauh" pak Yanto spontan menjawab pertanyaan Noah.
"Agnia, apa yang kau rasakan sekarang? sepertinya tubuhmu sudah lebih terbiasa dengan proses ini" Raisha mulai mengingat kondisi Agnia. Gadis itu tampak sudah tak terlalu lemas pasca kerasukan, tak seperti kasus pertama yang setiap kali dimasuki arwah selalu pingsan.
"Entahlah, aku mungkin sudah mulai menyesuaikan diri. Kali ini saat arwah Trias keluar masuk di tubuhku, rasanya hanya sedikit pegal, tak menyakiti sama sekali" Agnia menjawab.
"Pertahankan kondisi mu seperti ini, aku merasa petualangan kali ini akan menguras tenaga dan pikiran lebih banyak dibandingkan kasus pertama" Noah kembali mengingatkan.
"Aku akan menggambarkan apa yang kulihat dalam kertas, tolong bantu aku pecahkan dimana lokasinya" Agnia segera memindahkan isi pikirannya kedalam kertas gambar yang telah disediakan.
.
.
.
Pak Yanto. Noah juga Raisha terus mengamati apa yang dibuat oleh Agnia. Lukisan itu tampak seperti nyata, seperti sebuah tempat didalam hutan belantara.
"Bagaimana pak, menemukan petunjuk?" Noah mencoba bertanya kepada pak Yanto yang sedang memegang lukisan milik Agnia itu dengan menutup mata.
"September tiga tahun lalu" pak Yanto mengeluarkan sebuah petunjuk yang didapatnya.
"Kejadian ini terjadi di bulan September tiga tahun yang lalu. Mayatnya sudah ditemukan dan dikubur. Sepertinya ini sempat muncul di berita media sosial. Satu satunya cara agar kita mengetahui daerah yang akan kita tuju adalah dengan mengecek semua berita di bulan itu" pak Yanto terus mengeluarkan apa yang dipikirkannya.
"Ide yang bagus" Noah menyanggupi saran dari pak Yanto.
"Tapi sebelum kita lanjutkan, sebaiknya kita makan dulu, aku udah bawa di mobil makanannya" Noah merasa mulai terganggu dengan suara perutnya sendiri.
__ADS_1
"Pak Yanto, bantuin angkat makanan ya" Noah mengajak pak Yanto berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir di depan rumah.