Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Kekalahan Luis


__ADS_3

"Apa yang kau inginkan?" sebuah suara menghadang Luis saat memasuki istana kerajaan makhluk halus.


"Jangan ganggu manusia milikku, seseorang dari kalian telah mengincar milikku" suara Luis menggema menakutkan.


Arwah yang memunculkan diri kepada Agnia sebagai sosok yang tampan itu kini dalam mode devil, sosok yang menyeramkan. Taring panjang menghiasi kedua sudut bibirnya.


"Kau harus mematuhi aturan, jika kau menginginkan wanita itu menjadi milikmu maka kau harus membawanya ke dunia arwah, selagi dia masih menjadi manusia biasa, siapapun boleh mengganggunya" raksasa besar yang menghadang Luis menjawab.


Luis marah tak terkendali mendengar perkataan raksasa menyeramkan itu. Sebuah bara api besar menyembur dari mulutnya, memusnahkan dalam sekejap sang raksasa.


Perbuatan Luis menimbulkan kemarahan besar dari pasukan raksasa lainnya. Di markas kerajaan mereka Luis berani membuat masalah.


Pertempuran tak seimbang pun terjadi. Meskipun Luis dengan level kemampuan yang tinggi namun kondisinya yang sendirian membuatnya cukup kesulitan.


Luis terpental cukup jauh hingga keluar dari gerbang kerajaan para raksasa itu. Kondisinya lemah, sebagian tubuhnya hancur akibat hantaman dari para raksasa.


Perlahan tubuh Luis membias, bak butiran debu yang menguap, satu persatu bagian tubuh itu lenyap dan kembali ke bumi.


Luis terdampar kembali ke kamar rumah sakit tempat Agnia dirawat. Kamar dimana pemilik permintaannya berada.

__ADS_1


"Brukkkk" bunyi tubuh terjatuh mengejutkan Agnia yang baru saja terbangun.


"Luis" Agnia berteriak histeris. Kondisi Luis sangat berantakan, wajahnya nyaris hancur tak berbentuk.


Para perawat yang sedang bertugas kala itu bergegas mendekati Agnia.


"Suster tolong, tolong Luis" Agnia menjerit jerit tak beraturan.


Saat ini posisinya duduk di lantai pojok dinding. Dilihat dari mata manusia normal Agnia tampak menangis sendirian tanpa ada siapapun didepannya.


"Maaf nona Agnia, sepertinya anda bermimpi, mari saya bantu kembali ke ranjang" seorang perawat mencekal lengan Agnia.


DEG...


Agnia diam, tak melawan saat para perawat menuntunnya berbaring kembali ke ranjang.


"Luis, tunggu mereka pergi ya, aku akan obati kamu" Agnia bergumam dalam hati sembari menatap kearah arwah yang terkapar itu.


Agnia tau Luis bisa mendengar suara dari dalam hatinya.

__ADS_1


Sementara Luis hanya bisa berdiam menatap mata Agnia yang menangis untuknya. Sisi kelembutan di dalam dirinya bangkit. Bagaimanapun, Luis diciptakan dengan dua naluri, naluri baik dan naluri buruk, tergantung kepada siapa dia menunjukkannya. Dan saat ini, saat bersama Agnia, naluri itu perlahan dibangkitkan lagi.


Tubuh Luis yang bagaikan pecahan pecahan puzzle perlahan menyatu, wajahnya pun kembali dalam mode tampan.


"Beristirahatlah nona, kami tinggal dulu" para perawat yang melihat kondisi Agnia mulai tenang meninggalkan ruangan.


Agnia kembali melompat dari kasurnya saat para perawat itu telah menghilang di balik pintu.


Luis baru saja berdiri dari posisinya.


"Luis, kamu tak apa apa?" Agnia kebingungan.


Luis tersenyum, panggilan Agnia terasa berbeda.


"Iya tak apa" Luis mengusap rambut gadis itu.


DEG...


Agnia memeluk Luis spontan. Melihat kondisi Luis yang tadi sangat menakutkan membuat Agnia sedih.

__ADS_1


"Jangan bikin aku takut seperti tadi Luis, hik, aku takut kehilanganmu" Agnia tak sadar mengucapkan isi hatinya.


Luis menegang. Perbuatan Agnia yang tiba tiba memeluk membuat otaknya tak mampu berpikir apapun.


__ADS_2