
Hari berlalu, pagi hari datang memberikan suasana yang cerah, yang dapat membuat tenang jiwa setiap insan yang melihatnya.
Begitupun dengan Agnia, gadis itu tampak lebih baik pagi ini.
"Dasar manusia kurang ajar, jadi bengkak gini bibir aku" Agnia yang tengah mematut dirinya di cermin mengumpat sendiri.
Di belakang cermin, Agnia dapat melihat sosok Luis yang sedang berdiri dan menatapnya dengan pandangan aneh, namun saat Agnia menoleh ke belakang sosok itu tak memunculkan diri.
Agnia tau kalau Luis sedang tak ingin bertemu dengannya, dan Agnia pun malu dengan kejadian sebelumnya, maka akhirnya kedua orang beda dimensi itu hanya saling diam tak bertegur sapa.
"Tok..tok"
Pintu kamar Agnia diketok dari depan.
Agnia segera menyambar masker wajahnya untuk menutupi bengkak di bibirnya. Kalau dilihat oleh orang lain, pasti akan menimbulkan pertanyaan yang akan membuat pusing kepala Agnia bertambah.
"Neng Nia, sudah jam segini apa tidak terlambat ke kantor?" mba Asih bertanya dengan polos. Dia tak mengetahui bahwasanya Agnia telah mengundurkan diri.
"Nia udah gak kerja disana mba" Agnia menjelaskan kepada pengasuhnya itu.
__ADS_1
"Astaga neng, baru saja kemarin bekerja, sekarang sudah berhenti, rekor tercepat ini neng namanya" mba Asih tak habis pikir.
"Ya habisnya si bos yang punya perusahaan itu kurang ajar mba, Nia gak tahan" Agnia kembali menjelaskan.
"Si bos ganteng semalam? yang datang kesini nungguin neng Nia pulang?" mba Asih memastikan orang yang dimaksud.
Agnia menanggapi dengan anggukan.
"Owalah, kalo mba Asih lihat dari sorot mata si bujang kasep itu, dia kayaknya suka sama neng Nia, mungkin saja dia mau menggoda neng Nia itu, menarik perhatian gitu bahasa gaulnya" tutur mba Asih menjelaskan penerawangannya.
"Astaga si mba Asih gaya ngomongnya kayak pakar cinta aja, lucu tau bahasanya" Agnia menanggapi omongan mba Asih tak serius.
"Ya gini gini kan mba Asih dulu idola kampung neng, jadi sedikit banyaknya mba Asih taulah trik pria buat dekatin wanita yang disukainya" mba Asih kembali mengoceh.
"Apa aja yang neng Nia akan lakukan mba Asih mendukung pokoknya, semangat ya neng" mba Asih menyemangati Agnia.
"Makasih ya mba kesayangan aku" Agnia memeluk mba Asih. Rasa rindunya kepada sosok yang menyayangi dan mengayominya sedikit terobati dengan adanya mba Asih.
"Ya udah mba Nia istirahat lagi, mba Asih mau ke dapur dulu ya" wanita paruh baya itu pamit.
__ADS_1
Selepas kepergian mba Asih, Agnia kembali menutup pintu dan duduk di ranjangnya.
"Vito, kamu kemana sih, lama banget tanpa kabar, apa yang terjadi dengan hubungan kita?" Agnia bergumam sendiri.
Agnia mengambil segelas teh chamomile yang tadi sempat dibuatnya sebelum masuk kamar.
Tiba tiba iya teringat akan sejarah teh chamomile yang membuatnya terjebak dalam kisah semrawut dengan arwah Luis.
"Hai Luis, ajak gue jalan dong, muncul lah, jangan ngambek" Agnia mulai menggoda arwah itu. Entah mengapa Agnia merasa sudah sangat nyaman dengan Luis, hingga beberapa jam arwah itu menghilang Agnia merindukannya.
Lampu di kamar Agnia tiba tiba berkedip kedip tak beraturan.
"Udah deh Luis, jangan gini, muncul aja" Agnia bukannya takut malah menantang arwah itu.
Luis muncul dalam bentuk yang sangat tampan di hadapan Agnia, tak dipungkiri ada debaran yang lain di jantung Agnia saat melihatnya.
"Hai Luis" sapa Nia salah tingkah.
Luis hanya diam mematung, bahkan tak berkedip, dia layaknya sebuah patung di etalase toko.
__ADS_1
"Emm, Luis aku minta maaf ya" Agnia terpaksa berkata semanis mungkin agar Luis bisa kembali seperti semula.
"Agnia, kau telah melak