Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Klien kedua muncul


__ADS_3

Mie instan super pedas buatan Agnia telah tersaji di meja makan. Mata gadis itu berbinar. Kelezatan makanan istimewa itu telah terasa diujung lidah meski belum dicicipi.


"Saatnya menikmati" Agnia mulai menyeruput sendok demi sendok makanan lezat itu. Saat ini dia duduk sendirian di kursi meja makan berbentuk bundar.


Tak beberapa lama, sesosok bayangan kembali mengganggu kenikmatan makan siang Agnia. Sosok itu duduk persis di kursi di hadapannya. Sedang memandanginya dengan wajah datar dan pucat.


"Uhukkkk" Agnia tersedak karena kaget ada sesosok makhluk menampakkan diri di hadapannya.


"Awwh" Agnia meringis sambil menepuk nepuk dadanya. Mie instan super pedas yang tadinya nikmat berubah menjadi menyakitkan karena masuk ke jalur yang salah di tenggorokannya.


Setelah berjuang beberapa detik menghilangkan rasa tak nyaman di tenggorokan, Agnia mulai membaik dan menoleh kearah sosok yang tadi hadir mengagetkannya.


"Sialan" Agnia mengumpat sendiri meluapkan kekesalan hatinya karena dikerjai oleh arwah gentayangan.


Arwah itu telah menghilang tanpa menunjukkan rasa prihatin terhadap apa yang dialami Agnia.


Agnia menyudahi acara makan siangnya. Selera makannya sudah menghilang akibat insiden tersedak tadi. Agnia memutuskan untuk membantu membereskan rumah Raisha. Setidaknya ini caranya berterimakasih atas bantuan Raisha yang sudah bersedia menampungnya tinggal gratis di tempat itu.


.


.

__ADS_1


.


Selesai berbenah, Agnia memutuskan untuk mencari udara segar dengan berjalan jalan sejenak di lingkungan sekitar.


"Kalau aku dirumah terus, bisa bisa aku diganggu makhluk itu lagi" gumam Agnia.


Agnia sampai di sebuah taman fasilitas umum tak jauh dari rumah Raisha. Suasana taman itu masih sangat sepi, karena cuaca yang panas dan masih siang hari. Biasanya taman itu baru ramai di sore hari, banyak anak anak bermain ditemani orangtua mereka yang baru pulang kerja.


"Aku aja yang pengangguran disini, semua orang tampaknya sedang sibuk bekerja" Agnia kembali bermonolog.


"Hai" sosok yang tadi menampakkan diri saat Agnia makan kembali muncul, kali ini dia bersuara dan menyapa Agnia.


Tubuh Agnia seketika merinding mendengar sapaan dari makhluk itu yang terasa lebih seperti menyeringai.


"Wushhhhh"


Makhluk itu langsung merasuki tubuh Agnia. Seketika tubuh gadis itu mengejang dan tak sadarkan diri.


.


.

__ADS_1


.


"Agnia kau sudah sadar? syukurlah" Raisha muncul di hadapan Agnia saat pertama kali gadis itu membuka mata.


Agnia berusaha bangun dan mengingat apa yang terjadi padanya.


"Trias, namanya Trias" Agnia terus meracau panik.


"Tenanglah Agnia" Raisha mulai paham apa yang menyebabkan gadis itu pingsan beberapa jam, sepertinya dia membutuhkan bantuan pak Yanto.


Raisha segera mengeluarkan ponsel pribadinya dan menghubungi Noah untuk segera membawa pak Yanto segera kerumahnya.


Tak menunggu lama, pak Yanto datang sendirian ke rumah Raisha, Noah terpaksa harus bertahan di rumah sakit, karena ada jadwal operasi yang tak bisa ditundanya.


"Tenanglah mba Agnia, ikuti perintah saya" pak Yanto menepuk pundak Agnia, dan seketika itu juga Agnia yang meracau terdiam, dia bagaikan terhipnotis dan mengikuti arahan serta perintah dari pak Yanto.


Sekitar lima menit berjalan, pak Yanto menyudahi ritualnya, Agnia pun mulai sadar dan menangis. Raisha segera memeluk gadis itu untuk menenangkannya.


"Saya sudah paham, sepertinya klien kita selanjutnya sudah ada, dia bernama Trias, dia sudah memberikan petunjuk kepada Agnia apa yang menyebabkan kematiannya, dan ingin kita membantu" pak Yanto menjelaskan kepada Raisha.


"Sebaiknya kita diskusikan ini setelah mas Noah datang, untuk sementara mba Raisha dan mba Agnia masuk dulu kedalam, sebentar lagi gelap, banyak yang mengincar Agnia, dia belum siap sepenuhnya menjadi perantara" pak Yanto kembali menjelaskan.

__ADS_1


Agnia dan Raisha mematuhi peringatan dari pak Yanto. Keduanya segera bergegas masuk kedalam kamar dan bersiap melakukan ibadah.


__ADS_2