Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Tatapan tatapan penuh arti dimulai


__ADS_3

Agnia tersadar akan perbuatannya yang agresif memeluk Luis. Untuk menghilangkan malu, Agnia melepas pelukannya dan memarahi Luis.


"Lu jangan bikin gue panik dong, tuh lihat para suster bilang gue halusinasi" bentak Agnia dengan jutek.


Luis tersenyum, dia memilih tak merespon ucapan Agnia.


"Gue udah boleh pulang sama dokter, gue udah dinyatakan sehat" Agnia memberikan kabar gembira setelah berhasil mengembalikan jantungnya yang dag dig dug.


"Baguslah" jawab Luis singkat.


Agnia kembali sibuk memasukkan beberapa barang barang pribadinya kedalam tas. Semangatnya untuk kembali kerumah sangat besar.


"Hai Agnia, selamat pagi, boleh masuk?" sebuah suara menyapa Agnia.


Agnia menoleh kearah pintu dan menemukan Marco disana, gadis itu kembali menoleh kearah sampingnya dan melihat Luis disana.


"Ok, gue paham" Agnia memastikan bagaimana dia bersikap dengan dua makhluk berbeda dimensi namun serupa wajah ini.


"Boleh pak, silahkan" Agnia menyambut sapaan dari Marco.


"Sudah boleh pulang ya? syukurlah" Marco mengomentari Agnia yang sedang bersiap siap pulang.


"Iya pak, dokter sudah izinkan pulang hari ini" jawab Agnia.


"Pak Marco kenapa sepagi ini sudah ada di rumah sakit?" Agnia bertanya.


"Tadi malam saya seperti terkena serangan jantung. Seluruh tubuh saya sangat sakit untuk digerakkan, rasanya seperti kepingan puzzle yang retak retak" Marco menjelaskan.


"Tapi tadi saat dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh tak ditemukan apapun, saya dinilai normal dan sangat sehat" Marco kembali berbicara.


Agnia menoleh kearah Luis. Apa ini ada hubungannya dengan kondisi Luis yang hancur tadi malam.


Luis mengangguk, dia memahami isi hati Agnia.


"Memang penyakit zaman sekarang aneh aneh pak, semoga gak terulang lagi ya pak" Agnia berusaha menenangkan Luis.


"Sudah selesai semua administrasinya?" Marco menanyakan.


"Sudah pak, tinggal pesan taksi aja" Agnia menjawab.


"Ikut mobil saya saja, kita satu arah" Marco menawarkan tumpangan.


"Gak usah pak, takut merepotkan" Agnia menolak dengan halus.

__ADS_1


"Ayolah Agnia, biarkan saya membantu" Marco memaksa.


"Baik pak, terimakasih atas bantuannya" Agnia akhirnya mengalah. Dia mengikuti Marco keluar dari rumah sakit.


.


.


.


"Besok siap bekerja?" Marco membuka pembicaraan saat mereka didalam mobil.


"Siap pak" jawab Agnia bersemangat.


"Bagus kalau begitu" Marco memberikan senyum tipis kepada Agnia.


Sementara Agnia dan Marco berbincang ringan didalam mobil, Luis sibuk beterbangan kesana kemari mencari angin segar. Dia merasa bosan melihat kelakuan Agnia dan Marco yang menurutnya sok manis.


"Terimakasih atas tumpangannya pak" Agnia segera turun dari mobil Marco dan tak sama sekali menawarkan pria itu untuk mampir.


Marco melihat jam di tangannya. Dia harus segera kembali kerumah untuk bersiap ke kantor, hari ini ada meeting penting yang tak bisa diwakilkan. Segera pria itu menekan pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah.


.


.


.


"Neng Nia, makan dulu ya" mba Asih datang ke kamar Agnia dengan membawa nampan berisi banyak makanan.


"Taruh dimeja aja ya mba Asih, nanti Nia makan" Agnia tampak lemas, berbaring di kamarnya.


Meskipun khawatir dengan kondisi nona mudanya, namun mba Asih tetap tak mau memaksa. Dia meletakkan makanan yang dibawanya di meja dan pergi dari kamar Agnia.


"Kamu kenapa?" Luis muncul di hadapan Agnia.


"Gak kenapa kenapa, lemas aja" Agnia menjawab.


Luis mengernyitkan keningnya heran. Agnia tampak tak normal, Luis khawatir gadis itu kembali sakit.


"Makanlah biar tak lemas" perintah Luis.


"Gak selera" gadis itu menolak.

__ADS_1


"Kamu mau makan apa? sebutkan" Luis menawarkan.


"Masakan buatan ibu" jawab Agnia cuek.


"Yang lain" Luis kembali menawarkan.


"Gak ada" jawab Agnia tegas.


Mata Luis memerah menahan marah. Dia tak suka dibantah.


Arwah itu menghilang tanpa permisi. Sebuah kebiasaan baru bagi Luis saat emosinya tak dapat terkendali.


Agnia menarik nafas berat. Luis tak mengerti kemauannya.


"Neng Nia, ada tamunya dibawah" mba Asih muncul dari pintu kamar dan memberitahu Agnia


"Siapa mba?" gadis benar benar enggan beranjak.


"Gak tau neng, ganteng banget" jawab mba Asih menggoda.


"Duh mba Asih kok genit" Agnia akhirnya tertawa melihat tingkah pengasuhnya itu.


Agnia turun dengan wajah kusut ditambah piyama lucu bermotif kartun.


"Pak Marco?" Agnia memastikan orang didepannya adalah Marco yang tadi pagi mengantarnya.


"Ya ampun imut sekali dia" batin Marco dalam hati.


"Hai Nia" Marco menyapa.


"Ada apa pak?" Agnia yang lemas memilih duduk duluan sebelum tamunya duduk.


"Ini, mau kasih kamu makanan buatan ibu ku, biasanya kalau aku sakit suka gak selera, tapi kalau dikasih ini aku mau" Marco menjelaskan.


Agnia mengernyitkan dahinya.


"Buat saya pak?".


"Iyalah buat kamu, karena saya ada disini, kalau buat orang lain saya gak bawa kesini" jawab Marco lucu.


"Oh ya ya" Agnia bingung, kenapa pria itu begitu baik padanya, dan seolah tau apa yang diinginkannya.


"Terimakasih pak, kebetulan saya belum makan, ayo makan sekalian" Agnia mengajak.

__ADS_1


Marco tersenyum menatap Agnia, senyuman yang mengingatkannya kepada Luis.


__ADS_2