
"Ini ruangan mu, sekarang kau menjadi asisten pribadi ku" Marco turun tangan langsung mengantar Agnia sampai ke depan meja kerjanya.
"Kalau butuh apa apa, tekan satu, itu langsung tersambung kepadaku" Marco menambahkan.
"Ingat, jangan terlalu polos disini, jangan terlalu percaya sama orang lain, takutnya nanti kau disalahgunakan" Marco berusaha mempengaruhi gadis itu. Dan sepertinya usaha itu berhasil, Agnia mengangguk dan tampak benar benar meresapi setiap kalimat yang diucapkannya.
.
.
.
Hampir dua jam berlalu. Agnia masih berada di meja kerjanya tanpa melakukan apapun. Dirinya hanya disuruh membaca SOP perusahaan yang sangat tebal.
Sementara itu, meja kerja Marco yang terletak persis didepannya saat ini kosong. Menurut Elis si sekretaris utama, bos besar itu sedang ada meeting di luar kantor dan kemungkinan tak kembali hingga jam makan siang.
"Duh, membosankan banget sih" Agnia mulai mengeluh.
"Hei, main sama gue aja, kita adu ketangkasan jari" suara dari Luis berbisik di telinganya.
"Gue takut nanti ada yang lihat gue main sendiri, ntar gue dituduh gila" Agnia membalas ajakan Luis dengan ikut berbisik.
"Tenanglah, berakting saja seolah kau sedang membaca buku, tak kan ada yang tau" wajah Luis tiba tiba muncul dan berbicara dari halaman buku yang dibaca Agnia.
"Ok deh, lumayan buat usir bosan" Agnia menerima ajakan Luis.
__ADS_1
Gadis itu larut dalam keseruan bermain bersama Luis, rasa bosan yang tadi sempat menyergapnya kini perlahan menghilang.
Sementara itu, Marco yang terus memantau ruangan kerjanya melalui CCTV nampak tak senang melihat Agnia yang akrab dengan sosok laki laki.
Marco yang memiliki kemampuan melihat makhluk dari alam lain mengetahui bahwa selama ini Agnia diikuti oleh sesosok arwah yang mirip dengan dirinya.
Karena itulah, saat pertama kali pertemuan mereka yang diwarnai dengan insiden lemparan sepatu ke wajahnya, Marco tak terlalu marah kepada Agnia. Karena dia mengetahui kondisi gadis itu yang kaget melihat wujudnya yang sama dengan makhluk halus yang selalu di sisinya.
Marco akan menunggu waktu yang tepat hingga kesempatan untuk berbicara dengan arwah itu datang. Marco sedikit penasaran mengapa penampakan arwah itu persis seperti dirinya.
"Pak, kita langsung ke kantor ya" Marco memerintahkan sang sopir pribadi untuk segera melanjutkan perjalanan menuju kantor begitu rapat selesai.
"Baik bos" jawab pria setengah baya yang telah mengabdi kepada Marco selama berpuluh puluh tahun itu.
.
.
.
Ya, begitu sampai di lobby perusahaannya, Marco bergegas menemui Agnia di ruangannya, dia tak suka Agnia berduaan dengan arwah penasaran itu.
"Pak...pak mar... Marco" Agnia bagaikan seorang penjahat yang ketahuan polisi.
"Lanjut aja, gue mau gabung" wajah Marco datar dan memandang tajam kearah Luis.
__ADS_1
"Gue bisa lihat lu, gaya lu norak dengan pakaian seperti itu" ejek Marco kepada Luis.
"Anda bisa lihat Luis?" Agnia heboh tak percaya.
"Bisa, bahkan dari awal" Marco menjawab ketidak percayaan Agnia.
Bola mata Luis tiba tiba memerah menyala bagaikan pancaran api. Ejekan dari Marco kepadanya menyulut sisi devil dalam dirinya. Dia tak terima Marco merendahkannya. Di rendahkan oleh seorang manusia merupakan hak paling buruk bagi sesosok arwah.
"Hei manusia, jaga ucapan mu, aku adalah bagian jahat dalam dirimu, kita memiliki satu jiwa, jadi jangan coba coba menguji ku" Luis berbicara dengan menyeringai. Taring tajam telah muncul di wajahnya. Agnia paham apabila Luis seperti ini, itu artinya Luis tengah dalam mode negatifnya, dirinya harus segera mencegah Luis mengamuk.
"Sudahlah, Luis ini tempat kerja ku, sebaiknya kau pergi menenangkan diri dahulu" Agnia mencoba menengahi ketegangan yang terjadi.
Luis tak bergeming, pria itu mulai mendengus dan bersiap menyerang Marco.
"Ya ampun, gue harus cegah"
Agnia berjalan mendekati Luis yang bersiap menyerang Marco. Tanpa pikir panjang, gadis itu memeluk Luis dan mencium bibir bertaringnya.
"Aku mohon Luis pergilah" Agnia berbisik mesra di telinga Luis.
Gadis itu kehilangan akal sehat. Dia tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi saat Luis mengamuk. Dan spontan cara inilah yang terpikirkan olehnya.
Tubuh Luis menegang, tak disangka dia bereaksi terhadap perbuatan Agnia. Sebelum harga dirinya sebagai devil jatuh, arwah itu segera menghilang tak menampakkan diri.
Sementara itu tatapan penuh amarah dan cemburu muncul dari raut wajah Marco. Dia tak menyangka Agnia akan mencumbu sesosok makhluk tak kasat mata di hadapannya.
__ADS_1
"Ikut dengan ku sekarang" Marco mencekal lengan Agnia dan menarik paksa gadis itu mensejajari langkahnya.