
Agnia dan Noah telah berada didalam mobil. Noah sudah menjelaskan rencana yang akan mereka lakukan mulai esok hari. Dan untuk sementara Agnia akan menginap di rumah sewa Raisha kekasihnya.
Tak berapa lama, Noah telah memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah bercat putih yang berada didalam area perumahan elit.
"Hai sayang" Noah menyapa Raisha yang telah berdiri di pintu untuk menyambut kedatangan mereka.
Agnia sedikit merasa ragu untuk turun dari mobil karena merasa asing dengan suasana sekitar juga orang orangnya.
"Hai, kamu Agnia yang sering diceritakan oleh Noah ya, salam kenal aku Raisha" gadis manis berhijab itu menyapa Agnia dengan sangat ramah.
"I..iya, saya Agnia" gadis itu menyambut uluran tangan Raisha.
"Ayo turun" Raisha mengajak Agnia turun dari mobil.
Setelah berbincang bersama untuk beberapa menit, Noah pamit dan meninggalkan Agnia di tempat itu bersama Raisha.
"Kamu kalau mau apapun, bilang ya, jangan segan, nanti kamarmu di sebelah sana, aku istirahat duluan ya" Raisha menjelaskan dengan sopan, membuat Agnia merasa nyaman.
.
.
.
Agnia membersihkan dirinya dan memakai pakaian milik Raisha yang dipinjamkan. Gadis itu memang tak punya satupun benda pribadi miliknya sendiri.
"Beruntunglah aku bertemu dokter Noah dan tunangannya yang sangat baik itu" Agnia bergumam sendiri sebelum menarik selimut. Dia ingin tertidur lelap lebih cepat malam ini karena tenaganya masih belum pulih total.
__ADS_1
\=\=\=\= \=\=\=
Pagi hari menjelang.
Agnia terbangun dari tidurnya sebelum ayam berkokok. Suara suara gaduh di sepanjang malam terus mengganggunya.
Berbagai macam makhluk lewat didepan matanya dan itu membuat tak nyaman. Agnia memang sudah mulai terbiasa dengan kelebihan yang dimilikinya. Tapi tubuhnya belum mampu mensortir mana yang harus dan tak harus ditanggapi. Jadilah sepanjang malam dia terganggu dan tak cukup beristirahat.
"Selamat pagi Agnia" Raisha yang sedang menyiapkan sarapan menyambut Agnia yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Hei, kenapa kamu lesu? apa ada masalah? ada yang masih sakit tubuhnya?" Raisha bertanya penuh kekhawatiran.
"Tidak mba, aku hanya tak cukup tidur, banyak gangguan?" Agnia menjelaskan apa yang dialaminya.
"Gangguan? apa itu yang sering kamu lihat?" Raisha yang telah tau semua kemampuan Agnia mencoba memastikan kebenarannya.
Deg....
Raisha menelan salivanya. Agnia berkata begitu santai, padahal selama ini Raisha tinggal sendiri di rumah, bagaimana mungkin selanjutnya dia mampu berpikiran tenang.
"Apakah mereka menyeramkan?" Raisha mendekat kearah Agnia dan berbisik.
Gadis itu mengangguk lagi. Hal ini sontak membuat Raisha mengurut dada.
"Ah Agnia, aku gak mungkin bisa tinggal sendirian lagi disini" Raisha ketakutan.
"Maaf mba, aku hanya menjawab sesuai fakta" Agnia merasa tak enak hati melihat ekspresi Raisha yang pucat.
__ADS_1
"Huft" Raisha menghembuskan nafas berat.
"Nanti kita bahas lagi, sekarang kita makan dulu ya" Raisha mencoba tenang, pilihan untuk tidak membahas masalah makhluk gaib itu sementara adalah pilihan tepat saat ini.
Agnia mengangguk dan duduk di kursi meja makan di sebelah Raisha.
"Maaf aku cuma bikin nasi goreng, soalnya stok makanan habis, aku belum belanja" Raisha menjelaskan.
"Ini enak banget mba, terimakasih" Agnia makan dengan sangat lahap.
.
.
.
Tepat pukul tujuh pagi, Noah datang ke rumah kontrakan Raisha.
Gadis itu sumringah menyambut kedatangan Noah, karena setidaknya ada orang lain ditempatnya saat ini. Raisha merasakan aura tegang saat hanya berdua bersama Agnia, karena gadis itu sering mengeluarkan ekspresi aneh, seolah memandang sesuatu.
"Sayang, Agnia bilang disini banyak hantu" Raisha mulai mengeluh kepada kekasihnya.
Noah tersenyum mengelus hijab yang ada di kepala kekasihnya itu.
"Tenanglah, selagi mereka gak mengganggu kamu, semua akan aman aman saja" Noah mencoba menenangkan.
"Ayo kita berangkat sekarang, sebelum jalanan macet" Noah memberi kode kepada Agnia dan Raisha.
__ADS_1
Ketiganya berangkat bersama dalam satu mobil menuju alamat yang ditunjukkan Sofia.