
"Dug..dug" seorang laki laki yang tampak tak waras melempari Agnia dengan batu kerikil ketika berjalan kaki menuju ke tengah hutan. Pria itu sudah mengikuti eternal squad sedari tadi, sejak awal keluar dari balai warga.
"Hei jangan" Noah menegur pria itu karena terus melempari Agnia.
Pria itu seakan tak mendengar, dia terus berlarian mendekat kearah Agnia. Semakin intens melempar sembari berteriak tak jelas.
"Stop, dia bukan orang biasa, dia ingin memberitahu sesuatu" pak Yanto memahami situasi lewat mata batinnya.
"Terkadang ada orang yang terlihat tak normal padahal justru merekalah yang lebih normal dari manusia lainnya" pak Yanto menambahkan kalimatnya.
Sebungkus rokok yang ada di kantong bajunya diberikan kepada orang yang menghambat perjalanan mereka itu.
"Ini" pak Yanto mendekat dan menyerahkan bungkusan rokok di tangannya.
Pria berpenampilan kusut itu mengambil rokok yang disodorkan pak Yanto. Dengan bahasa yang kurang bisa dipahami ia terus meracau.
"Ba...ha..ya" hanya kata ini yang terdengar jelas oleh Agnia dan orang orang yang berada di tempat itu.
"Apa kita yakin akan melanjutkan penelusuran ini? sepertinya orang ini memberi suatu petunjuk" pak Yanto memperingatkan tim nya.
Agnia, Raisha dan Noah saling melempar pandangan, ragu menyusupi lubuk hati mereka.
"Aku tetap akan melanjutkan ini semua, jika kalian ragu biar aku masuk sendirian" Agnia berbicara sambil menatap lurus ke depan, kearah hutan lebat di depan pandangannya.
"Wushhhhhh"
__ADS_1
Angin kencang muncul secara tiba tiba di lokasi itu. Belum sempat Noah menanggapi ucapan Agnia, gadis itu sudah berlari kencang masuk menerobos hutan.
"Agnia kembali dirasuki, kita harus mengejarnya" pak Yanto tampak panik dan berusaha mengejar Agnia. Begitu juga dengan Raisha dan Noah. Mau tak mau mereka harus mengikuti kemana perginya Agnia. Ikrar yang telah mereka buat untuk menjalankan misi ini membuat rasa ragu yang tadi mengusik mereka hilang begitu saja. Tempat itu langsung sepi karena orang orang yang tadi berdiri disana telah masuk satu persatu menerobos hutan. Tinggallah seorang pria tak waras yang terus berteriak meracau. "Semoga kalian pulang dengan selamat" racau pria itu sambil tertawa menyeringai.
.
.
.
Pelarian Agnia berhenti di sebuah pohon besar di tengah hutan. Sekelilingnya tampak banyak tanaman dan batang pohon bekas terbakar. Tumpukan arang hitam berserakan disana.
Tubuh Agnia yang tengah berada dalam kuasa arwah Trias berdiam diri mematung di bawah pohon itu. Seolah sedang mengingat kejadian masa silam.
"Bukankah ini hutan larangan, seharusnya tidak ada orang yang bisa masuk kesini dan melakukan pembakaran pohon" Noah mulai mencium kejanggalan.
Raisha yang sedari tadi hanya diam mempererat pegangan tangannya di lengan sang kekasih. Apa yang dilihatnya saat ini sungguh tak masuk akal. Di depannya ada seorang gadis bertubuh mungil sedang mengais ngais tanah dengan kecepatan luar biasa. Seolah tenaga yang gadis itu keluarkan tak seimbang dengan bentuk tubuhnya yang kecil.
"Apa sebaiknya kita membantu?, kasihan dia " Noah mengeluarkan pendapatnya.
"Ayo kita mendekat" pak Yanto merasa energi negatif yang tadi sangat kuat di tubuh Agnia perlahan berkurang hingga cukup aman untuk didekati.
"Hai Trias, ada apa disana?" Noah mencoba berkomunikasi kepada Trias yang sedang berada di tubuh Agnia.
"Tubuhku" Trias menjawab dengan dingin pertanyaan Noah, tangannya terus menggali timbunan tanah.
__ADS_1
"Boleh kami bantu?" Noah kembali bertanya.
Trias menoleh sebentar kearah Noah dan mengangguk.
Segera saja, pak Yanto dan Noah mengambil benda benda yang bisa digunakan untuk mempermudah mereka menggali tanah seperti yang dikerjakan oleh Trias.
"Astaga" Noah terpekik kaget saat menemukan sesuatu yang menyeramkan hasil galiannya. Baru beberapa menit mereka bergantian menggali tanah itu, sebuah benda berbentuk tengkorak ditemukan.
Wushhhhhh....
Tubuh Agnia mengejang dan lunglai. Raisha berhasil menangkap tubuh itu karena posisinya yang menjaga Agnia dari belakang.
"Hik" Agnia menangis dalam kondisinya yang lemah.
"Ini tengkorak tubuhnya Trias" Agnia menjelaskan. Visual yang tadi didapatkannya saat bersama Trias jelas nyata. Agnia bahkan dapat merasakan betapa sakitnya tubuh Trias saat nyawa tercabut dari raganya.
"Trias dibunuh dengan cara keji, dia ditusuk berkali kali hingga tewas dan jasadnya dibakar" Agnia menjelaskan apa yang baru saja didapatkannya.
Raisha dan Noah sangat terkejut dengan apa yang terjadi, beda halnya dengan pak Yanto, pria itu telah mengetahui semua yang dilihat oleh Agnia lewat mata batinnya.
"Trias meminta kita mengumpulkan tubuhnya dan kuburkan dengan layak" Agnia kembali menjelaskan.
"Kemana dia saat ini" Raisha akhirnya bisa menguasai rasa takutnya dan bertanya kepada Agnia.
"Dia tak siap menerima kenyataan. Semua ingatannya telah kembali, secara otomatis dia tak bisa lagi menyangkal kalau selama ini dia adalah arwah gentayangan. Sepertinya dia pergi menenangkan diri" Agnia mengambil kesimpulan.
__ADS_1
"Hufttt, ayolah pak yanto, kita gali dengan cepat, aku sudah merindukan kamar nyamanku untuk berbaring" Noah kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Sebersit cahaya terang akan muncul sebentar lagi mengakhiri misi berat ini.