Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Setan usil


__ADS_3

Selesai dengan sarapannya, Agnia bersiap pergi ke makam sang ibu. Ini menjadi rutinitas gadis itu setiap hari semenjak kepergian ibunya.


Agnia baru saja hendak mengganti baju, pakaian bagian atasnya telah dibuka saat sebuah suara kembali muncul dari atas lemarinya.


"Bagus juga body lu" si arwah nakal ternyata sedang berada di kamar dan melihat tubuh Nia.


"Huaaaa, dasar setan mesum, kurang ajar" Agnia menjerit dan melempar sandal kearah pria itu.


Arwah yang tembus pandang itu tak merasakan sama sekali lemparan dari Nia. Dia malah berpindah tempat semakin dekat ke depan dada Nia.


"Gede juga, tapi bagusan punya pacar gue" ejek si arwah usil. Sebelum mendapat semburan lagi dari Agnia, pria itu segera menghilang dari kamar.


.


.


.


"Arghhhhh hidup gue bertambah ribet sejak kehadiran setan itu" Agnia mengumpat sendiri. Setelah memastikan tak ada lagi yang mengintipnya Agnia segera bergerak cepat menyelesaikan urusannya.

__ADS_1


Agnia menunggu ojek yang sudah dipesannya lewat aplikasi online. Gadis itu memang telah terbiasa kemana mana naik ojek. Dia sudah terlatih tangguh dan mandiri sejak kecil.


Saat ini Agnia telah sampai di depan makam sang ibu.


"Ibu, Nia rindu, Nia kesepian tanpa ibu" gadis itu menangis di pusara yang masih merah.


"Kenapa ibu gak bawa aja Nia sekalian ikut ibu, biar kita bisa sama sama. Nia takut sendiri Bu" gadis itu kembali terisak.


"Dasar bego, coba aja lu rasain kalau jadi seperti gue, menyesal lu pasti" sebuah suara dari belakang menyahuti ucapan Agnia.


Agnia paham suara itu milik siapa. Dia sudah membayangkan wajah menyebalkan si pemilik suara itu.


"Woi manusia, gue arwah, belum jadi setan, dan gue gak lemah, gue bisa bolak balik tempat ini dengan sekali menjentikkan jari, jangan mengejek gue" si arwah merasa terdzalimi.


"Gue juga terpaksa harus dekat dekat sama lu, selama gue belum mengabulkan keinginan manusia yang manggil gue, pintu untuk balik ke dunia gue tertutup, jadi tolong selesaikan segera, gue malas disini, panas" si arwah memohon.


Agnia tak bergeming. Setelah menaburi makam sang ibu dengan bunga, gadis itu langsung berdiri.


"Didalam sana ada jasad ibu gue, permintaan gue tolong bangkitkan lagi beliau, gue gak sanggup menerima kenyataan kalau beliau sudah tinggalkan gue selama lamanya" Agnia menangis.

__ADS_1


"Lu paham gak namanya takdir, gak bisa lu sesuka hati merubah kuasa Tuhan. Gak akan ada satu makhluk pun yang bisa merubahnya" si arwah tak mau kalah.


"Emang dasar lu aja yang lemah, payah, gak punya kemampuan, gue menyesal manggil lu" maki Nia kepada arwah itu.


Ubun ubun si arwah mendadak panas karena caci maki dari Agnia. Dia menggenggam tangan gadis itu dan membawa terbang secepat kilat.


"Huaaaa, lepaskan" Agnia tak berani melihat kearah bawah karena posisinya saat ini sangat tinggi di atas awan.


"Jangan pernah menghina gue lagi" mata arwah itu tampak merah menyala.


"Gue gak peduli, lepaskan gue" Agnia masih dengan keras kepala tak mau mendengarkan.


"Ok, lu yang minta, gue lepas" arwah itu membiarkan Agnia jatuh kebawah dengan posisi ketinggian luar biasa. Lebih tinggi dari jalur terbang pesawat.


"Huaaaaa" Agnia meluncur dengan kecepatan tinggi menuju bumi. Rasanya semua tulang belulang segera terlepas dari tubuhnya karena terlalu kuat tekanan udara.


"Tolong" jerit ketakutan Agnia akhirnya keluar, dia menyerah.


Dan tak menunggu lama, sebuah tangan melingkar di pinggang rampingnya, membawanya terbang perlahan dan mendarat diatas awan.

__ADS_1


__ADS_2