Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Buku dan lukisan


__ADS_3

"Namanya Agnia, hanya itu informasi yang bisa diberikannya saat ini sayang, dia sepertinya amnesia, aku belum bisa memastikan karena belum melakukan pemeriksaan lanjutan" Noah mulai bercerita kepada Raisha sang kekasih.


"Setelah sadar dari tidur panjangnya, dia selalu histeris dan ketakutan, dia berkata melihat banyak penampakan berbentuk menyeramkan di sekitarnya, aku kebingungan menghadapinya" Noah terus melanjutkan bercerita.


Raisha adalah pendengar yang baik. Dia tampak begitu antusias mendengarkan lawan bicaranya bercerita, hingga Noah semakin nyaman disampingnya.


"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Raisha.


"Aku belum tau sayang, aku kesulitan mendiagnosis gadis ini, karena secara medis kondisinya stabil dan tak perlu penanganan khusus, semuanya sehat" lanjut Noah.


"Mungkin saja dia memang punya kemampuan seperti itu, cobalah untuk mendengarkan terlebih dahulu, karena kita harus percaya bahwa ada kehidupan lain di luar kehidupan manusia biasa di sekeliling kita" dengan bijak Raisha menanggapi.


"Mungkin dengan meminta dia menggambarkan apa yang dilihatnya di sebuah kertas, kamu bisa tau apa yang dirasakannya" Raisha kembali memberi saran.


"Kamu benar, ah memang tak salah aku memilihmu sebagai pendamping" Noah sumringah, ide dari Raisha merupakan sebuah pencerahan baginya. Setidaknya dia tau harus bertindak bagaimana untuk menghadapi Agnia.


"Sayang apa kau tak cemburu aku dekat dekat dengannya?" Noah mulai melontarkan pertanyaan untuk Raisha.


Gadis manis itu menggeleng.


"Aku mempercayai mu, dan kekuatan cinta kita. Hanya Allah yang bisa menjaga hati dan perasaan manusia, sekuat apapun aku menjagamu kalau DIA tak mengizinkan semua juga pasti tak akan terjadi" sekali lagi Raisha menjawab dengan bijak, membuat Noah semakin kagum atas kepribadian dewasanya ini.


.

__ADS_1


.


.


Pagi hari menyambut.


Noah datang ke rumah sakit dengan beberapa perlengkapan melukis.


"Dokter Noah, anda ingin melakukan apa dengan ini semua?" perawat jaga yang sedang bertugas, kebingungan melihat bawaan dokter itu.


"Bagaimana keadaan pasien yang bernama Agnia?" Noah tak menjawab justru memberikan pertanyaan lain.


"Pasien bernama Agnia pagi ini tampak lebih stabil dokter. Dia masih sering histeris seolah melihat sesuatu, tapi sudah mau berkomunikasi dengan kami, mau mandi dan mau makan" suster itu memberikan laporan.


.


.


.


"Hallo, selamat pagi Agnia" Noah masuk ke ruang perawatan Agnia dan menyapa gadis itu dengan ramah.


"Pagi dokter" Agnia menjawab dengan lesu tak bersemangat.

__ADS_1


"Apa kabarmu hari ini?" Noah tau dari raut wajah Agnia yang tak baik kalo mood gadis itu sedang kacau.


"Aku tak bisa berisitirahat dengan tenang dokter, Sofia selalu menggangguku, dia sudah meneror hidupku" Agnia mengadu kepada pria itu.


"Sofia? siapa Sofia?" dokter Noah kebingungan. Setahunya tak ada pasien lain di ruangan itu , Agnia hanya sendirian.


"Dia arwah gentayangan yang kemarin aku ceritakan" Agnia setengah berbisik menjelaskan kepada Noah.


Pria itu hanya mampu menanggapi dengan anggukan lemah.


"Bisakah kau menggambarkan bagaimana wujud Sofia?" Noah segera menyerahkan buku gambar yang dibawanya beserta pensil untuk digunakan Agnia menggambar wajah Sofia.


Gadis manis amnesia itu segera menumpahkan lewat gambar apa yang dilihatnya. Goresan pensil di tangannya begitu lancar melukis raut demi raut wajah sang arwah penasaran yang mengganggunya.


Hanya membutuhkan waktu sekitar lima menit Agnia telah selesai dan menyerahkan kepada Noah lukisan wajah Sofia.


Noah bergidik ngeri melihat lukisan wajah di buku itu.


"Apa saat ini dia ada disini?" Noah bertanya kepada Agnia.


"Ada, itu di belakang anda" Agnia yang mulai terbiasa melihat penampakan menjelaskan dengan cuek kepada Noah.


Spontan pria itu melonjak cepat, berdiri dari duduknya dan berpindah posisi ke tempat lain.

__ADS_1


"Ngeri gue" batin Noah sendiri.


__ADS_2