
Setelah selesainya misi pertama, yaitu Sofia sang pramugari yang ingin berkomunikasi dengan kekasihnya, Agnia dan tim pulang kembali ke rumah masing masing. Hadi yang menjadi objek utama pun telah dijemput keluarganya setelah diizinkan dokter untuk rawat jalan di rumah.
Berulang kali keluarga Hadi mengucapkan terimakasih atas bantuan dari Agnia, Noah dan yang lainnya. Hal ini semakin membuat Agnia terharu, untuk pertama kalinya dia merasakan hidupnya berharga, meskipun masih belum mengetahui asal usulnya, setidaknya saat ini Agnia mempunyai tujuan hidup yang jelas, yaitu membantu arwah arwah yang tersesat kembali menemukan cahaya jalan pulang ke keabadian.
"Agnia, apa masih lemas?" Raisha yang duduk di sebelah Agnia memastikan kondisi gadis itu yang diam sepanjang perjalanan. Saat ini mereka berempat berada didalam mobil menuju rumah Raisha.
"Aku oke, gak lemas kok" Agnia menjawab pertanyaan Raisha dengan lembut. Sebuah senyuman terpancar di bibir manisnya.
"Aku masih belum percaya sepenuhnya atas semua kejadian tadi. Aku bisa mengantarkan Sofia pulang ke alam abadi, dan aku melihat semua prosesnya" Agnia menjelaskan alasan kenapa dia hanya diam sedari tadi.
"Semua atas izin yang Maha Kuasa Agnia, dan kamu orang terpilih yang menjalankan misi ini" Noah ikut nimbrung dalam percakapan dua sahabat itu.
"Ah, kalian juga hebat, ini semua tak akan terjadi tanpa bantuan kalian" Agnia menunjukkan rasa terimakasihnya kepada ketiga orang temannya itu.
__ADS_1
"Jadi apa nih nama tim kita, sepertinya kita perlu mempatenkan nama untuk menjalankan misi ini" Noah melontarkan sebuah ide yang terdengar menarik.
"Eternal squad" dengan spontan Agnia mencetuskan sebuah nama untuk tim barunya.
"Setuju" Raisha yang biasanya kalem dan pendiam tiba tiba mengeluarkan semangat membara saat ide pembentukan tim ini tercetus.
"Nama yang bagus, semoga kita bisa membantu mereka yang membutuhkan itu untuk sampai ke alam abadinya" Noah menjabarkan harapan besarnya untuk tim yang baru saja mereka bentuk.
"Amin" pak Yanto yang tengah menyetir segera mengaminkan harapan baik Noah.
.
.
__ADS_1
.
Pagi yang indah menyambut hari baru dalam kehidupan Agnia.
Pagi ini Agnia sendirian, karena Raisha telah berangkat kerja terlebih dahulu. Raisha bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah dasar tak jauh dari rumah kontrakannya. Sikap Raisha yang lembut dan menyejukkan jiwa memang layak untuk mendidik para calon pemimpin bangsa. Dia adalah guru yang begitu disayangi oleh murid muridnya.
Agnia menggeliat dari tidurnya, rasa sakit di tubuhnya memang telah hilang, namun rasa malas untuk memulai hari begitu kuat menggerogotinya. Agnia hanya berbaring seharian, sampai akhirnya perut yang keroncongan lah yang membuatnya terpaksa bergerak, bangun dan membuat sesuatu di dapur untuk mengganjal perutnya.
Agnia baru saja keluar dari kamar dan berpapasan dengan sesosok bayangan yang melayang di depannya. Namun tak lama, Agnia mengabaikannya dan lebih memilih untuk melanjutkan rencana awalnya, yaitu membuat sarapan untuk menyelamatkan hidupnya pagi ini.
Sebuah telur dan sebungkus mie instan di kulkas Raisha membuat mata Agnia berbinar. Menu sarapannya pagi ini akan sangat nikmat, terbayang sudah lezatnya mie telor bercampur banyaknya cabe akan membakar semangat paginya.
Selama memasak, Agnia merasakan hawa dingin di belakangnya. Berkali kali Agnia menoleh saat merasakan ada seseorang berdiri di punggungnya namun tak menemukan siapapun.
__ADS_1
"Hai siapapun yang sedang ada disini, jangan ganggu ya" Agnia iseng memancing makhluk yang tengah mengamatinya bereaksi.