Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Khilaf yang nikmat


__ADS_3

Marco menyeret Agnia masuk kedalam ruangan pribadi miliknya dan mengintimidasi tubuh gadis itu hingga tersandar ke dinding.


"Aku manusia yang juga memiliki sifat devil seperti dia, apa yang kau berikan kepadanya aku juga harus mendapatkannya" Marco berbicara penuh emosi.


Selesai dengan ucapannya, Marco segera ******* bibir Agnia penuh *****. Rasa cemburu yang membakar membuat akal sehat Marco menghilang.


Hampir beberapa menit bibir ranum milik Agnia menjadi pelampiasan Marco, hingga setetes air mata Agnia yang jatuh tepat di pipi Marco menyadarkannya.


"Astaga, apa yang gue lakukan" Marco tersentak.


Marco segera melepaskan tubuh Agnia yang berada dalam dekapannya. Tubuh kecil itu langsung merosot ke lantai tak sanggup menopang dirinya sendiri.


Marco mengusap bibirnya yang kebas akibat ulah konyolnya barusan. Rasa bersalah menyelimutinya tatkala melihat Agnia yang meringkuk gemetaran dan menangis.


Marco mendekat dan berusaha menenangkan Agnia.


"Ma.. maaf Nia, aku gak sadar apa yang telah ku lakukan" tiba tiba pria itu menjadi gagap tak lancar berbicara.


Agnia menepis tangan Marco yang hendak menyentuhnya, gadis itu segera bangkit dan berlari meninggalkan ruangan Marco.


Marco berusaha mencegah namun tubuhnya kaku tak dapat digerakkan. Ini semua adalah ulah Luis. Sebagai satu kesatuan tubuh, apa yang tadi diperbuat Marco kepada Rena adalah merupakan perbuatan dari Luis juga. Secara tidak langsung, Luis menggunakan tubuh serta akal pikiran Marco untuk mencium bibir Agnia tadi.


"Kerjasama yang bagus, lu memang bagian dari diri gue yang pintar" ejek Luis kepada Marco yang membeku. Selanjutnya arwah itu menghilang dan Marco linglung untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Astaga, gue dalam pengaruh devil brengsek itu" umpat Marco saat kesadarannya kembali. Dia bergegas mengambil kunci mobil yang ada di mejanya dan segera menyusul Agnia untuk memberikan penjelasan.


.


.


.


Marco tiba di depan rumah Agnia dan menyapa mba Asih yang sedang menyapu halaman.


"Siang mba Asih, Agnia ada?" Marco berkata dengan sopan.


"Neng Nia masih kerja, belum pulang dari tadi" mba Asih sedikit kebingungan karena Marco seharusnya lebih tau posisi Agnia yang menjadi bawahannya.


Belum usai dengan kebingungannya, sebuah angkot berhenti tepat di pinggir jalan ruko milik Agnia. Karena memang posisi ruko yang ditempati gadis itu sebagai tempat tinggal sekaligus tempat usaha berada di kawasan jalan besar.


Marco menarik nafas lega, saat melihat Agnia turun dari angkot. Gadis itu memakai masker medis yang menutupi setengah wajahnya, namun mata sembab sisa tangisan tak mampu disembunyikannya.


Langkah Agnia terhenti saat melihat Marco sedang bersama mba Asih di depan rumahnya. Agnia tak ingin mba Asih tau apa yang telah terjadi antara dia dengan Marco. Cepat cepat gadis itu merubah raut wajahnya menjadi terlihat biasa.


"Neng Nia udah sampai, ini dicariin sama den Marco" mba Asih sumringah menyambut Agnia.


"Mba Asih, Nia capek mau langsung istirahat, tolong suruh pulang dulu ya" Agnia terus menunduk dan berjalan melewati Marco yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Tunggu Nia, kita perlu bicara" Marco mencekal lengan Agnia. Pria itu memiliki kebiasaan tak suka menunda nunda masalah, apapun itu dia harus menyelesaikan segera. Dan ini kali pertama seorang Marco bermasalah dengan wanita.


Agnia sadar kalau Marco akan terus mempersulit dan bukan tak mungkin akan membuat keributan di rumahnya.


"Mba Asih, masuk aja ya, tinggalkan kami" Agnia mengambil keputusan bijak.


"Baik neng, permisi mba Asih kedalam dulu" meskipun bingung dan sedikit khawatir namun mba Asih tetap mematuhi permintaan Agnia. Wanita paruh baya itu melangkah kedalam rumah.


Agnia dan Marco terperangkap dalam suasana canggung setelah kepergian mba Asih.


Agnia hanya diam menunggu Marco memulai pembicaraan.


"Nia, aku minta maaf atas perbuatan ku tadi, jujur aku benar benar dikuasai devil itu, aku dalam pengaruhnya" Marco menjelaskan alasan dan membela diri.


"Percayalah Nia, aku gak berniat buruk kepadamu" Marco menambahkan.


Agnia tak bergeming, gadis itu terus menunduk tak berani menatap kearah lawan bicaranya.


"Nia, bicaralah, aku semakin merasa bersalah melihat mu seperti ini" Marco tak tahan dengan reaksi Agnia yang terus diam.


"Cukup pak, sudah cukup anda merendahkan saya, mulai hari ini saya mengundurkan diri, jangan pernah jumpai saya lagi, mengenai hutang ibu, akan saya lunasi secepatnya" Agnia berkata penuh Isak tangis dan berlari masuk kedalam rumah.


Marco kembali terdiam. Dia tak mendapat maaf dari Agnia. Gadis itu bahkan mengundurkan diri dari pekerjaannya, kesempatan Marco untuk bertemu Agnia semakin sempit.

__ADS_1


__ADS_2