Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Nenek Dola


__ADS_3

Pagi hari datang menyambut harapan baru bagi setiap makhluk hidup di bumi.


"Dokter Noah telah selesai mengecek keadaan pasien istimewanya. Gadis itu masih terlelap dalam tidurnya.


"Saya akan pulang sekarang, hari ini saya akan buka praktek siang di poliklinik syaraf, tolong pantau dan laporkan terus apapun perkembangan pasien ini" dokter muda itu memberikan perintah kepada suster yang bertugas pagi ini.


"Baik dokter" suster yang diberikan perintah menjawab dengan sopan.


Noah berjalan santai menuju parkiran mobilnya. Semangat baru mengiringi langkahnya, karena pasien yang menjadi sumber penelitian tesisnya telah siuman. Itu artinya selangkah lagi menuju proposal kelulusan.


.


.


.


"Selamat pagi nenekku yang cantik" Noah menyapa seorang wanita yang tengah sibuk menyiram bunga di teras rumahnya.


"Hai sayang, kemana kamu semalaman? tak biasanya pulang pagi?" wanita bersahaja itu menyapa cucu kesayangannya.

__ADS_1


"Maaf nek, aku lupa kabari, pasien yang aku tunggu tunggu selama dua tahun akhirnya sadar nek, itu artinya metode pengobatan ku berhasil nek" Noah bersemangat menceritakan masalah pekerjaannya kepada sang nenek.


"Oh sungguh berita luar biasa dipagi ini, nenek senang mendengarnya sayang, bersemangat lah, sebentar lagi kau bisa menyelesaikan penelitian mu dan menjadi dokter ahli saraf terhebat di negara ini.


Nenek Dola. Itulah panggilannya.


Wanita yang telah berusia lebih dari setengah abad itu merupakan satu satunya keluarga dari dokter Noah yang tersisa.


Noah sebenarnya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Pada umur lima belas tahun, iya dan keluarganya mengalami kecelakaan saat melakukan perjalanan ke tempat kerja sang ayah di Sorong Papua.


Kedua orangtuanya tewas di tempat dalam kecelakaan tersebut. Adik dan kakaknya tak diketahui kabarnya. Noah tak mampu mengingat kejadian itu karena hebatnya pendarahan di kepala. Yang dia ingat adalah sebelum pingsan, tubuh kedua saudaranya itu digotong oleh beberapa orang dan dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


Maka sejak hari itu, resmilah ia menjadi saru satunya intan payung, belahan hati kesayangan kakek dan neneknya. Beberapa bulan lalu sang kakek telah meninggal dunia, hanya Noah lah saat ini satu satunya tumpuan kasih sayang sang nenek.


.


.


.

__ADS_1


Noah telah membersihkan diri dan saat ini berada di meja makan, bersiap menikmati sarapan dengan wanita paling disayanginya, yaitu sang nenek.


"Noah, hari ini kau tidak buka praktek?" nenek Dola memulai obrolan di sela sela makanan yang dikunyah nya.


"Buka nek, nanti jam sepuluh, aku mau tidur sebentar habis ini" dokter Noah menjelaskan.


"Kau tak tidur semalaman?" nenek Dola kembali bertanya.


"Tidak nek, aku memantau gadis itu. Takut terjadi sesuatu pasca siuman dari koma" Noah menjelaskan.


"Kamu benar benar calon dokter ahli yang profesional" nenek Dola memuji cucu kesayangannya itu.


"Aku hanya sangat bersemangat nek, meskipun gadis itu belum sepenuhnya pulih, aku masih harus terus menggali kejadian apa yang sebenarnya terjadi pada dia, dua tahun koma dan kembali sehat merupakan suatu kasus yang unik, sangat jarang terjadi" Noah tampak sangat serius menunjukkan ketertarikannya.


"Kamu boleh terlalu bersemangat, tapi ingat, jaga kesehatan" nenek Dola kembali mengingatkan.


"Siap nek, tenang saja" Noah meyakinkan.


Setelah acara sarapan bersama selesai, Noah masuk kedalam kamarnya dan segera tertidur lelap untuk beberapa jam. Jadwal padat sudah menunggunya, untuk itu dia butuh mengistirahatkan tubuh sejenak.

__ADS_1


__ADS_2