Takdir Beda Dimensi

Takdir Beda Dimensi
Akhirnya bisa bertemu ibu


__ADS_3

Malam menjelang, Agnia yang masih berada di kamarnya bersiap menunggu kedatangan Luis. Arwah yang menjadi kekasihnya itu telah berjanji akan membawanya menemui sang ibu.


Saat Agnia masih melamun bingung, Luis muncul dan langsung bertanya kepada Agnia.


"Kau sudah siap?" Luis tak ingin membuang buang waktu.


"Ingat Agnia, ini terakhir kali aku membantu mu, kita tak akan pernah berjumpa lagi, semoga kau bisa bahagia dengan hidupmu selanjutnya" Luis memperingatkan Agnia sebelum misi mereka dilakukan.


Agnia yang terlalu bersemangat tak mempedulikan peringatan Luis, dirinya terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, dia akan segera bertemu dengan sang ibu dan melepaskan rindu.


Luis memegang pundak Agnia dan memeluknya erat seolah itu adalah pertemuan terakhir.


.


.


.

__ADS_1


Agnia memejamkan mata dan merasakan tubuhnya melayang di udara. Sesuai pesan Luis, dirinya tak boleh membuka mata sebelum diperintahkan.


"Bukalah matamu" Luis mengeluarkan suara setelah cukup lama Agnia merasakan dirinya melayang.


Perlahan Agnia membuka mata dan melihat kondisi sekitarnya.


Agnia mengenali tempat itu. Dia ingat kalau tempat itu pernah muncul di mimpinya, saat itu dirinya dikejar oleh sesosok makhluk tinggi besar dan ingin memangsanya.


"Jangan takut, aku bersamamu, lihatlah kearah cahaya itu" Luis berbisik di telinga Agnia. Tubuh Agnia yang bergetar menandakan kalau tempat itu membuatnya takut.


Agnia seolah tersedot kedalam cahaya terang yang ada di hadapannya. Memori masa kecil bersama ayah dan ibunya bermunculan bagai potongan video slide demi slide.


Tangis yang tadi muncul di wajah gadis itu berubah menjadi senyuman. Agnia kembali mengingat bagaimana dulu dia selalu menjadi kebanggaan sekolah dan lingkungan karena prestasi yang diraihnya. Dirinya selalu terpilih menjadi duta untuk setiap kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekitarnya.


Luis terus setia mendampingi di samping Agnia. Arwah itu begitu siap siaga untuk menjaga Agnia, tak sedikitpun gangguan yang bisa mendekati Agnia karena penjagaannya.


Tayangan di layar raksasa itu masih terus memutar riwayat hidup Agnia. Kali ini video sampai di salah satu masa dimana Agnia mengalami cobaan berat pertama dalam hidupnya. Sang ayah meninggal dan hidup berdua saja dengan ibunya.

__ADS_1


"Agnia janji akan menjaga ibu" suara tangis Agnia kala itu menggema ke seluruh tempat itu.


"Ayah, maafkan Agnia" gadis itu kembali terisak.


Tibalah saatnya kala sang ibu mengalami kecelakaan, Agnia bagai mengalami dejavu, disitu dia melihat dirinya yang putus asa dan menggugat Tuhan. Agnia yang dulu seorang yang taat beribadah sekarang berubah menjadi pribadi yang lalai, yang hanya mengeluh dan sibuk dengan urusan duniawi.


"Aku hanya bisa membantu mu kali ini saja Agnia. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, semoga takdir kita masih bisa bersama" Luis mengakhiri ucapannya.


Seketika tempat dimana Agnia berdiri berubah menjadi sebuah gerbang besar. Agnia dapat melihat sosok sang ibu dari balik gerbang yang satunya.


Ibu Herta tampak begitu cantik dengan pakaian serba putih di tubuhnya. Sekilas tampak kalau tubuh itu tak nyata, layaknya sebuah bayangan tipis yang bercahaya.


"Ibu" Agnia terisak ingin berlari mengejar dan mendekati wanita itu, namun kakinya kelu.


"Ibu, Agnia rindu" tangan gadis itu berusaha terus melambai meraih tangan sang ibu yang semakin lama semakin mendekat.


"Jangan melawan takdir nak, jalanilah hidup mu sesuai dengan apa yang telah digariskan, doakan ibu dan ayah, kirimkan lah kami dengan doa tulus agar kami mempunyai jalan yang lancar menuju keabadian" ucapan ibu Agnia begitu sendu.

__ADS_1


Begitu selesai dengan ucapannya, Agnia merasakan getaran dahsyat di tempatnya berdiri, lebih hebat daripada gempa bumi biasa. Agnia terperosok kedalam tanah yang terbelah persis di bawah kakinya, dan seketika semuanya gelap.


__ADS_2