
Dua tahun di masa depan.
"Dokter, pasien yang koma itu telah bangun, saat ini sedang ditenangkan oleh perawat, bisakah anda segera datang kesini?" sebuah panggilan telepon bernada panik datang di ponsel Noah.
"Saya segera kesana" jawaban dingin dokter muda itu mengakhiri sambungan telepon.
Tak menunggu lama, mobil yang dikendarainya sendiri telah diparkir di depan lobby rumah sakit. Dengan setengah berlari Noah masuk dan menuju ruangan VIP di lantai dua.
"Syukurlah anda telah datang, kami kesulitan menenangkan pasien yang terus histeris ini" seorang perawat memberi laporan.
Dokter Noah mengambil sarung tangan karet yang telah disediakan dan segera menggunakannya. Melangkah dengan perlahan menuju kearah pasien wanita muda yang tengah berteriak bak kehilangan akal ke seluruh ruangan.
"Tenanglah nona, saya dokter Noah yang akan menangani anda" dokter muda itu mulai melakukan pendekatan.
"Jangan mendekat, pergi, pergi" wanita muda itu ketakutan, tangisan terus menghiasi wajahnya yang sembab efek tertidur selama bertahun tahun.
"Suster siapkan obat penenang" dokter Noah tak mampu berdialog dengan pasiennya hingga memutuskan untuk menyuntikkan beberapa dosis untuk menenangkan pasien yang tak diketahui identitasnya ini.
.
.
__ADS_1
.
"Siapa kau sebenarnya?" Noah terus menatap kearah pasien khususnya ini. Pengaruh obat penenang membuatnya tertidur lelap kembali.
"Dokter, apa anda masih terus disini?" seorang suster kepala mencoba menyapa dan menanyakan rencana apa yang ingin diperbuat Noah selanjutnya.
"Saya ingin memastikan kondisinya stabil malam ini, tinggalkan saya" dokter Noah menjawab dengan dingin.
"Baik dokter, saya permisi" suster kepala itu berpamitan.
Hampir tiga jam berlalu dan dosis obat penenang mulai berkurang. Tubuh pasien wanita tanpa identitas itu mulai menggeliat. Matanya membuka perlahan, seluruh tubuhnya terasa lemas dan tak bisa digerakkan.
"Tenanglah, saya dokter yang menangani anda" Noah yang berjaga semalaman mencoba memberi ketenangan agar pasien ini tak histeris lagi.
Noah sigap memberikan apa yang diminta oleh pasiennya itu. Sebuah gelas berisi air putih diserahkan.
Setelah menghabiskan setengah dari isi gelas itu, sang pasien mulai tenang dan menunjukkan reaksi tak lagi akan histeris.
"Perkenalkan, saya dokter Noah, dokter spesialis saraf yang saat ini berwenang menangani anda" Noah memulai dialognya.
Gadis pucat yang menjadi pasien misteriusnya selama hampir dua tahun itu tampak bingung, pandangan matanya bergerak liar kesana kemari ke seluruh ruangan.
__ADS_1
"Tenanglah, jangan panik, tak apa jika tak ingat, sekarang banyak lah beristirahat" dokter Noah mencoba menenangkan pasiennya yang mulai tampak panik.
"Agnia" gadis itu mengeluarkan suara.
"Agnia?, apa itu nama mu?" dokter Noah yang tadi ingin meminta pasien beristirahat kembali bersemangat saat mendengar satu informasi meluncur dari mulut pasiennya itu.
Gadis itu menggeleng, dia seperti orang linglung.
"Agnia" gadis itu kembali menyebut sebuah nama.
"Baiklah, untuk sementara saya akan memanggilmu Agnia, nama yang bagus" Noah tak mau memaksa lebih jauh. Pasien istimewa ini harus banyak beristirahat dulu, semakin dipaksa akan semakin membahayakan kesehatan mentalnya.
"Saya akan berjaga disini, beristirahatlah Agnia" dokter Noah merapikan selimut di tubuh pasiennya itu dan memadamkan lampu, hingga suasana terasa lebih gelap.
Tak disangka, wanita itu histeris dan memohon untuk menghidupkan kembali lampu.
"Jangan gelap, tak mau gelap" Agnia menjerit ketakutan.
"Baiklah, tenangkan dirimu" Noah mencoba kembali menenangkan Agnia yang meringkuk ketakutan di atas ranjangnya.
"Apa yang terjadi padanya?" batin Noah semakin bertanya tanya.
__ADS_1
Setelah Agnia mulai tenang dan kembali berbaring, Noah kembali ke posisinya. Sofa di samping ranjang menjadi tempatnya mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
"Tidurlah Agnia, semua baik baik saja" Noah kembali memberi perintah saat melihat Agnia terus menatapnya ketakutan.