Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Tiga Belas


__ADS_3

"Tiffany!" batin Austin dan refleks berjalan mendekati tubuh Tiffany.


"Kenapa dia bisa tak sadarkan diri seperti ini?" ucap Austin yang marah.


Austin tiba-tiba teringat perkataan Ibunya yang mengatakan bahwa Tiffany kini tengah hamil dan itu membuat dia semakin khawatir.


" Siapa yang membuat dia seperti ini?"teriak Austin lagi.


"Shinta yang melakukannya tuan Austin. Dia yang sudah mendorong Tiffany hingga tak sadarkan diri" ucap salah seorang yang berkumpul di situ.


"Siapa Shinta?"tanya Austin sambil mengertak giginya.


"Dia tuan Austin!" ucap Della sambil menunjuk Shinta yang berada di dekatnya.


"Jadi anda nona Shinta?"ucap Austin sambil menatap tajam ke arah Shinta.


"Saya tidak mendorongnya dengan kuat kok.Dasar dia saja yang terlalu lemah! Baru di dorong gitu aja sudah langsung pingsan"ucap Shinta yang merasa tidak bersalah.


"Kau..."ucap Della yang hendak menampar Shinta.


"Hentikan!"ucap Austin dengan suara lantang sehingga membuat Della menghentikan aksinya.


Setelah berbicara seperti itu, Austin mengambil handphone dari saku celananya dan menelpon seseorang.


"Halo Charles" ucap Austin dan itu membuat Shinta terkejut.


"Ada apa Austin? Apa ada yang ketinggalan di kantor sampai-sampai kau menelponku padahal baru saja kau meninggalkan kantorku" suara Charles yang terdengar dari ponsel itu


"Tidak ada yang ketinggalan Charles. Hanya saja ada sesuatu yang mengangguku saat aku ingin pergi dari kantormu" ucap Austin sambil menatap kearah Shinta.


"Apa yang terjadi Austin? Apa yang mengganggumu? Sepertinya kau sedang marah saat ini?"ucap Charles.


"Benar! Saat ini ada seseorang yang membuatku merasa marah dan jengkel terhadapnya dan aku ingin kau cepat memecatnya karna aku tidak ingin dia ada di sini saat aku akan berkunjung ke kantormu lagi"ucap Austin.


"Siapa dia?"tanya Charles.


"Sebentar lagi dia akan datang sendiri ke kantormu"ucap Austin lalu mematikan panggilan secara sepihak.


"Kau ada dua pilihan nona Shinta!" ucap Austin sambil menatap ke arah Shinta yang terlihat sedikit ketakutan.


"Pertama kau harus keluar dari perusahaan ini atau kedua memilih mendekam di penjara!"ucap Austin.


"Apa maksudmu?" ucap Shinta sambil mengerutkan dahinya.


"Aku harap kalau kau itu manusia cerdas yang dapat mengerti perkataanku. Jadi kau harus memilih salah satunya, kalau tidak kau akan menyesalinya karena sudah bermain-main denganku"ucap Austin dengan penuh penekanan.


Mendengar perkataan Austin, Shinta langsung meninggalkan tempat itu.


Dan saat itu juga Austin pun langsung mengendong tubuh Tiffany ala bryde style.


"Tiffany mau kau bawa kemana?"tanya Della.


"Aku akan membawanya ke rumah sakit"ucap Austin dengan posisi yang sudah berdiri sambil mengendong Tiffany yang tak sadarkan diri.


"Aku akan ikut"ucap Della yang merasa khawatir.


"Aku harap nona tidak usah untuk ikut bersamaku. Percayakan semuanya padaku! Biar aku saja yang bawa, lagian pekerjaanmu di sini masih ada. Jadi nona tidak usah khawatir karena saya ini bukan orang jahat"ucap Austin yang menjelaskan pada Della kalau dia tidak akan berbuat jahat pada Fany.


"Tapi... " ucap Della yang langsung terpotong dengan ucapan Austin.


"Saya dan Tiffany sudah saling mengenal kok!"ucap Austin yang ingin membuat Della percaya padanya.


"Baiklah tuan Austin. Tolong jaga teman saya sampai saya sudah datang ke sana" ucap Della yang ingin mempercayai Austin bisa menjaga Fany.


Austin pun langsung membawa Tiffany menuju ke mobil miliknya.


"Itu kan Ceo dari perusahaan Nero Corp.


Dia pemuda tampan dan kaya raya " ucap karyawan di sana sambil berbisik bisik satu sama lain.


"Tapi punya hubungan apa ya tuan Austin dengan Tiffany?"tanya karyawan yang sedang berkumpul di tempat itu.


"Sepertinya mereka sudah mengenal satu sama lain?" ucap yang lain.


"Jangan membicarakan orang lain. Lebih baik kalian lanjut kerja lagi, jangan pada bergosip di sini"ucap Della yang ingin membubarkan perkumpulan itu.


Kini semua karyawan yang sempat berkumpul pun kini sudah bubar.


 

__ADS_1


Di tempat lain, Austin sudah tiba di mobilnya dan meletakkan tubuh Tiffany di jok belakang mobilnya dengan posisi terlentang.


"Aku sengaja tidak membawa temanmu karna ada sesuatu yang harus di jelaskan Fany"ucap Austin.


Lalu Austin menutup pintu jok belakang mobil dan berjalan menuju tempat kemudi dan melajukan mobil itu.


Bukan membawa Tiffany ke rumah sakit,Austin malah membawa Tiffany ke apartemen nya.


"Halo Andrew Spencer" ucap Austin yang terlihat sedang menelpon seseorang.


"Aku ingin kau secepatnya datang ke apartemenku karna ada seseorang yang harus kau periksa kondisinya" ucap Austin dengan tegas dan langsung memutuskan panggilan itu.


Setelah sampai di apartemen nya. Austin mengendong Tiffany dan membawanya menuju kamarnya.


Setelah sampai di kamarnya. Austin langsung membaringkan tubuh Tiffany.


"Apa dia benar-benar mengandung anakku?"tanya Austin yang terus menatap ke arah Tiffany yang masih memejamkan matanya.


Kini pandangan beralih keperut Tiffany dan tanpa sadar tangannya bergerak dan ingin menyentuh dan mengelus perut Tiffany.


Tapi hal itu tidak terjadi karna terdengar suara pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.


"Kau kenapa lama sekali?"ucap Austin yang marah pada orang yang baru tiba di kamarnya itu.


"Apa!! Ini sudah yang paling tercepat bagiku semenjak kau selalu menyuruh secara mendadak untuk datang ke tempatmu" ucap Andrew yang tidak suka perkataan Austin.


Andrew adalah teman sekaligus dokter pribadi keluarga Nero.


Selama Andrew selalu sabar dengan sikap Austin yang selalu suka memerintah dengan sesuka hatinya.


"Sudahlah. Tolong cepat periksa keadaannya"ucap Austin sambil mengerakkan dagunya menunjuk ke arah Tiffany.


"Siapa gadis ini?"ucap Andrew sambil memeriksa keadaan wanita di hadapannya yang tak lain adalah Tiffany.


"Apa kau sudah tak berhubungan lagi dengan Sesillia?"tanya Andrew lagi.


"Jaga omonganmu ya. Lebih baik kau diam saja dan cepat periksa dia" ucap Austin.


"Cih. Ini lagi ku periksa. Memang paling malas kalau aku berdebat denganmu" ucap Andrew dan sudah selesai dengan pemeriksaannya.


"Bagaimana keadaannya?"tanya Austin.


"Apa kau tau kalau dia sedang hamil?" ucap Andrew.


"Dia baik baik saja. Begitu juga dengan bayinya. Dia hanya sedikit kelelahan saja dan itulah yang membuat dia sampai tak sadarkan diri"ucap Andrew yang menjelaskan keadaan Fany.


"Sebentar lagi dia akan sadar kok "tambah Andrew lagi.


"Syukurlah"batin Austin sambil menghelakan nafasnya.


"Jangan buat dia kelelahan lagi dan banyak bekerja. Dia harus banyak istirahat karena saat ini dia sedang hamil muda. Kalau dia sampai kelelahan itu mungkin akan rentan membuatnya keguguran. Jadi pastikan dia jangan sampai kelahan" pesan Andrew agar Austin dapat menjaga Fany dengan baik.


"Baiklah... Mengenai dia ada di apartemenku jangan sampai kau memberitahukan pada Ibuku"pinta Austin.


"Ok. Itu bisa diatur " ucap Andrew yang sudah membereskan alat medisnya dan mereka pun keluar dari kamarnya Austin.


"Kalau begitu kau sudah bisa pulang" ucap Austin yang sudah turun dari lantai 2.


"Shitt. Apa kau tidak mau menjamu tamumu dulu?"ucap Andrew yang kesal dengan kata-kata Austin yang menyuruhnya untuk segera pulang.


"Aku tidak punya waktu. Urusanku masih banyak dan maaf karna tidak bisa mengantarmu sampai ke mobilmu"ucap Austin yang langsung berjalan menaiki tangan dan meninggalkan Andrew.


"Tunggu..." ucap Andrew dan membuat Austin menghentikan langkahnya.


"Apa lagi??"ucap Austin yang membalikkan tubuhnya mengarah pada Andrew.


"Wanita tadi...Apa dia mengandung anakmu?"tanya Andrew yang terlihat serius sekali.


"Itu bukan urusanmu"ucap Austin yang tidak memberitahu jawaban atas pertanyaan Andrew dan pergi meninggalkan Andrew.


"Dasar kau iblis tengil! Apa susah sekali untuk menjawab pertanyaanku"ucap Andrew yang kesal.


"Padahal akan sangat bagus kalau itu memang benar karena sebentar lagi dia akan menjadi Ayah"ucap Andrew dan melangkah kakinya meninggalkan apartemen Austin.


 


"Halo Roy. Aku ingin kau ke kantornya Charles dan mencari wanita yang bernama Della dan katakan padanya bahwa Tiffany baik-baik saja" ucap Austin yang menelpon Roy.


"Cuma itu saja dan kau jangan mengatakan pada Ibuku mengenai keberadaan Fany yang ada di apartemenku. Apa kau mengerti? "ucap Austin.

__ADS_1


"Baguslah kalau kau mengerti"ucap Austin lalu mengakhiri panggilan itu.


"Ini sudah sore. Kenapa dia belum sadar juga??"ucap Austin yang masih setia menunggu Fany sampai sadarkan diri.


Austin pun berjalan menuju balkon dan menghirup udara disana.


Tiba-tiba jari Tiffany bergerak. Kelopak matanya perlahan-lahan bergerak dan terbuka sehingga menampilkan bola matanya yang terlihat sangat indah untuk di pandang.


Tiffany sudah sadar. Dia bangun dan duduk di ranjang sambil mengamati keadaan sekitarnya.


"Ini dimana?? "ucap Tiffany yang tidak akrab dengan keadaan sekitarnya


"Kau baik-baik saja??" ucap Austin sambil berjalan menuju ke kasur.


"Austin!" ucap Tiffany yang terkejut melihat Austin yang ada di hadapannya.


Sontak Tiffany langsung berdiri karna dia tidak ingin terjadi sesuatu di sini.


Tiffany takut kalau Austin mengetahui kalau dia saat ini sedang hamil.


Dia juga takut kalau Ibunya sudah memberitaukan kalau dirinya sudah membeberkan perihal kejadian itu pada Ibunya.


"Kau mau kemana?"ucap Austin sambil memegang tangan Fany yang mencoba untuk pergi.


"Aku mau pulang!"ucap Tiffany yang berusaha untuk melepaskan tangab Austin.


"Nanti saja. Aku mengantarkanmu pulang setelah kau menjelaskan semua hal yang perlu kau jelaskan"ucap Austin dan itu sukses membuat Tiffany terkejut dan takut.


"Tapi sebelum itu kau makan dulu"ucap Austin sambil membawa Fany menuju ke kasur dan langsung mendudukkannya dengan pelan.


Tiffany tak bisa berbuat apa apa selain mematuhi perintah Austin.


Kini Tiffany tengah melahap makanannya karena pada saat itu dirinya pun sedang lapar sekali.


Berhubung tadi pun di kantor Fany belum ada makan siang. Dan Fany tidak ingin karena hal itu akan terjadi sesuatu yang buruk pada bayinya.


Sedangkan Austin entah kenapa tersenyum sebentar saat sedang menatap Tiffany yang lagi makan.


Ketika Fany sedang sibuk makan tiba-tiba pintu kamar Austin terbuka lagi dan itu membuat Austin menatap ke arah pintu. Dia ingin melihat siapa yang datang ke apartemennya pada jam segitu.


"Ibu!"ucap Austin yang tercengang melihat Ibunya sudah berdiri di dekat pintu kamarnya.


"Kenapa kau tidak memberitau Ibu kalau kau sudah menemukanya?"ucap Delila terkejut sambil memukul lengan tangan Austin berdering secara bertubi-tubi.


"Ampun Ibu... awh sakit Ibu"ucap Austin yang mencoba menghindari pukulan Ibunya.


"Lagian Ibu tau dari mana kalau Fany ada disini"Tanya Austin sambil menahan rasa sakit pada tubuhnya akibat pukulan maut yang dia terima dari Ibunya.


Bukannya menjawab pertanyaan Austin, Delila malah terus memukul Putranya yang sangat nakal itu.


Delila kesal karna Austin tidak memberitau kalau Fany sedang ada di apartemen anaknya.


Justru Dia tau berita baik itu dari Andrew.


"Aunty...tolong hentikan. Kasihan Austin"ucap Tiffany yang merasa kasihan. Mau tak mau Delila pun menghentikan aksinya dan menuruti permintaan Fany.


"Austin. Kau sudah tahu kalau kalau Fany tengah mengandung anakmu. Dan itu semua terjadi karna perlakuanmu yang sangat bertentangan dengan ajaran Ibu" ucap Delila pada Austin.


"Dan Tiffany aku minta maaf atas ulah anakku yang bejat ini sehingga membuatmu sampai seperti ini"ucap Delila pada Tiffany.


"Aunty tidak perlu minta maaf. Saya juga salah di sini"ucap Tiffany yang merasa sangat bersalah ketika mendengar seorang ibu meminta maaf padanya.


"Saya tidak peduli siapa yang salah di sini tapi yang jelas sekarang Ibu sudah bertekad dan memutuskan untuk menikah kalian berdua"ucap Delila dengan tegas.


"Apa!!"ucap Austin dan Tiffany secara serentak.


Selamat Membaca


Hai readersku jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya


Dan jangan lupa komen juga untuk memberiku saran dan ide kalian


Tidak papa kan???


Maaf ya karna telat up


Jangan lupa beri vote kalian juga ya


Salam manis dari Author

__ADS_1


Insani Syahputri


Saranghae semuanya


__ADS_2