Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Tiga puluh Empat


__ADS_3

Setelah kepergian Austin, Fany langsung tersungkur kelantai.


"Aku akan menyerah untuk mendapatkan cintamu Austin. Aku akan membesar anak ini meskipun kau tidak mau mengakuinya" ucap Fany dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi.


Fany pun memutuskan untuk langsung pergi menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, dia langsung menelpon Alex.


Tapi nomor Alex tak bisa di hubungin.


Fany tidak tahu apakah Alex benar-benar sengaja tidak mengangkat panggilannya?


Fany mencoba untuk berpikir positif dan tidak mau ambil pusing. Dia pun langsung memberi pesan kepada Alex melalui via Sms.


"Kak Alex. Mungkin besok lusa aku sudah bercerai dengan Austin. Aku berharap kakak bisa melupakan rasa dendam kakak terhadapnya.


Aku ingin pergi menjauh dari kota ini dan ingin melupakannya.


Aku mohon padamu kak. Aku tidak mau kehilangan kakak hanya karena dendam ini. Kita akan pergi ke tempat yang jauh dari keramaian bersama dengan Ayah. Apa kakak setuju dengan permintaanku. Lupakan dendam itu dan kita akan pergi menjauh dari kota ini"begitulah isi pesan Tiffany.


Tak lama kemudian Tiffany mendapat balasan dari Kak Alex.


Ternyata Kak Alex memang sengaja tidak mengangkat panggilannya tadi.


"Kenapa dia semakin cepat menceraikanmu?


Apa yang terjadi?"begitulah balasan sms Alex.


"Austin tiba-tiba tidak mau mengakui bayi ini. Dia pikir aku menikahinya hanya karena berencana untuk mengambil hartanya. Padahal aku benar-benar tidak ada niat seperti itu. Aku menikahinya dengan tulus dari lubuk hatiku dan demi bayi kami" balas Tiffany.


"Apa kau mencintainya?"balas Alex.


"Ya. Aku sangat mencintainya tapi dia bukan milikku. Aku tidak akan bisa memilikinya. Lusa hubungan kami akan kandas, aku akan pergi menjauh dari hidupnya. Aku berharap Kakak bisa melupakan rasa dendam padanya. Aku mohon lakukan ini demi aku Kak. Aku tidak ingin Kakak menyakiti pria yang aku cintai. Kita akan pergi ke tempat Nenek yang ada di desa dan aku yakin kita bisa hidup bahagia di sana. Apa kakak bisa melakukan satu permintaanku ini?" balas Tiffany.


Setelah Fany selesai mengetik dan mengirim pesan itu, Alex tidak ada membalasnya lagi.


Yang paling Fany takutkan adalah kakaknya tidak bisa melupakan dendamnya terhadap Austin.


Sampai tengah malam Fany menunggu, tapi masih belum ada juga balasan dari Alex.


Fany yang terlelah menunggu terlalu lama, pun jadi mengantuk dan tertidur.


🌷🌷🌷🌷


Ke esokkan harinya seperti yang di katakan Austin semalam, dia tidak pergi kerja ke kantor.


Terlihat Austin yang sedang fokus bekerja di ruangan kerjanya.


Tiba-tiba Fany masuk ke ruangan itu.


"Ada apa?"Tanya Austin dengan ketus.


"Apa kau jadi ikut ke rumah sakit untuk Check up?"ucap Fany.


"Cih. Untuk apa aku harus ikut? Lagian dia bukan anakku"ucap Austin.


Hati Fany terasa sakit mendengar perkataan Austin yang tidak mau lagi untuk mengakui anaknya.


"Apa kau tidak bisa ikut? Setidaknya untuk terakhir kalinya"ucap Fany yang memohon.


"Aku sudah katakan padamu, aku tidak sudi untuk pergi menemanimu. Aku akan ikut jika dia memang anakku"ucap Austin dengan suara lantang.


"Baiklah jika kau memang tidak bisa"ucap Fany.


Fany pun beranjak dari situ, tapi Austin tiba-tiba memanggilnya.


"Tunggu!!"ucap Austin.


Austin terdiam sejenak. Dia terlihat sedang berpikir dan Fany tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Austin.


"Baiklah. Aku akan menemanimu untuk yang terakhir kalinya"ucap Austin.


Sontak Fany langsung tersenyum. Dia merasa senang karena Austin akhirnya mau menemaninya meskipun ini untuk yang terakhir kalinya.


Skip. Mereka pun pergi ke rumah sakit.


Ternyata Austin membawa Fany ke rumah sakit milik Andrew.


"Kau masuk duluan"ucap Austin pada Fany.


Fany hanya mengangguk dan mengiyakan perkataan Austin.


Fany pun masuk kedalam ke ruangan spesialis kandungan.


"Kenapa kau menyuruhnya masuk duluan?”tanya Andrew.


"Aku ingin kau melakukan tes Dna pada janin yang ada di dalam kandungan Fany”pinta Austin.


Andrew langsung memblalakkan matanya ketika mendengar permintaan dari Austin.


“Apa yang kau katakan?”tanya Andrew.


“Aku hanya ingin memastikan apakah dia memang benar anakku atau bukan?"tutur Austin secara tiba tiba dan itu membuat Andrew terkejut.


"Apa kau tidak percaya kalau janin itu adalah anakmu?"tanya Andrew lagi.


"Aku masih meragukannya"ucap Austin.


"Apa kau tidak mempercayai Fany? Aku rasa dia pasti sakit hati bila mendengar perkataanmu saat ini"tutur Andrew.


"Lakukan saja pekerjaanmu. Jangan terlalu banyak bicara"perintah Austin.

__ADS_1


"Baiklah"ucap Andrew yang tidak mau berdebat dengan Austin.


"Tapi lakukan dengan diam-diam. Jangan sampai Fany mengetahuinya"pinta Austin.


"Baiklah"ucap Andrew.


Mereka pun masuk ke ruangan itu dan melihat Fany yang sudah berbaring pada ranjang rumah sakit itu.


Fany pun melakukan Check up pada bayinya.


Andrew pun mengatakan pada Fany kalau bayi mereka baik-baik saja


Setelah itu Andrew menyuruh salah satu perawatnya mengambil cairan amnion atau villi chorialis yang ada pada kandungan Fany.


Andrew terpaksa berbohong kalau itu di lakukan untuk pemeriksaan untuk megeahui apakah ada penyakit yang timbul pada janin itu.


Dan Fany yang begitu polosnya hanya percaya dengan perkataan Andrew.


Di saat tengah pemeriksaan, Austin mendapat pesan bahwa persidangan penceraian mereka akan di undur sampai 14 hari ke depan karena ada masalah yang terjadi pada pengadilan itu.


Dan pada saat itu juga, Austin mendapat pesan dari Sesilia yang mengajaknya untuk pergi meninggalkan kota itu.


Sesilia mengatakan kalau dia akan ke tokyo 2 minggu lagi.


Sesilia berencana ingin menetap di sana dan untuk itulah dia mengajak Austin untuk ikut ke sana dan memulai hidup baru dengannya.


"2 minggu lagi. Berarti itu setelah perceraianku dengan Fany" batin Austin sambil melihat layar handphonenya.


"Baiklah"balas Austin.


Ya.Dia harus melupakan Fany. Itulah yang ada dalam pikirannya.


"Aku akan mengurus semuanya"balas Sesilia pada handphonenya Austin.


Austin hanya membaca itu dan langsung mematikan handphonenya.


Setelah semuanya selesai, Austin pun menyuruh Fany untuk pulang duluan dengan menggunakan taksi.


Fany pun tidak bisa menolak karena dia memang tidak punya hak lagi. Itu semua karena sebentar lagi dia akan bercerai dengan Austin.


"Baiklah Austin”ucap Fany.


"Itu...Sidang perceraian kita akan di undur sampai 14 hari"ucap Austin.


"Baiklah. Aku mengerti" ucap Fany dan dia pun pergi dari rumah sakit itu


Setelah kepergian Fany, Austin langsung menemui Andrew.


Andrew pun membawa Austin ke ruangannya untuk mengambil dari sampel darahnya.


Andrew mengatakan pada Austin tes Dna dengan mengambil darah cenderung lebih mudah dilakukan di bandingkan mukosa pipi.


Austin hanya mengangguk dan mempercayakan semuanya pada Andrew.


"Sampai berapa hari hasilnya akan keluar?"tanya Austin.


"Paling cepat 12 hari dan paling lambat mungkin sampai 14 hari"ucap Andrew.


"Baiklah. Aku akan menunggu hasilnya"ucap


Austin.


"Kalau begitu aku pergi dulu"ucap Austin.


"Iya"ucap Andrew.


"Kalau itu ternyata benar-benar anakmu, aku akan menghajarmu Austin"batin Andrew sambil melihat kepergian Austin.


🌷🌷🌷🌷


SKIP 14 HARI KEMUDIAN


Kini tibalah hari yang paling di takuti oleh Fany.


Ya. Hari ini adalah hari penceraiannya mereka.


Setelah semuanya selesai, mereka tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi.


Fany pun mengambil surat akte pernikahan mereka yang ada pada laci mejanya.


Fany pun menghela nafasnya secara gusar, bahkan sampai hari ini dia tidak mendapatkan pesan dari Alex.


Tak mau berpikir panjang, Fany langsung pergi ke pengadilan.


Dan saat sampai di sana, dia sudah melihat Austin yang sudah lama menunggu kedatangannya.


Mereka pun harus menuggu lagi di kursi tunggu karena ada satu pasangan yang juga datang mengurus penceraian di tempat itu.


Fany pun permisi untuk pergi ke toilet yang ada di gedung itu.


Tanpa di sengaja, Fany meninggalkan tas dan handphonenya di samping kursi tempat Austin duduk.


Saat tengah asik duduk, Austin mendengar suara notifikasi pesan masuk ke handphonenya Fany.


Austin terlihat penasaran. Dia pun langsung mengambil handphone milik Fany dan membuka pesan tersebut.


Austin terkejut ternyata itu pesan dari Alex. Dia pun membaca isi pesan kakak beradik itu dengan saksama


"Kak Alex. Mungkin besok lusa aku sudah bercerai dengan Austin. Aku berharap kakak bisa melupakan rasa dendam kakak terhadapnya. Aku ingin pergi menjauh dari kota ini dan ingin melupakannya.


Aku mohon padamu kak. Aku tidak mau kehilangan kakak hanya karena dendam ini. Kita akan pergi ke tempat yang jauh dari keramaian bersama dengan Ayah. Apa kakak setuju dengan permintaanku. Lupakan dendam itu dan kita akan pergi menjauh dari kota ini"begitulah isi pesan Tiffany.

__ADS_1


"Kenapa dia semakin cepat menceraikanmu?


Apa yang terjadi?"begitulah balasan sms Alex.


"Austin tiba-tiba tidak mau mengakui bayi ini. Dia pikir aku menikahinya hanya karena berencana untuk mengambil hartanya. Padahal aku benar-benar tidak ada niat seperti itu. Aku menikahinya dengan tulus dari lubuk hatiku dan demi bayi kami" balas Tiffany.


"Apa kau mencintainya?"balas Alex.


"Ya. Aku sangat mencintainya tapi dia bukan milikku. Aku tidak akan bisa memilikinya. Lusa hubungan kami akan kandas, aku akan pergi menjauh dari hidupnya. Aku berharap Kakak bisa melupakan rasa dendam padanya. Aku mohon lakukan ini demi aku Kak. Aku tidak ingin Kakak menyakiti pria yang aku cintai. Kita akan pergi ke tempat Nenek yang ada di desa dan aku yakin kita bisa hidup bahagia di sana. Apa kakak bisa melakukan satu permintaanku ini?" balas Tiffany.


"Baiklah Kakak akan melupakan semua dendam ini, besok kakak akan menjemputmu dan kita akan pergi dari kota ini. Kakak pun sudah mengurus surat pengunduran diri dari perusahaan Charles dan besok kakak tidak bekerja lagi diperusahaan itu" begitulah isi pesan baru dari Alex.


Setelah Austin sudah membaca semua is pesan itu, tiba-tiba Fany datang .


Secepat kilat Austin langsung meletak handphone Fany ke tempat semula.


Ternyata nama mereka sudah di panggil dan kini giliran mereka untuk mengurus surat penceraian


Saat sudah sampai di meja sidang itu


Fany langsung menyerahkan dokumen seperti buku nikah dan bukti lain-lainnya.


"Apa kalian memang serius ingin bercerai?"tanya Bapak itu yang akan mengurus perceraian kami.


"Iya" jawab mereka secara bergiliran.


"Aish. Memang anak muda zaman sekarang, seenaknya saja untuk menikah dan seenaknya saja untuk bercerai"ucap bapak itu dengan kesal.


"Sedangkan aku saja sudah menikah lebih dari 20 tahun tapi aku masih bisa mempertahan rumah tangga kami. Aku sebenarnya malas bekerja kayak beginian, tapi di sinilah aku bisa dapat penghasilan untuk menghidupi keluargaku"gerutu bapak itu sambil mengecek dokumen mereka.


Fany dan Austin hanya bisa diam mendengar perkataan dan ocehan bapak itu.


Saat Bapak itu sedang mengurus berkas milik pasangan yang ada di hadapannya,


Austin malah teringat hari pernikahan mereka.


Dia menjadi sangat dilema. Apalagi di saat dia membaca pesan itu, dia baru tahu kalau ternyata Fany sangat mencintainya.


Tapi bila dia mengingat status bayi yang tidak jelas itu, membuat pintu hati Austin tertutup.


Saat sedang memikirkan itu, Tiba tiba handphone Austin berbunyi dan ternyata itu panggilan masuk dari Sesilia.


Fany pun dapat melihat nama yang tertera pada layar ponselnya Austin.


"Kau tenang Sesilia karena sebentar lagi kalian akan bersama"batin Fany.


Austin pun permisi keluar sebentar untuk mengangkat panggilan itu.


"Ada apa?"ucap Austin.


"Apa kau sudah selesai mengurus penceraiannya?"tanya Sesilia.


"Belum. Masih dalam proses"ucap Austin.


"Saat ini aku lagi dalam perjalanan menuju bandara. Apa kau bisa menyusul ke bandara setelah penceraian kalian selesai?"ucap Sesilia.


Austin tidak menjawabnya. Tapi tiba-tiba handphone Austin yang khusus untuk menghubungi Andrew dan rekan bisnisnya saat kerja itu pun berbunyi.


Austin langsung mengambil dari saku jasnya dan melihat bahwa Andrew yang menelponnya.


Austin pun langsung mematikan panggilan dari Sesilia dari handphone yang satu lagi dan mengangkat panggilan dari Andrew.


"Ya ada apa? Bagaimana hasilnya?"tanya Austin yang langsung ke intinya.


"Brengsek. Janin itu positif 100% darah dagingmu. Dasar bedebah sialan"ucap Andrew yang terdengar berteriak di handphone milik Austin.


"Apa!!!"ucap Austin.


"Kalau kau tidak percaya sekarang periksa E-mailmu karena aku sudah mengirimkan hasilnya lewat E-mailmu"ucap Andrew kemudian memutus panggilan itu secara sepihak dari Andrew.


"Apa!! Jadi janin itu memang anakku"batin Austin.


Austin belum memeriksa hasilnya di Email itu karena dia sangat mempercayai perkataan Andrew.


Tiba-tiba Sesilia menelpon Austin lagi, dan Austin pun langsung mengangkat panggilan itu


"Austin kenapa kau malah mematikan panggilanmu? Apa nanti kau bisa menyusul ke bandara setelah penceraianmu selesai?"ucap Sesilia dari seberang Telpon.


"Sepertinya aku tidak akan bercerai dengannya Sesilia. Aku sudah tahu kalau saat ini Fany benar-benar sedang mengandung anakku. Aku minta maaf padamu karena aku merasa sudah memiliki perasaan pada Fany"ucap Austin dan langsung mematikan panggilan itu.


Jujur sebenarnya Austin tidak memiliki perasaan cinta lagi kepada Sesilia.


Austin pun langsung masuk ke dalam ruangan itu dan berkata" Aku membatalkan perceraian ini"


Fany yang mendengar itu merasa terkejut.


Lain dengan Bapak itu yang merasa senang sekali karena dia tidak perlu repot-repot mengurus penceraian mereka.


Fany hanya diam dan mencerna perkataan Austin barusan.


Austin yang melihat Fany hanya diam langsung mengendong Fany ala bridal style dan membawa istrinya itu menuju ke mobil.


"Dasar pasangan aneh"ucap bapak itu.


🌷🌷🌷


Selamat membaca ya


Jangan lupa like dan beri komentar kalian


Agar aku dapat lebih semangat lagi menulisnya😊😊

__ADS_1


Saranghae semuanya


__ADS_2