Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Dua Puluh Lima


__ADS_3

Part Sebelumnya


Mereka pun tidur dan memejamkan matanya. Keduanya pun sama-sama merasakan jantung mereka yang berdetak kencang. Berdebar dengan irama yang berbeda dari biasanya. Meskipun begitu mereka tetap mengabaikan perasaan nya dan memilih menutup mata sampai rasa kantuk menyerang mereka.


..............................


Di tengah malam Austin terbangun melihat Fany yang ternyata sudah pulas tertidur.


Dia merasa heran bagaimana bisa Fany tidur dalam keadaan seperti ini.


Austin bahkan berkata "Kau terlihat menggemas saat tidur" ucapnya pada Fany. Tapi itu tidak di dengar oleh Tiffany, karena dia tertidur dengan pulas.


Kemudian tanpa di sengaja, Austin menepuk-nepuk pundak Fany berharap dia semakin terlelap dalam tidurnya.


Keesokan paginya, Austin sudah bangun.


Meski hanya memakai celana panjang tanpa memakai baju membuat Austin tetap terlihat tampan.


Hari ini berniat memulai paginya dengan Berolaharaga di ruangan Gymnya.


Sebenarnya Austin bisa saja pergi ke tempat fitness, tapi di karenakan sibuk dengan pekerjaan dan bisa dipungkiri bahwa dia tidak bisa mendapatkan waktu luang buat olahraga di sana.


Jadi Austin pun membuat ruang gym di rumahnya sendiri dan membeli beberapa peralatan gym yang dia bisa dia pakai saat berolaharaga di saat dia memiliki waktu luang.


Di dalam ruangan gym, Austin menatap jari manisnya dengan penuh senyum yang kini sudah terselip cincin pernikahan di sana. Setelah puas tersenyum menatap cincin pernikahannya itu, Austin pun mulai berolahraga. Saat ini Austin tampak bersemangat sekali.


Fany terbangun dari tidurnya. Matanya mencari sosok yang kini mulai dia cintai.


"Kemana dia? Apa dia sudah pergi ke kantor?"tanya Fany dalam hatinya.


Fany pun memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan ingin pergi menuju ke dapur untuk minum karna Fany merasa sangat haus sekali.


Fany yang sudah beranjak dan ingin kesana tiba tiba melihat suatu ruangan yang pintunya belum tertutup rapat.


"Tumben pintu ruangan itu terbuka! Aku jadi sangat penasaran dengan ruangan itu?"ucap Fany karna pintu ruangan itu biasanya terkunci dan sekarang pintu itu sudah terbuka.


Fany pun berjalan dengan mengendapkan kaki untuk menuju pintu itu.


"Oh jadi ini ruangan gymnya"ucap Fany yang mengintip dari celah pintu kamar dan melihat Austin yang sedang berolahraga.


Di sana Fany bisa melihat peralatan olahraga Austin seperti barbell, dumb bell, push up bar, pull up bar.


Dan masih ada lagi tapi Fany tidak tahu namanya, karena tidak semua nama alat fitness diketahui oleh Fany. Hal itu di karenakan Fany tidak pernah menggunakan alat seperti itu.


Hanya olahraga lari pagi yang sering di lakukan oleh Fany.


Mata Fany kini terfokus pada Austin. Terlihat Austin menggantung di pull up barnya. Otot punggung dan otot bisep Austin terbentuk dengan sempurna sehingga membuat Fany meneguk air liurnya dengan susah.


Setelah selesai melakukan pull up, Austin langsung meneguk air mineral yang pada botol.


Ketika Austin sedang minum, dia merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikannya.


Fany langsung berlari saat mata Austin tertuju pada pintu itu.


"Mungkin perasaanku saja"ucap Austin yang tidak melihat siapa-siapa di pintu itu.


"Oh syukur aku langsung segera lari tadi. Kalau tidak aku pasti akan seperti pencuri yang sudah ketangkap mencuri "ucap Fany yang sudah ada di dalam kamarnya dengan nafas yang tersengal sengal karena habis maraton tadi.


🌷🌷🌷🌷


Setelah berolaharaga, kini Austin bersiap-siap untuk pergi ke kantor.


"Apa kau mau ikut mengantarku ke kantor? Setelah itu kau bisa pulang bersama sopir nanti"ucap Austin tiba-tiba ketika melihat Fany yang sedang membaca majalah di sofa.


"Aku? Mengantarkanmu ke kantor? " tanya Fany.


"Iya" balas Austin.


Austin ingin sekali kalau Fany ada di dekatnya.


Jadi dia beralasan meminta Fany untuk ikut mengantarkan ke kantor.


"Baiklah"ucap Fany.


Fany tidak bisa menolak permintaan suaminya.


Ya Austin adalah suaminya.


Mereka pun pergi ke kantor. Setelah supirnya mengantar mereka ke kantor.


"Apa kau tidak mau masuk ke kantorku?"tanya Austin.


"Apa boleh?"tanya Fany.


"Kenapa tidak? Kau adalah istri ku!" ucap Austin tanpa di sadarinya.


Fany yang mendengar kata " Istri ku" dari mulut Austin langsung tersenyum dan mengangguk kepalanya.


Austin kemudian membawa Fany untuk melihat-lihat kantornya.

__ADS_1


Kedatangan Bos mereka sambil membawa wanita yang sudah menyandang sebagai Nyonya Nero ke kantor tentu menarik perhatian semua staf yang ada di kantor itu.


Fany berjalan di samping Austin dengan kepala menunduk. Austin pun berhenti dan menghadangTiffany sehingga kepala Fany menabrak dada tegapnya Austin.


"Kenapa kau menunduk? Tegapkan kepalamu layaknya sebagai nyonya dan pandang mereka dengan senyuman"ucapAustin.


"Jangan gugup. Berjalan di sisiku dengan penuh percaya diri"ucap Austin lagi.


"Tapi semua orang memperhatikan kita" ucap Fany.


"Tidak usah pedulikan mereka. Memang kenapa kalau mereka memperhatikan kita? Tidak ada yang salah kok. Kan aku datang bersama istriku. Jadi kau hanya perlu memberikan senyuman pada mereka"ucap Austin.


Fany pun tersenyum kembali dan kini tangannya sudah di genggam oleh Austin. Mereka pun berjalan bersama menuju lift sambil menunjukan senyuman pada staff yang mereka lewati.


Di dalam ruangan kerja Austin, Fany hanya menemani Austin yang bekerja di layar laptop nya. Untuk mengurangi rasa bosan, Fany menghabiskan waktu untuk membaca buku yang ada di perpustakaan kecil milik Austin yang berada dalam ruangan itu juga.


Di siang hari tiba-tiba perut Fany berbunyi pertanda lapar.


"Apa kau lapar?"tanya Austin dari kursi kerjanya.


Fany hanya mengangguk kepala.


"Baiklah. Kita akan makan siang bersama. Apa yang ingin kau makan Fany ?"tanya Austin


"Aku ingin makan di suatu tempat" ucap Fany.


"Ok. Kita akan ke sana" ucap Austin sambil menutup laptopnya.


Austin meminta kunci mobil Roy dan membawa Fany menuju parkiran.


Mereka pun pergi ketempat yang ingin di tuju oleh Fany.


"Apa kita makan di sini ?"tanya Austin .


Dia tidak menyangka bahwa Fany ingin makan di warung pinggir jalan.


"Iya. Apa kau tidak mau? Kalau tidak... Jangan di paksakan. Aku tahu jika tempat tidak cocok untuk orang besar seperti mu. Kalau begitu kita akan pergi ke tempat yang kau inginkan saja"ucap Fany.


"Tidak.... Maksudku aku tidak keberatan makan di sini"ucap Austin sambil keluar dari mobil.


Fany pun juga keluar dari mobil dan mengikuti Austin menuju gerobak yang di hiasi dengan papan yang menampilkan berbagai jenis makanan yang di tawarkan dan beberapa botol minuman yang bisa dibeli serta bermacam perkakas untuk menyiapkan makanannya.


Wangi aroma daging kambing yang di panggang di alat yang berputar yang diletakkan vertikal, terbawa angin dan masuk kerongga hidung Tiffany karena jarak tempat masak dan tempat duduk mereka sangat dekat sehingga akan mempermudah untuk saling berbicara


"Mau beli apa Tuan dan Nyonya?"ucap penjual itu.


Si penjual pun langsung menyiapkan nasi campur dengan dagingnya yang di pilih Fany tadi.


"Mau pilih ayam atau kambing Nyonya?"tanya penjual.


"Daging kambing"jawab Fany.


"Untuk 1 orang saja?"tanya penjual itu lagi.


"Dua porsi, tapi di samakan saja dengan punya istriku" ucap Austin.


"Baik Tuan" ucap penjual itu.


Penjual itu juga mencampurnya dengan potongan lettuce, menambahkan lembaran roti pita, lalu menyiramkan saus yang terbuat dari yogurt .


"Ini Tuan dan Nyonya. Silakan di nikmati "ucap penjual sambil meletakkan pesanannya dan langsung meninggalkan tempat itu.


Fany pun memulai makannya. Dia makan dengan lahap sekali.


"Apa kau tidak memakannya?"tanya Fany yang melihat melihat Austin belum menyentuh makanannya.


“Aku akan makan" ucap Austin.


"Ini enak loh. Kalau tidak percaya, coba saja makan" ucap Fany sambil menyodorkan sendoknya yang sudah berisikan makanan itu.


Austin pun langsung memakan makanan itu Setelah Fany mencoba untuk menyuapi Austin. Dan lebih parah nya lagi, Fany tidak menyadari bahwa dia menggunakan sendoknya untuk menyuapi Austin. Bisa di katakan pada saat itu mereka berciuman secara tidak langsung.


Austin yang menyadari itu hanya bisa tersenyum.


"Iya. Makanan ini sangat enak"ucap Austin.


"Aku belum pernah makan makanan seperti ini"ucap Austin lagi.


"Kau itu orang besar Austin. Jadi aku tidak heran lagi kalau dirimu mengatakan tidak pernah makan makanan di pinggir jalan ini. Kau kan punya banyak uang untuk makan di restoran mewah"ucap Fany yang secara tidak sadar seperti menyinggung perasaan Austin.


"Maaf”ucap Fany yang menyadari perkataannya.


"Tidak apa. Perkataan mu memang benar. Tapi berkat dirimu, aku akhirnya bisa makan di tempat seperti ini. Dan aku merasa sangat senang sekali"ucap Austin.


"Benarkah kau sangat senang?"tanya Fany.


"Iya"ucap Austin.


Fany tersenyum mendengar perkataannya Austin.

__ADS_1


"Apa aku mulai mencintaimu Fany?" batin Austin sambil menatap ke arah Fany yang sedang tersenyum.


Setelah selesai makan Austin menelpon sopirnya untuk menjemput Fany karena Austin masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan.


Dia tidak ingin membuat Fany terlalu lama menunggu.


Austin tahu bahwa itu akan membuatnya merasa bosan.


Setelah beberapa menit akhirnya mobil jemputan Fany sudah tiba.


"Tunggu"ucap Austin yang menghentikan Fany yang ingin masuk ke mobil.


"Ada apa Aus... Hmp...”ucap yang Tiffany yang berbalik badan dan ingin bertanya tapi terhenti karena Austin tiba-tiba menciumnya.


"Tunggu aku di rumah"ucap Austin ketika menyudahi ciuman tersebut.


"Iya"ucap Fany dengan pikirannya masih bertanya pada dirinya sendiri kenapa Austin tiba-tiba menciumnya.


Fany pun masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun meninggalkan tempat itu dan Austin.


Begitu juga dengan Austin yang langsung melajukan mobilnya untuk menuju kantornya.


Ketika sudah sampai Austin pun berjalan memasuki kantornya.


Tapi baru beberapa kaki melangkah, dia mendengar suara perempuan yang memanggil namanya.


Austin pun berbalik badan dan dia terkejut seperti tersambar petir di siang hari setelah melihat sosok yang sudah ada di hadapannya.


Ya dia melihat Sesilia yang kini sudah ada di hadapan.


"Sayang"ucap Sesilia sambil melambaikan tangannya pada wajah Austin untuk membuyarkan lamunannya Austin.


Seolah pikiran sudah kembali, Austin pun langsung melihat sekelilingnya. Dia tidak ingin orang kantor melihat kedatangannya Sesilia.


Dia tidak ingin Sesilia mengetahui bahwa dirinya sudah menikah dari mulut orang lain.


Austin pun memutuskan untuk membawa Sesilia ke apartemennya dulu.


"Kau kenapa sayang?"ucap Sesilia ketika sudah sampai di apartemen yang di tempati Austin dulu sebelum menikah.


"Tidak apa apa. Tunggu di sini, aku mau ke atas sebentar "ucap Austin.


"Baiklah"ucap Sesilia sambil melangkah menuju sofa dan membaringkan tubuhnya.


Austin yang melihat itu langsung menuju kamarnya.


"Apa yang harus aku lakukan?"ucap Austin yang sudah berada di dalam kamar nya.


"Kenapa dia datang secara tiba-tiba dan tanpa memberitahuku dulu"ucap Austin sambil membaringkan tubuhnya dan menghelakan nafasnya dengan gusar.


Austin pun menguatkan dirinya dan kembali ke bawah, dimana ada Sesilia sedang menunggunya.


Begitu sampai di sana, Austin hanya mencoba tersenyum padahal sebenarnya dirinya sangat frustasi dan putus asa karena kedatangan Sesilia yang secara mendadak.


Sesilia yang menyadari kedatangan Austin langsung terbangun dan berlari ke arah Austin dan memeluk pria itu dengan erat.


"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau ingin ke New York?"tanya Austin setelah melepaskan pelukan.


"Karna aku ingin memberikan kejutan untukmu sayang" ucap Sesilia.


"Dan aku berencana untuk berada di sini selamanya denganmu"ucap Sesilia lagi.


"Bagaimana dengan studimu?"tanya Austin.


"Aku tidak akan melanjutkannya lagi sayang" ucap Sesilia.


"Kenapa?"tanya Austin.


"Karena aku ingin selalu bersamamu"ucap Sesilia dan memeluk Austin lagi.


“Leganyaa…aku merasa hidup kembali”ucap Sesilia lagi yang masih dalam pelukan Austin.


Austin hanya terdiam. Dia tak tahu apa yang tengah di rasakannya saat ini.


Kemudian dia melepaskan pelukan Sesilia dan menatap sesilia itu sambil memegang tangan gadisnya itu.


"Ada yang ingin aku katakan Sesillia"ucap Austin.


"Stop... Jangan berbicara lagi sayang. Aku ingin menikmati moment kebersamaan kita dan tidak ingin merusaknya"ucap Sesilia sambil menutup bibir Austin dengan jari telunjuknya.


Selamat membaca readersku


Jangan lupa untuk terus membaca novel ku ya


Jangan lupa beri Like ya untuk mendukung karya ku dan membuat aku jadi semangat lagi buat menulis nya.


Jangan lupa beri komentar untuk memberiku saran dan ide kalian.


I love you all

__ADS_1


__ADS_2