Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Tiga Puluh Enam


__ADS_3

"Sial. Aku jadi kena imbas kemarahannya Ibu"batin Ronald sambil berjalan menuju parkiran.


"Kali ini aku tidak bisa membantumu Kak kalau Nyonya besar sudah marah seperti ini. Aku masih ingin hidup dengan tenang. Jika Aku membelamu yang ada malah aku yang ikut-ikutan kena marah. Sekali lagi aku minta maaf kak, lagian ini semua salahmu sendiri Kak"batin Ronald.


Ronald pun membawa Delila ke mansionnya Austin.


Saat sudah sampai di sana, Delila tak mendapati tanda-tanda keberadaan anak dan menantunya.


"Ibu. Aku rasa kak Austin tidak ada di sini"ucap Ronald.


"Ibu akan menunggunya. Ibu yakin kakakmu itu pasti akan datang kemari dan Ibu sudah tak sabar ingin menghajarnya"ucap Delila sambil mengayunkan kayu rotan itu di telapak tangannya.


"Kau jangan sekali-kali untuk membela kakakmu itu! Jika kau membelanya, maka kau akan merasakan hantaman kayu ini"ucap Delila sambil mengayunkan rotannya ke arah Ronald.


"Siap Ibu. Perintah akan di laksanakan"ucap Ronal yang memilih menghindar dari Ibunya.


Ronald yang melihat itu hanya mengidik ngeri dan menatap takut ke arah Ibunya itu.


"Matilah kau kak. Kali ini aku memang tidak bisa membantumu"batin Ronald.


🌷🌷🌷🌷


Setelah selesai makan Austin pun langsung mengajak Fany untuk pulang ke mansion.


"Kamu kenapa Fany?? Wajahmu terlihat sedikit pucat padahal kau baru saja siap makan"ucap Austin.


"Aku tidak apa-apa Austin. Mungkin karena kelelahan. Sejak hamil aku memang sering mengalami keadaan seperti ini"ucap Fany.


"Ayo kita pulang, kau harus istirahat. Nanti aku akan menyuruh Andrew untuk memeriksa mu lagi"ucap Austin sambil memegang tangan Fany dan membawanya kemobil.


Fany hanya bisa diam dan mengikuti Austin masuk ke dalam mobil itu.


Saat mobil mereka sudah sampai di halaman. Austin heran melihat mobil Ibunya terparkir di depan rumahnya.


"Apa Ibu sedang berkunjung ke sini?"tanya Fany.


"Aku rasa iya"umbuh Austin.


"Ngapain Ibu ke sini? Aku punya firasat yang tidak baik kali ini"batin Austin.


Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion itu.


Ternyata dugaan Austin benar, Ibunya datang ke mansionnya.


Terlihat Delila yang duduk di sofa sambil memegang rotan.


"Ibu, kenapa tidak telepon aku kalau mau datang ke sini"tanya Austin.


"Matilah kau Kak"batin Ronald yang berada di samping sofa tempat duduk Ibunya.


Delila berjalan mendekati Austin dan itu membuat Austin merasa heran.


"Ibu kau bilang? Kau memangilku dengan sebutan Ibu?"ucap Delila.


"Iya"jawab Austin dengan santainya.


Delila yang geram langsung memukul badan Austin dengan rotan yang dari tadi dia pegang.


Austin yang sudah di hantam satu kali sama kayu rotan itu langsung berlari menghindari Ibunya.


"Sakit Ibu. Kenapa Ibu memukulku?"ucap Austin sambil berlari untuk menghindari pukulan rotan Ibunya.


Austin merasakan sakit dan perih pada punggungnya karena pukulan rotan dari Ibunya tadi.


"Kau masih berani memanggilku Ibu, setelah kau menyakiti perasaan menantuku" ucap Delila sambil mengejar Austin.


Fany terkejut dan ingin memberitahu Ibu mertuanya yang sebenarnya karena dia tidak tega melihat Austin yang di pukul seperti itu.


Tapi Fany di tahan oleh Ronald saat ingin menghampiri Ibunya.


"Jangan Kak! Biar dia rasakan hukumannya karena telah menyakiti perasaan Kakak ipar"ucap Ronald.


"Tapi itu sangat sakit Ronald"ucap Fany.


"Itu tidak seberapa dengan sakit hati yang telah kak Austin lakukan padamu kak"ucap Ronald lagi.


Fany hanya bisa melihat Austin yang tengah di kejar-kejar oleh Ibunya.


Tapi sejenak Fany merasa kepalanya sangat pusing dan pandangannya lama-lama menjadi sedikit buram.


"Kak Fany kenapa?"tanya Ronald.


"Aku baik-baik saja Ronald"ucap Fany.


"Tapi wajah Kak Fany terlihat sangat pucat sekali"ucap Ronald.


Fany tidak menjawab dan pandangan sudah menjadi gelap.


Ya. Fany jatuh pinsan dan untung Ronald cepat menangkap tubuh Kakak iparnya agar tidak jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Ibu!!! Kak Austin !! Kak Fany tidak sadarkan diri"ucap Ronald yang berteriak.


Delila sekejap langsung berhenti dan menghampiri menantunya.


"Jangan mendekat!!!"ucap Delila yang terlihat marah saat Austin mau datang ke situ.


"Tapi Ibu dia Istriku. Dia sedang tidak sadarkan diri"ucap Austin.


Delila tidak menjawab ucapan Austin. Delila malah berbicara dengan Ronald dan berkata" Bantu Ibu membawa kakak iparmu ke kamar. Setelah itu telpon Andrew untuk segera datang ke sini"Ronald pun langsung melakukan yang di perintahkan Ibunya.


Sedangkan Austin hanya bisa menatap nanar ke arah istrinya yang sedang di gendong oleh adiknya sendiri.


Setelah sampai di kamar Delila menyuruh Ronald untuk berjaga di luar pintu itu agar Austin tidak masuk ke dalam.


Delila pun akhirnya menelpon Andrew untuk segera datang ke mansionnya Austin.


Sedangkan Ronald langsung beranjak keluar dan melihat Austin yang tengah berdiri di depan pintu untuk memastikan keadaan Fany.


"Maaf Kak. Ibu tidak mengizinkan kakak untuk masuk"ucap Ronald.


"Bagaimana keadaan Fany?"tanya Austin.


"Belum tahu Kak, tapi kakak tenang saja karena kak Andrew akan segera datang untuk memeriksa keadaan kak Fany"ucap Ronald.


Austin hanya bisa berdiri di pintu dan terus berdoa agar Fany dan bayinya baik-baik saja karena saat di warung tadi Austin melihat wajah Fany yang memang sudah terlihat pucat.


Setelah beberapa lama, akhirnya Andrew datang dan dia bingung melihat Austin yang berdiri di pintu.


"Kenapa kau tidak berada di dalam?"tanya Andrew.


"Cepat masuk Kak Andrew. Ibu sudah menunggu kakak"ucap Ronald sambil membukakan pintu kamar dan itu membuat Andrew lebih bingung lagi.


“Kenapa Austin tidak masuk ke dalam?”batin Andrew sambil menatap Austin yang tengah berdiri sambil memejamkan matanya.


Andrew pun masuk, sedangkan Ronald dengan cepat langsung menutup pintu itu lagi.


"Bibi. Ada apa dengan Fany?"tanya Andrew yang terlihat sangat khawatir.


"Bibi tidak tahu. Tadi dia tiba-tiba saja pinsan"ucap Delila.


Andrew pun langsung memeriksa keadaan Fany.


"Dia baik-baik saja. Jadi Bibi tidak perlu khawatir"ucap Andrew sambil mengantungkan alat stetoskopnya di lehernya.


"Dia hanya kelelahan Bibi. Saat ini fisik Fany memang sangat lemah karena kehamilannya sehingga membuat dia jadi sering pinsan. Oleh sebab itu jangan membuat Fany kelelahan apalagi terlalu banyak pikiran"ucap Andrew.


"Sekarang mereka sudah resmi bercerai kan?"ucap Delila lagi.


"Aku rasa belum Bibi"ucap Andrew secara spontan.


"Dari mana kau tahu Andrew?"tanya Delila.


"Karena tidak mungkin orang yang sudah bercerai masih berciuman mesra di depan orang banyak"ucap Andrew.


"Maksudmu??"tanya Delila yang masih tidak mengerti.


"Bibi baca berita yang sedang booming ini"ucap Andrew.


Andrew memperlihatkan berita yang ada di ponselnya.


Delila langsung membaca berita yang mengatakan bahwa Austin sang Ceo tidak jadi menceraikan istrinya dan malah menciumnya di hadapan banyak orang.


"Kalau begitu saya pergi dulu ya Bibi"ucap Andrew yang pamit pulang.


"Jika Austin menanyakan keadaan Fany, tolong jangan di jawab"ucap Delila.


"Baiklah Bibi"ucap Andrew.


Andrew pun keluar dari ruang kamar itu. Saat sudah berada di luar, dia melihat Austin yang masih setia menunggu di pintu itu.


"Bagaimana keadaanya?"tanya Austin.


"Tanyakan saja pada Ibumu sendiri. Aku tidak di perbolehkan untuk memberitahukannya pada mu"ucap Andrew dengan ekspresi wajah datar sehingga Austin tidak dapat mengetahui bagaimana keadaan Fany di dalam sana.


Andrew pun melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan mansion itu.


Austin hanya bisa menunggu Ibunya keluar dari kamar itu dan akan menanyakan langsung pada Ibunya.


Beberapa lama kemudian, Akhirnya Delila pun keluar dari kamar itu.


"Bagimana keadaan Istriku, Ibu?"tanya Austin.


"Ikut aku ke bawah"ucap Delila pada Austin.


Mau tak mau Austin pun harus pergi mengikuti Ibunya.


Saat sampai di ruang keluarga, Ibunya menyuruh Austin untuk berlutut.


Austin pun menurut dan langsung bertekuk lutut di hadapan Ibunya.

__ADS_1


"Kau tahu apa kesalahanmu?"tanya Delila.


"Aku tahu Ibu, dan aku sangat menyesal itu"ucap Austin yang tahu maksud perkataan Ibunya.


"Aku menyesal telah menyakiti perasaan Istriku Ibu" ucap Austin lagi.


"Kau tahu bahkan ayahmu saja tidak pernah menyakiti perasaan Ibu. Bahkan sampai maut menjemputnya Austin"ucap Delila sambil menangis.


"Dan kau dengan teganya menceraikan Fany bahkan di saat dia tengah mengandung anakmu hanya karena kekasihmu yang tidak jelas itu"ucap Delila.


Austin yang melihat Ibunya menangis langsung berdiri dan memeluk erat Ibunya.


Dia tidak tahan melihat Ibunya itu menangis.


"Maafkan aku Ibu. Aku sudah menyesalinya dan takkan mengulanginya lagi"ucap Austin sambil memeluk Ibunya.


"Bagaimana jika itu terjadi pada Ibumu sendiri Austin? Kau juga akan mengalami nasib seperti yang akan di alami oleh calon anakmu itu. Di saat nanti dia sudah lahir, dia akan merasakan seperti apa tidak memiliki seorang Ayah jika kau menceraikan Ibunya. Orang-orang mungkin akan mencela mereka"ucap Delila.


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Ibu. Aku tidak akan menceraikan Fany karena aku juga sangat mencintainya"ucap Austin.


"Jangan buat Ibu kecewa terhadapmu Austin. Ibu juga seorang wanita dan Ibu tahu betapa sakitnya perasaannya saat di sakiti oleh seorang pria apalagi seorang suami"ucap Delila.


"Aku tidak akan membuat Ibu kecewa lagi"ucap Austin.


Delila pun melepaskan pelukan itu dan berkata" Cepat temui istrimu dan jaga dia"


"Ronald. Ayo kita pulang ke rumah"ucap Delila pada anak keduanya .


"Ibu akan pegang kata-kata mu Austin. Jika kau buat Ibu kecewa maka Ibu tidak akan segan-segan untuk mengulitimu"ucap Delila yang mengancam putra sulungnya.


"Iya Bu. Aku tidak akan melakukan sesuatu hal yang akan membuat Ibu kecewa. Austin janji"ucap Austin.


“Ibu pegang janjimu. Ibu pulang dulu”ucap Delila.


Ronald pun mengekori Ibunya dan pergi meninggalkan mansion itu.


Hari juga terlihat sudah mau gelap dan Austin pun langsung cepat-cepat berjalan menuju ke kamarnya untuk melihat keadaan Istrinya.


Saat Austin masuk ke dalam kamarnya, dia melihat istrinya yang masih tengah tertidur di kasur itu.


Austin langsung naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya di samping istrinya itu.


Setelah itu Austin langsung memeluk tubuh istrinya, ternyata perlakuan Austin itu membuat Fany sedikit terganggu sehingga Fany pun tersadar dari tidurnya.


"Austin"panggil Fany dengan suara yang terdengar pelan.


"Iya"jawab Austin yang menanggapi panggilan Fany.


"Badanmu tidak apa-apa kan?”tanya Fany.


Fany merasa khawatir saat mengingat Ibu mertuanya memukul punggung Austin dengan rotan.


"Aku tidak apa-apa. Sekarang tidurlah pasti kau sangat lelah hari ini"ucap Austin dengan lembut.


"Iya"ucap Fany.


Dan Benar. Karena masih merasa kelelahan, akhirnya Fany tertidur lagi.


Sementara Austin menyusup ke dalam selimut dan memeluk tubuh Fany yang sedang tertidur.


Hari ini Austin merasa ini sangat senang.


Akhirnya dia sudah menghilang keraguan terhadap perasaannya pada Fany.


Austin pun teringat saat dia mencium bibir Fany di depan gedung pengadilan tadi.


Ternyata hal itu membuat gairah Austin sampai meluap ke ubun-ubun kepalanya, tapi dia tetap menahannya karena saat ini Fany terlihat sangat lelah sekali.


Austin pun frustasi karena tak bisa menahan gairahnya dan dia juga tak bisa menyalurkan hasratnya.


Akhirnya dia memilih mandi air dingin di malam-malam seperti ini. Dinginnya air akan membuat kesadarannya kembali dan gairahnya yang meluap tadi pasti akan pergi.


🌷🌷


#Jangan lupa baca novel ku yang berjudul


" Always love you my husband" Ya


Jangan lupa beri Like dan vote untuk mendukung karya ku ya😊😊😊


Selamat membaca ya teman teman


Ingat....


Jangan lupa like dan beri komentar kalian


Agar aku dapat lebih semangat lagi menulisnya😊😊


Saranghae semuanya

__ADS_1


__ADS_2