
Di pagi hari Fany mendapatkan pesan dari Charles .
Ternyata Charles memberi undangan pesta yang akan diadakan di suatu club dan Charles mengharapkan kedatangan Fany di pesta tersebut.
Fany dengan berat hati hanya menulis "Iya" untuk membalas pesan dari Charles.
Dia sebenarnya tidak mau pergi karna pesta itu di adakan di sebuah club.
Fany jadi merasa ragu, dia pun mengingat Charles yang begitu baik padanya.
Fany pun memutuskan untuk pergi kesana.
Di tempat kerja Austin dan Roy sedang berbincang.
"Apa kau akan datang ke pesta itu?"tanya Roy.
“Aku akan datang. Dia sudah mengundangku, tak mungkin aku tidak datang. Apa yang akan dia pikirkan mengenai diriku jika nanti aku tidak datang? "ucap Austin sambil memainkan penanya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku akan pulang cepat hari ini"ucap Roy.
"Kau tidak ikut?"tanya Austin.
"Tidak. Aku sangat lelah dan ingin istirahat di apartemen saja karna kau sudah membuatku terlalu banyak bekerja"ucap Roy sambil berjalan keluar dari ruangan Austin.
"Dasar bedebah sialan"umpat Austin yang kesal dengan ucapan Roy tadi.
Roy yang sudah di luar ruangan masih bisa mendengar teriakan Austin.
"Terserah. Kau mau bilang apapun, aku tidak akan peduli. Aku pulang dulu ya"teriak Roy.
Di malam hari, Austin sudah selesai dengan pekerjaan langsung mandi di ruangan pribadi miliknya yang juga berada di ruang kerjanya. Setelah selesai dia pun bersiap ke klub untuk menghadiri pestanya Charles.
Dalam perjalanan Austin mengingat tingkah konyol yang di lakukannya pada Fany tadi.
Setelah memikirkan itu terlalu lama, dia pun tersenyum senang.
Tiffany terlihat sudah sampai di klub.
Saat sudah berada di dalam, dia melihat sosok seperti Kakaknya sedang di papah oleh Charles.
Fany pun mendekati mereka untuk memastikannya.
"Kak Alex!!!"ucap Fany yang melihat orang itu yang ternyata memang Kakaknya.
Charles mengeryitkan dahinya saat Fany memanggil Alex dengan sebutan Kakak.
"Apa dia mengenali Alex? Apa hubungannya dengan Alex? "batin Charles.
"Kak Alex?? Kau kenal dengan Alex?? "tanya Charles.
"Iya. Dia adalah Kakak kandungku" ucap Fany.
Charles terkejut mendengar perkataan Fany, dia tidak menyangka jika Fany adalah adik dari temannya.
"Kenapa aku tidak bisa tahu ya?"batin Charles.
"Kak Alex. Kau kenapa bisa seperti ini?" tanya Fany yang melihat Kakaknya dalam keadaan seperti orang mabuk.
"Kau tenang saja, dia hanya mabuk. Tadi Alex kebanyakan minum alkohol"ucap Charles.
"Fany. Kau di sini?"tanya Alex yang masih dalam keadaan mabuk .
"Iya kak. Fany di sini"ucap Fany.
"Oh ya. Ini kenalkan teman kakak. Charles Addison" ucap Alex sambil mengenalkan Charles.
__ADS_1
"Aku sudah tahu"jawab Fany.
"Baguslah jika kau sudah kenal dengan Charles"racau Alex dan berjalan dengan sempoyongan.
Charles langsung memegang Alex agar dia tidak jatuh ke lantai, karena Alex memang sudah terlihat mabuk berat.
Lalu Charles memanggil anak buahnya untuk mengantarkan Alex pulang ke rumah.
"Tolong antar dia ke rumahnya"ucap Charles pada anak buahnya.
"Baik Tuan"ucap mereka lalu membawa Alex keluar dari Klub itu.
"Maaf Charles sudah membuatmu kesusahan"
"Tidak apa Fany. Dia adalah temanku. Sebagai teman sudah seharusnya untuk menolongnya." ucap Charles.
Charles menceritakan bahwa Kakaknya yang mengganti posisi sekretaris yang sebelumnya adalah milik Fany sebelum mengundurkan diri.
Fany mengucapkan banyak terima kasih karna sudah memberikan pekerjaan pada Kakaknya.
....................
Austin pun sudah sampai di klub dam masuk dengan senyuman mempesona karna pada saat itu dia masih memikirkan Fany.
Dan pada itu juga Fany memeluk Charles untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Charles karna sudah banyak membantunya dan memberikan pekerjaan pada Alex.
Charles terkejut mendapati Fany yang sedang memeluknya secara tiba tiba.
Dia bingung harus berbuat apa, dia pun hanya membalas pelukan Fany sambil menepuk pelan punggungnya.
Tapi kemudian dia melihat Austin yang sudah datang ke Klub.
Austin yang tengah melangkah mantap, tiba-tiba terhenti karena dia melihat Fany.
Ya Tiffany, istrinya yang sekarang tengah memeluk pria lain.
Fany juga belum menyadari keberadaan Austin yang juga ada di klub ini.
Kemudian timbul ide di otak Charles untuk menguji Austin.
Dia pun semakin mengeratkan pelukan dan itu membuat Fany bingung.
Austin semakin tertegun di tempatnya berdiri melihat istrinya di peluk Charles.
Mereka pun saling menatap tajam.
Austin marah. Dia melihat istrinya dipelukan laki-laki lain. Dia bergegas pun mendekati Fany dan melepaskan pelukan itu.
"Maaf. Aku hanya memeluknya"jawab Charles dengan santai.
"Hanya memeluknya!! Charles kau adalah temanku dan juga rekan bisnisku. Kau tidak seharusnya melakukan seperti itu"ucap Austin.
Austin pun langsung membawa Tiffany pulang ke mansion.
Bahkan sesudah sampai di mansion, Fany pun hanya diam tanpa menjelaskan apapun pada Austin mengenai kejadian tadi.
Dia memilih masuk ke kamar dan meninggalkan Austin yang sedang kesal.
...........................
Di ruang kerjanya, Austin merasa kesal dan bingung dengan Fany.
Dia ingin Fany menjelaskan kejadian semalam yang akan membuat percaya pada nya.
Fany bersikap seolah olah tidak terjadi apa apa dan itu membuat Austin semakin kesal.
Austin pun membatalkan pertemuannya dengan rekan bisnisnya hari ini.
Dia meminta menjadwal ulang pertemuan itu, dan dia pun memilih pergi.
"Memang kau mau pergi kemana sampai harus membatalkan pertemuan ini?"ucap Roy.
"Aku mau menyelesaikan urusan yang penting dari pada pertemuan ini" ucap Austin dengan santai .
"Urusan apa?”ucap Roy yang bingung.
Dia heran dan bertanya-tanya, urusan penting apa yang membuatnya membatalkan pertemuan yang akan menghasilkan banyak uang itu.
"Kau tidak perlu tahu. Dan mengenai Ronald, dia tidak akan masuk kerja beberapa hari ini karna Ibuku melarangnya untuk bekerja"ucap Austin kemudian pergi dari tempat itu.
"Jadi aku masih kerja sendiri gitu? Nasib...nasib..."batin Roy.
Tiffany pergi ke rumah Della untuk melihat keadaan sahabat itu.
Saat sudah sampai di sana, dia melihat Della yang sudah terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Fany kau kesini?
"Iya. Aku ingin melihat keadaanmu. Dan sepertinya kau sudah terlihat lebih baik"
__ADS_1
"Hmm. Aku sudah merasa baikan kok. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi"
"Syukurlah kau sudah baik-baik saja"
"Ini semua karna dirimu yang sudah merawatku Fany"
Fany pun tersenyum.
Mereka akhirnya berbincang sampai tanpa di sadari kalau hari sudah mau malam.
Setelah pulang dari kantor Austin langsung mencari keberadaannya Fany.
Dia masuk ke kamarnya tapi tidak mendapati Fany di sana.
Dia mencari ke semua ruangan yang ada di mansion itu. Bahkan dia mencari sampai ke gudang dan berharap bisa menemukan Fany tapi hasilnya nihil.
"Bodoh. Ngapain juga Fany pergi ke tempat laknat ini"batin Austin yang merutuki kekonyolannya.
Sampai malam hari Fany pun tidak muncul di mansion itu. Austin kesal dan frustasi dengan Fany.
"Kemana istrinya itu pergi? Apa dia meninggalkannya?"batin Austin.
Pikiran terus mengarah ke arah yang negatif.
Austin terus menelpon Fany tapi tidak diangkat, dia memberikan pesan tapi tak kunjung ada balasan dari Fany.
Austin terus menatapi ponselnya, dia menunggu Fany menelpon nya dan membalas pesannya.
Tapi tetap tak ada apapun di ponselnya, Austin pun menjadi sedih dan kecewa.
Austin pergi gerbang untuk menunggu kedatangan Fany.
Sebuah taksi berhenti di depan gerbang mansion Austin.
Lalu seorang wanita bertubuh mungil, terlihat dia sedang membayar pada sopir taksi itu kemudian taksi itu melaju pergi.
"Akhirnya sampai juga"ucap wanita itu.
Dia kemudian berbalik dan terkejut mendapati Austin yang tengah berdiri di depan gerbang.
"Austin!! Ngapain kau berdiri di situ? "ucap wanita itu.
"Kau dari mana saja?"ucap Austin dengan nada bicara yang terdengar seperti sedang marah.
"Aku dari rumah Della"ucap wanita yang ternyata adalah Fany.
"Siapa Della dan ngapain kau disana?"tanya Austin yang masih terlihat marah karna frustrasi tadi.
"Dia sahabat ku. Aku ke sana karena ingin menjenguknya. Dia sedang sakit"ucap Fany yang bingung dengan sikap Austin.
Austin yang tampak kacau langsung mendekati dan memeluk Fany.
"Apa kau sengaja membuatku menajadi seperti ini?"ucap Austin sambil memeluk Fany dengan erat.
"Austin aku hanya pergi menjenguk Della karna aku khawatir dengannya"ucap Fany yang terkejut karna Austin memeluknya dengan erat kemudian dia melepaskan pelukan itu dan Austin mengeryitkan dahi nya saat Fany melakukan itu.
"Lalu bagaimana denganku? Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku saat kau tak kunjung pulang ke rumah"ucap Austin yang berteriak.
Dia kemudian menarik Fany ke dalam rumah dan membuat Fany semakin kebingungan.
"Kau khawatir padaku Austin?"tanya Fany tiba-tiba sehingga membuat langkah Austin berhenti.
Austin berbalik dan menatap Fany.
"Terima kasih "ucap Fany.
Bukanya menjawab perkataan Fany, Austin menarik dan membawa Fany ke kamarnya.
"Austin ini bukan kamarku"ucap Fany yang heran pada Austin.
Dia bertanya kenapa Austin membawanya kekamar Austin.
Austin hanya diam dan malah membawa Fany ke kasur dan berbaring.
"Austin"ucap Fany.
"Tidurlah. Aku sangat lelah" ucap Austin yang berbaring dan memejamkan matanya sambil memeluk Tiffany.
"Setidaknya biar kan aku mandi dulu"
"Tidak perlu. Tidurlah"
Malam ini di ruang kamar Austin, Fany terpaksa tidur dengan Austin dalam posisi Austin yang sedang memeluk Fany.
Selamat membaca readersku
Jangan lupa beri Like ya untuk mendukung karya ku dan membuat aku jadi semangat lagi buat menulisnya.
Jangan lupa beri komentar untuk memberiku saran dan ide kalian.
__ADS_1
I love you all