
“Dia adalah sahabat dari Sesilia pacarku”jawab Austin.
Fany tiba-tiba merasa ada yang menjanggal di perasaan seperti perasaan tidak senang dan tidak suka saat Austin menyinggung soal kekasihnya.
Austin yang tidak bisa peka terhadap perasaan Fany saat ini hanya bisa melangkahkan kakinya menuju ke mobil dan langsung di ikuti oleh Tiffany dari belakang.
Saat sudah sampai di mansion, Austin mendadak diam dan tak memperdulikan Tiffany.
Tiffany yang hanya melihat Austin terdiam langsung pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya tanpa pamit.
"Langsung istirahat. Jangan bergadang!!! Perhatikan kesehatanmu dan bayi yang ada di dalam kandungan mu"ucap Austin ketika melihat Tiffany yang sedang menaiki tangga.
"Iya. Dasar tukang memerintah orang"ucap Tiffany dengan suara pelan sehingga Austin tidak bisa mendengarnya secara jelas.
"Kau bilang apa?"tanya Austin yang terlihat mengintimidasi.
"Tidak ada. Aku akan hanya bilang kau juga harus beristirahat"bual Tiffany.
"Hmmm"ucap Austin.
"Dasar orang cuek"ucap Tiffany yang kesal karna Austin hanya berdeham saja.
Tiffany sudah selesai mandi memilih untuk duduk di kasur karna pada saat itu dia memang belum bisa tidur.
Saat sedang duduk, tiba\-tiba handphone ada panggilan masuk.
Tiffany tersenyum setelah melihat siapa yang menelpon dia pun langsung menerima panggilan itu.
"Halo Kakakku yang tersayang"ucap Tiffany pada Kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Alexander.
"Halo juga Adik ku. Oh ya bagaimana kabar mu dengan calon keponakan Kakak?"tanya Alex dari seberang sana.
"Kabar kami baik\-baik saja kak Alex"ucap Tiffany dengan suara manjanya.
"Syukurlah kalau kalian baik\-baik saja"ucap Alex.
"Ada apa kak menelponku malam\-malam gini? Mana Ayah? Aku ingin bicara dengannya karna aku sangat merindukan Ayah"ucap Tiffany.
"Kakak tidak sedang di Taiwan Adikku"ucap Alex.
"Jadi kakak di mana sekarang?"tanya Tiffany.
"Sekarang Kakak sudah ada di New York?"ucap Alex.
"Apa?? New York?" ucap Tiffany terkejut mendengar perkataan kakaknya yang ternyata juga sedang berada di kota yang sama dengannya.
"Iya”jawab Alex.
“Ada urusan apa kak Alex di sini?"tanya Tiffany.
"Kakak melamar kerja di sini dan kebetulan lamarannya sudah di terima"ucap Alex.
"Kak Alex sudah dapat pekerjaan?"tanya Tiffany.
"Iya"jawab Alex.
"Pekerjaan apa Kak?"tanya Tiffany.
"Jadi sekretaris di perusahaan yang kebetulan bosnya adalah teman Kakak" ucap Alex.
"Jadi Kakak menelponmu karna Kakak ingin bertemu denganmu besok" ucap Alex lagi.
"Baiklah Kak. Tapi kita bertemu di mana?"tanya Tiffany.
"Nanti kakak kirim alamat lokasinya"ucap Alex.
"Ok kak. Selamat buat Kakak karna sudah dapat pekerjaan. Oh ya Siapa nama teman Kakak yang menerima Kakak jadi sekretarisnya?"tanya Tiffany yang sangat penasaran.
"Tiffany cepat tidur!! Ini sudah larut malam"ucap seseorang yang berteriak dari luar kamar Tiffany.
Suara yang sudah di kenal Tiffany. Siapa lagi kalau bukan Austin. Ternyata tadi Austin dia mendengar Tiffany yang sedang berbicara saat ingin ke kamarnya. Jadi dia terlihat kesal dan berteriak menyuruh Tiffany untuk segera tidur.
"Kak Alex. Sudah dulu ya. Aku sudah mengantuk dan mau tidur" ucap Tiffany tanpa mendapatkan pertanyaan mengenai nama teman kakaknya.
"Baiklah Adikku. Selamat tidur dan semoga mimpi indah"ucap Alex.
"Iya. Terima kasih Kak Alex tampan"ucap Tiffany dengan suara yang terdengar seperti anak kecil dan langsung mengakhiri panggilan.
Alex tersenyum mendengar suara adiknya tadi.
"Kenapa tersenyum?"tanya seseorang yang mendekati Alex.
"Tidak ada apa\-apa Charles"ucap Alex pada orang itu yang ternyata Charles.
"Tidak ada apa apa. Berarti kamu gila donk karna senyum\-senyum sendiri aja tanpa ada gerangan"ucap Charles.
"Apa kau bilang? Aku tidak gila!!"ucap Alex yang kesal mendengar perkataan Charles.
"Jadi kenapa kau tersenyum sendiri?"tanya Charles.
"Memang salah kalau aku tersenyum? Hah!"ucap Alex
"Aku barusan menelpon Adikku dan dia berbicara seperti anak kecil. Jadi wajar saja kalau aku tersenyum" lanjut Alex lagi.
"Memang berapa usia adikmu?"
"24 tahun.Usianya aja yang segitu tapi tingkahnya seperti anak kecil padahal sebentar lagi dia mau jadi seorang Ibu" ucap Alex.
"Jadi itu yang buat kau senyum\-senyum sendiri"
"Iya"
"Siapa nama adikmu?"
"Besok\-besoklah aku akan mengenalkanmu pada Adikku. Aku mau pulang dulu"ucap Alex.
"Kok mau pulang sih. Kan kita baru minum sedikit"ucap Charles.
"Aku mau tidur cepat karna besok aku mau bertemu dengan adikku" ucap Alex.
"Baiklah. Aku juga mau pulang. Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Lagian taksi mungkin akan sulit di jumpai di larut malam ini"ucap Charles.
"Terserahmu Charles"ucap Alex yang memilih pulang bersama dengan Charles.
Keesokan harinya Tiffany datang ke rumah Della.
Karna dia mendapat telepon dari Della kalau dia sedang sakit.
Saat dia sampai di sana terlihat Della yang terbaring lemas tak berdaya.
Tiffany sangat sedih melihat kondisi Della.
"Kok kamu bisa sakit sih?"
"Aku mana tahu. Kalau aku tahu, paling aku akan mengatakan pada penyakit itu untuk tidak datang ke tubuhku"ucap Della yang kesal dengan pertanyaan konyol Tiffany.
"Namanya juga penyakit. Kita mana ada yang tahu kapan datangnya"tambah Della lagi.
"Kau sudah makan?"
"Sudah"
"Minum obat?"
"Belum"
"Kenapa belum?"
Della tidak menjawab. Jujur dia sangat tidak suka dengan obat.
Tiffany yang terlihat khawatir langsung ke dapur untuk mengambil air minum dan kembali ke kamar .
Tiffany meminta Della meminum obat nya, tapi Della malah menolaknya.
"Della jangan seperti anak kecil"
"Tapi obatnya tidak enak Fany" ucap Della yang merengek kayak anak kecil.
Tiffany langsung memasang wajah sedihnya dan itu sukses membuat Della mau minum obatnya.
Della merasa tertegun melihat Tiffany yang sangat khawatir dengannya.
Dia sangat yakin kalau Tiffany adalah sahabat terbaiknya, karena dia tetap selalu ada di dekatnya bahkan saat dia juga sedang sakit .
"Fany. Apa kau masih tidak ingin memberitahukanku mengenai suamimu?"tanya Della setelah selesai meminum obatnya.
Tiffany mendengar perkataan Della terkejut dan setelah itu dia pun menghela nafasnya.
"Baiklah. Della aku akan menceritakannya"ucap Tiffany.
Tiffany pun menceritakan semuanya pada Della tanpa ada celah sedikit pun.
Mulai dari siapa nama suaminya. Awal mereka berjumpa dan kejadian di hotel itu, di mana tempat itulah yang sudah membuat Fany sampai mengandung anaknya dan akhirnya menikah dengannya.
Della yang mendengar semua perkataan Fany langsung terkejut mendengarnya.
Pasalnya Tiffany menikah dengan orang terkaya di kota New York City yaitu Austin Nero.
"Kau beruntung Fany,apalagi saat ini kau sedang mengandung anaknya " ucap Della.
"Tapi dia sudah memiliki kekasih bahkan sebelum pertemuan kami"
"Apa? "
"Aku merasa seperti penganggu hubungan orang saja"
__ADS_1
"Tidak Fany. Aku tidak setuju dengan ucapanmu"
"Ini sudah di tentukan oleh takdir Fany"ucap Della lagi.
"Benarkah? Aku rasa tidak Della. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi saat Sesilia datang ke sini"ucap Tiffany.
"Siapa Sesillia?"tanya Della.
"Kekasihnya Austin"
"Apa kau mencintai Austin?"
"Aku belum tahu Della"
"Kau harus tahu Fany"
"Lagian jika aku mencintai Austin. Apa aku bisa memilikinya di saat aku tahu kalau dia mencintai Sesillia? Dan aku tidak tahu apakah dia mencintaiku atau tidak?"
"Aku tidak bisa berkata apa apa lagi Fany. Aku hanya bisa berdoa semoga kalian bisa selalu bersama dan tidak terpisahkan oleh halangan apapun"
"Terima kasih Della"
Tiba-tiba Della menatap Fany dengan lekat dan berkata kalau Fany harus bahagia. Benar-benar harus bahagia. Lalu secara mengejutkan Della memeluk Fany dengan erat.
Fany sedikit kaget.
"Kau harus mempertahankan hubunganmu dengan Austin demi anakmu Fany"ucap Della.
"Aku akan mendukungmu Fany"ucap Della.
Ucapan Della terdengar sangat tulus mengatakannya membuat Fany jadi terharu.
Kini Della sudah tertidur. Mungkin itu karna pengaruh obat. Tiffany pun langsung menyelimuti tubuh Della.
"Aku akan melakukan apa yang kau ucapkan tadi Della" ucap Fany pada Della yang tengah tertidur.
"Beep....."( Suara notifikasi pesan masuk ke handphonenya Fany).
Ternyata itu pesan dari Kakaknya yang mengirim lokasi tempat pertemuannya dengan Kak Alex.
"Aku pergi dulu ya Della"ucap Fany pada Della yang tengah tertidur itu.
Di sebuah tempat Coffee Cafe, Alex memainkan handphonenya sembari menunggu kedatangan Adiknya.
"Kak Alex"ucap Fany yang sudah datang.
"Kamu kenapa lama sekali Fany?”tanya Alex.
"Maaf Kak Alex. Tadi aku ke tempat Della dulu karna dia sedang sakit"ucap Tiffany.
"Siapa Della?"
"Dia Sahabatku Kak Alex"
"Baiklah. Katakan padanya semoga cepat sembuh"
"Ok Pak"ucap Fany.
Mereka pun saling berbicara melepaskan rasa rindu yang mendalam antara Kakak dan Adik itu.
Tiffany terlihat senyum mendengarkan perkataan Kakak yang mengatakan bahwa Alex sempat berdebat dengan Ayah mereka untuk meminta restu ingin merantau ke luar negeri.
Tiffany tidak terkejut mendengar perkataan kakaknya karna mereka memang selalu berdebat bahkan masalah sepele pun akan menjadi bahan perdebatan mereka.
Lain dengan Alexander tersenyum dan berbicara. Tapi dia tak pernah berhenti berpikir untuk menyingkirkan Austin tanpa menyakiti Adiknya.
Tak terasa hari sudah sore, Fany pun pamit untuk pulang ke rumah karna takut suaminya akan mencarinya.
Alex sempat kesal karna mendengar adiknya mengatakan Austin dengan sebutan suaminya .
Memang tidak salah jika Fany berkata seperti itu, tapi dia tidak senang jika adiknya menyayangi orang yang pernah membuat keluarganya bangkrut.
Austin sudah sampai di mansionnya tapi dia tidak melihat keberadaannya Fany.
Austin pun memutuskan untuk menghubungi Fany, tapi tidak ada jawaban juga.
Dia mencoba untuk terus menerus menghubungi ponsel Fany, tapi tak ada hasilnya juga nihil.Dia juga tak mendapat jawaban.
Dia sedikit cemas karena mengira Fany belum pulang.
Entah kenapa terbesit di pikirannya untuk masuk ke dalam kamarnya Fany.
Ketika memasuki kamarnya dia beruntung karena kamarnya tidak terkunci.
Austin pun masuk dan melihat kalau ternyata Fany sudah ada di dalam kamrnya bahkan dirinya sudah terlelap.
"Pantas saja kau tidak mendengar panggilan di handphonemu, ternyata kau sudah tertidur kayak kebo"ucap Austin.
Tiffany tertidur pulas dan tidak mendengar ponselnya yang bergetar karena panggilannya.
Dengan langkah sangat pelan menuju kasurnya, Austin mendekati Fany dan melihat kalau dia benar\-benar terlelap.
Kemudian Austin menatap Fany dengan intens.
"Cantik"gumam Austin secara tidak sadar.
Saat Austin menatap Tiffany, tiba\-tiba saja Fany bergerak dalam tidurnya.
Austin yang menyadari itu refleks langsung tiarap ke lantai dan merangkak menuju bawah ranjang karna takut Tiffany akan melihat.
Austin yang berada di bawah ranjang tersenyum melihat dirinya seperti pencuri yang hampir ketahuan.
Setelah beberapa menit dia tidak mendengar suara pergerakan dari Fany melainkan mendengar suara nafas Fany yang keluar secara teratur.
Kemudian Austin langsung keluar dari tempat persembunyian nya.
Keesokan paginya, Austin sudah bangun lebih dulu sementara Fany masih di dalam kamarnya dalam keadaan terlelap.
Di kamarnya Austin terlihat sudah mandi dan juga sudah rapi dengan jasnya dan siap untuk berangkat kerja.
Kemudian dia keluar dari dalam kamarnya dan melewati kamar Tiffany.
"Apa dia sudah bangun?"tanya Austin dalam hatinya sambil menatap pintu kamar Tiffany yang ada di hadapannya.
Saat sedang asik dengan pikirannya, tiba tiba Fany keluar dari dalam kamar dan melihat Austin tengah berdiri di depan kamarnya.
Austin masih belum menyadari keberadaan Fany karna dia tengah melamun.
"Ada apa Austin?"tanya Fany.
Austin terkejut mendengar suara Fany pun langsung refleks melangkah mundur.
"Tidak ada...aku... hanya sedang lewat. Terus gak sengaja aku berhenti di sini karna sedang memikirkan pekerjaanku" bual Austin.
Austin pun langsung pergi dari situ dan memilih berangkat ke kantor.
“Dia kenapa sih?”tanya Fany yang bingung dengan sikap Austin.
Tiffany hanya mengelengkan kepala saat melihat tingkah Austin pagi ini.
Dia pun tidak memperdulikan soal itu dan langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya lagi.
Fany langsung menuju ke kamar mandi dan menggosok giginya. Tapi kemudian dia mengingat tingkah Austin tadi.
Fany langsung mengelengkan kepala lagi dan tidak mau ambil pusing. Dia pun melanjutkan kembali aksi gosok gigi
~~~
Saat sudah sampai dikantor, Austin langsung pergi menuju ke ruangannya tanpa memperhatikan karyawannya yang menunduk hormat padanya..
Saat dia masuk ke ruangannya. Dia terkejut mendapati seseorang yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?"ucap Austin dengan kesal.
"Kak Austin" ucap seorang pria yang langsung bangkit ketika dia mendapati bahwa Austin sudah berada di dalam ruangan.
"Lepaskan pelukan laknat ini"ucap Austin ketika orang itu memeluk Austin dengan erat tapi orang itu tidak mendengarkan malah makin mengerat kan pelukannya.
"Ronald Nero”ucap Austin dengan geram.
"Baiklah Kak"ucap Ronald sambil melepaskan pelukannya.
Dia ternyata adalah adik bunsu Austin.
"Kenapa kau kembali? Apa kau sudah selesai belajar?"tanya Austin.
"Justru karna sudah selesai makanya aku kembali kesini Kak"ucap Ronald.
"Benarkah?"tanya Austin.
"Serius!!" ucap Ronald sambil membuat huruf V dengan jarinya menandakan keseriusannya.
"Baguslah. Mulai besok kau akan bekerja sebagai sekretaris pribadiku"ucap Austin.
Karna Austin kasihan dengan Roy yang sudah menjadi asisten pribadin sekaligus sekretarisnya.
"Apa? Aku jadi sekretaris kakak. Aku belajar mengenai bisnis di luar negeri tapi aku hanya jadi sekretaris"ucap Ronald yang tidak terima.
"Kau mau membantah?"ucap Austin sambil menatap tajam kearah Ronald.
"Tidak kak"ucap Ronald yang merubah menjadi anak penurut.
__ADS_1
"Bagus. Sekarang pulanglah ke rumah"ucap Austin.
"Pulang kemana?"tanya Ronald dengan polosnya.
Austin yang mendengar itu langsung menatap lagi ke arah Ronald.
Tidak mungkin Ronald pulang ke rumahnya padahal dia tahu kalau dirinya sudah punya istri.
Ronald mendapatkan tatapan seperti itu hanya tertawa.
"Aku hanya bercanda"
"Sampai jumpa lagi Kakakku tersayang" ucap Ronald sambil melambaikan tangannya meninggalkan ruangan Austin.
"Hai Kak Roy"sapa Ronald ketika mereka sedang berpapasan.
"Austin pasti akan stres"ucap Roy yang hendak menuju toilet.
Ronald Nero adalah Adik bungsu Austin yang sudah pulang ke New York City setelah beberapa tahun belajar mengenai Perbisnisan.
Austin memang senjaga mengirim Adiknya ke sekolah yang cukup jauh agar dia fokus pada studinya.
Austin sengaja menyuruh Adiknya belajar supaya dia tahu mengenai bisnis agar dia tahu bagaimana cara menghadapi persaingan yang ketat.
~~~
Malam ini saat tengah makan malam.
Austin mendapat pesan kalau dalam minggu ini Sesillia akan berangkat ke New York.
Tiba tiba Fany datang ke meja makan membawa makanan yang dia masak.
Austin pun terkejut dan membuat handphone itu terjatuh ke lantai.
Tiffany yang sudah meletakkan makanan itu ke meja langsung menunduk karna dia berniat untuk mengambil ponsel Austin yang terjatuh.
Sebelumnya Fany melihat pesan pada layar ponsel Austin, tapi tidak terlalu jelas karna tulisan terlalu kecil untuk di baca oleh Fany dari atas
Saat Austin tahu kalau Tiffany akan mengambil ponselnya, dia langsung bergegas memeluk tubuh Fany. Sontak itu langsung membuat Fany menghentikan aksinya.
"Kenapa Austin memeluk ku?"batin Fany yang sangat terkejut
Austin belum sadar kalau dia sedang memeluk Fany.
Dia malah bingung ketika Fany bertanya padanya.
Ketika sadar, Austin bergegas melepaskan Fany dari pelukannya.
Sejujurnya tadi Austin seperti itu karna dia tidak ingin Fany melihat isi pesan dari Sesilia.
Mereka pun melanjutkan makan malam dengan sedikit canggung setelah kejadian tadi.
Setelah makan, Fany pun langsung mencuci piring bekas makan malam mereka tadi.
Austin pun langsung melihat ponselnya dan membalas pesan Sesillia dengan kata"Hmm"
Setelah Fany selesai mencuci tiba\-tiba Austin datang ke dapur.
"Sudahlah. Kamu tidur saja. Ini sudah larut malam"ucap Austin.
"Ini sudah siap kok Austin"jawab Fany.
Mereka pun pergi manaiki tangga menuju ke lantai dua.
"Tunggu"ucap Austin saat tiba di depan kamarnya Austin.
"Ada apa Austin?"
"Kau jangan terlalu banyak bekerja di rumah Fany. Kau harus jaga kesehatanmu dan bayi kita"ucap Austin yang membuat Fany yang mendengarnya terasa terharu.
"Iya Austin"
"Sudah masukah duluan ke kamarmu dan langsung tidur "ucap Austin sambil menggerakkan dagunya menunjuk pintu di sampingnya yang membuat Fany bingung.
"Kaulah yang masuk duluan. Kan itu kamarmu. Kamarku ada di sana"ucap Fany dengan polos
Dia mengatakan kalau ini kan kamarnya Austin, tapi kenapa Austin menyuruh masuk duluan.
Akhirnya Austin sadar kalau ini memang kamarnya.
"Maaf"ucap Austin.
"Tidak apa\-apa "jawab Fany.
Fany pun masuk ke dalam kamarnya, begitu juga dengan Austin yang sudah ada di dalam kamarnya.
Di dalam kamar Fany tersipu malu mengingat saat Austin memeluknya tadi.
Sementara Austin yang ada di kamarnya juga mengutuki dirinya sendiri yang pasti tadi sudah gila karena memeluk Fany.
~~~~
Tokyo
Sesillia pun berkemas dan berniat segera terbang ke New York .
Dia mempercepat kepulangannya dari jadwal semula. Dia juga sudah menyiapkan hadiah untuk Austin yaitu mengatakan bahwa dia bersedia untuk menikah dengan Austin dan tak akan meninggalkannya lagi.
"Aku akan segera datang sayang. Tunggu aku"ucap Sesilia.
~~~
Ronald pun sudah tiba di kediamannya keluarga besar Nero.
Seharusnya dia akan datang semalam tapi dia menundanya dan memilih menginap di hotel.
"Ibu. Aku sangat merindukanmu"ucap Ronald yang memeluk Ibunya dari belakang saat dia melihat Ibu sedang menyiram tanaman bunganya.
"Ronald!!! Ini kamu Ronald anakku"ucap Delila.
"Iya Bu"jawab Ronald.
"Ibu juga sangat merindukanmu, Nak" ucap Delila.
"Apa kau akan pergi lagi nak?" tanya Delila.
"Tidak Ibu. Aku tidak akan pergi lagi. Aku sudah menyelesaikan studi ku. Dan besok aku juga sudah mulai bekerja menjadi sekretarisnya Kak Austin"ucap Ronald.
"Apa? Dasar anak itu. Dia mengirimmu sekolah jauh tapi dia hanya menjadimu sebagai sekretarisnya"ucap Delila yang geram dengan anak pertamanya.
"Tidak apa Ibu. Aku senang kok jadi sekretarisnya kak Austin" ucap Ronald.
"Oh anakku yang baik. Kau sudah makan? "
"Belum Bu"
"Ayo masuk ke dalam .Ibu akan memasak makanan yang enak untukmu"
"Let's go "
Mereka pun masuk ke dalam mansionnya sambil tertawa riang.
\*\*\*
Selamat membaca readersku
Jangan lupa beri Like ya untuk mendukung karya ku dan membuat aku jadi semangat lagi buat menulis nya.
Jangan lupa beri komentar untuk memberiku saran dan ide kalian.
I love you all
__ADS_1