Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Empat Puluh


__ADS_3

"Shit. Kenapa aku tidak bisa menahan gairahku saat melihatnya seperti itu?" batin Austin.


Saat Fany sudah keluar dari kamar mandi, Austin pun langsung mengendong Fany dan meletakkan Fany dengan lembut di tempat tidur itu.


"Austin kau mau ngapain?"tanya Fany yang melihat Austin yang sedang menindih tubuhnya.


"Aku sangat menginginkanmu Fany. Apakah boleh?"tanya Austin yang tengah menatap Fany dengan penuh harap.


Fany melihat tatapan Austin yang terlihat ada hasrat dan gairah sangat besar yang sepertinya tengah di tahan oleh Austin.


Fany pun berpikir sejenak. Austin adalah suaminya dan sebagai istri sudah tugasnya untuk memenuhi kebutuhan suaminya yang satu ini.


Jika dia tidak mau, bisa jadi Austin akan mencari wanita lain.


"Tidak-tidak. Aku tidak akan membiarkan itu"batin Fany.


"Baiklah. Austin tapi pelan-pelan ya, karena aku lagi hamil"pinta Fany.


"Aku akan melakukannya secara lembut sayang" ucap Austin.


"See. Sekarang dia memanggilku sayang. Dasar tukang gombal"ucap Fany dalam hatinya.


Austin tersenyum melihat pipi Fany yang terlihat merah merona.


"Pipimu sangat merah sekali. Apa kau memakai blush on saat di kamar mandi tadi?"ucap Austin yang memecahkan suasana romantis itu padahal sebenarnya dia hanya ingin menggoda Fany saja.


"Ish. Sudahlah, aku jadi ingin tidur saja"ucap Fany yang terlihat ingin memgeser tubuh Austin dari atas tubuhhnya.


Tapi Austin langsung mencium bibir Fany dan setelah itu Austin pun berkata" Maaf ya. Tadi aku hanya ingin menggodamu karena melihatmu yang tersipu malu seperti itu" Austin yang berkata sambil mengelus pipi Fany.


Austin pun mencium bibir Fany lagi, kali ini dia menciumnya dengan nafsu yang begitu besar sehingga membuat bibir Fany terlihat sedikit membengkak karena ulahnya.


"Baiklah. Daddy akan mengunjungimu sayang"ucap Austin sambil mencium perut Fany.


Kali ini sesuai dengan perkataan Austin, dia pun melakukan itu dengan secara lembut.


Meskipun begitu Fany masih tetap merasa sakit karena ini adalah yang kedua kalinya mereka melakukan itu.


Desahan demi desahan keluar dari bibir mereka, yang mana suara itu menjadi pengiring kegiatan mereka .


Tak kalah dengan buliran keringat yang beradu dan berlomba lomba keluar dan membasahi tubuh mereka sehingga membuat tubuh mereka terlihat mengkilap akibat dari kegiatan mereka.


Kini hanya ruangan itulah yang menjadi saksi bisu dari kegiatan mereka yang sedang berlangsung itu.


Setelah melakukan itu, Austin dan Fany pun bersandar pada kepala ranjang itu.


"Apa masih terasa sakit?"tanya Austin sambil mengelus rambut Fany.


"Tidak kok"ucap Fany sambil mengusap usap dada bidang Austin.


"Kau jangan memancing gairahku Fany"ucap Austin.


"Ups sorry"ucap Fany yang langsung menghindar.


"Tidak ada kata maaf sayang"ucap Austin yang kembali menindih tubuh Fany.


"Tunggu"ucap Fany yang langsung mendorong tubuh Austin.


"Ada apa?" ucap Austin yang terlihat kebingungan.

__ADS_1


Fany tidak menjawabnya dan dia malah memakai kaos milik Austin yang terlihat sangat besar dan panjang di tubuh mungilnya itu. Setelah memakainya Fany langsung menuju pintu kamar.


"Kenapa kamu memakai kaosku?"tanya Austin tapi Fany tidak menjawab dan pergi dari kamar itu.


Mau tidak mau Austin pun keluar dan mengikuti Fany dengan hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada.


Dan ternyata Fany pergi ke kamar sebelah yang terlihat hendak membereskan sesuatu.


"Kau ngapain ke sini?"tanya Austin.


"Aku mau membereskan barang-barang keperluan bayi kita"ucap Fany.


"Ya Tuhan. Aku pikir Ada apa tadi. Rupanya kau ke sini hanya ingin membereskan ini"ucap Austin.


Dan malam ini sebelum tidur, mereka pun membereskan keperluan bayi mereka.


Kini mereka terlihat sedang sibuk menghias ranjang tidur bayi mereka.


"Sayang. Kau kok cepat kali membereskannya padahal dia kan masih lama lagi untuk lahir"ucap Austin.


"Tidak apa kok. Aku hanya ingin dan merasa senang sekali membereskan dan menyediakan keperluan untuk putra kita"ucap Fany.


“Baiklah. Aku sangat senang bisa melihatmu tersenyum begitu”ucap Austin sambil meneruskan kegiatan menghias ranjang bayi untuk putra mereka nanti saat sudah lahir nanti.


Selang beberapa jam, akhirnya merekapun selesai juga menghias kamar calon putra mereka.


"Akhirnya selesai juga"ucap Austin.


"Sudah. Ayo kita tidur. Ini sudah larut malam"ajak Austin.


"Ya. Ayo kita tidur “ucap Fany yang tidak menolak ajakan suaminya.


Keesokan harinya Fany pun terbangun dan dia melihat suaminya yang masih tertidur.


"Ayo bangun. Ini sudah pagi"ucap Fany yang terlihat berusaha membangunkan suaminya.


Austin pun terbangun saat mendengar suara istrinya yang tengah membangunkanya.


Saat sudah terbangun Austin langsung menunjuk bibirnya sendiri.


Fany tahu arti kode dari Austin yang menunjukkan bibirnya.


Fany pun langsung mencium bibir suaminya yang sangat manja itu.


"Sudah sana mandi. Nanti kau bisa terlambat pergi ke kantor"ucap Fany.


Austin pun langsung pergi kekamar mandi, dan Tak lama kemudian dia pun selesai mandi.


Terlihat Austin keluar dari kamar mandi dengan balutan selembar handuk yang melilit di pinggangnya.


"Sesuai dengan janjimu, kau akan memakai baju ini kan"ucap Fany sambil memegang gantungan baju di mana terlihat kemeja warna pink dan bermotif bunga yang sedang tergantung.


"Astaga aku lupa dengan pakaian sial itu"umpat Austin dalam hatinya.


Austin pun mengambil pakaian itu dengan hati yang sangat berat dan dia pun masuk ke dalam kamar mandi dan memakainya.


"Aku terpaksa harus memakai baju ini. Kenapa kau harus ada?"tanya Austin pada baju itu.


"Aish. Aku terlihat seperti banci kaleng-kaleng"umpat Austin yang tengah bercermin.

__ADS_1


Setelah bersiap-siap dan selesai sarapan pagi, Fany pun mengantar suaminya menuju tempat parkiran.


Hari ini Austin lebih memilih memakai mobil sendiri untuk pergi ke kantor.


"Nanti siang aku akan datang membawa makan siangmu"ucap Fany yang terlihat sedang menahan tawanya.


Sebenarnya Fany tidak menyukai baju itu, dia terpaksa membelinya hanya untuk mengerjai suaminya itu.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya"ucap Austin.


Austin pun melajukan mobilnya dari mansion itu menuju kantornya.


Saat sampai di kantor semua karyawan kantor itu melihat ke arah Austin.


"Kenapa tuan Austin terlihat aneh hari ini?"


"Kenapa tuan Austin memakai baju seperti itu?"


Begitulah bisikan para karyawan yang satu dengan yang lainnya.


"Apa dia salah minum obat"


"Entahlah aku tidak tahu. Mungkin ada yang salah minum obat hari ini"ucap karyawan yang masih berbisik.


"Kau harus sabar Austin. Ini demi Fany"ucap Austin dalam hatinya sambil melangkahkan kakinya menuju ruangannya.


Saat sedang masuk di dalam ruangan, terlihat Roy yang tertawa sangat keras karena melihat melihat penampilan Austin yang terlihat berbeda hari ini.


Tak kalah juga dengan Ronald yang tertawa keras, tapi dia langsung menghentikan tawanya saat kakaknya itu menatap tajam ke arahnya.


"Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?”ucap Roy sambil memegang perutnya yang terasa sakit karena tertawa terus.


"Ini karena Fany yang memaksaku untuk memakainya. Jika tidak, dia tidak percaya kalau aku mencintainya"ucap Austin.


"Jadi sekarang kau takut dengannya?"tanya Roy.


"Aku hanya takut kehilangannya”jawab Austin.


"Sepertinya aku tidak mau untuk jatuh cinta dulu. Aku masih belum siap menjadi orang sepertimu yang sudah menjadi budak cintanya Fany"ucap Roy yang setelah itu memilih untuk langsung keluar dari ruangan itu.


Kemudian di susul oleh Ronald yang juga langsung berlari keluar dari ruangan itu karena dia juga tidak ingin menjadi bahan pelampiasan dari kemarahan dan kekesalan kakaknya saat ini.


🌷🌷🌷


Jangan lupa baca novel ku yang berjudul


"Always Love You My Husband"


Di jamin pasti buat air mata kalian jatuh berderai


Jangan lupa beri Like dan vote untuk mendukung karyaku ya😊😊😊


Selamat membaca ya teman teman


Ingat....


Jangan lupa like dan beri komentar kalian


Agar aku dapat lebih semangat lagi menulisnya😊😊

__ADS_1


Saranghae semuanya


__ADS_2