Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Delapan


__ADS_3

2 bulan kemudian...


Austin pun terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan.


Terkadang dia juga sering menunggu berita dari Roy mengenai kabar Sesilia di Jepang sana.


Mengenai kapan dia akan selesai dengan studynya.


Tapi Austin hanya bisa menghelas nafas karna Sesilia tidak bisa hubungi.


"Kau sudah bisa kembali ke tempat kerjamu”ucap Austin sambil mengibaskan tangannya.


"Baik Austin. Kalau begitu aku permisi dulu"ucap Roy sambil menunduk hormat lalu melangkah kakinya.


"Kenapa kau tidak bisa di hubungi Sayang?"ucap Austin sambil menatap foto yang ada di meja kerjanya itu.


..........................


"Fany. Kau kenapa terlihat sangat pucat sekali?? Padahal ini masih pagi tapi kau terlihat lemas sekali"ucap Della yang bertanya pada Fany.


Spontan Fany melihat ke arah cerminnya dan memastikan pernyataan Della terhadap dirinya.


“Wajahku kok terlihat pucat sih. Akhir-akhir ini aku merasa ada perubahan yang aneh padaku dan hari ini aku juga merasa tidak enak badan"batin Fany sambil melirik ke arah cermin.


“Hei cantik. Kalau orang lagi bertanya itu harus cepat di jawab. Ini malah diam dan bercermin. Kau tetap cantik kok. Kau kenapa? Lagi sakit ya?”tanya Della sambil memperhatikan wajah Fany.


“Aku baik-baik saja. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu”ucap Fany yang kembali fokus kerja.


Tiba-tiba Fany merasa ada yang tidak enak pada perutnya. Fany merasa mual dan ingin memuntahkan isi yang ada di dalam perutnya itu. Fany mencoba untuk menahannya dan kembali fokus pada kerja, tapi semuanya sia-sia. Fany yang tidak tahan lagi langsung berlari menuju toilet dan ingin memuntahkan sesuatu yang dari tadi ingin segera di muntahkan.


Della pun juga ikut berlari mengejar Fany karena dirinya merasa sangat khawatir pada temannya itu.


Sesampainya di sana Della melihat Fany yang terlihat sudah selesai membersihkan sisa muntahannya.


“Kau kenapa?”tanya Della dengan nada bicara yang terdengar cemas.


“Jangan bilang kalau kau lagi hamil!”ucap Della yang bicara secara blak-blakan.


“Ih...Jangan asal bicaralah. Itu gak mungkin karena aku belum pernah begituan sama seseorang!”bual Fany sambil menutupi rasa ketakutannya di saat dia kembali mengingat kejadianya waktu itu bersama dengan Austin.


“Iya juga sih!”ujar Della sambil mengaruk kepalanya.


“Aku tidak apa-apa kok!”ucap Fany yang terlihat ingin menyakinkan Della.


“Tapi kau kok pucat dan sekarang kau malah muntah begitu, makanya aku sempat beropini seperti itu. Kau kenapa sih?”tanya Della.


“Aku baik-baik saja Della. Ini mungkin karena tadi aku telat makan, makanya jadi sakit begini”jawab Fany yang sedang berbohong padahal tadi pagi sebelum berangkat dia sudah sarapan.


“Ya sudah. Lebih baik kau pulang saja biar aku yang akan katakan sama bos kalau kau sedang sakit hari ini”ucap Della yang memang sangat mengkhawatirkan keadaan Fany.


“Tidak usah. Aku baik-baik saja kok. Ayo kita kembali kerja lagi”ucap Fany sambil menuntun Della agar keluar dari tolitet itu.

__ADS_1


“Benaran kalau kau baik-baik saja?”tanya Della sekali.


“Iya Della sayang. Aku baik-baik saja!”ucap Fany sambil tersenyum.


Della pun mencoba mempercayai perkataan Fany. Akhirnya mereka melangkahkan kaki menuju tempat kerja mereka.


Selama di perjalanan Fany hanya berkecamuk dalam pikirannya.


“Tidak...tidak mungkinkan kalau saat ini aku sedang hamil!”batin Fany yang entah kenapa dirinya malah kepikiran seperti itu.


"Aku akan memastikannya nanti" ucap Fany.


“Memastikan apa?”tanya Della yang terlihat raut wajahnya yang terdapat banyak pertanyaan untuk Tiffany.


“Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan perkerjaan yang ada di komputerku”bual Tiffany.


“Benarkah?”tanya Della sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Fany.


“Iya.”ucap Fany yang langsung berjalan duluan meninggalkan Della.


...............................


Kini sepulang dari kantor Fany menyempatkan diri untuk pergi ke apotek .


Setelah itu dia langsung membeli sesuatu.


"Selamat datang nona. Mau beli apa? " ucap pelayan toko itu.


"Itu... aku mau beli tespeck" ucap Fany yang berbisik.


Dan itu membuat orang di sana memandang ke arah Fany.


"Memang seperti ini anak muda zaman sekarang ya. Bisanya bikin malu saja "ucap salah satu pengunjung yang ada di toko itu.


Mendengar perkataan seperti itu membuat Fany langsung bergegas pulang ke rumah setelah barang yang dia beli sudah berada di tangannya.


"Aduh malu kali! Kenapa mulut orang sekarang enggak bisa di jaga?" batin Fany di saat dirinya sudah berada di dalam taksi.


~~


"Terima kasih pak. Kembaliannya Bapak ambil saja" ucap Fany lalu pergi menuju rumah sewanya.


Setelah Fany masuk ke dalam rumah dia langsung meletakkan tasnya di atas meja.


Terlihat Fany memasukkan tangannya ke dalam tasnya untuk mengambil sesuatu yang dia beli tadi saat dia apotek. lalu Fany pun langsung bergegas pergi ke kamar mandi.


Setelah beberapa menit akhirnya Fany keluar dari kamar mandi dengan menitikan air matanya.


"Bagaimana ini? ucap Fany sambil memegang tespeck yang menunjukkan dua garis merah.


"Aku tidak tau, apakah harus senang atau sedih saat mengetahui kehamilanku ini "ucap Fany yang masih menangis.

__ADS_1


"Kau kenapa harus hadir nak. Mama tidak tau dan tidak bisa menjamin apakah Ayahmu mau menerima kehadiranmu?"ucap Fany yang memegang perutnya.


"Tidak. Aku tidak boleh menyalahkan bayi ini. Kau tidak salah nak, yang salah adalah takdir Mama. Seandainya Mama tidak bertemu dengan Ayah mu, semua ini pasti tidak akan terjadi"ucap Fany lalu bangkit dan menyimpan tespeck itu dan berjalan menuju ranjang.


............................


Di kantor, Fany hanya terlihat diam membisu sembari menatap layar komputernya. Tapi ada guratan wajah sedih yang tergambar pada raut wajah Fany dan itu dapat di lihat jelas oleh Della yang tengah duduk di samping Fany.


"Hei. Kau kok terlihat sedih Fany? Apa kau ada masalah?"ucap Della yang melihat wajah Fany yang terlihat sedih banget.


"Aku tidak papa Della. Aku hanya merindukan Ayahku Della"ucap Fany yang berbohong.


"Begitu rupanya. Aku pikir kau punya masalah lain, lihat wajah terlihat sangat pucat"ucap Della.


"Mungkin karna aku hanya kekurangan tidur saja!" ucap Fany sambil memgang wajahnya.


"Oh... kalau gitu aku lanjut kerja dulu ya" ucap Della lalu pergi ke meja kerja nya.


..............................


Sore hari telah tiba dan sudah waktunya bagi para pekerja di kantor tempat Fany bekerja pada berpulangan.


"Aku pulang duluan ya Fany" ucap Della sambil mengandeng tasnya.


"Oh, baiklah Della. Hati-hati di jalan ya" ucap Fany.


“Oke”ucap Della sambil berjalan dan berlalu meninggalkan Fany.


Fany pun kini bersiap-siap pulang ke rumah. Sambil berjalan di pinggir jalan Fany berbicara pada jabang bayinya yang ada di dalam perutnya.


"Malam ini kita makan apa ya Nak?” ucap Fany sambil melirik memegang perutnya.


"Mungkin sup ayam sangat enak ya "ucap Fany yang tidak memperhatikan jalannya.


Tiba tiba ada mobil yang tidak sengaja menyenggol tubuh Fany, sehingga membuat Fany tersungkur di aspal.


"Auw...Perutku sakit kali"ucap Fany sambil memegang perutnya.


Dan ternyata yang menabrak Fany adalah wanita paruh baya.


"Nyonya, sepertinya mobil kita menabrak seseorang "ucap sopir mobil itu sambil melirik kearah kaca depan mobil itu..


"Apa!! "ucap wanita itu yang terkejut mendengar penuturan sopirnya.


Kemudian dia keluar dari mobil dan melihat seorang gadis yang sudah tergetak di aspal..


"Tolong angkat dia dan bawa ke dalam mobil"ucap wanita paruh baya itu pada sopirnya.


"Baik Nyonya!" ucap sopir itu.


Kemudian sopir itu mengangkat tubuh Fany dan memasukannya ke dalam mobil.

__ADS_1


"Robert! Cepat bawa mobilnya ke rumah sakit terdekat! " ucap Wanita itu yang terlihat sangat khawatir.


"Baik Nyonya!" ucap sopir itu.


__ADS_2