
Austin pun mulai merebahkan dirinya dan tertidur pulas di samping tubuh Fany.
Keesokan harinya, seperti biasa Fany memulai paginya dengan mandi terlebih dahulu, lalu setelah itu dia turun ke dapur untuk memasak.
Ya itulah adalah tugasnya sebagai seorang istri.
Saat tengah menyajikan makanan di meja makan, dia melihat Austin yang sudah turun dari lantai atas.
Terlihat Austin memakai kemeja putih formal dipadukan dengan jas berwarna hitam.
Austin terlihat tampan dimata Fany.
Fany sangat ingin memeluk pria itu saat ini juga.
Fany langsung membuang pikiran seperti itu jauh-jauh dari benaknya.
Apakah Austin akan bersikap dingin terhadapnya?
Itulah yang ada daalam pikirinnya saat ini.
"Apakah kau sudah melakukan check up kandunganmu bulan ini?"tanya Austin yang bersikap biasa saja.
"Belum. Mungkin besok aku akan pergi ke dokter kandungan"ucap Fany sambil menunduk.
"Sudah berapa kali kukatakan padamu!! Kau jangan menunduk saja, tapi kau harus tegapkan kepalamu saat lawan bicaramu sedang berbicara"ucap Austin.
"Baik Austin"ucap Fany yang sudah menegapkan kepalanya.
Seperti biasa Fany mengikuti Austin dan menemaninya berangkat kerja.
Mobil jemputan Austin sudah menunggu di depan.
Austin yang sudah bersiap masuk ke mobil tiba-tiba mendekati Fany.
"Besok aku akan menemanimu ke dokter kandungan"ucap Austin.
"Tidak Austin. Biar aku sendiri saja"bantah Fany.
"Dia juga anakku Fany. Aku perlu ikut dan memastikan bahwa dia baik-baik saja"ucap Austin dengan kata yang tak terbantahkan.
Fany bingung dan tidak mengerti dengan sikap dari Austin.
Dia tidak ingin Austin memberinya harapan palsu.
"Apa kau keberatan?"tanya Austin yang hanya melihat Fany terdiam.
"Aku tidak keberatan Austin. Aku hanya tidak ingin kau terganggu dengan urusanmu hanya karena menemaniku pergi check up" ucap Fany.
Ya. Fany tak ingin gara-gara pergi menemaninya karena hal itu dapat menyita waktu kebersamaan Austin dengan Sesilia.
"Besok aku tidak sibuk bekerja, mungkin aku hanya kerja di rumah saja"ucap Austin.
"Baiklah Austin. Kalau kau sudah berkata seperti itu, aku tidak bisa membantahnya"ucap Fany.
Austin pun masuk ke dalam mobilnya, tapi saat hendak masuk Fany tiba-tiba memanggilnya.
"Ada apa?"tanya Austin.
"Tidak jadi" ucap Fany.
Fany pun langsung masuk ke dalam mansion itu.
Sebenarnya Fany ingin memeluk tubuh Austin, tapi dia malu dan takut untuk mengatakanya.
Dia takut kalau Austin pasti akan menolaknya.
Fany tidak tahu kenapa dia sangat ingin memeluk tubuh Austin.
Fany pun berpikir mungkin itu pengaruh dari kehamilannya.
Ya ini pasti karena anaknya ingin sekali memeluk ayahnya itu.
Austin yang melihat sikap Fany hanya bisa mengelengkan kepalanya.
Dia pun masuk ke dalam mobil dan langsung berangkat menuju kantornya.
🌷🌷🌷
Hari ini adalah hari dimana Charles akan datang ke perusahaannya Austin untuk mengembalikan berkas dokumen yang di antar oleh Ronald waktu itu.
Akhirnya Charles dan Austin sudah menandatangani kontrak kerjasama mereka.
Wartawan sudah ada di ruang pertemuan untuk melakukan pertemuan pers. Mereka terlihat ingin mengabadikan momen tersebut.
Setelah semuanya selesai, terlihat Charles mendekati Austin di meja kerja milik Austin.
"Akhirnya semua berjalan dengan lancar Austin"ucap Charles.
"Hmm"ucap Austin yang hanya berdeham.
__ADS_1
"Aku akan bekerja dengan lebih baik nanti Austin"ucap Charles dengan percaya diri.
"Aku sangat menantikan itu Charles"ucap Austin.
"Bagaimana kabarnya Fany?"ucap Charles dengan tiba tiba.
Itu karena Charles sangat khawatir pada Fany sejak kejadian tadi malam.
"Dia baik-baik saja. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya"ucap Austin dengan tegas dan nada bicara terdengar seperti yang tidak suka pada Charles.
"Baguslah. Aku sangat khawatir sekali denganya"ucap Charles lagi dan itu malah membuat Austin terlihat kesal.
"Kau jangan sangat sok perhatian sama istriku"ujar Austin.
"Apa kau menganggapnya sebagai istrimu?"tanya Charles.
Charles pun mendapat tatapan mematikan dari Austin setelah bertanya seperti itu.
"Jika memang kau menganggapnya sebagai istrimu, Kenapa kau malah membiarkan dia tinggal satu rumah dengan kekasihmu?"ucap Charles.
Charles marah ketika mengetahui bahwa Sesilia tinggal satu atap dengan Austin dan Fany.
"Apa kau tidak memikirkan perasaannya? Istri mana yang tidak sakit hati jika suaminya mengajak kekasihnya tingggal satu atap dengannya" ucap Charles yang mencoba menyulutkan emosi Austin.
Austin yang mendengar itu langsung membogem wajah Charles sehingga Charles terjatuh ke lantai.
"Kau jangan mencampuri urusanku"ucap Austin yang terlihat emosi.
Charles yang menerima pukulan Austin hanya diam dan tak membalasnya.
"Kau camkan baik baik Austin!!! Jika kau membuat hati Fany tersakiti dan terluka, maka aku akan mencoba mengambilnya darimu" ucap Charles sambil bangkit dari lantai itu.
"Coba saja jika kau bisa"tantang Austin.
"Baik. Jangan meremehkan aku, Austin"ucap Charles sambil pergi meninggalkan ruangan Austin.
Saat dia pergi, Charles tak sengaja berpapasan dengan Sesilia.
Sesilia yang melihat Charles yang keluar dari ruangan Austin hanya mencoba untuk mengabaikannya.
Begitu juga dengan Charles, itu karena dia tidak mau berurusan lagi dengan Sesilia.
Charles pun langsung pergi dari perusahaannya Austin.
🌷🌷🌷
Austin yang masih emosi hanya diam dan mengabaikan Sesilia.
"Kenapa kau mengabaikanku, Austin?"ucap Sesilia yang mulai kesal.
"Kau jangan mengangguku Sesilia!”bentak Austin.
"Kenapa kau membentakku Austin? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?"ucap Sesilia.
Austin hanya diam saja dan itu membuat Sesilia marah.
"Apa kau menikah dengan Fany karena kau sudah mencintainya?"tanya Sesilia.
"Itu karena dia sedang mengandung anakku"protes Austin.
"Apa kau yakin kalau bayi yang ada di kandungannya itu benar-benar bayimu?”tanya Sesilia.
Austin terkejut mendengar perkataannya Sesilia.
"Bagaimana jika itu bukan anakmu? Kita tidak tahu apakah dia cuma mau memanfaatkanmu dengan mengatakan itu adalah anakmu. Dan siapa tahu dia hanya mau hartamu saja. Kita tidak tahu apa ini adalah rencananya untuk menipu dan memanfaatkanmu atau tidak?"ucap Sesilia.
Austin pun mengingat dengan perkatan Alex yang ingin mengambil hartanya. Dan itu mulai membuat Austin emosi.
"Apalagi dia berteman dengan banyak pria. Contohnya saja Charles, Fany sangat dekat dengan Charles. Siapa tahu anak yang ada di dalam kandungan itu adalah anak Charles"ucap Sesilia yang memanasi Austin.
Austin yang emosi dan tidak berpikir jernih
langsung mengambil kesimpulan bahwa yang di katakan Sesilia itu benar.
Emosinya semakin tersulut, saat dia juga mengingat perkataan Charles tadi.
"Kau harus segera menceraikan sebelum terlambat"ucap Sesilia.
"Aku tidak akan membuat rencanamu berhasil Fany"ucap Austin yang sudah marah besar.
Austin pun langsung pergi dari ruangan itu dengan kondisi yang sudah marah besar.
"Akhirnya rencanaku berhasil juga"ucap Sesilia sambil menatapi kepergian Austin dari ruangan itu.
🌷🌷🌷
Di sore hari, terlihat Fany yang sedang berjalan sore di sekitaran kompleks perumahan itu.
Dan Fany tidak sengaja bertemu dengan Charles yang kebetulan sedang jogging di sekitaran kompleks.
__ADS_1
"Fany"
"Charles"
"Kau sedang apa Fany?"
"Aku sedang jalan-sore Charles"
"Maaf karena tidak bisa membelamu kemarin malam"
"Tidak apa-apa Charles"
"Aku marah terhadap diriku sendiri karena tidak bisa melakukan apapun untukmu malam itu. Aku hanya bisa melihatmu yang selalu di hina mereka"
"Jangan menyalahkan dirimu Charles. Aku tidak apa-apa kok. Lagian ini bukan salah siapa-Siapa"
Charles mendekati Fany. Dia menatap wajah Fany dengan Seksama.
"Kenapa kau bisa sekuat ini dalam menanggung semua penderitaaanmu Fany?"ucap Charles secara tiba tiba.
"Aku tidak akan membiarkan orang sampai menyakitimu lagi Fany, karena aku tidak ingin melihatmu menderita"ucap Charles sambil memeluk Fany.
Fany terkejut dengan perlakuannya Charles.
"Charles. Kenapa kau seperti ini?"tanya Fany sambil melepaskan pelukan itu.
"Maafkan aku Fany. Aku kelupaan dan terbawa suasana"ucap Charles.
"Tidak apa-apa Austin"ucap Fany.
Ternyata kejadian itu di lihat Austin dari dalam mobilnya. Dan Austin menyalah artikan itu semua.
"Jadi benar apa yang dikatakan Sesilia tadi"ucap Austin.
Austin pun menyuruh Roy melajukan mobil itu menuju mansionnya.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya Charles"ucap Fany.
"Baiklah aku akan mengantarkanmu pulang"ucap Charles.
"Tidak Charles, aku akan pulang sendiri" tolak Fany.
Charles pun terpaksa menyetujuinya.
Dia hanya bisa melihat punggung Fany yang berjalan jauh meninggalkannya.
"Keep strong Fany"ucap Charles.
Kemudian Charles pulang menuju apartemennya yang berlawanan arah dengan Fany.
🌷🌷🌷
"Akhirnya kau sampai juga" ucap Austin yang ternyata menunggu kepulangan Fany.
"Austin"
"Lusa. Aku harap kau bisa datang ke pengadilan agama untuk mengurus penceraian kita"ucap Austin.
"Cerai? Lusa?" ucap Fany yang tak percaya.
"Bukankah kita akan mengurus penceraian ini sampai anak ini lahir? "tanya Fany.
"Aku tidak sudi menunggu anak itu, karena dia mungkin bukan bayi kandungku. Mungkin saja itu anak lelaki lain yang tidak mau bertanggung jawab pada mu, jadi kau langsung memanfaatkan karena kejadian saat di hotel itu" ucap Austin.
Hati Fany terasa sangat sakit mendengar perkataannya Austin.
Apakah Austin secara tidak lansung mengatakan bahwa dia wanita ******.
Dia tidak pernah melakukan itu kepada pria lain selain Austin.
"Aku tidak tahan lagi Austin. Aku akan membesarkan anak ini sendirian jika kau tidak mau mengakuinya "batin Fany.
"Baiklah Austin. Lusa aku akan datang ke sana" ucap Fany.
Austin pun pergi menuju ke kamarnya dan meningggalkan Fany yang berada di ruang keluarga itu.
Setelah kepergian Austin, Fany langsung tersungkur kelantai.
"Aku akan menyerah untuk mendapatkan cintamu Austin. Aku akan membesar anak ini meskipun kau tidak mau mengakuinya" ucap Fany dengan air mata yang tidak bisa terbendung lagi.
🌷🌷🌷
Selamat membaca ya
Jangan lupa like dan beri komentar kalian
Agar aku dapat lebih semangat lagi menulis nya😊😊
Saranghae semuanya
__ADS_1