
Della pun keluar dari ruangan bosnya.
"Kenapa tuan Charles khawatir sama Tiffany? Apa jangan-jangan dia suka sama Tiffany?"batin Della.
"Semoga saja iya,"ucap Della yang sangat senang dan mendukung jika bosnya itu suka sama Fany.
.....................
Setelah acara pernikahan selesai, Austin memutuskan untuk pulang sendirian, karena Tiffany ingin bersama Ayahnya dulu.
Dua hari menghabiskan waktu bersama keluarga kini Fany sudah mengantarkan Ayah dan kakaknya ke bandara untuk kembali ke Taiwan.
"Jaga kesehatanmu ya Nak,"ucap Thomas.
"Baik ayah,"ucap Tiffany sambil memeluk Ayahnya.
"Kak Alex, aku akan merindukanmu,"ucap Tiffany yang kini beralih memeluk Alexander.
"Kakak juga akan merindukanmu. Pokoknya jaga kesehatanmu karena saat ini kamu sedang mengandung keponakan kakak,"ucap Alex.
"Baik kak Alex,"ucap sambil tersenyum.
"Good Girl,”ucap alex sambil mengusap rambut adiknya itu.
Akhirnya setelah Ayah dan kakaknya pergi, Tiffany kini bersiap-siap untuk pergi ke rumah suaminya.Ya suaminya adalah Austin Nero.
"Nona, saya akan mengantarkan anda ke mansion "ucap Roy yang sudah di utus oleh Austin untuk menjemput Tiffany.
"Baik tuan"ujar Fany.
"Jangan panggil saya begitu. Santai saja, nona. Kamu cukup panggil saya Roy saja" ucap Roy sambil tersenyum.
"Hmm..iya Roy "ucap Tiffany tersenyum juga.
...............
Di sebuah mansion yang cukup luas terlihat mobil berwarna hitam elegan masuk kedalam halaman mansion itu.Ya itu mobil yang dinaiki oleh Tiffany. Kini dia sudah sampai dan dia cukup terkejut melihat tempat tinggal milik Austin yang besar dan luas.
"Ayo masuk Tiffany, Austin sudah menunggumu di dalam,"ucap Roy.
"Eh... iya,"ucap Fany yang terkejut karena Roy tiba-tiba memanggilnya saat dia sedang asik menatap rumah besar itu.
Sedangkan Austin terlihat sedang berbicara telepon dengan rekan bisnisnya. Lalu di sela-sela dia berbicara dengan seseorang, tampak Tiffany yang sudah sampai di dalam rumah mewah Austin.
"Charles. Bicaranya cukup sampai disini ya. Aku ada urusan penting,"ucap Austin dan setelah mendapat respon dari lawan bicara, Austin langsung mengakhiri panggilan.
"Tiffany, kau sudah lama sampai?"tanya Austin.
"Eh tidak...Aku baru tiba kok, Austin,"ucap Tiffany.
"Baiklah. Ayo, aku akan mengantarkanmu ke kamarmu,"ucap Austin.
Austin pun melangkah kakinya ke anak tangga untuk naik ke lantai atas menuju kamar. Tiffany hanya diam membisu dan mengekori Austin dari belakang.
Saat sedang berjalan Tiffany pun tersandung karena dia tidak memperhatikan jalannya. Beruntung dia tidak apa-apa dan tidak terjatuh sehingga bayi dalam perutnya baik-baik saja.
"Kamu baik-baik saja?"ucap Austin yang menyadari kalau Tiffany tersandung.
"Aku baik-baik saja Austin,”ucap Tiffany.
"Apa kau yakin? Aku akan membawamu ke dokter, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan bayi kita,"ucap Austin.
Tiffany terkejut mendengar perkataan Austin yang mengatakan "Bayi kita."Tiffany merasa terharu dan cukup senang, setidaknya dia yakin dan tau kalau Austin pasti akan menyayangi anak mereka.
"Aku baik-baik saja Austin. Kamu jangan khawatir,"ucap Tiffany.
"Baiklah, kalau kau berbicara seperti itu,"ucap Austin sambil membawa Tiffany dengan menggenggam tangannya karena dia tidak ingin Fany tersandung lagi, sedangkan tangannya yang satu lagi memegang koper milik Fany. Kini mereka sudah tiba di sebuah kamar.
"Ini kamarmu,"ucap Austin.
"Dan di sana kamarku,"ucap Austin sambil menunjuk ke arah sebuah ruangan yang tak jauh dari kamar Fany.
Mereka pun masuk ke dalam kamar Fany. Terlihat sebuah ruangan yang warnanya bernuansa serba putih, mulai dari dinding kasur, dan serta perabotan yang ada di dalam kamar itu.
"Aku tau kalau kamu suka warna putih,"ucap Austin.
"Iya, tapi kamu tau dari mana Austin?"tanya Tiffany.
__ADS_1
"Dari Ayahmu. Oh ya, kenapa sih kamu suka warna putih?”ucap Austin.
"Karena warna putih itu membuatku terasa nyaman dan juga membuat aku terasa begitu tenang,"ucap Tiffany.
Setelah itu mereka diam dan tak berbicara apa-apa lagi. Setelah cukup lama diam, Austin tiba-tiba berbicara dan mengatakan pada Tiffany kalau pernikahan mereka ini bukan di dasarkan karena cinta tapi karena adanya bayi di perut Tiffany. Jadi dia mau mereka tidak usah saling memperhatikan seperti layaknya suami istri. Dia juga tidak ingin kalau Ibunya mengetahui hal ini.
"Baiklah Austin, kau tidak perlu khawatir, aku akan berusaha agar Ibumu tidak mengetahui nya,"ucap Tiffany.
Sebenarnya Tiffany sedikit syok mendengar apa yang Austin katakan, tapi kemudian dia mengerti maksud perkataan Austin.
"Kamu tau kalau aku hanya mencintai satu wanita saja. Dan wanita itu hanyalah Sesilia."ucap Austin.
Austin sengaja menekankan nama kalimat itu di hadapan Fany, dan Tiffany hanya diam saja. Dia tak tahu harus sedih atau senang dengan perkataan Austin padanya. Tapi dia tetap harus mencoba berfikiran positif untuk semua ini.
"Aku pergi dulu,"ucap Austin.
"Hmm iya,"jawab Fany.
Setelah Austin pergi, Tiffany langsung membawa kopernya menuju lemari karena dia ingin menyusun semua barang dan pakaiannya. Saat dia membuka lemari dia terkejut melihat lemari pakaiannya yang ternyata sudah diisi beberapa baju,tas dan juga sepatu.
"Wah, semuanya terlihat cantik,"ucap Tiffany
Lalu Tiffany melihat sebuah pesan yang di tulis Austin untuknya di atas sebuah piyama dengan warna lembut. Dia mengambil kartu ucapan itu dan membacanya.
"Aku tau kalau kamu terkejut, kamu jangan menolaknya, karena itu semua adalah hakmu dan ini sudah kewajibanku juga untuk memenuhi kebutuhanmu"
Tiffany terharu membaca tulisan yang ada pada kertas itu.
"Austin. jika kamu bersikap manis seperti ini, aku takut kalau aku akan jatuh hati padamu,"batin Tiffany.
......................
Di malam hari, Tiffany sudah selesai mandi dan memakai piyama. Malam ini, dia belum bisa terlelap. Tiba-tiba Fany mendengar suara perutnya berbunyi. Dia mengeluh kenapa dia harus lapar di jam seperti ini? Tak ada pilihan lain, Tiffany pun harus keluar dan pergi menuju ruang makan. Dia membuka kulkas dan takjub melihat banyaknya makanan yang ada di kulkas.
"Aku masak apa ya,"ucap Tiffany.
"Kamu kenapa belum tidur?"ucap seseorang dari bariton.
Tiffany terkejut dengan kehadiran seseorang di dapur.
"Itu.. Aku sangat lapar dan aku lihat tidak ada makanan yang belum tersaji, jadi aku ingin memasak,"ucap Tiffany.
"Hmm apa???"tanya Fany.
"Kamu duduk, biar aku yang masakkan,"ujar Austin.
"Tidak usah Austin, aku gak mau membuatmu kerepotan,”Fany merasa tidak enak hati.
"Tidak apa apa Fany,”ujar Austin.
"Baiklah Austin,"ucap Fany yang terpaksa.
Tiffany pun duduk dekat meja makan dan melihat Austin yang sudah mulai memasak.Austin memilih memasak spaghetti yang menurut cepat di saji. Tiffany diam-diam menatap Austin yang tengah memasak.
"Tampan,"batin Fany.
"Tidak Fany, dia sudah jadi milik orang,"batin Fany sambil mengelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa Fany?" ucap Austin yang melihat Tiffany mengelengkan kepalanya.
"Hmm. Aku tidak apa-apa, Austin,"ucap Tiffany yang merasa ketangkap seperti orang pencuri.
Austin kembali memasak. Setelah siap memasak, dia meletakkan mie itu dia piring dan menghiasnya dengan rapi dan memberikan kepada Tiffany.
Tiffany mengambil makanan yang diberikan Austin dan langsung melahap makanan itu karena dia benar-benar merasa sangat lapar. Mungkin itu pengaruh kehamilannya ini yang membuatnya makan sangat banyak.
"Kamu pelan-pelan saja makannya. Kamu tenang saja, aku tidak akan memintanya kok,"ucap Austin yang melihat Fany makan dengan cepat seperti takut jika makanannya di ambil orang.
"Hmm. Maaf Austin. Aku sangat lapar, aku tidak tau kenapa akhir-akhir ini aku sering cepat lapar,"ucap Tiffany.
"Mungkin ini karena pengaruh hormon kehamilanmu."
"Benarkah? Kamu tau dari mana, Austin?"
"Aku tau dari Ibuku. Ibu pernah menceritakannya ketika sedang mengandung diriku. Saat itu, dia sering sekali makan karena cepat laparnya dan itu membuat Ayahku kewalahan. Ibu pernah lapar di tengah malam dan saat itu tidak ada yang bisa di masak, akhirnya Ayah memutuskan untuk mencari makanan keluar di malam hari,"ucap Austin sambil tersenyum.
"Aku sangat yakin jika bayi yang ada di kandunganku ini akan memiliki sifat sepertimu,"ucap Tiffany.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa yakin?"ucap Austin.
"Karena pengalaman Ibumu sama sepertiku,"ucap Tiffany.
"Kamu ada-ada saja,"ucap Austin.
"Hmm. Akhirnya kenyang juga."
"Bagaimana masakanku? Enakkah? "
"Enggak.”
"Tidak enak tapi makanan sudah habis,"
"Tapi bohong...Hahaha. Maafkan aku, masakkanmu enak kok,"ucap Tiffany sambil mengacungkan jempolnya.
"Tidak diragukan lagi."
"Kamu kok pintar masak ya, secara kau ini seorang Ceo di perusahaan besar."
"Jadi karena aku seorang Ceo, aku tidak boleh memasak gitu."
"Bukan begitu, kan pada umumnya orang orang hebat sepertimu pada umumnya mempekerjakan Art atau menyewa koki hebat tapi aku tidak ada melihat tanda-tanda orang yang akan bekerja di sini."
"Memang iya. Aku tidak mempekerjakan seseorang untuk mengurusi rumah ini dan memasak untukku karena aku tidak ingin ada orang-orang yang menganggu privasiku."
"Oh gitu alasannya."
"Tapi karena kau sudah jadi istriku dan kau sedang mengandung anakku, sepertinya aku harus mempekerjakan ART di rumah ini."
"Tidak...Tidak perlu Austin biar aku saja, aku tidak memerlukannya."
"Tapi aku tidak ingin kau merasa kecapean dan membahaya bayi ini."
"Tidak kok. Lagian aku tidak ingin di ganggu orang lain juga."
"Baiklah. Sekarang kau tidurlah ini sudah larut malam tidak baik wanita hamil tidur larut malam."
"Iya Austin."
Tiffany bergesas pergi menuju kamarnya, tapi dia tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Austin...Itu besok aku akan mulai bekerja di perusahaanku lagi."
"Kamu tidak boleh bekerja lagi, lebih baik kamu urus surat pengunduran diri di perusahaan tempat kau bekerja."
"Tapi Austin---"
"Tidak ada tapi tapian, aku tidak ingin kamu kecapean karena bekerja dan itu pasti akan membahayakan bayi yang ada di kandunganmu."
"Baiklah Austin."ucap Tiffany dan pergi ke kamarnya.
Keesokan harinya...
Tiffany pun datang ke kantornya dan berniat mengundurkan diri. Dia bertemu Della yang tiba- tiba langsung memarahinya.
"Kau kenapa lama sekali liburannya?"
"Maafkan aku Della."
"Kau mau kemana?"
"Aku mau ke ruangan tuan Charles"
"Ngapain Fany?”tanya Della.
"Kau akan tau sendiri nanti, aku pergi dulu ya,"ucap Fany lalu bergegas pergi menuju ruangan Charles .
Setelah sampai di depan pintu yang bertuliskan Ceo, dia diam sejenak dan menghelakan nafasnya.
"Semoga tuan Charles mengerti dengan kondisiku,"batin Tiffany.
Selamat membaca ya readersku
jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya
Dan jangan lupa dibaca dan beri like serta kasih komentar kalian
__ADS_1
Maaf ya karna selalu telat Up nya