
Pada hari yang sudah ditentukan, Austin sudah ada di sebuah hotel yang ada di kota New York. Terlihat Austin yang tengah menikmati keindahan kota New York dengan memandang kota tersebut dari balkon kamar hotel yang sudah dia booking tadi.
Sekilas Austin tersenyum. Pipinya terlihat merah merona saat sedang membayangkan betapa romantisnya lamaran yang akan dia lakukan untuk Sesil nanti.
Tapi sebelum melakukan rencana lamaran itu, Austin terlebih dahulu harus memperkenalkan Sesilia kepada Ibunya di hotel itu juga.
Dari gedung sebelah, tampak seorang laki-laki yang memperhatikan gerak-gerik Austin.
Kemudian laki-laki itu terlihat sedang menelpon seseorang dan berkata agar menjalankan rencana itu dengan sebaik mungkin. Tak lupa juga laki-laki itu berpesan lagi agar rencana mereka jangan sampai di ketahui orang lain.
“Aku akan membunuhmu, Austin!”ucap laki laki itu sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
.........................................
Saat ini Austin sedang ada di restoran yang ada pada hotel tersebut sambil menunggu kedatangan Ibunya dan kekasihnya.
Tiba-tiba ada seorang pelayan yang mengantarkan minuman kepadanya dan ternyata mereka adalah suruhan orang yang begitu membenci Austin tadi.
"Tuan, ini adalah wine terbaik yang ada di restoran hotel ini!"ucap pelayan yang sedang menyamar itu.
Di tempat lain, Fany mendapat pesan dari Christian yang menyuruh Fany untuk segera datang ke sebuah tempat.
Saat sudah mengetahui alamatnya, Fany langsung bergegas pergi ke tempat itu.
Kini Fany pun sudah sampai di sebuah hotel yang ternama di kota New York tersebut.
" Ada apa Christian memanggilku ke tempat seperti ini?”tanya Fany saat sedang ada di loby hotel.
Fany mulai berpikiran negatif. Tapi seketika dia langsung mengelengkan kepalanya untuk membuang pikiran kotor itu dari dalam pikiran.
.............................
Berbeda dengan Sesilis Marvis yang malah sudah ada di bandara.
Ketika dia hendak menghubungi Austin, tiba-tiba Austin sudah menelponnya duluan.
“Kebetulan sekali kau menelponku sayang!”ucap Sesilia sambil tersenyum.
“Halo sayang”ucap Sesilia saat sudah mengangkat panggilan itu.
"Kau sudah ada di mana? tanya Austin menanyakan keberadaan Sesilia.
“Maafkan aku sayang. Aku tidak bisa datang ke hotel!”ucap Sesilia yang terlihat sedikit tidak tega untuk mengatakannya kepada Austin.
“Kenapa?”tanya Austin yang terdengar sedikit kecewa.
“Sayang, sekarang aku sudah ada di bandara! Sebentar lagi aku akan landing ke Jepang. Maafkan aku! Tiba-tiba aku ada project penelitian penting dengan rekanku agar aku bisa segera menyelesaikan studiku”ucap Sesilia yang menjelaskan kalau dia sedang menyelesaikan tugas akhirnya untuk mendapatkan gelar professornya.
“Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?”tanya Austin yang nada bicaranya terdengar sedang marah bercampur ada rasa kecewa.
“Maafkan aku karena tidak memberitahumu! Aku tahu kalau yang kulakukan ini sangat salah, seharusnya aku memberitahumu dulu”ucap Sesilia yang tidak tahu harus berkata apa-apa lagi.
"Baiklah. Kalau itu sudah jadi keputusanmu, akut idak bisa berbuat apa-apa lagi!"Austin yang berbicara dan langsung memutuskan panggilan tersebut.
__ADS_1
Austin terlihat sangat kecewa dan sedih. Padahal dia sudah merencanakan kalau nanti dia akan melamar Sesilia di kamar hotel itu, tapi rencananya itu sudah hancur karena Sesilia memutuskan untuk pergi. Kini Austin hanya bisa membuang angan-angannya itu sejauh mungkin.
Seusai menelpon Sesilia, Austin pun langsung menghubungi Ibunya untuk tidak jadi datang ke hotel karena rencananya itu sudah pupus.
Delila yang mendapat kabar itu pun hanya bisa menghela napas karena keinginannya untuk mendapatkan seorang menantu lagi-lagi gagal karena kebodohan putranya yang tidak bisa mendapatkan hati seorang wanita.
Saat ini Austin sedang menikmati makanan di restoran yang ada di hotel mewah bintang lima itu.
Setelah siap makan, Austin meminum wine yang di berikan oleh pelayan tadi.
Karena sedang kecewa dan kesal. Austin tanpa curiga pun langsung meneguk wine itu sampai habis. Austin merasa kalau wine adalah teman yang paling cocok untuk menghibur keadaanya saat ini.
Padahal di dalam wine itu sudah di campur dengan obat perangsang. Dari kejauhan pelayan yang mengantar wine tadi hanya bisa tersenyum licik dan senang dan ternyata pelayan itu adalah suruhan dari orang yang menjadi musuh besar Austin.
"Aku hanya tinggal menunggu hasilnya saja!"batin pelayan itu.
Dari kejauhan pria itu tersenyum bahagia karena rencana akan berhasil sedikit lagi dan pria itu bernama Alexander Lee.
"Ini adalah bentuk balas dendamku padamu Austin karena kau sudah membunuh Ibuku! Sebenarnya aku ingin membunuhmu tapi sayangnya aku tidak mau mengotori tanganku ini. Aku hanya ingin membuat berita heboh mengenai dirimu dan dengan berita itulah yang akan menuntunmu kepada kematian! Tunggu saja Austin!"ucap pria itu.
“Segera kau pesan wanita malam untuk melayani Austin tapi kau jangan lupa untuk mengabadikan moment itu! Suruh dia cepat datang kemari agar dia bisa membawa Austin langsung ke ruangannya! Kalau Austin sudah masuk duluan akan sangat sulit bagi kita bisa mengakses untuk masuk ke ruangan itu dan semua rencanaku pasti akan hancur berantakan!”ucap pria itu saat sedang menelpon seseorang.
Setelah selesai menelpon, pria itu sekilas menatap ke arah Austin yang sudah terlihat aneh. Ada kemungkinan obat itu sudah mulai bereaksi di tubuhnya Austin. Seketika pria itu pun tersenyum dan setelah itu dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Benar saja obat yang tercampur dalam minuman tadi kini mulai bereaksi di tubuh Austin.
Tiba-tiba saja Austin merasa ada yang aneh dalam dirinya.
Austin pun memutuskan untuk kembali ke kamar hotel yang sudah dia booking. Terlihat Austin berjalan terhuyung-huyung saat akan menuju kamarnya. Saat sedang dalam perjalanan menuju kamarnya tepatnya di sebuah lobi, Austin tidak sengaja menabrak seseorang lantaran dirinya tidak memperhatikan jalan dengan baik.
“Panas!”ucap Austin sambil membuka kancing atas kemejanya karena merasa sedikit kepanasan.
“Apa dia sedang demam?”tanya Fany yang masih tidak tahu apa-apa sambil memegang dahi Austin.
Sebenarnya Fany sedang mencari nomor kamar yang ingin dia kunjungi karena Christian sudah memberitahunya dan menyuruhnya untuk segera datang ke nomor ruang kamar itu.
“Dia tidak deman tapi kenapa dia terlihat seperti cacing kepanasan?”batin Fany sambil memperhatikan gerak-gerik Austin.
“Tolong beritahu aku berapa nomor kamarmu biar aku bisa membawamu ke sana! Sepertinya kau sedang tidak baik-baik saja!”ucap Fany yang dalam hatinya timbul untuk membantu orang yang ada di hadapan ini meskipun orang itu sempat meninggalkan kesan yang tidak baik padanya saat di supermarket waktu itu.
Austin pun mengatakan nomor ruangan meski dalam keadaan seperti itu. Saat sudah mengetahuinya Fany langsung memapah Austin menuju kamar Austin.
“Tuan, tolong perhatikan langkah kakimu! Kau menginjak kakiku! Apa kau pikir itu tidak sakit?”ucap Fany yang terlihat sedikit kesal karena Austin tidak sengaja menginjak kakinya.
Austin tidak mendengar ocehan Fany. Mau tidak mau Fany harus bersabar membawa Austin menuju ruang kamar pria yang sedang dia papah itu.
Akhirnya mereka sudah ada di depan pintu kamar vvip.
“Sepertinya pria ini dari golongan orang kaya!”batin Fany.
“Mana cardnya?”tanya Fany.
Austin pun mengambil Card itu dan memberikannya pada Fany.
__ADS_1
“Apa perlu aku juga yang harus membuka pintu ini?”ucap Fany sambil memasukkan card itu.
Saat pintu sudah terbuka, Fany pun membawa Austin yang terlihat seperti cacing kepanasan dan ingin segera pergi dari tempat itu.
Saat ingin berjalan ke kasurnya, Austin mencoba untuk menetralkan rasa panas yang menjalar di tubuhnya dan langkah Austin masih belum tegap.
Fany mencoba bersabar saat berjalan memapah Austin menuju kasurrnya.
“Sial, aku terlambat datang! “ucap seorang wanita yang terlihat marah dan kesal karena pintu kamar Austin sudah tertutup.
Wanita itu terlihat berpakaian seksi. Dia pun menelpon seseorang kalau rencana mereka sudah gagal. Tapi dia mengatakan kalau Austin masuk bersama seorang wanita dan itu membuat Alexander terlihat marah saat mendapat kabar itu.
Kembali dengan Fany merebah tubuh Austin ke kasur king size itu.
Saat Fany ingin pergi tiba-tiba Austin menarik tangannya sehingga Fany jatuh ke dalam pelukan Austin.
Austin pun langsung membalikan tubuhnya dan menindih tubuh Fany.
“Maaf tuan!! Aku mau pergi dulu karena pacarku pasti sudah menunggu saat ini”ucap Fany yang terlihat berusaha untuk keluar dari kukungan Austin.
“Bukankah kau mengatakan kalau kau akan pergi ke Jepang, sayang?”tanya Austin yang menganggap kalau Fany itu adalah Sesilia dan itu semuanya terjadi karena pengaruh obat itu sehingga membuat Austin tidak bisa menagenali lagi orang yang sedang dia kukung itu.
“Maaf tuan. Saya adalah Tiffany Lee bukan Sesilia”bantah Fany.
Austin yang sudah terangsang tidak menghiraukan perkataan Fany, justru dia langsung menyibak selimut itu sampai jatuh ke lantai. Lalu Austin langsung mencium Fany yang mana dia menganggap wanita yang sedang dia kukung itu adalah Sesilia.
Fany memberontak saat mendapat perlakuan itu tapi karna Austin memiliki tenaga yang lebih kuat darinya sehingga membuat perlawanannya itu sia-sia saja.
Austin mengigit bibir bawah Fany sehingga Fany spontan membuka mulutnya dan membuat Austin dengan mudah mengabsen setiap sudut di mulut Fany,
lidah mereka saling melilit dan saling menukar saliva masing masing.
"Ahh..."desah Fany saat ciuman Austin turun ke lehernya.
"Kau sangat nikmat Sesil"ucap Austin yang mengira gadis yang tengah di cumbuinya adalah Sesil sedangkan Fany malah ikut larut dalam permainan Austin.
Austin menghentikan kegiatan nya. Dia langsung menyingkap pakaian Fany dan pakaiannya dan membuang dengan sembarangan
Kini tubuh mereka benar-benar sudah polos tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.
Akhirnya terjadilah malam begitu panjang bagi mereka karna Austin tidak sekali melakukan itu tapi berkali kali. Akhirnya mereka tertidur karna lelah habis olahraga yang begitu melelahkan.
Keesokan paginya. Fany tampak sudah tak berbusana di balik selimut putih yang menutupi tubuhnya saat ini. Dia terbangun ketika sebuah tangan kekar memeluk tubuhnya. Melihat keadaan seperti itu membuat Fany ingin menangis dan merutuki kebodohannya sendiri yang malah ikut terhanyut dalam permainan pria yang sedang tertidur di sebelahnya itu.
Kini harta berharga yang dia jaga selama ini sudah hilang begitu saja. Tak mau berlama-lama dan menunggu pria di sampingnya itu sampai terbangun.
Fany pun terlihat ingin bangkit tapi di saat dia ingin bangun tiba-tiba Fany merasakan sakit yang teramat sakit di daerah sensitifnya karna Austin melakukan itu berkali kali sampai pengaruh obat itu hilang.
Saat sedang berusaha untuk bangun tiba-tiba Austin membuka matanya. Dia kaget saat melihat wanita asing ada di dalam kamarnya dan dalam keadaan yang sama sepertinya.
“Kau siapa?”tanya Austin yang terlihat kaget dan marah.
Beri like dan komentar kalian ya readers
__ADS_1
Selamat membaca