Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Sembilan Belas


__ADS_3

Suara derum mobil pun terdengar di kompleks perumahan elit dan berhenti di sebuah rumah yang besar dan luas.


"Apa kita berada di tempat yang benar dan tidak salah jalan kan? Apa ini rumah suamimu?"tanya Charles.


"Benar. Kita berada di tempat yang benar dan ini memang tempat tinggal suamiku"jawab Tiffany.


"Tapi kau mengatakan kalau suamimu hanya seorang karyawan biasa tapi kenapa dia punya rumah seperti istana"ucap Charles yang menatap kagum dari gerbang rumah itu.


"Oh my god. Seharusnya aku menyuruhnya mengantarku sampai di persimpangan kompleks saja tadi. Aku jadi ketahuan berbohong padanya"batin Tiffany.


"Maaf aku sebenarnya tadi berbohong.Sebenarnya suamiku seorang pimpinan di perusahannya"


"Apa nama perusahaan? Sepertinya aku akan mengenalinya"ucap Charles.


"Aku tidak tau nama perusahaannya"


"Siapa nama suamimu?"


"Maaf Charles. Aku tidak bisa memberitaukanmu soal itu"ucap Tiffany sambil menundukkan kepala.


"Baiklah Fany. Aku pun tidak akan memaksamu untuk memberitahukannya padaku"


"Terima kasih atas pengertianmu Charles"


"Hmm iya. Kalau begitu aku pulang dulu ya "


"Baiklah. Hati-hati ya pak dalam menyetir mobilnya"ucap Tiffany pada sopir pribadi Charles.


"Apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu padaku?"


"Kamu juga hati-hati ya. Jangan lupa beristirahat kalau sudah sampai di rumah"ucap Tiffany sambil mendorong tubuh Charles masuk ke dalam mobil.


"See you again Tiffany"ucap Charles sambil memangkukan kepalanya di jendela mobil dan melambaikan tangannya.


"See you too Charles"ucap Tiffany.


Setelah mobil Charles sudah pergi menjauh Tiffany pun masuk ke dalam rumah milik Austin.


"Selamat malam nyonya muda"salam Security yang duduk dekat pos gerbang.


"Selamat malam juga pak"jawab Tiffany sambil tersenyum.


 


Tiffany masuk ke dalam rumah dan melihat Austin tengah duduk di sofa dan tengah menatap layar ponselnya.


"Kamu sudah pulang duluan ya?"tanya Tiffany.


"Hmm"jawab Austin yang terlihat cuek.


"Cuma hmm saja" batin Tiffany.


Tiffany pun berjalan menuju lantai atas karena dia ingin mandi dan tidur. Kegiatan seharian ini membuat dia lelah sekali.


"Tunggu" ucap Austin secara tiba-tiba.


"Iya. Ada apa Austin?"tanya Tiffany yang berhenti dan membalikkan badannya.


"Besok pagi aku tidak ada jadwal kerja dan aku berencana akan menemanimu ke rumah sakit untuk periksa kandunganmu"


"Ke rumah sakit?"


"Iya. Memang kenapa? Apa ada masalah?"


"Tidak ada sih. Aku hanya terkejut saja.Tapi apa itu tidak akan mengganggu waktumu"


"Kan aku sudah bilang kalau besok pagi aku tidak ada jadwal pertemuan"


"Baiklah Austin"Fany yang tidak mau berdebat


"Dan satu lagi. Apa kau sudah mengurus surat pengunduran diri dari perusahaanmu"


"Hmm. Kalau itu aku sudah mengurus semuanya dan besok aku tidak akan bekerja lagi"


"Baguslah. Kalau begitu kamu istirahatlah"


"Ok"ucap Tiffany sambil menyatukan ujung jari jempol dan jari telunjuknya membentuk bulatan.


"Dasar anak kecil"ucap Austin sambil melihat tingkah Tiffany menaiki tangga seperti anak kecil.


Ddrrrtt...Drrrt...


"Halo"jawab Austin ketika sudah mengangkat panggilan.


"Bagaimana kabarmu sayang?"ucap seseorang yang ternyata adalah Sesilia.


"Tidak baik"ucap Austin dengan nada datar.


"Maafkan aku sayang. Aku harap kau bersabar untuk menungguku. Aku janji setelah semuanya selesai aku tidak akan meninggalkanmu lagi"ucap Sesilia.


"Kapan Sesilia? Kapan kau akan kembali?"tanya Austin.


"Tidak akan lama lagi sayang. Aku mohon untuk tetap bersabar ya sayang"ucap Sesillia.


"..."Austin hanya diam saja.


"Baiklah Austin. Kalau kamu hanya diam saja aku akan akhiri panggilannya. Aku hanya bisa berpesan untuk jangan terlalu banyak bekerja dan banyaklah beristirahat. I miss you honey.Goodbye"ucap Sesilia dan langsung mengakhiri panggilan secara sepihak.


Austin hanya meletakkan ponselnya di meja dekat sofa itu dan membaringkan tubuhnya di sofa.


 


Lain dengan Tiffany yang sudah selesai mandi dan sudah memakai pakaiannya.

__ADS_1


Setelah itu dia berdiri dekat cermin untuk melihat dirinya.


"Perutku pasti akan membesar. Tapi itu terjadi pada bulan ke berapa ya?"


Tiffany yang mengangkat baju sedikit dan memperlihatkan perutnya yang masih rata.


Dia penasaran sebesar apa nanti perutnya jika sudah sampai bulan kesembilan.


"Ibu sangat menantikan kehadiranmu sayang"ucap Tiffany sambil mengelus pelan perutnya.


Tiffany pun naik ke atas kasurnya dan berbaring.


"Ahhh...Aku lelah dan ngantuk sekali"ucap Tiffany sambil menguap.


"Semoga mimpi indah Fany"ucap Tiffany untuk dirinya sendiri.


 


🌷🌷🌷


Sesuai dengan ucapan Austin, pagi ini dia akan menemani Tiffany ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya Tiffany.


Terlihat mobil Roll Royce warna hitam elegan sudah berhenti di salah satu rumah sakit yang ada di kota New York.


"Ayo"ajak Austin sambil mengulurkan tangan nya.


Tiffany pun memegang tangan Austin dan berjalan menuju dalam rumah sakit.


Setelah sampai mereka tidak perlu menunggu dan langsung menuju ke ruangan spesialis kandungan karna sebelumnya Austin telah membuat janji pertemuan dengan dokter kandungan.


"Tuan muda Nero"ucap dokter berjenis kelamin laki laki sambil tersenyum saat sudah melihat kedatangan Austin di dalam ruangannya.


"Hmm"jawab Austin.


"Baiklah. Nyonya langsung berbaring saja biar saya bisa memeriksa janinnya"ucap dokter itu pada Tiffany.


Tiffany pun langsung berjalan menuju ke brankar dan berbaring.


Begitu juga dengam Dokternya yang berjalan menuju ke tempat Tiffany berbaring dan menyuruh Tiffany untuk mengangkat sedikit bajunya ke atas.


Tiffany pun mengangguk dan melkakuan perintah dokter, tapi hal tersebut belum sempat di lakukan oleh Fany karena Austin tiba-tiba berteriak.


"Tunggu. Apa kau menyuruh istriku untuk membuka baju di hadapanmu?"tanya Austin sambil memegang kerah baju dokter tersebut.


"Sabar tuan. Bagaimana caraku untuk memeriksa janin kalian jika anda bersikap seperti ini? Ini merupakan hal yang wajar di lakukan jika kalian memang ingin memeriksa kandungan"


"Lalu kau akan merasa puas memandangi tubuh istriku?"ucap Austin dan membogem wajah dokter pria itu.


"Tuan sabar. Aku yang akan memeriksa istri anda"ucap seorang dokter wanita yang masuk dan mencoba meleraikan pertikaian tersebut.


"Austin. Aku mohon jangan seperti itu"ucap Tiffany sambil memegang tangan Austin.


"Baiklah. Tapi aku tidak ingin dia ada di sini"ucap Austin.


"Maafkan suamiku ya dokter"ucap Tiffany pada dokter pria tersebut.


"Sekarang Nyonya berbaringlah"perintah dokter wanita itu.


Tiffany pun berbaring lalu dokter itu pun mengoleskan gel ke perut Tiffany dan menggerakkan alat USG untuk mendeteksi janin yang ada di perut Fany.


"Janin kalian terlihat sehat dan baik-baik saja"ucap dokter itu.


Austin menatapi latar monitor dan melihat Janin itu dengan seksama dan dia pun menyunggingkan senyumannya.


Setelah USG Tiffany bangun dan di bantu oleh Austin, kemudian berjalan menuju kursi.


"Apa anda sudah mengalami gejala morning sicknes?"tanya dokter itu pada Fany.


"Belum dok"


"Aku harap anda sebagai suami untuk selalu memperhatikan kesehatan istri anda" ucap dokter itu.


"Baik dok"ucap Austin


"Jangan buat diri anda terlalu banyak bekerja dan membuat anda kelelahan nyonya, karena nanti hal Itu bisa berdampak buruk pada bayi anda"ucap dokter.


"Baik dok"


"Ini resep obat vitamin untuk anda minum nyonya, jika anda mengalami gejala tersebut. Kalian bisa menebusnya di apotik rumah sakit ini"


"Kalau begitu kami pamit pergi ya dok. Terima kasih atas waktunya"ucap Austin.


"Terima kasih juga atas kunjungannya Tuan"


 


Setelah menebus obat mereka pun kini sudah berada di luar rumah sakit


"Aku senang sekali karena hari kau mau menemaniku untuk memeriksa keadaan bayiku"ucap Tiffany.


"Bayi ini beruntung mempunyai Ayah sepertimu"ucap Tiffany lagi.


"Tentu saja. Aku tidak mau jika nanti anakku akan seperti diriku yang tidak sempat merasakan kasih sayang seorang ayah "


"Maaf. Aku tidak ada maksud untuk menyinggung perasaanmu Austin" ucap Tiffany yang merasa bersalah.


"No problem Tiffany. I'm fine"ucap Austin.


Tiba-tiba Fany memegang perutnya membuat Austin panik.


"Kamu kenapa Fany? Apa perutmu sakit? Jika iya, Ayo kita masuk ke dalam lagi"ucap Austin yang khawatir.


"Aku baik baik saja Austin. Hanya saja saat ini aku tengah lapar karena tadi aku belum ada sarapan pagi" ucap Tiffany dengan wajah polosnya.

__ADS_1


Mendengar perkataan Tiffany sontak membuat Austin merasa kesal. Dia sudah cemas eh ternyata Tiffany cuma merasa lapar.


"Ayo kita cari makanan"ucap Austin.


Ketika ingin keparkiran mobil, handphone Austin tiba tiba berdering. Ternyata Roy menelpon dan menyuruh Austin untuk datang ke kantor secepatnya karena ada rapat penting yang harus wajib dia hadiri.


"Baiklah. Aku akan segera ke sana"ucap Austin dan mengakhiri panggilan.


"Ada apa Austin?" tanya Tiffany.


"Maaf Fany. Aku tidak bisa menemanimu makan karena di kantor ada rapat, jadi aku harus segera datang. Mungkin aku juga tidak bisa mengantarkanmu ke sana karena aku harus pergi sekarang agar bisa mengejar waktu untuk rapat"ucap Austin.


"Tidak apa- apa Austin. Aku bisa kok naik taksi. Kau jangan khawatir"ucap Tiffany.


Austin merasa lega karena Tiffany sangat pengertian. Dia pun memberikan kartu kreditnya pada Tiffany dan menyuruhnya untuk segera mencari makan yang dia suka karena Austin tidak ingin nanti anaknya mati kelaparan.


"Tidak perlu Austin. Aku masih ada uang kok"ucap Tiffany.


Tiffany menolak kartu kredit Austin dan berkata kalau dia masih punya uang. Austin memaksa dan Tiffany bersikukuh menolak. Tiffany pun langsung pergi meninggalkan Austin dan terus berkata kalau dia punya uang. Setelah itu dia memberhentikan taxy dan melambaikan tangannya kepada Austin lalu naik ke taxy itu.


  🌷🌷🌷


Di restoran terlihat Tiffany sudah memenuhi hasrat perutnya untuk makan. Bayi yang di dalam perutnya juga membuat dia makan dalam porsi yang sangat banyak. Fany sangat menikmati makanan itu. Bahkan saking nikmatnya menyantap makanan siang itu, Fany langsung menghabiskan makanannya sampai piring itu bersih mengkilap.


Setelah makan Tiffany pun memutuskan untuk pulang dan menaiki taksi lagi.


Di persimpangan kompleks sekitar tempat tinggalnya, dia melihat seseorang menatap ke arah sebuah apartemen yang cukup mewah.


"Charles"ucap Tiffany dalam hatinya.


"Benar itu Charles. Pak stop sampai sini saja"ucap Tiffany dan menyodorkan uang kepada sopir itu dan keluar dari taksi.


Charles yang menyadari kedatangan seseorang langsung membalikan badannya.


"Tiffany"ucap Charles.


"Charles. Kau ngapain di sini?"tanya Tiffany.


"Aku sedang menatapi rumah baruku"


"Apa? Kau pindah ke sini?"


"Iya. Kita bakal jadi tetanggaan"


"Tetangga?? Rumahku saja jauh di ujung sana"


"Yang jelas tempat tinggal kita satu kompleks kan?


"Terserahmulah Charles "


"Apa kau mau membantuku menyusun barang-barangku ke dalam rumah baruku?


Tiffany sontak langsung menatap ke arah Charles dengan cukup lama dan membuat Charles cemberut.


Kemudian Tiffany tersenyum pertanda dia setuju untuk membantu Charles.


Mereka pun masuk ke dalam apartemen. Tiffany pun membantu Charles dengan meletakkan barang-barang charles pada tempatnya.


Setelah cukup lama akhirnya mereka selesai menata barang barang Charles.


"Tunggu ya aku buat kan minuman dulu "


Tiffany pun mengangguk kepala dengan cepat. Jujur kalau Tiffany memang sangat haus sekali saat ini.


Tiffany pun memilih duduk dekat sofa sembari menunggu kedatangan Charles.


Tak lama kemudian Charles pun datang dengan membawakan segelas jus jeruk segar dan segera memberikan kepada Fany.


Fany yang benar-benar sangat haus pun langsung menyeruput minuman itu sampai habis dan langsung cegukan.


Charles yang mendengar itu langsung tertawa dan sontak membuat Tiffany malu.


🌷🌷🌷


 


Austin terlihat sedang serius mengikuti rapat dan mendengarkan presentasi. Tapi lama kelamaan pikirannya tertuju pada Fany sehingga membuat Austin tidak mempedulikan penjelasan stafnya.


"Apakah Fany sudah makan??"gumam Austin.


Roy yang berdiri tepat di samping Austin tentu mendengar kalimat Austin walau samar. Yang jelas dia mendengar Austin mengucap kata makan dan Fany. Mendengar itu, Roy hanya mengelengkan kepalanya.


"Oh My God. Dia masih sempat-sempatnya memikirkan istrinya saat sedang rapat"batin Roy yang sedikit merasa kesal karena Austin tidak fokus pada rapat kali ini.


"Kenapa sih mereka mengadakan rapat hari ini? Seharusnya saat ini aku sedang makan siang dengan Fany?"batin Austin yang juga merasa kesal terhadap Staff di kantornya.


Austin pun langsung berbicara kepada staffnya meskipun pada rapat itu moderatornya belum selesai melakukan presentasi.


"Aku suka dengan ide kalian.Rapat sudah selesai dan kalian sudah boleh pergi dari ruangan ini"ucap Austin dan para staff pun langsung beranjak pergi.


***


Selamat membaca ya readersku


Jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya


Dan jangan lupa dibaca dan beri vote serta kasih komentar kalian


Maaf ya karna selalu telat up


Salam dari Author


Insani Syahputri

__ADS_1


saranghae semuanya


 


__ADS_2