
Fany mencoba tersenyum walaupun saat ini dia mungkin merasa sangat kecewa.
Tapi senyumannya langsung mengembang ketika dirinya mendengar bel rumah tiba-tiba berbunyi.
Fany pun langsung berlari menuju ke arah pintu untuk menyambut kedatangan Austin.
Di saat sudah membuka senyum Fany langsung memudar dan kini bergantikan wajah kecewa.
Padahal Fany berpikir kalau Austin sudah pulang ke rumah.
"Hai Fany"ucap Roy yang sudah berhadapan dengan Fany.
Kedatangan Roy membuat Tiffany merasa kecewa.
Dia sudah berharap bahwa Austinlah yang datang, bukannya Roy.
"Mana Austin?"tanya Fany.
"Dia sedang berada di kantor. Sekarang dia lagi lembur, makanya aku datang ke sini untuk menjemput pakaiannya"pungkas Roy.
"Lagi lembur ya?"tanya Fany dalam perasaan kecewa.
"Iya"jawab Roy.
"Tunggu sebentar ya. Aku akan mengambil pakaiannya" ucap Fany sambil berjalan menuju kamar Austin yang berada di lantai atas.
"Oke" ucap Roy .
Roy pun berjalan menuju sofa. Dia ingin duduk sembari menunggu Fany.
"Aku tidak mengerti sama hubungan mereka. Padahal tadi pagi mereka baik-baik saja "ucap Roy sambil memegang dagunya.
"Malah aku harus berbohong lagi. Padahal sebenarnya Austin sedang berada di apartemenku"ucap Roy lagi dengan suara yang pelan.
Flashback
"Roy. Buka pintunya!"ucap Austin sambil berteriak dengan keadaan mabuk.
"Ada apa denganmu?"ucap Roy ketika sudah membuka pintu apartementnya.
"Malam ini aku ingin menginap di sini"ucap Austin sambil berjalan masuk ke dalam apartemen Roy dengan jalan yang sempoyongan.
"Austin berhenti!!! Jawab pertanyaanku dulu. Kenapa kau sampai mabuk seperti ini" ucap Roy yang berjalan mengikuti Austin.
"Apa karena Sesilia?"tanya Roy tapi Austin tidak mendengarkannya.
"Atau karna Fany?"timpal Roy dan itu sukses membuat langkah Austin terhenti.
"Jangan kau sebut nama itu di depanku karna aku sangat benci mendengarnya"ucap Austin sambil mencengkram kaosnya Roy.
"Ok"ucap Roy sambil mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Apa kau bisa melepaskannya?"ucap Roy.
Austin pun langsung melapaskan cengkramannya.
"Lagian kau juga tidak bisa tidur di sini. Kau pulanglah ke rumah"ucap Roy setelah melihat Austin yang berjalan menuju ke sofanya dan tidur di sana.
"Aku malas pulang ke rumah"ujar Austin sambil memejamkan matanya.
"Ok. Aku akan mengijinkanmu menginap di sini. Tapi cuma malam ini saja"tutur Roy.
"Tapi aku tidak punya baju untuk kau pakai ke kantor besok pagi”lanjut Roy lagi.
"Kau bisa menjemputnya"ucap Austin lagi dengan mata yang masih terpejam.
“Enak benar nih orang!”batin Roy.
"Ok. Aku akan menjemputnya sekarang dan aku juga akan mengatakan pada Fany kalau kau sedang ada di sini"ucap Roy.
"Jika kau mengatakan itu maka aku akan membunuhmu"ucap Austin dengan mata yang sudah terbuka dan menatap ke arah Roy dengan tatapan yang membunuh.
"Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya. Apa sih yang terjadi dengan kalian?"ucap Roy.
Austin tidak menjawabnya. Dia memilih untuk tidur karna kepalanya saat ini sedang sakit sekali memikirkan perkataan Fany dan kakaknya.
"Aku akan pergi ke mansionmu" ucap Roy yang berteriak sambil mengambil kunci mobilnya.
"Alasan apa yang harus kukatakan nanti pada Fany ya?"batin Roy ketika sedang berjalan menuju parkiran mobil.
Flashback end
"Ini"ujar Fany yang sudah ada di ruang tamu dan menyerahkan paper bag berisikan pakaina Austin kepada Roy.
"Semuanya sudah ada dalam paper itu"ucap Fany.
"Ok. Kalau begitu aku pergi dulu"ucap Roy yang sudah berdiri.
"Kamu harus berhati-hati karena ini sudah larut malam"ujar Fany.
"Terima kasih Fany"ucap Roy sambil tersenyum karena merasakan kebaikan hati Fany.
Kemudian Fany mengantarkan Roy sampai pintu utama.
Setelah Roy meninggalkan mansion itu, Fany langsung menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya.
"Nak. Ayahmu saat ini tidak bisa pulang ke rumah. Itu karena Ayah lagi sibuk bekerja. Jadi jangan marah ya"ucap Fany sambil mengelus perutnya.
🌷🌷🌷🌷
Keesokanya paginya, di ruang tamu terlihat Austin yang sudah rapi dengan kemeja yang dia kenakan.
"Tumben kau pergi cepat ke kantor"ucap Roy yang sudah ada di ruang tamu.
"Hari ini aku tidak pergi ke kantor"ucap Austin.
__ADS_1
"Jadi kau mau ke mana?"tanya Roy.
"Ada yang ingin aku selesaikan"ucap Austin.
"Apa itu?"tanya Roy.
"Kau tidak perlu tahu" ucap Austin yang sudah berdiri dan bersiap untuk pergi.
"Cih. Aku pun tidak mau peduli dengan urusanmu itu"ucap Roy.
"Tunggu!! Apa hari ini semua pekerjaan di kantor kau serahkan padaku?"tanya Roy pada Austin yang tengah berdiri di pintu apartemen.
"Iya"ucap Austin dengan santai dan kemudian dia keluar dari apartemen itu.
"Dasar bedebah sialan. Kau selalu punya cara untuk menyiksaku Austin"ucap Roy yang berteriak dan merasa kesal.
🌷🌷🌷🌷
Hari ini Fany terlihat sedang duduk di sofa sambil menikmati tehnya.
Ting...Tong...
Suara bel itu pun menganggu kegiatan Fany.
"Siapa yang datang ya?"batin Fany.
"Austin? Pasti bukan dia. Austinkan sedang kerja di kantornya" terka Fany.
"Apa Mama?"lagi-lagi Fany mencoba untuk menerka.
Fany pun langsung pergi menuju pintu untuk melihat siapa yang sedang berkunjung ke mansion itu.
Alangkah senangnya Fany saat sudah membuka pintu itu.
"Austin"ucap Fany saat melihat orang yang di rindukannya kini sudah ada di hadapannya.
"Ini rumah siapa sayang?"ucap seseorang yang muncul dari balik badan Austin.
Ternyata di belakang Austin, ada seseorang yang sedang bersama dengannya.
Mungkin kerena badannya terlalu kecil dan Austin berbadan tinggi sehingga dapat menutupinya dan Fany pun tidak dapat melihatnya.
"Sesilia. Perkenalkan dia adalah Fany" ucap Austin secata tiba-tiba memperkenalkan Sesilia kepada Fany.
Fany terkejut saat melihat seorang wanita ada di belakang Austin.
Dan hal yang paling mengejutkannya adalah saat Austin menyebut nama wanita itu.
Ya dia adalah Sesilia. Kekasihnya Austin.
Kini Sesilia sudah muncul. Apakah dia akan di abaikan atau bahkan akan di singkirkan.
Itu lah yang ada dipikiran nya Fany saat ini.
Flashback
"Sayang kau sudah datang?" ucap Sesilia.
"Ayo ikut aku ke suatu tempat" ajak Austin.
"Kemana?"ucap Sesilia dengan heran.
"Jangan banyak bertanya, kamu ikut saja denganku. Aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang dan ingin mengatakan sesuatu padamu"ucap Austin.
"Baiklah"ucap Sesilia.
Sesilia mengira kalau Austin akan membawanya menemui Ibunya dan akan mengajaknya untuk menikah.
Dan Ternyata Austin membawa Sesilia ke mansionnya dan dia ingin mengatakan semuanya pada Sesilia.
Flashback end
"Siapa wanita ini sayang?"tanya Sesilia.
"Tolong kau masuk ke dalam rumah dan tunggu aku di kamar. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan pada Sesilia"ucap Austin pada Fany.
"Baik"ucap Fany kemudian masuk ke dalam mansion dan menutup pintu itu.
"Siapa dia Austin?"ucap Sesilia yang berteriak kepada Austin.
Austin pun menghela nafasnya secara gusar dan dengan berat hati Austin berkata "Sesilia, sebenarnya aku sudah menikah"
Sesilia terkejut mendengan penuturannya Austin.
"Apa?? Tidak...Pasti kau sedang bercandakan Austin"ungkap Sesilia yang tidak percaya.
"Aku tidak bercanda Sesilia"tutur Austin.
"Wanita yang ada di dalam itu adalah istriku"ucap Austin.
"Tidak...Kau sedang berbohong denganku Austin. Kau sedang menghukumku kan? Karna saat itu aku lebih memilih pendidikanku dibandingkan mu"ucap Sesilia yang sudah menangis.
Sesilia mencoba tak percaya. Dia bertanya pada Austin kalau ini pasti hanya leluconkan? Tapi Austin hanya diam hanya bisa meminta maaf pada Sesilia. Seolah itu penegasan kalau ini bukan lelucon. Inilah kenyataannya.
Sesilia langsung jatuh duduk terkulai lemas di lantai itu.
"Tolong katakan kalau ini lelucon Austin"ucap Sesilia yang masih berharap kalau perkataan Austin itu hanya lelucon belaka.
"Aku tidak berbohong Sesil" ucap Austin.
"Bahkan panggilanmu padaku juga sudah berubah Austin"pungkas Sesilia.
"Berarti tidak ada gunanya kita bersama selama ini Austin" ucap Sesilia.
"Kenapa hatimu bisa berpaling dengan cepat Austin?"lanjut Sesilia lagi yang masih menangis.
__ADS_1
"Saat ini wanita itu sedang mengandung anakku dan aku sebagai Ayah sudah tugasku untuk bertanggung jawab"ucap Austin yang membuat hati Sesilia semakin sakit.
"Aku mohon untuk menungguku. Setelah anakku lahir, aku akan menceraikannya dan akan menikahimu agar kau akan menjadi Ibu pengganti dari anakku"ucap Austin.
"Tidak Austin. Aku tidak mau jadi Ibu penganti anakmu"ucap Sesilia.
Sesilia kemudian memilih pergi dan Austin mencoba untuk menghentikannya.
"Jangan mencoba untuk menghentikan Austin atau aku akan semakin membencimu"ucap Sesilia dan kemudian dia berlari meninggalkan mansion itu.
Di balik pintu, Fany menangis mendengar perkataan Austin tadi.
Ya Tiffany tidak pergi ke kamarnya melainkan berdiri di balik pintu dan mendengar semua perkataan mereka.
"Apa aku akan menyerahkan anakku di saat Austin nanti akan menceraikanku?"ucap Fany.
Tiba tiba Fany terkejut mendengar suara pintu terbuka.
Dia melihat Austin sudah masuk ke dalam, kemudian Fany refleks membalikkan badannya dan langsung menghapus air matanya.
"Aku tahu pasti kamu sudah mendengar perkataanku tadi “ungkap Austin.
"Baiklah. Berarti aku tidak perlu menjelaskan soal itu lagi"ucap Austin .
“Dengar aku baik-baik. Demi mempertahankan hubungan ini kau harus bersikap tidak terjadi apa-apa seperti hari-hari sebelumnya. Dan kau jangan sampai memberitahukan hal yang kau dengar tadi kepada Ibu karena aku sendiri yang akan memberitahukannya"ucap Austin.
"Lalu?"ucap Austin yang terhenti sehingga membuat Fany menunggu kata-kata yang keluar dari mulut Austin.
“Lalu apa Austin?”tanya Fany.
Bukannya menjawab. Austin justru melepas cincin pernikahannya di depan Fany dan menaruh cincin itu di atas amplop cokelat yang di bawanya.
Rupanya Austin sudah mengurus surat perceraian dengan Fany.
"Tolong kamu tanda tangani ini"ucap Austin.
"Setelah anak ini lahir maka aku akan mengurus perceraian kita secepatnya" ucap Austin.
Tiffany mengambil amplop coklet itu lalu membuka untuk melihat isinya.
Dia terkejut membaca semua isi di dalam surat cerai itu.
Austin menjelaskan kalau saat bayi itu lahir, maka tidak ada lagi alasan untuk mereka mempertahankan pernikahan ini. Jadi otomatis mereka bercerai setelah bayi itu lahir. Dia akan memberikan kompensasi sesuai permintaan Fany.
Bukan hanya itu, ada yang membuat Fany terkejut yaitu dia tidak di perboleh untuk bertemu dengan anaknya saat sudah lahir dan dia harus pergi meninggal kota itu sejauh mungkin.
Fany hanya diam, sekuat tenaga dia menahan tangisnya agar tak jatuh di depan Austin. Ini begitu menyakitkan hatinya.
Dia tidak akan bisa bertemu dengan anaknya saat sudah lahir nanti.
"Kenapa aku tidak bisa menemui anakku nanti Austin?" tanya Fany.
"Karena aku yang menginginkannya. Dan buang pikiranmu jauh-jauh kalau berniat untuk merebut hak asuhnya dengan ku karena itu tidak akan berhasil"ucap Austin.
"Aku sudah tahu kalau kejadian ini sampai seperti ini, itu semua karena rencana kakakmu"ucap Austin.
" Apa maksudmu Austin?"tanya Fany.
"Aku sudah mendengar semuanya Fany. Kau hamil anakku dan menikah denganku dan kau akan mengambil semua hartaku"ucap Austin yang berteriak.
"Karena saat ini kau sedang mengandung anakku, makanya aku tetap mengijinkanmu untuk tinggal di sini"ucap Austin.
"Tapi..."ucap Fany terhenti karena Austin memotong perkataannya.
"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kau tanda tangani ini"ucap Austin.
Fany dengan kesedihan yang mendalam pun harus menandatangani surat cerai itu.
“Aku bersyukur karena ku pikir kau tulus. Aku juga lega menyadari bahwa kaulah Ayah dari bayiku ini.”
"Setidaknya kau akan menyayangi anak kita"ucap Fany.
Fany tampak mengambil pulpen yang ada di atas meja dan melakukan sesuatu pada dokumen itu. Setelah selesai, Fany
berkata "Aku tidak menginginkan kompensasi ini Austin karena Itu akan sama saja aku menjual anakku padamu"
Lalu Fany menyodorkan surat cerai itu kembali kepada Austin. Austin menerimanya dan pergi ke kamarnya dan meninggalkan Tiffany yang tengah bersedih.
Tapi langkah Austin terhenti sejenak saat sedang berada di tangga dan dia berkata" Aku tidak akan membiarkan rencana busuk kakakmu itu berhasil karena aku akan memastikan Keluarga Lee akan lebih hancur lagi" Lalu Auston pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua.
Tiffany terduduk dilantai dan menangis
"Apa benar jika Austinlah yang sudah mencelakai Mama dan membuat keluargaku hancur saat itu?" batin Fany.
Lalu Fany mengambil cincin yang sudah di lepaskan oleh Austin tadi.
Itu sangat berharga baginya karena itu merupakan pemberian Ayahnya saat hari pernikahannya.
🌷🌷🌷
Sampai disini dulu ya teman teman
Aku rasa cerita sudah mulai bikin air mata untuk jatuh lagi.
Berhubung virus corona yang sedang menyebar
Aku harap kalian dapat menjaga kesehatan,
jangan lupa cuci tangan dengan sabun.
Dan paling utama selalu berdoa kepada tuhan menurut agama kalian masing masing.
Selamat membaca ya
Jangan lupa like dan beri komentar kalian
__ADS_1
Agar aku dapat lebih semangat lagi menulis nya😊😊
Saranghae semuanya