Takdirku, Hidup Bersama Mu

Takdirku, Hidup Bersama Mu
Lima Belas


__ADS_3

"Saat ini aku sudah menjadi pria yang tidak baik di mata Ibuku, tapi meskipun aku tetap ingin menjadi Ayah yang baik untuk anakku. Tentu saja saat ini Sesilia masih satu-satunya untukku. Aku tidak tau berapa banyak waktu yang akan aku habiskan untukmu agar hatiku berpindah padamu. Tapi aku berjanji, setidaknya untuk anak kita, aku akan menjadi Ayah yang baik. Jika kau bisa menerima ini kita akan menikah"ucap Austin lagi.


Tiffany terharu mendengarnya dan senang saat Austin mengatakan "Anak Kita".


Austin mengakui anak mereka.


Dia kemudian menjawab kalau dia juga ingin menjadi Ibu yang baik bagi anak mereka.


 


Kini Austin dan Tiffany telah di sebuah manshion yang sangat besar dan itu membuat Tiffany menatap kagum ke arah rumah tersebut.


"Wah. Manshion ini besar sekali " Tiffany berkata sambil menatap bangunan mashion yang terkesan mewah dan elegan.


"Mari masuk. Ibu sudah menunggumu di dalam"


"Ibu??"Tiffany merasa terkejut mendengar perkataannya Austin.


Fany melangkah kakinya mengikuti Austin dari belakang.


"Fany"


Delila yang sudah membuka pintu dan melihat kedatangan Fany langsung memeluk Tiffany dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.


" Ibu sangat senang karena kalian sudah setuju untuk menikah "


"Apa Ibu sangat senang?"


"Hmm. Ibu sangat senang sekali Austin"


Austin pun senang jika dia melihat Ibunya terlihat bahagia. Dia tidak tega melihat air mata Ibunya jatuh dan itu membuat hatinya sangat sekali.


"Ibu kalian ingin secepatnya menikah. Kalau bisa kalian harus menikah Minggu besok "


"Tapi Ibu, apa itu tidak terlalu cepat?"


Tiffany terlalu terkejut di saat Ibunya Austin mengatakan bahwa pernikahannya akan diadakan secepatnya.


"Maksudku...Aku tidak ingin jika pernikahannya di adakan minggu besok "


"Kenapa kau tidak bisa Fany?"Austin Mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Tiffany.


"Karena minggu aku ingin pulang dulu ke negaraku untuk memberitahukan keluargaku yang disana "


"Dimana tempat negara asalmu??"tanya Delila.


"Saya tinggal di Taiwan Bibi"


"Kau benar Fany. Keluargamu harus tau kalau kau akan segera menikah"ucap Delila.


"Dan kau Austin. Kau harus menemani Tiffany untuk menemui keluarganya"ucap Delila.


"Aku ikut ke Taiwan. Ibu jangan bercanda"ucap Austin.


"Ibu tidak bercanda Austin"ucap Delila.


"Ibu tahu sendiri kalau aku sangat sibuk dengan pekerjaanku dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja"ucap Austin.


"Ibu tidak mau tau. Kau harus pergi ke sana"ucap Delila yang bersikeras dengan permintaannya.


"Ibu jangan egois"ucap Austin.


"Ibu tidak egois Austin. Ibu melakukan ini agar kau bisa mengenali keluarga dari calon istrimu nanti"ucap Delila.


"Tidak apa apa Bibi. Aku bisa pergi sendiri.Austin pasti sangat sibuk sekali dan aku tidak ingin menganggu pekerjaannya"ucap Tiffany.


"Tidak apa apa Fany. Kau jangan khawatir karena pekerjaannya akan di urus oleh Roy"


"Baiklah. Aku tidak bisa menolak kalau Ibu sudah memaksa"ucap Austin.


"Kapan kau akan pergi ke sana?"tanya Austin.


"Ibu sarankan kalau kalian pergi ke sana besok saja karena lebih cepat lebih baik biar pernikahan kalian di adakan secepatnya"ucap Delila.


"Terserah Ibulah"ucap Austin.


"Tapi..."ucap Tiffany tapi terhenti karena Austin memotong perkataannya.


"Besok kita akan ke sana dan aku akan menemanimu"ucap Austin.


"Maaf karena sudah menganggu waktumu"ucap Tiffany.


"Tidak apa-apa" ucap Austin.


 


Setelah beberapa jam Tiffany akhirnya pamit pulang karena dia ingin mengemas barang barang yang akan dia bawa besok.


"Aku akan mengantarkanmu pulang"ucap Austin.


"Tidak usah Austin. Aku akan pulang sendiri"tolak Tiffany.


"Ini sudah malam. Tidak baik kalau kau pulang sendiri"ucap Austin.


"Austin benar sayang. Kau harus pulang bersama dia" lucap Delila.


"Baik Bibi"kata Tiffany.


"Bukan Bibi tapi Ibu"ucap Delila.


"Hmmm baik Ibu"


"Kami pergi dulu ya Ibu"ucap Austin.


"Hati-hati di jalan. Beritahu Ibu Tiffany kalau nanti Austin membawa mobilnya terlalu kencang"


"Baik Bu"


Austin pun melangkah kakinya menuju mobilnya dan di ikuti oleh Tiffany.


Sepertinya Austin mendengar perkataan Ibunya karena dia melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil itu tidak ada percakapan di antara mereka.


Mereka terlihat diam dan keadaan mobil itu cukup hening karena mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Dan entah apa yang mereka pikirkan saat itu.


"Besok aku akan menjemputmu" ucap Austin ketika sudah sampai di halaman rumah kontrakan Fany.


"Baiklah dan terima kasih karena sudah mengantarkanku sampai rumah "ucap Tiffany dan setelah itu dia keluar dari mobil.


"Kalau begitu aku pulang dulu"ucap Austin.


" Iya" ucap Tiffany dan Austin pun melajukan mobilnya.


"Aku tidak tahu apakah dia terpaksa menikahiku atau enggak?"ucap Tiffany dan masuk ke dalam rumahnya.


 


Di apartemennya Austin


"Apakah aku sudah melakukan hal yang benar?"ucap Austin.


"Maafkan aku sayang. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu saat kau datang kembali"ucap Austin sambil menatap foto Sesilia.


Di rumah terlihat Tiffany yang sudah selesai mandi.


Drrrtt ddrrrt... (suara dering Handphone).

__ADS_1


"Siapa yang menelpon ya?"ucap Tiffany dan pergi menuju ranjangnya untuk mengambil handphone.


"Halo Della"ucap Fany yang mengetahui bahwa Della yang menelponnya.


"Bagaimana kabar mu?"ucap Della.


"Aku sudah baik baik saja. Kau jangan khawatir"ucap Tiffany.


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja"


"Eh kau tahu kalau Tina sudah mengundurkan diri dari perusahaan"ucap Della lagi.


"Apa! Kenapa Tina mengundurkan dari perusahaan "tanya Tiffany yang terlihat syok saat mendapat berita itu.


"Karena tuan Austin tidak ingin dia ada di perusahaan itu. Jika dia tidak melakukannya, maka tuan Austin akan melaporkan kejadian yang membuatmu sampai pinsan ke kantor polisi"tutur Della.


"Apa Austin berkata seperti itu??"tanya Austin.


"Iya"


"Aku boleh minta tolong untuk meminta izin sama tuan Charles kalau aku tidak bisa datang ke kantor beberapa hari kedepan"ucap Tiffany.


"Kenapa??"


"Aku mau pulang ke kampung halamanku"


"Kenapa tiba-tiba mendadak?"


"Tiba-tiba Aku sangat merindukan Ayah dan saudaraku"


"Baiklah. Aku akan memberitahu tuan Charles"


"Terimakasih "


"Kalau begitusampai sini dulu ya kita mengobrolnya karena aku mau mengemas barang yang mau kubawa besok"


"Baiklah. Semoga lancar sampai di sana.


I Love You "


"Terimakasih atas perhatiannya sahabatku"ucap Tiffany lalu mematikan panggilan.


"Dasar kau Della"ucap Tiffany sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah itu Tiffany membereskan segala keperluan yang akan di bawa besok.


"Akhirnya selesai juga. Aku mengatuk sekali"ucap Tiffany lalu beranjak menuju kasurnya dan tidur.


 


Mereka kini sudah berada di bandara dan akan segera take of dari Newyork menuju Taiwan. Dimana sebelumnya Austin sudah menjemput Tiffany dan sempat mengusulkan agar mereka pergi untuk beberapa hari saja.


Tiffany tidak mengerti kenapa Austin harus ikut ke kampung halamannya


Dimana tempat tinggalnya sangat jauh sekali.


Ayah Tiffany yang mendapatkan kabar kalau Putrinya akan segera menikah dan mereka akan datang ke rumah setelah 1 tahun lebih Tiffany tidak datang berkunjung karena sibuk bekerja.


Setelah beberapa lama pesawatnya mengudara akhirnya mereka sampai di Taiwan.


Kemudian mereka menaiki mobil untuk menuju rumah Ayahnya Tiffany.


"Wah ternyata sudah banyak yang berubah di sini padahal baru satu tahun lebih aku tidak pulang"ucap Tiffany yang melihat bangunan dari dalam mobil.


Austin hanya melihat Tiffany tengah sibuk mengamati perubahan kampung halamannya.


Mobil mereka pun tiba di rumah yang cukup sederhana.


Ya rumah keluarga Tiffany memang sederhana, dulu mereka sempat tinggal di rumah yang besar tapi karna perusahaan Ayah nya mengalami kebangkrutan dan membuat mereka jatuh miskin.


Setelah beberapa minggu mengalami kebangkrutan, Ibu Tiffany meninggal dunia karena kecelakaan mobil dan itu di saksikan oleh saudaranya Tiffany.


 


Tiffany langsung turun dari mobil dan berlari menuju rumah yang sangat dia rindu. Dia meninggalkan Austin yang masih ada di dalam mobil karena Tiffany tidak sabar lagi untuk bertemu dengan orang yang sangat dia cintai.


"Ayah. Aku sangat merindukanmu" ucap Tiffany sambil memeluk Ayahnya dengan erat.


"Apa kau tidak merindukan kakakmu ini?"ucap laki laki itu.


"Aku juga merindukanmu kak Alex"ucap Tiffany.


"Mana calon suamimu sayang? Katamu dia datang bersama mu ke sini"ucap Ayah Tiffany.


"Nah itu dia Ayah" ucap Tiffany sambil menunjuk kearah pintu dimana Austin sudah ada disitu.


"Kak Alex tunggu lepaskan tangan ku" ucap Tiffany karena Alex tiba tiba menarik tangan Tiffany.


"Ikut kakak sebentar. Ada yang mau kakak bicarakan"ucap Alex.


"Apa yang ingin kakak bicarakan?"ucap Tiffany.


"Kau mau menikah dengannya?"ucap Alex.


"Iya"


"Kakak tidak setuju"


"Tapi kenapa kak? "


Alex tidak menjawab pertanyaan adik lnya"Apa tidak ada laki-laki lain yang ingin kau nikahi dari pada dia?"


"Aku harus menikah dengannya kak"


"Tidak bisa Fany. Kenapa kau membantah perkataan kakak"


"Karena aku memang tidak bisa menikah dengan pria lain di saat aku mengandung anaknya "


"Apa kau bilang? Mengandung anaknya? apa kau hamil? " ucap Alex.


"Iya" ucap Tiffany dan itu sukses membuat Alex menampar pipi Tiffany.


"Kakak menamparku" ucap Tiffany yang menangis sambil memegang pipinya.


"Kenapa kau bisa mengandung anaknya? Apa dia memaksamu atau dia menaruh sesuatu di minumanmu sehingga kau kehilangan kesadaran "


"Aku tau kalau kau wanita baik-baik Fany dan kau tidak akan melakukan itu. Aku akan membunuhnya" ucap Alex yang ingin menemui Austin untuk memberi pelajaran pada nya karna telah membuat adik nya sampai hamil.


"Jangan Kak" ucap Fany yang memeluk kakaknya dari belakang untuk menenangkan Alex yang tengah marah.


"Aku akan menjelaskan semuanya kak" ucap Fany.


"Apa yang ingin kau jelaskan Fany?"


"Waktu itu aku sedang menemui seseorang di sebuah hotel Kak. Saat itu aku tengah menolong Austin yang terlihat sangat mabuk dan semuanya terjadi begitu saja"


"....."


"Austin pada saat itu juga sedang mabuk. Jadi itu sepenuhnya tidak kesalahan Austin".


"Jadi Fanylah yang di maksud wanita yang ku sewa waktu itu"batin Alex.


"Maaf kakak Fany"ucap Alex dan memeluk adiknya.


"Iya Kak Alex. Tapi kenapa kakak tidak ingin kalau aku menikah dengannya"

__ADS_1


"Karena kakak tidak menyukainya"


"Tapi aku harus menikah dengannya. Jadi Kakak setuju kan? "


"Hmm"


"Tapi Kakak tetap tidak akan menyukainya karena dia telah membuat perusahaan Ayah bangkrut. Berkat Austinlah, semua para investor yang ingin memasukkan dana untuk perusahaan kita, Jadi kakak harus membalaskan dendam untuknya"batin Alex.


"Kakak jangan beritahu Ayah ya"


" Baiklah kalau begitu ayo kita ketemu calon suamimu"


"Perkenalkan, saya kakaknya Tiffany Alexander Lee"ucap Alex mengulurkan tangan kepadanya Austin.


"Austin Nero calon suaminya Tiffany"ucap Austin menjabat tangannya Alex.


"Sudah. Ayo kita makan dulu" ucap Ayah Tiffany.


Mereka pun sudah duduk dan makan dengan tenang.


Tiffany pun menaruk lauk di piringnya Austin dan itu pun langsung membuat Thomas ayahnya Tiffany melotot kepada putrinya.


Ternyata Ayahnya cemburu dan tidak rela dengan keputusan Tiffany untuk langsung menikah. Thomas tidak mengetahui kalau Putrinya tengah mengandung cucunya.


Dia cemburu karena sepenting apa Austin itu di matanya Tiffany sampai'sampai Putrinya mengabaikannya saat makan.


Biasanya Tiffany selalu meletakkan lauk di piringnya tapi sekarang dia tidak melakukan nya. Jadi tidak mau memberikan restu semudah itu. 


Dia bahkan sudah membuat rencana untuk mengetes calon menantunya itu. Kalau calon menantu mereka itu gagal dalam satu hal saja maka mereka tidak boleh menikah.


Lain dengan Alexander yang menatap tajam ke arah Austin dan saat Austin menoleh ke arahnya dia langsung berpura pura tersenyum.


 


Tiffany sangat perhatian pada Austin sampai- sampai membuat ayah cemburu. wajar saja Tiffany seperti itu karna Austin adalah tamu di rumah mereka dan akan menjadi suaminya.


Melihat kecemburuan Ayahnya, Tiffany langsung berusaha merayu Ayahnya dengan memberinya perhatian yang sama seperti yang di lakukannya pada Austin.


Sambil makan, Ayah tak buang waktu untuk menginterogasi Austin.


"Apa pekerjaanmu nak?"


"Saya bekerja di perusahaan yang saya jalankan sendiri Mr Thomas"


"Jadi kau Ceo di perusahaan mu"


"Bisa di bilang begitu"


Austin menjelaskan bahwa perusahaannya bergerak di bidang IT dan sejenis dalam pengembangan Software lainnya.


"Saya hanya buka usaha rumah makan kecil di sini" ucap Thomas dan Austin hanya tersenyum.


 


Malam ini Austin terpaksa harus tidur di sofa karena tidak ada ruang lagi dan itu membuat Tiffany tidak enak hati.


Tengah malam, Ayah Tiffany mengendap-endap keluar kamar.


Mengecek apakah Austin sudah tidur tau belum.


"Aku akan setujui kalau kalian menikah"ucap Thomas dan pergi menuju kamarnya.


Keesokan harinya, Ayah Tiffany mengajak Austin lari pagi.


"Ke mana mereka Kak Alex" tanya Tiffany.


"Mereka pergi lari pagi"


"Kakak tidak ikut?"


"Malas"


"Baiklah. Kalau kakak berkata seperti itu"


Ayah Tiffany dan Austin pun sudah sampai di rumah dan Thomas langsung masuk ke dalam rumahnya.


Tiffany langsung menemui Austin yang tengah duduk di kursi depan rumah.


"Maaf karna semalam membuat orang terhormat sepertimu tidur di sofa"ucap Tiffany.


"Tidak apa apa. Lagian aku juga sering tidur di sofa apartemen."


"Oh... Begitu"


"Apa Ayah ada menyulitkanmu"


"Tidak ada. Justru aku malah senang berbicara dan bercanda dengan ayahmu"


"Apa kau orangnya suka bercanda "


"Aku banyak bercanda dan berbicara dengan orang yang dekatku saja"


"Berarti kau orang humoris ya"


"Tidak juga"


"Beruntung ya Sesilia punya kekasih seperti mu"


"Hmm"


"Apa kau punya orang yang kau cintai"tanya Austin.


"Hmm ada"


"Apa kau masih mencintainya? "


"Mungkin perasaan itu masih ada "


"Kau harus melupakannya?"ucap Austin yang sepertinya tidak menyukai jawaban Tiffany.


"Kenapa?"


"Karena kau akan segera menikah"ucap Austin dan masuk kedalam rumah.


🌷🌷🌷


Selamat Membaca


Hai readersku jangan lupa beri jempol nya banyak banyak ya


Dan jangan lupa komen juga untuk memberiku saran dan ide kalian


Tidak papa kan???


Maaf ya karna telat up


Jangan lupa beri vote kalian juga ya


Salam manis dari Author


Insani Syahputri


Saranghae semuanya


 

__ADS_1


__ADS_2