
Fany hanya diam dan mencerna perkataan Austin barusan.
Austin yang melihat Fany hanya diam langsung mengendong Fany ala bridal style dan membawa istrinya itu menuju ke mobil.
"Dasar pasangan aneh"ucap bapak itu.
Sampai di luar gedung itu, Fany meminta Austin untuk menurunkannya.
"Austin. Aku mohon turunkan aku"ucap Fany.
Austin pun segera menurunkan Fany tepat di samping mobilnya.
"Apa yang terjadi padamu Austin?"tanya Fany yang tidak percaya dan tidak mengerti dengan perubahan sikap Austin kali ini.
"Kita tidak akan bercerai Fany"ucap Austin sambil menatap ke arah Fany.
Fany yang mendengar itu tidak tahu harus bahagia atau sedih.
Tapi yang jelas dia ingin memilih untuk pergi dan meninggalkan gedung pengadilan agama tersebut.
Austin menatap Fany dengan heran melihat kepergian Fany dari tempat itu dan bukannya masuk ke mobil.
Austin pun langsung melangkah kakinya dan mengejar Fany yang berjalan menjauh darinya.
"Fany berhenti"ucap Austin untuk menghentikan langkah Fany.
"Ada apa?"tanya Fany.
"Kenapa kau seperti orang bodoh? Bukannya terlihat senang kau malah pergi dan tidak masuk ke mobil"ucap Austin.
"Kau kenapa?"tanya Austin lagi.
"Kaulah yang kenapa? Kenapa sikapmu selalu berubah-ubah? Terkadang kau peduli padaku, terkadang kau juga bersikap dingin padaku. Aku tidak mengerti apa mau mu Austin? Tapi kau tenang saja Austin. Aku akan mencoba untuk selalu sabar dengan sikapmu ini sampai anak ini lahir. Setelah anak ini lahir kita akan bercerai"ucap Fany yang membuat Austin terkejut.
"Kenapa kau berbicara seperti itu?”ucap Austin.
Austin merasa terkejut mendengar perkataan Fany.
Dia berencana tidak ingin menceraikan Fany lagi, tapi sekarang Fany malah membahas penceraian itu.
Fany hanya bisa menatap Austin dan dia seribu bahasa.
Pikiran saat ini sedang kacau balau.
"Austin. Ini pertama kalinya aku mencintai seseorang yang sudah memiliki kekasih dan benar benar ingin sekali memilikinya. Dan kau pasti tahu siapa orang itu. Ya orang itu adalah kamu"ungkap Fany.
"Aku sangat mencintaimu dan ingin memilikimu, tapi aku sadar jika kau tidak di takdirkan untukku. Di saat nanti kita sudah bercerai, aku sudah bertekad untuk melupakanmu dan pergi jauh dari kota ini. Tapi hari ini kau tiba-tiba membatalkan penceraian kita. Aku tidak tahu apa yang sedang kau rencanakan, tapi aku tahu kalau kau sangat membenci keluargaku"ucap Fany dengan air mata yang dari tadi sudah jatuh berurai.
"Aku tidak ada merencanakan apa-apa Fany. Aku memang berniat untuk tidak ingin menceraikanmu"ucap Austin.
"Tapi aku takut Austin. Aku takut kalau sikapmu akan berubah secara tiba-tiba lagi seperti yang sudah terjadi selama ini. Kau terkadang bersikap baik padaku, tapi terkadang juga sikapmu tiba-tiba berubah menjadi dingin dan membenciku. Jika kau memiliki sikap seperti ini, aku rasa kalau diriku tidak bisa hidup bersamamu. Aku tahu dan sadar diri kalau diriku hanyalah orang asing yang tanpa di undang hadir dalam hidupmu sehingga kau bisa mempermainkan perasaanku dengan sesuka hatimu. Jadi Austin, kurasa hubungan kita cukup sampai di sini saja. Ku mohon jangan lakukan itu lagi. Aku sudah cukup terlalu tersakiti Austin"ucap Fany lalu dia mencoba untuk menghapus air matanya.
Fany tidak peduli dengan orang yang sedang berlalu lalang melewati dan memperhatikan mereka.
Fany pun mulai berbalik dan akan melangkah pergi, tiba-tiba tangan Austin menarik lengan Fany.
Austin pun kemudian tersenyum pahit lalu berkata "Fany. Apa kau tidak bisa untuk mempercayaiku kali ini?
"Aku selalu mempercayaimu Austin, tapi kau memang bukan di takdirkan untukku. Aku tidak ingin membuat hatiku sakit lagi, jadi kurasa kita memang harus berpisah"ucap Fany.
"Fany. Apa kau tidak memikirkan perasaanku?
Apa kau tidak mau mempertahankan hubungan ini? Kita masih bisa memperbaiki semuanya Fany. Aku tahu kalau kau mencintaiku Fany"ucap Austin lagi.
__ADS_1
Fany menggeleng dan berkata tidak, dan itu membuat Austin terkejut lagi.
"Kita tidak bisa bersama lagi Austin. Kau mencintai Sesilia dan aku tidak ingin menjadi egois Austin"ucap Fany lalu dia kembali menangis.
Lalu Fany melanjutkan kalimatnya"Aku takut mencintaimu Austin. Aku akui jika aku memang tidak bisa hidup tanpamu, tapi aku harus sadar diri jika seharusnya aku tidak boleh egois seperti ini. Jadi Sesilialah takdir untukmu Austin"
Austin mendengar perkataan Fany yang mengiris hatinya. Dia berharap tak ingin mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Fany. Jadi dia pun memutuskan untuk langsung mencium bibir istrinya itu.
Fany terkejut dan memberontak tapi Austin langsung menahan tangan Fany agar istrinya itu tidak memberontak lagi.
Lama kelamaan Fany tidak menolak lagi.
Tubuhnya melembut seiring lembutnya ciuman Austin pada bibirnya.
Austin masih mencium lembut bibir Fany, tanpa ada penolakan darinya.
Tiba-tiba Austin menghentikan aksinya dan menatap Fany dengan lembut.
Lalu Austin berkata"Aku tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya padaku sampai aku bersikap dingin padamu. Tapi satu hal yang jelas yang perlu kau tahu kalau sekarang aku sangat mencintaimu dan juga anak kita yang ada di kandunganmu saat ini. Dan mengenai Sesilia, aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi tehadapnya semenjak kau sudah hadir dalam hidupku"
Setelah selesai berkata seperti itu Austin kembali mencium bibir Fany yang awalnya pelan kini beralih menjadi panas karena Fany tiba-tiba ikut membalas setiap pangutan mesra Austin di bibirnya. Mereka begitu rapat dan seolah tak terpisahkan.
Semua orang yang ada di situ langsung mengabadikan momen itu.
Mereka berkata ini adalah berita besar yang sangat di cocok untuk di sebarkan.
Austin tidak memperdulikan itu, justru dia senang dan dia ingin seluruh dunia tahu bahwa wanita yang sedang dia cium ini adalah istrinya.
Setelah selesai ******* bibir satu sama lain, Austin langsung memeluk Tiffany dengan erat.
"Aku percaya kalau dia adalah anakku. Jujur sebenarnya aku melakukan tes dna terhadap janin ini dan untuk itu aku minta maaf"ucap Austin.
Fany hanya diam saja.
Fany masih terdiam, tapi dalam hati nya dia sangat senang karena Austin ternyata sangat mencintainya.
Austin melihat Tiffany yang hanya diam pun menjadi gelisah.
Saat tanga nya hendak memegang wajah Tiffany, tiba tiba Austin mendengar suara perut keroncongan.
"Kau lapar?"tanya Austin dan itu membuat Fany tersipu malu.
Fany mengutuki cacing yang ada dalam perutnya, bisa-bisanya mereka ribut dalam keadaan seperti ini.
Austin pun tersenyum melihat Fany yang tersipu malu.
Lalu Austin mengulurkan tangannya mengajak Fany untuk makan siang sebelum anak mereka merengek lapar di dalam sana.
Fany tidak menolak, dia menyambut uluran tangan Austin.
"Kau mau makan dimana?"tanya Austin.
"Aku mau akan di warung makanan pinggir jalan yang pernah kita datangin waktu itu"ucap Fany yang terlihat ragu-ragu untuk mengatakanya.
"Baiklah" ucap Austin.
Austin pun membawa Fany ke dalam mobilnya dan pergi dari tempat itu menuju tempat yang ingin di datangi Fany.
"Kalian datang lagi"ucap pelayan toko itu saat melihat pasangan suami istri itu datang lagi.
Ya mereka adalah Austin dan Tiffany.
"Ya istriku ingin makan di sini"ucap Austin.
__ADS_1
"Beruntung sekali Nona ini punya suami seperti tuan Austin, karena sangat jarang pengusaha seperti dia mau datang ke tempat seperti ini"ucap pelayan toko itu pada Fany.
"Mau pesan apa nona?”tanya pelayan itu lagi.
"Aku mau makan itu lagi"ucap Fany.
"Seperti yang pernah kami pesan waktu itu. Apa masih ingat?"tanya Austin.
"Tentu tuan. Kalian adalah pelanggan terhormat di tempat ini, jadi kami tidak mungkin melupakannya"ucap pelayan itu.
Pelayan itu langsung pergi ke dapur untuk memasak pesanan Austin dan Fany.
Setelah siap pelayan itu langsung menyajikan dan mengantarkannya ke meja pasangan itu.
Fany yang melihat makanan kesukaan sudah tiba di meja pun langsung memakannya dengan lahap.
🌷🌷🌷🌷
Di kediaman keluarga Nero, Delila mendapat panggilan masuk dari Andrew. Dia terkejut mendengar kabar buruk tentang menantunya
Andrew mengatakan dari telepon kalau Austin belakangan ini membawa kekasihnya tinggal satu atap dengan istrinya.
Delila lebih terkejut lagi saat mendengar kalau putranya saat ini tengah mengurus penceraian dengan menantu kesayangan itu.
"Ronald!!!”panggil Delila.
“Apa Ibu?”jawab Ronald dari dapur.
"Ayo antar Ibu ke tempat kakakmu sekarang juga"ucap Delila yang berteriak.
"Ngapain Ibu?"tanya Ronald.
"Ibu mau buat kakakmu jadi sate. Bisa-bisanya dia menyakiti hati menantuku"ucap Delila dengan tatapan yang ingin membunuh seseorang.
"Awas kau Austin, aku akan cincang kau sampai halus jika kau sudah menceraikan menantuku itu"batin Delila.
"Gawat. Apa jangan-jangan Ibu sudah tau semua"batin Ronald.
Ronald tahu mengenai masalah kakaknya itu.
"Cepat siapkan mobil"ucap Delila yang terlihat marah.
"Iya Bu" ucap Ronald yang langsung berlari.
"Sial. Gara-gara Kakak, aku jadi kena imbasnya"batin Ronald sambil berjalan menuju parkiran.
🌷🌷
#Jangan lupa baca novel ku yang berjudul
" Always love you my husband" Ya
Jangan lupa beri Like untuk mendukung karyaku😊😊😊
Selamat membaca ya teman teman
Ingat....
Jangan lupa like dan beri komentar kalian
Agar aku dapat lebih semangat lagi menulisnya😊😊
Saranghae semuanya
__ADS_1